PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 18. Di Blok


__ADS_3

"Hei, Dinda, kok lama baru muncul lagi di sini," Bu Wati menggandeng lengan Dinda.


"Ya sebulan sekali to, Bu. Bu wati awet muda, e." sahut Dinda sambil senyum. 


"Bisa saja, Dinda ini. Mau makan? Ayo mau makan apa?" Bu Wati membimbing Dinda ke meja makan.


"Iya, Bu. Tapi saya mau ke kamar mandi dulu," 


"O, ya, sana."


Dinda pergi ke kamar mandi.


Tidak lama datanglah Mahmud ke dapur.


"Pak Polisi, ada apa, Pak?" Tanya Bu Wati yang melihat Mahmud masuk ke dapur bagian belakang sambil celingak celinguk mencari sesuatu.


"Bu, lihat Dinda?"


"O, masih ke kamar mandi, Pak. Pak Polisi kok nggak makan?"


"Sebentar lagi, Bu. Kalau begitu saya ke Masjid dulu."


"Iya, silakan." Mahmud keluar dari dapur.


Lima belas menit kemudian, Dinda selesai dari kamar mandi dan memasuki dapur tampak segar dengan penampilan tanpa rompi safety. Tubuhnya dibalut dengan kaos berlengan panjang, sedikit menyamarkan lekuk tubuhnya.


"Bu! Gara-gara nyium aroma masakan ibu, aku jadi lapar nih," kata Dinda.


Bersamaan itu Mahmud juga masuk ke dapur dengan pandangan mata tertuju ke arah Dinda.


"Saya juga lapar. Mau makan, Bu." Kata Mahmud membuat Dinda menoleh ke arahnya tanpa kedip. Mahmud mengenakan  kaos warna putih pres body menunjukkan dada bidangnya dan dengan setelan celana polisi. Tersenyum ke arah Dinda.


"Iya, silakan! Ini sudah disiapkan, Pak." Kata Bu wati. 


Dinda mengambil piring untuk diberikan kepada Mahmud. Mahmud langsung mengisinya dengan menu nasi pecel ditambah rempeyek.


Dinda yang sejak tadi melihat Mahmud, juga memperhatikan isi piring Mahmud 


"Bu Wati masak pecel ya, pasti enak nih!" Celatuk Dinda.


"Iya, makanya cepat ambil piring sana!" Kata Wati.


"Iya, Bu."


Dinda akan beranjak dari tempatnya berdiri untuk mengambil piring, tapi lebih dulu dihampiri Mahmud menyodorkan piring yang sudah diisi  nasi pecel kepada Dinda.


"Nih, buat kamu."


Dinda melihat ke piring dan berganti ke Mahmud.


"Beneran, Pak?"


"Iya, ambil!" Mahmud meletakkan piringnya ditangan Dinda yang masih bengong itu, supaya Dinda memegangnya.

__ADS_1


"Aku akan ambil satu lagi!" Mahmud bergegas mengambil piring dan mengisinya sama seperti tadi. 


"Tapi, Pak, ini kebanyakan, aku ambil sendiri saja!" Dinda mendekati Mahmud akan menyerahkan piringnya.


"Pegang dulu, ini yang buat kamu!" Kata Mahmud sambil mengisi piring di tangannya dengan menu yang sama.


"Oh!" Dinda sungguh dikejutkan dengan ulah Mahmud.


"Hem! Hem!" Bu Wati yang sejak tadi memperhatikan Mahmud dan Dinda berdebat di depan meja makan, berdehem dan tersenyum melihat ulah Mahmud, membuat Mahmud dan Dinda menoleh.


"Ada apa, Bu?" Tanya Dinda polos.


"Tidak apa-apa. Ayo silahkan. Silahkan makan, dikenyangi!" Kata Bu Wati sambil tersenyum, kemudian pergi ke depan.


Mahmud dan Dinda membawa piring yang sudah berisi nasi pecel menuju ke meja yang masih kosong lalu duduk dan makan bareng di sana.


"Terima kasih, Pak, sudah diambilkan." Ucap Dinda setelah mereka duduk.


"Masya Allah, enaknya! Rempeyeknya renyah banget!" Puji Dinda setelah merasakan suapan nasi pecel dan rempeyek ke mulutnya. 


"Bu," Dinda memanggil Bu Wati yang kebetulan lewat di samping meja.


"Iya, Din," Bu Wati melihat mulut Dinda yang sedang mengunyah makanan. Setelah Dinda menelannya, " Bu, masih ada rempeyeknya? Boleh tambah?" Dinda berbisik ke telinga Bu Wati.


"Iya, boleh. Tunggu saya ambilkan!" Bu Wati mengambilkan satu piring rempeyek untuk Dinda.


"Terima kasih. Bu, enak puol! Nasi pecel sama rempeyeknya mantap tenan!" Dinda mengacungkan kedua jempolnya. Bu Wati tersenyum dan berlalu.


