PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 6. Dinda Jadi Ustadzah


__ADS_3

Dilihatnya semua anak sudah siap dan duduk tenang di tempatnya, Dinda mulai mengajar. Setelah ucap dan jawab salam, Dinda mengajak anak-anak terlebih dulu membaca doa belajar.


"Rodhitu billahi-robba, wabil islaami diina, wabi-muhammadin nabiyya warosula. Robbi zidnii 'ilmaa warzuqnii fahmaa." Yang artinya (Aku ridho Allah SWT sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul. Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu dan berikanlah aku pengertian yang baik).


Dinda menjelaskan tentang huruf hijaiyah. 


Belajar tentang Makhorijul Huruf Hijaiyah


Yaitu tempat keluarnya huruf saat membaca Alquran terbagi menjadi 5, yaitu sebagai berikut:


Rongga Mulut


alif (ا), wawu (و), dan qaf (ق).


Tenggorokan


Ada 3 bagian,


pangkal tenggorokan. Ha (هـ)


tengah tenggorokan.


ha kecil (ج) dan ‘ayn (ع)


ujung tenggorokan.


 kho’ (خ) dan ghain (غ


 3.  Lidah. 


Huruf Dal, Ta', dan Tho', keluarnya dari ujung lidah yang sedikit dijepit antara dua gigi seri atas dan bawah. 


Huruf Shod, Sin, dan Zay, keluarnya tepat di ujung lidah dan bertempat di antara gigi seri atas dan bawah. 


Huruf Tsa', Dza', dan Zho', keluarnya berasal dari ujung lidah dan bertepatan di gigi seri bagian atas


4.Dua Bibir: Fa’ (ف), Mim (م), Ba (ب), dan 


          Wawu (و), 



Saluran Hidung, mim (م) dan nun (ن).



Mengaji sore diakhiri. Sambil menunggu waktu maghrib tiba, Alia maju mendekati Dinda.


"Ustadzah, cerita dong kisah tentang Nabi dan Rasul?" Pinta Alia.


"Iya, Ustadzah." Seru anak -anak kompak.


"Baik, Ustadzah mau kasih tahu kepada kalian tentang keluarga nabi kita, yaitu Nabi Muhammad SAW. Dinda menulis di papan tulis berikut;


"Anak-anak nabi ada tujuh orang


Tiga laki-laki, empat perempuan

__ADS_1


Pertama kosim, Abdullah, Ibrahim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum, Fatimah.


Ibunya bernama Siti Aminah


Ayahnya bernama Abdullah


Kakeknya bernama Abdul Muthalib


Pamannya bernama Abu Thalib."


"Yuk! Bareng-bareng kita nyanyikan dan kita hafal!" Dinda bersama anak-anak menyanyikan tentang keluarga Nabi.


Bahkan setelah selesai sholat jamaah maghrib dan berjalan pulang ke rumah, anak-anak beramai-ramai menyanyi lagu yang di ajarkan Dinda. Dinda yang berjalan di belakang mereka tersenyum melihat tingkah mereka.


Selesai makan malam, Dinda pergi ke kantor. Tadi diminta Pak Udin untuk membuatkan Surat Jalan. Pak Udin dengan beberapa karyawan lain akan melakukan perjalanan dinas keluar kota. 


"Din, tolong sekalian membuat surat serah terima tugas untuk saya." Pinta Pak Udin setelah menandatangani surat jalan.


Dinda duduk di depan meja komputernya, membuat apa yang diminta Pak Udin.


"Serah terima tugas dan tanggung jawab Pak Udin sebagai Manager Personalia, kepada Siapa, Pak?"


"Kepada kamu,"


"Saya, Pak?"


"Iya. Cuma tiga atau empat hari saja, kok,"


Surat yang dibuat Dinda sudah selesai. Kemudian ditandatangani oleh Pak Udin dan Dinda Harika dengan mengetahui dan persetujuan Kepala Unit.


"Besok berangkat setelah subuh. Sekitar pukul lima."


Setelah semua sudah terkonfirmasi, dan sudah beres pekerjaan Dinda malam ini, ia keluar meninggalkan kantor. Ketika sampai di depan klinik, Mahmud memanggilnya, dan mengajaknya duduk di dalam klinik.


"Malam-malam kok masih saja ke kantor, mbak?" Tanya Mahmud sambil berjalan menuju ke meja tempat mantri.


"Iya, bikin surat jalan untuk orang-orang yang akan turun besok pagi."


"Itu Mbak Dinda juga yang menangani?" Dinda tersenyum sebagai jawaban pertanyaan Mahmud.


"Tri, numpang duduk di sini, ya? Mahmud minta izin kepada mantri untuk duduk di kursi kerja Mantri. Kursi tempat memeriksa pasien.


