
Selesai makan malam, mereka berkumpul di asrama putri, bersama-sama membuka buah durian. Ezra dan teman-temannya memasang terpal untuk tenda. Mahmud, Andi, Yos, dan lainnya membuat beberapa tungku dari batu. Maya dan santi pergi ke dapur untuk meminjam beberapa belanga goreng yang besar, spatula yang panjang dari kayu, dan beberapa alat masak yang lain.
Dinda, Ana di bantu yang lainnya, membagikan buah durian kepada tetangga-tetangga asrama di sekitar mereka.
Setelah melaksanakan tugas masing-masing, mereka kembali berkumpul dan duduk di bawah tenda. Ada yang sudah menyalakan api tungku, yang kayunya mengambil dari dapur. Durian yang sudah dikupas dipisahkan dari bijinya.
Melihat pemandangan seperti itu membuat Dinda teringat di kampungnya ketika ada tetangga yang mempunyai hajatan pernikahan, mereka akan mengumpulkan para tetangga dan semua saudara untuk membantu membuat dodol.
"Hei, Din. Kok ngelamun!" Bentak Ana sambil menepuk bahu Dinda dari samping.
"Eh, Mbak Ana ngagetin aja!" Dinda yang duduk bersimpuh di atas tikar menoleh ke Ana yang berdiri di sampingnya.
"Ini urusan perempuan nih," Haris membawa baskom penuh buah durian ke tempat Dinda dan Ana. Buah durian yang baru dikeluarkan dari kulitnya.
"Keluarkan bijinya." Kata Haris.
Dinda dan Ana langsung mengerjakannya.
Api sudah menyala dengan bagus. Andi menuangkan buah durian ke dalam belanga. Mereka bergantian mengaduk.
"Kapan kita latihan?" Tanya Haris.
"Ris, kalian latihan di sini saja, kan bisa," sahut Ana.
"Kita latihan nggak lama, kok. Bagaimana kalau ini kita tinggal sebentar? Selesai latihan kita kembali lagi ke sini," Ezra bertanya dan meminta persetujuan mereka semua, dengan logat kentalnya.
"Oke. Jadi kita bisa bergantian!" Sahut Mahmud.
Anggota vokal grup meninggalkan tempat itu, termasuk Dinda. Di bawah tenda terasa sepi, karena berkurang separo personel.
"Lagu apa yang mereka nyanyikan?" Tanya Andi.
"Nggak tahu eh. Aku belum pernah mendengar mereka latihan." Ucap Ana sambil memasukkan kayu bakar ke dalam tungku.
__ADS_1
"Kamu Na, nyanyi apa?"
"Aku, haaa… haaa… aku nggak ikut nyanyi, suara fals." Jawab Ana sambil tertawa, dengan salah satu tangannya menutup mulutnya.
"Kalau Ana tugasnya jadi seksi konsumsi, Pak Andi," celetuk Maya.
"Pantesan," Andi melirik Ana sambil mengaduk dodol.
"Pantesan? Lho kok pantesan, kenapa?" Ana juga ikut mendekat ke tungku dan mengaduk dodol.
"Pantesan badanmu nggak mau tinggi. Tapi melar." Andi merentangkan kedua tangannya.
"Oi, kurang ajar bilang badanku melar!" Ana mengacung-acungkan spatula yang di pegangnya ke arah Andi. Dia nggak terima dibilang melar, gendut, atau gemuk.
Andi yang sebelumnya sudah menghindar, bisa tertawa.
"Haaa… haaa…haaa...!" Yang lainnya hanya mendengarkan perdebatan mereka dan sibuk dengan diri masing-masing.
Satu jam kemudian Dinda, Ezra, Haris dan kawan-kawan keluar dari ruang meeting. Mereka telah selesai latihan dan menentukan pakaian apa yang akan dipakai di acara besok.
"Ting… ting… jreenggg… jereeengg…!" Suara musik dari gedung serbaguna telah terdengar sejak tadi. Duki merupakan salah satu anggota grup band, selesai mengupas durian tadi, ia langsung pergi ke gedung. Ia bersama anggota band, selain latihan musik juga mendekor panggung.
"Din, ke gedung, yuk!" Ajak Ana.
Sebenarnya ini adalah hari terakhir Dinda dan Mahmud latihan menyanyi. Sejak kembali dari latihan vokal group ia tidak melihat Mahmud di situ.
