PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 72. Berita Mutasi


__ADS_3

"Mbak Dinda, ada salam dari komandan Mahmud." Ucap Andi, pria berpakaian kaos pres body yang duduk di bangku panjang di dalam klinik. (Andi yang saat itu bertugas bareng Mahmud).


Ketika sore, Dinda pulang dari kantor mampir ke klinik. Dinda yang sedang berdiri di dekat meja Mantri menoleh pada pria itu.


"Waalaikumsalam, iya Pak Andi, terima kasih," jawab Dinda sambil tersenyum.


Meski hatinya kembali merasa sedih dan kecewa, Dinda mencoba untuk mengaburkannya. Ia tersenyum kemudian menunduk.


"Komandan Mahmud ditugaskan di luar kota, jadi belum bisa tugas ke sini. Padahal sejak dua bulan lalu sudah minta untuk ditugaskan di sini. Tapi …, ya… begitu lah! Anak buah harus mengikuti perintah dari atasan!"


Dinda mendengarkan penjelasan dari Andi sambil menunduk. 


"Iya, Ndan, sudah resikonya begitu." Sahut Mantri Yos yang juga mendengarkan penjelasan Andi.


Tanpa mengomentari penjelasan Andi, Dinda permisi dan keluar klinik lebih dulu. Ia pulang ke asrama, karena tidak ada jadwal mengajar ngaji di masjid, sore ini ia akan jalan sore keliling asrama.


Setelah Dinda pergi dari klinik, Andi pun keluar dari sana. Ia pergi ke pos seberang tempat ia berjaga. Andi merasakan ada perubahan pada Dinda. Ia tidak seceria dulu. Dulu ia suka bersenda gurau, duduk ngobrol berlama-lama, tapi sekarang tidak lagi. Meskipun ia tersenyum, sepertinya ada sesuatu yang tersembunyi dibalik senyumannya itu.


Dinda sudah mengganti pakaiannya dengan baju dan celana olah raga, sepatu ket warna putih. Ia keluar dari asrama putri, kemudian berjalan melintas di depan klinik dan berlari menuju gerbang keluar. Ia berlari mengitari asrama. 


Dua ratus meter dari gerbang, 


"Din! Dinda!" Dinda merasa seseorang berteriak memanggil namanya dari arah belakang. Ia menoleh. Dilihatnya Andi berlari menyusulnya.


Dinda berhenti berlari. Menunggu Andi sampai dekat padanya.


"Kok sendirian?" Tanya Andi setelah sampai di dekat Dinda dengan terus berlari.


"Iya." Jawab Dinda melanjutkan berlari.


"Anu mana?"


"Sibuk kalee."


"Ayo lari terus sampai di gerbang depan! Nggak boleh berhenti!" Tantang Andi. Dinda cuma menoleh sekilas dan terus berlari berjajar dengan Andi.


"Kalau polisi pasti kuat. Nggak tahu kalau aku, haaa haaa haaa…!" Sahut Dinda. 


Andi menoleh sekilas terlihat wajah Dinda berkeringat, sama seperti dirinya yang kaosnya sudah basah karena keringat juga.


"Nggak takut lari sendirian ya? Di sini sepi lho!" Tanya iseng Andi.

__ADS_1


"Takut juga, sih. Tapi meski berangkat sendiri, biasanya akan bertemu dengan orang-orang yang juga kebetulan berlari keliling kok. Jadi merasa nggak sendirian." Ucap Dinda sambil tersenyum.


Ketika melewati jalan tanjakan Dinda sudah ngos-ngosan.


"Aduh! Nggak kuat aku!" Dinda berhenti berlari dengan nafas ngos ngosan.


"Ayo lari terus!" Andi sama sekali tidak nampak ngos-ngosan. Ia pandai mengatur nafas.


Akhirnya mereka berjalan saja sambil ngobrol.


"Dengar-dengar mau mutasi kerja ya?"


"Iya. Dengar dari siapa?" Dinda memperhatikan Andi, dalam hati bertanya, "kok Pak Andi sudah tahu?"


Tadi pagi saat di kantor, Dinda dipanggil kepala manajer untuk ke ruangannya, dikatakan bahwa tiga hari lagi Dinda dengan beberapa orang pilihan akan dimutasi kerja ke luar kota. Karena kantor cabang masih baru dibuka, maka akan dikirim beberapa karyawan unggulan secara bertahap untuk membantu mengoperasikan di sana.