"Silakan, Pak Mahmud. Santai saja," Mantri tersenyum kepada Mahmud dan Dinda.


Mahmud duduk di kursi kerja Mantri dan Dinda duduk di kursi di depannya yang berseberangan dengan meja. Mereka duduk berhadapan.


"Mbak Dinda, aku boleh tanya sesuatu?" Mahmud bertanya dengan hati-hati.


"Apa?" Dinda memberi kesempatan Mahmud untuk bertanya.


"Kira-kira kriteria pria yang Mbak Dinda harapkan itu seperti apa?"


"Hmmm ..., apa, ya?"


"Iya…, seperti apa?"


"Yang pasti seiman! Kedua, lebih dewasa dari saya,"

__ADS_1


"Cuma itu?" Mahmud memperhatikan Dinda.


"Ada lagi! Perhatian dan pengertian, setia, terus … tanggung jawab! Dan yang utama dia harus bisa membimbing aku, seperti seorang ayah kepada anaknya! Seperti ketika aku marah dia bisa meredam kemarahanku,"


"Ada lagi?"


"Banyak, deh!"


"Bagaimana dengan harta dan kekayaan?" Tanya Mahmud lagi.


"Kalau itu kan bisa dicari, tapi ya syukur alhamdulillah kalau nanti siapa tahu aku berjodoh dengan orang yang kaya, hehee,"


"Kalau seandainya sekarang ada cowok yang suka dengan Mbak Dinda bagaimana?"


"Bagaimana, ya? Belum tahu, sih. Lagian belum ada, kok. Ngapain dipikirin?" 


"Bukan belum ada yang suka, tapi menurutku Mbak Dinda membuat batasan dengan mereka," Kata Mahmud.


"Deg!" Membuat Harika kaget.


"Tentu saja membuat batasan. Kan, bukan muhrim." Jawab Dinda.


"Kalau sekarang aku nembak Mbak Dinda apa menerimaku?"


"Apaan sih Pak Mahmud ini? Lagian itu hanya seandainya, kan? Jadi nggak beneran? Allah melarang hambanya berandai-andai loh! Lagi Pak Mahmud sudah punya istri lho dan anak satu." Dengan tenang Dinda menjawab pertanyaan Mahmud. Sebenarnya hatinya juga terusik atas perhatian yang Mahmud berikan. Tapi hanya Dinda sendiri saja yang tahu tentang isi hatinya.


Mendengar jawaban Dinda, Mahmud tersenyum, kemudian menyandarkan punggungnya ke kursi.


"Kalau Mbak Dinda sudah menikah dan menjadi seorang istri, apa masih ingin bekerja seperti ini?"


Mahmud benar-benar ingin mengorek tentang pribadi Dinda. Ingin mengetahui segala hal tentang Dinda.


"Jika suami mengijinkan, mengapa tidak?" Dinda tersenyum.


Setelah terdiam sesaat Dinda bertanya,


"Kalau Pak Mahmud, apa memperbolehkan istrinya bekerja?"


Mahmud langsung menyahut,


"Nggak boleh! Aku akan mencukupi semua kebutuhan istri, lahir maupun batin. Seorang istri harus di rumah! Beraktifitas di dalam rumah! Duduk manis di rumah! Cukup melayani suami saja!


Seorang istri harus nurut dan patuh dengan suami, Mbak Dinda! Saya nggak mengizinkan istri saya bekerja! 


Kalau bisa, cukup jadi pajangan seperti boneka yang ditaruh di lemari kaca,"


Dinda tersenyum mendengar jawaban Mahmud. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya kemudian bertanya, 


"Wow! Istri dijadikan pajangan?"


"Ya, karena saking berharganya seorang istri. Pernah lihat kan, di toko-toko begitu? Barang-barang yang lebih mahal harganya pasti di taruhnya di dalam lemari kaca, dan tidak sembarang orang bisa menyentuhnya?"


"Iya, anda benar. Kalau istri ingin mandiri dan minta ijin untuk bekerja, apa Pak Mahmud tetap tidak mengijinkan?"


Dengan serius Mahmud menjawab,


"Tanpa bekerja istri sudah mandiri, kok. Istri sudah cukup berat dengan kodratnya sebagai wanita, Mbak Dinda. Salah satu nih ya, melayani suami! Itu sudah pekerjaan yang cukup berat, yang wajib dan harus di kerjakan, Mbak Dinda. Melayani suami itu,  mulai dari memasak, jadi seorang istri harus pandai memasak!"

__ADS_1


"Oh ya? Apa itu harus?" Dinda merasa dirinya belum bisa memasak. Karena selama ini jarang berkutat di dapur. 


Di saat Dinda tidak melihatnya, Mahmud memperhatikan dengan lekat wajah Dinda yang dibalut kain hijab itu.


__ADS_2