PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 55. Ezra Menemui Dinda


__ADS_3

***


Ezra sedang duduk di belakang mejanya, mengerjakan laporan dinasnya yang harus dibukukan secepatnya. Tiba-tiba ia teringat pertemuannya dengan Dinda tadi siang. Terngiang jelas pertanyaan Dinda yang belum sempat ia jawab tadi. Karena ia kebelet harus pergi ke toilet.


Dilihatnya arloji di pergelangan tangan kirinya.


"Hampir pukul empat sore," gumam Ezra.


Ezra menandai datanya dengan pensil. Ia menyudahi kegiatannya. Kemudian berdiri dari kursinya dengan membawa beberapa berkas dan berjalan ke meja Haris yang letaknya tidak jauh darinya.


"Ris, tolong lanjutkan ini!" Haris menerima beberapa lembaran kertas dari Ezra. 


"Yoi!" Jawab Haris singkat.


Ezra meninggalkan ruang kerjanya. Ia berjalan menyusuri lorong yang sepi menuju ke ruangan Dinda. 


Pintu ruangan Dinda terbuka setengah. Ezra yang sudah sampai di depan pintu, dapat melihat jelas Dinda yang sedang serius mengetik duduk di depan meja komputernya.


"Tok! Tok! Tok!" Pintu ruangan Dinda diketuk.


Dinda langsung mendongakkan kepala untuk melihat ke pintu.


"Hei, Kak Ezra! Ayo masuk!"  Ucap Dinda tanpa bergerak dari tempat duduknya.


Ezra berjalan pelan masuk ke dalam, menuju ke depan meja komputer Dinda. 


"Sibuk banget?" Ucap Ezra.


"Duduk dulu, Kak. Aku save ini dulu!" Dinda mengakhiri pekerjaannya. Dan menyimpan file yang sudah ia input. 


Ezra duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Dinda, yang tidak jauh dari pintu. Ezra duduk menunggu Dinda sambil mendengarkan alunan musik yang lembut yang di setel pelan oleh Dinda di ruangannya.


Selesai menyimpan data, kemudian Dinda mematikan komputernya, juga mencabut stop kontaknya. Suara musik pun ikut berhenti.


Dinda berjalan ke meja kerjanya, duduk di kursi berhadapan dengan Ezra.


"Tadi si…,"


"Kak …," 


Ezra dan Dinda bersamaan membuka suara, akhirnya keduanya sama-sama tidak melanjutkan bicaranya.


"Eh, maaf," Dinda tersenyum. 


"Kak Ezra saja yang duluan," Dinda mempersilahkan Ezra berbicara lebih dulu.


"Enggak, aku cuma mau nanya  tadi siang kamu mau ngomongin apa?" Tanya Ezra.


"Ya, itu. Aku mau mengundang Kak Ezra dan juga teman-teman yang lainnya, datang ke asrama putri."


"Ada apa memangnya? Bukan acara ulang tahunmu, kan?" Ezra memperhatikan Dinda yang sedang tersenyum.


"Bukan. Bukan acara ulang tahun. Hiii… hiii…!" Tawa lirih Dinda.

__ADS_1


"Di asrama ada buah durian, Kak. Mau minta untuk bantuin menghabiskan,"


"Hem?" Ezra menggumam.


"Heem. Rencananya aku mau bikin dodol durian, Kak. Makanya ajak semua teman-teman untuk datang," selesai berkata, Dinda melihat jam di tangannya.


Ezra pun demikian. Jam sudah menunjuk pukul empat lewat.


"Oke, aku usahakan. Mau pulang sekarang?" Ezra berdiri dari duduknya.


"Iya," Ezra dan Dinda keluar dari ruangan itu.


"Terima kasih, ya Kak. Aku tunggu ntar malam."


"Yoi."


"Kak, aku duluan, soalnya ada jadwal ke masjid ngajar ngaji anak-anak!" Dinda berlari kecil keluar kantor meninggalkan Ezra.


Ezra menganggukkan kepala dan mengantar Dinda sampai di teras kantor saja. Setelah itu Ezra kembali masuk ke ruangannya untuk meneruskan pekerjaannya.


***


Di masjid.


Anak-anak berlarian di halaman masjid sambil menunggu ustadzahnya datang.


"Hei, ustadzah Dinda datang!" Teriak Alia mengingatkan teman-temannya, setelah ia melihat Dinda muncul tidak jauh dari pelataran masjid.


Tidak lama kemudian Dinda menginjakkan kakinya memasuki serambi masjid, langsung berdiri di depan anak-anak.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam, ustadzah," jawab serempak anak-anak. Kemudian anak-anak berdiri dari duduknya dan mendatangi Dinda untuk satu per satu secara bergantian menyalami Dinda dan mencium tangannya.


"Barakallah!" Ucap Dinda berulang kali.