"Ada deh!" Jawab Andi sambil terus berlari.


"Oh iya, Pak Mahmud tugas di mana?" Dinda yang berlari lagi di sebelah kiri Andi menoleh ke arahnya sekilas.


"Di batu bara, dia. Sebenarnya nggak terlalu jauh dari sini, kangen ya?"


"Komandan Mahmud kangen banget katanya."


"Halah. Nggak usah mengada-ada,"


"Lho beneran! Dibilangi kok! Sewaktu-waktu orangnya akan ke sini!"


"O, ya?" Dinda menyunggingkan senyum. 


Andi mengetahui Dinda akan pindah tempat kerja, tapi tidak tahu kapan tepatnya.


Tanpa terasa sudah sampai portal. Dinda dan Andi berhenti di sana dan membeli dua minum air mineral botolan. 


Selesai menghabiskan minumnya, mereka kembali berlari menuju pintu gerbang depan.


"Kali ini nggak boleh berhenti, Lari terus sampai gerbang!" Tantang Andi.


"Dapat hadiah? Haaahaaa!" Tawa renyah Dinda.


"Yang kalah memijat kaki yang menang,"

__ADS_1


"Haaa haaaaaa... cari enaknya. Aku nggak mau!" Dinda mulai berlari mendahului Andi. Andi menggelengkan kepala dan mengikutinya berlari mensejajari di samping Dinda.


"Nanti malam orang-orang mau bakar-bakar ayam di belakang klinik. Ikut yuk!"


"Iya, kah? Lihat nanti, deh," sahut Dinda. Dan tidak lama mereka telah sampai di depan ruang fitnes dan masuk ke ruangan itu.


Andi langsung menggunakan alat fitnes untuk otot tangan.


 Sedang Dinda menggunakan alat semacam mengayuh sepeda. 


Di dalam ruang fitnes tidak ada obrolan yang berarti, hanya sesekali mereka hanya saling pandang dan tersenyum saja. Tanpa terasa sudah pukul lima sore. Mereka keluar dari ruang fitnes.


"Perlu diantar sampai seberang?" Andi bertanya sambil menatap intens ke wajah Dinda. Dinda tidak mengerti arti tatapan itu, tapi mampu membuat hati Dinda berdesir dan bergidik.


"Haaa haaa… apaan sih, nggak perlu!" Dinda menutupi desiran di hatinya dan rasa gidiknya dengan tawa renyah.


"Saya ke seberang, Pak." Pamit Dinda kemudian berjalan meninggalkan Andi yang masih menatap kepergiannya.


"Orang aneh. Ngapain ngelihatin aku kayak gitu. Bikin takut saja! Hiiihh!" Gumam Dinda dalam hati sambil mempercepat jalannya dan akhirnya berlari menyebrangi jembatan, terus berlari sampai di depan asrama putri.


"Alhamdulillah Ya Allah, sampai asrama." Ucap Dinda sambil mengelus dadanya. Kemudian masuk ke teras duduk di lantai untuk menyelonjorkan kedua kakinya setelah melepas sepatu.


Ana keluar ke teras hendak duduk di bangku panjang di teras. Ia sambil membawa mangkuk yang mengeluarkan aroma mie instan kuah rasa soto 


"Kamu lari sama siapa, Din?" Ana kemudian menyeruput kuah dari mangkuk.


"Pak Andi. Baunya kok segar, ditaruh apa itu, Mbak An?" Dinda berdiri melihat isi mangkok Ana.


"Aku sisai ada di kamar noh!"


"Oh ya, benar-benar Mbak Ana cantik deh." Dinda mencomot irisan timun di mangkok Ana kemudian langsung masuk ke kamar ingin mengambil mie yang kata Ana disisakan untuknya. Dinda membawanya keluar dan makan bersama Ana di teras.


"Mbak Santi, mau mie? Ayo sini makan bareng!" Ajak Dinda ketika melihat Santi keluar setelah selesai mandi.


"Mau dong!" Santi mengambil sendok dan makan bareng satu wadah dengan Dinda.


***


Andi, setelah keluar dari ruang fitnes bersama Dinda, ia ingin mandi, tapi menunggu keringatnya kering dulu, makanya duduk dulu di pos jaga bersama dengan beberapa petugas keamanan lainnya.


Ia memberi kabar kepada Mahmud, kalau Dinda mau di pindah tempat kerja. Hal itu membuat Mahmud kaget dan ingin sekali segera menemui Dinda.

__ADS_1


__ADS_2