"Iya, Din. Ini ditinggal saja. Biar aku, Maya sama orang-orang ini yang melanjutkan!" Ucap Santi. Sekarang Ezra, Haris dan kawan-kawan bergantian mengaduk dodol.
"Oke, deh. Ku tinggal, ya!" Pamit Dinda setelah mempertimbangkan ucapan Santi.
Sampai di gedung, sudah banyak orang yang antri ingin latihan. Mahmud pun ikut mengantri. Setelah Pak Hadi menyelesaikan lagunya, Mahmud mengajak Dinda naik ke panggung. Mahmud naik lebih dulu, kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Dinda naik. Dinda menerima uluran tangan itu,
"Terima kasih," ucap Dinda.
__ADS_1
"Siap? Tanya Mahmud sambil menatap Dinda dengan lembut.
Dinda menganggukkan kepala sbagai jawaban. Mereka memegang mix.
"Na na na naaa na na na naaaa na naaa …,"
Nada musik sesuai lirik lagu yang dinyanyikan Mahmud dan Dinda.
"Untuk siapa aku dilahirkan …," suara Dinda mulai terdengar.
Mendengar suara yang tidak asing itu, Ezra berdiri dari tempatnya. Ia berjalan meninggalkan tempat membuat dodol. Ia menuju ke gedung ingin melihat Dinda latihan duet sama Mahmud.
Ada gelora yang membakar hatinya melihat Dinda tampak dekat dengan Mahmud.
"Benarkah mereka ada hubungan?" Tanya Ezra dalam hati. Mengapa hatinya merasa sakit melihat Dinda berdiri di atas panggung bersama orang lain, dilihatnya Mahmud menatap Dinda dengan sorotan mata yang mempunyai sebuah arti berbeda.
Ezra duduk di bangku pengunjung paling belakang, dengan kedua tangan bersedekap di depan dada, memperhatikan Dinda dan Mahmud latihan menyanyi di atas panggung. Sampai mereka selesai dan turun dari panggung. Saat turun pun, Dinda menerima uluran tangan Mahmud yang bermaksud membantunya.
"Waow! Kau bersentuhan dengannya! Saat dengan ku, kau menjaga batasan!" Teriakan Ezra dalam hati.
Ezra beranjak keluar dari gedung, menuju ke asramanya. Ia duduk di bangku di bawah pohon yang tumbuh di depan asrama. Duduk menyendiri dalam kegelapan. Pikirannya kalut melihat wanita yang disukainya bersama dengan pria lain. Tapi apa boleh buat, ia hanya menyukai dalam diam. Ia tidak berani mengungkapkan perasaannya pada Dinda.
Ezra bangkit dari duduknya. Berjalan dengan langkah lebar menuju ke warung di ujung jalan sana, tidak lama. Setelah mengeluarkan lembaran uang dia pun balik ke tempatnya semula. Sebelum duduk dia menyalakan sebatang rokok yang barusan dibelinya. Duduk sendiri dalam kesunyian, sambil terus menghisap rokoknya. Suara dentuman musik dari gedung pun sudah tidak ia dengar. Ia sibuk dengan lamunannya.
Dinda pulang ke asrama sejak ia turun dari panggung tadi. Sampai di sana, dodol sudah hampir matang. Setelah matang dan mulai dingin, Dinda membagikan kepada mereka yang membantu mengolah.
"Kak Ezra, kemana dia?" Tanya Dinda dalam hati. Ia baru sadar jika Ezra tidak ada ditempat. Ia menyisihkan dodol bagian Ezra.
"Untuk siapa itu, Din?" Tanya Ana.
"Ini, buat Kak Ezra, Mbak,"
"Emm, iya. Dia tadi ada di sini, habis itu, dia seperti terburu-buru pergi, nggak tahu ke mana." Sahut Ana.
__ADS_1
"Ya udah, Din, sudah malam nih, tidur, yuk!" Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam lewat. Ana naik ke tempat tidurnya. Dinda menyimpan dodol di atas nakas. Ia pun mengikuti jejak Ana naik ke tempat tidur.
Ana yang kelelahan langsung tertidur pulas. Berbeda dengan Dinda, ia juga lelah, tapi matanya belum mau terpejam, nggak tahu kenapa, pikirannya tidak tenang, ia juga nggak tahu apa penyebabnya.