Sejak tadi Mahmud hanya diam memperhatikan dan mendengarkan Dinda.


Sambil makan, Dinda teringat kata-kata Adri di dapur kemarin malam, yang sampai membuat Dinda tidak jadi masuk ke dapur untuk makan malam.  


Sambil makan terjadi obrolan antara Dinda dan Mahmud.


"Orang-orang di sini akrab juga dengan Mbak Dinda," ujar Mahmud.


"Kan sering ketemu, Pak,"


"Oh ya?"


"Hem." Jawab Dinda dengan gumaman, sambil mengunyah makanan di mulutnya.


"Pak Mahmud," Dinda membuka suara.


"Ya." Jawab Mahmud yang lagi menikmati makan.


"Pak, boleh minta satu hal?"


"Hem, apa itu?" Mahmud menyuapkan makanan terakhir di mulutnya.


"Sebaiknya kita jangan dekat-dekat!"


"Nggak bisa!" Mahmud meletakkan sendoknya.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Dinda sambil meneruskan makan.


"Salah satu tugas ku di sini mengawal anda." Melipat kedua tangan di meja dan menatap Dinda yang menunduk makan.


"Tidak. Anda tidak perlu mengawal saya!"


"Pak Hadi selaku pimpinan perusahaan yang mengatakan itu."


"Tidak ada aturan seperti itu." Dinda meletakkan sendoknya. Makanan di piringnya sudah habis.


"Mengapa? Keberatan? Selama saya tugas di sini, Mbak Dinda harus mau jadi pacar saya."


"Saya nggak mau!" Dinda melihat ke arah Mahmud sekilas.


"Mau nggak mau!" Mahmud pun terus menatapnya.


"Mengapa anda memaksa?" Dinda meletakkan gelas di depannya.


"Apa merasa dirugikan?"


Dinda diam, tidak menjawab. Sekilas melihat Mahmud yang sejak tadi melihatnya.


"Apa yang membuatmu rugi? Apa saya kurang sempurna untuk menjadi pacar? Ayolah! Kita sepakat."


"Pacaran kok memaksa!"


"Karena Mbak Dinda tipe cewek yang suka dipaksa." Jawab Mahmud dengan tatapan aneh ke Dinda.


"Apa!" Dinda menoleh ke Mahmud yang sedang menatapnya aneh.


"Deg! Sir!" Tidak tahu mengapa tiba-tiba Dinda merasa grogi dan desiran aneh dirasa dalam dada ketika melihat tatapan aneh Mahmud. Dinda segera memalingkan pandangannya ke tempat lain.


"Bagaimana, sepakat?" Tanya Mahmud.


"Dijalani seperti biasanya saja." Sahut Dinda. Mahmud tersenyum menang.


Batu sekeras apapun jika sering terkena tetesan air akan cekung juga. Mungkin ini ibarat untuk hati dan perasaan Dinda. Setiap kali bertemu, Mahmud selalu memberi perhatian dan membujuknya terus menerus akhirnya Dinda mulai luluh juga.


Selesai makan, Mahmud dan Dinda, juga Pak Rizki dan Duki  yang makan di dapur tapi berbeda meja dengan Mahmud dan Dinda, kembali ke kantor. Melanjutkan pembagian statement gaji karyawan yang siang belum sempat. Hanya ada beberapa karyawan yang belum mengambilnya. 


Waktu sudah menunjuk pukul delapan malam, pekerjaan baru saja selesai. Mobil jemputan yang dikemudikan Pak Sulis, masih dalam perjalanan. Langit tampak gelap, tidak tampak rembulan dan  kelap-kelipnya bintang. Sesekali kilat menyambar dan disusul dengan suara guntur menggelegar. Tidak lama kemudian turun hujan dengan lebatnya. Selain empat orang tim, ada beberapa orang karyawan yang sudah siap akan ikut ke kantor induk. 


Setengah jam kemudian Pak Sulis sampai dan langsung memarkir mobil di depan kantor. Pak Sulis turun dari mobil langsung masuk ke dapur. Disaat itu berpapasan dengan Pak Rizki.


"Pak, saya mengisi perut dulu,"


"Iya, Pak Sulis, silahkan." 


Pak Rizki bersama tim duduk ngobrol dengan kepala blok, dan beberapa orang lainnya. Sambil menunggu hujan reda.


Meski selebat apapun hujannya, tim harus tetap kembali ke kantor induk. Karena besok pagi masih banyak yang akan dikerjakan, termasuk memberikan statemen gaji kepada karyawan yang di lokasi induk.


Setengah jam kemudian, hujan tampak mulai reda,

__ADS_1


"Bagaimana Pak Sulis kalau berangkat sekarang?" Tanya Pak Rizki kepada Pak Sulis yang duduk di kursi di sampingnya.


"Ayo, mumpung reda!" Semua naik ke dalam mobil. Mobil sangat padat muatan. Kali ini bertambah enam penumpang.Tidak seperti waktu berangkat. 


__ADS_2