Setelah melafalkan doa menuntut ilmu, anak-anak secara bergantian setor bacaan Al-Quran. Ustadzah menyimak dan membenarkan jika ada bacaan yang belum benar.


Satu jam tanpa terasa telah berlalu. Mengaji Pun usai.


Tapi, bagi anak-anak, cerita adalah hal yang sangat menyenangkan. Mereka selalu menuntut Ustadzah untuk bercerita tentang kisah-kisah para nabi.


"Yang lalu, kita sudah sampai mana ceritanya?" Tanya Ustadzah Dinda.


"Emmm…," Alia masih mencoba mengingat-ingat.


Dari bangku belakang Iqbal berteriak. "Sampai ini Ustadzah! Ketika Adam dan Hawa sedang makan buah itu, buah apa itu namanya?  Emmm…,"


"Makan buah khuldi." Sahut teman yang lain.


"Iya!" Sahut Iqbal sambil berdiri.


"Oke. Berarti kemarin ceritanya sampai pada, Adam dan Hawa ketahuan oleh Allah telah melanggar larangan-nya, yaitu memakan buah khuldi," Dinda berhenti sejenak sambil memperhatikan para santrinya satu per satu.

__ADS_1


"Syaitan berhasil membujuk Adam dan Hawa dengan tipu daya. Tatkala Adam dan Hawa telah merasai buah itu, nampaklah bagi Adam dan Hawa aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. 


Kemudian Allah menyeru, 'Bukankah Aku telah melarang kamu dari pohon buah itu dan Aku katakan kepadamu! Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu!" 


Ustadzah Dinda berhenti. Suasana sunyi. Tidak ada anak-anak yang berbicara. Mereka semua fokus mendengarkan cerita. Semua mata tertuju ke depan, pada Ustadzah.


"Sampai di sini, apa kalian mengerti, siapa musuh Adam dan Hawa?" Tanya Dinda.


"Syaitan!" Jawab anak-anak serentak.


"Hiii… ngeri!" Alia bergidik.


"Adam dan Hawa menyadari kesalahannya, kemudian mereka berdua memohon ampun pada Allah SWT. Allah Yang Maha Pengampun menerima taubat mereka. Selanjutnya, Allah memerintahkan mereka untuk turun dari surga menuju ke bumi."


"Sesungguhnya, Allah telah menciptakan Adam dalam bentuk seorang laki-laki yang tubuhnya sangat tinggi dan rambutnya sangat lebat. Tubuhnya seperti buah kurma yang menjulang sangat tinggi. Kemudian, Allah ajarkan kepada Adam nama-nama benda semuanya," Ustadzah berhenti sejenak. Suasana sunyi. Tidak ada anak-anak yang berbicara. Mereka semua fokus mendengarkan cerita. Semua mata tertuju ke depan, pada Ustadzah.


"Setelah Adam dan Hawa turun dari surga, keduanya memohon ampun kepada Allah SWT dan bertobat atas perbuatannya. Nabi Adam dan Hawa kemudian membangun keluarga dengan melahirkan 40 anak yang dilahirkan secara kembar.


Oke anak-anak, cerita kita hari ini sampai di sini dulu, lain waktu di lanjutkan lagi, ya. Ayo sekarang kita mengucapkan hamdalah sebagai ucapan rasa syukur kita kepada Allah."


"Alhamdulillah." Ucap anak-anak bersama Dinda serentak sebagai penutup pertemuan mereka hari ini.


"Sekarang sudah memasuki waktu maghrib, ayo kita persiapan. Silahkan giliran berwudhu! Dan jangan bermain air, ya!"


"Iya Ustadzah." Jawab anak-anak dengan semangat.


"Ayo kita bersholawat dulu!"


"Sholallahu ala Muhammad, sholallahu alaihi wasallam,"


Muadzin telah masuk ke dalam masjid. Tidak lama kemudian,


"Allahu akbar! Allahu akbar!" Suara adzan mulai terdengar. Dinda dan anak-anak pergi ke tempat wudhu. 


Orang-orang pun mulai berdatangan dan memasuki masjid dengan mengenakan pakaian yang bersih dan rapi, mereka akan melaksanakan sholat maghrib berjamaah. 


Sebelum iqamah berkumandang, mereka melantunkan puji pujian.


"Robbana dholamna anfusana wailam tagfirlana watarhamna lana kunanna minal khosirin," para santri pun ikut berpuji-pujian.


Pujian itu yang mana artinya adalah,


“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." Ini adalah doa Nabi Adam dalam meminta ampunan dan bertaubah kepada Allah.


🤗🤗


Hai, para pembaca terkasih, mampir juga di karyaku "I LOVE YOU, ALYA"


di sana kalian akan mengetahui bagaimana seseorang mengekspresikan perasaan cintanya pada gadis yang ia suka,


untuk mengetahui lebih lanjut, langsung saja buka I LOVE YOU, ALYA 🤗🤗


  

__ADS_1


__ADS_2