PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 58. Di Belakang Asrama


__ADS_3

Sekarang mereka berdiri di bawah pohon sukun di belakang asrama putri. Dari sana terlihat sungai yang jaraknya beberapa meter di bawah sana, airnya dangkal dan sangat jernih. Sehingga batu-batu yang ada di dasarnya tampak dengan jelas. Sangat menggoda orang yang kegerahan untuk segera menceburkan diri. 


"Bagaimana, apa jadi kita mandi di sungai?" Tanya Maya ragu.


"Kalau nggak mandi di sungai terus mau mandi di mana?" Tanya Santi sambil melihat keadaan sungai.


"Aku belum pernah mandi di sungai. Bagaimana nih? Tempatnya terbuka lagi," keluh Dinda memelas sambil menarik-narik ujung kain handuknya yang di kalungkan di leher.


Ana memperhatikan Dinda. Santi dan Maya juga menoleh ke arahnya. 


"Ya sama. Memangnya ada di antara kita yang pernah mandi di sungai sebelumnya?" Sahut Ana.


Sementara Ezra dan Haris pergi ke tempat Pak Hadi untuk membicarakan persiapan keberangkatan mereka besok lusa. 


"Sudah siap tim kamu, Zra? Jaga kesehatan lho! Soalnya lokasi yang akan kalian datangi itu rawan sekali dengan penyakit malaria. Kalau perlu nanti membawa stok obat-obatan dari sini!" Pak Hadi mengingatkan Ezra, ia nampak khawatir dengan perjalanan dinas Ezra bersama timnya kali ini.


"Jangan khawatirkan kami. Anda tahu sendiri kan, bagaimana kami dalam perjalanan dinas selama ini? Sudah sangat sering kami dinas, dan kondisi kami tidak ada yang perlu diragukan. Cuma masalahnya di sini, anak-anak belum puas istirahat dan dalam waktu dekat harus berangkat lagi," Ezra duduk di sofa di sebelah Haris dan duduk berhadapan dengan Pak Hadi yang berseberangan meja. Pak Hadi mengeluarkan rokoknya dari kantong celananya. 


"Itu dia masalahnya. Aku sendiri sangat kaget mendengar kantor pusat minta data dari lokasi itu dalam waktu yang cepat! Ris, ini rokok." Pak Hadi menaruh bungkusan rokok di atas meja. Ia tidak menawari Ezra rokok, karena ia tahu, Ezra tidak merokok.


Bu Win, istri Pak Hadi, datang membawa tiga gelas kopi dan diletakkan di atas meja. 


"Ayo diminum kopinya,"


Setelah menyuguhkan kopi kepada tamunya, Bu Win undur diri ke belakang.


Sepeninggal Bu Win, Ezra mengambil sebatang rokok dan menyulutnya. Membuat Pak Hadi dan Haris menatap keheranan ke arahnya. Cambang yang hitam lebat di wajahnya dibiarkan tumbuh, tapi terlihat sangat rapi, membuat orang yang melihatnya sangat mengiri.


"Sejak kapan merokok, Zra?" Tanya Pak Hadi mengalihkan pandangannya.


"Hanya ingin mencoba saja." Jawab Ezra tenang dan dingin. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kegalauan hatinya. Tapi semua orang bisa mencoba menebaknya.

__ADS_1


Haris yang sebagai sahabat dekatnya pun tidak mengetahui apa yang menjadi masalah Ezra saat ini.


Seorang yang tidak biasa merokok dan tiba-tiba merokok, biasanya dia memiliki beban masalah yang sedang dihadapi, dan sangat mengganggu pikirannya.


'Apakah galau karena harus berangkat pergi dinas dalam jeda yang dekat ini?' Gumam Pak Hadi dalam hati. Perubahan Ezra yang sangat mencolok menjadi perhatian tersendiri bagi Pak Hadi. Karena Ezra adalah satu-satunya harapan perusahaan dan sangat bisa diandalkan. Ezra bisa membawa dan membimbing anggota tim nya sehingga  selalu sukses dan tidak pernah mengecewakan dalam menjalankan tugas perusahaan.


'Jika ku tanyakan hal ini, takutnya dia akan membuat penawaran," pikiran Pak Hadi ikut kalut.


"Hari Senin saja kalian berangkat. Jadi masih ada satu hari besok untuk kalian istirahat dan mempersiapkan diri." Ucap Pak Hadi.


"Oh ya, Zra, Ris, besok semua ajak makan di sini." Pesan Pak Hadi.


Setelah selesai berbincang, dan kopi yang disuguhkan sudah habis, Ezra dan Haris keluar dari tempat Pak Hadi.


***


Kembali di bawah pohon sukun, ada empat gadis di sana. Tiga orang sedang berdiri dan yang seorang duduk di tanah di depan tiga orang yang berdiri itu, dengan berkalung handuk di lehernya. 


Ezra dan Haris setelah keluar dari tempat Pak Hadi, beberapa meter berjalan mereka telah sampai di depan asrama putri. Dari samping asrama tampak oleh Haris, Ana dan dua temannya sedang berdiri di belakang asrama.


Ezra ikut menoleh. Ia melihat Ana, Maya dan Santi berdiri.


Haris dan Ezra berjalan ke tempat mereka.


"Nunggu sepi, kita baru turun ke sungai," usul Maya.


"Kamu pernah, May, mandi di sungai?" Tanya Ana penuh selidik. Karena di antara mereka berempat hanya Maya yang terlihat tenang tanpa mengeluh.


"Dulu pernah. Di kampung, pas aku masih kecil setiap hari mandi di sungai. Ramai-ramai dengan banyak teman, jadi senang,"


"Ya beda, May. Waktu kecil jangan di bandingkan dengan sekarang." Sahut Santi sambil memperhatikan ke sungai.

__ADS_1


"Ngapain kalian di sini? Membawa apaan ini?" Tanya Haris setelah mendekati mereka dan menunjuk ke mereka, terutama kepada Ana yang berdiri dengan ember di tangannya.


Ezra diam. Setelah dekat ia bisa melihat, ternyata Dinda juga ada bersama mereka. Duduk di tanah dengan berkalung handuk dan gayung mandi ada di sebelah kanannya. Kain hijabnya bergerak-gerak terkena angin. Wajah manis yang putih bersih, selalu membuatnya teduh tatkala orang melihatnya. Ia sedang mencoret-coret tanah di depannya dengan sebatang ranting kecil.


Ezra menahan tawa melihat Dinda duduk di tanah seperti itu.


"Kita cari tempat sebelah mana ya, enaknya?" Tanya Dinda yang tidak menyadari seseorang sedang menahan tawa karena telah memperhatikannya.


Empat gadis itu masih di sana sambil melihat ke sungai, mencari posisi sungai yang letaknya sepi dan tersembunyi, supaya tidak dilihat orang dari atas atau dari arah manapun.


"Eh, Haris! Ezra!" Sapa Ana dan menoleh kepada mereka. Maya, Santi dan Dinda ikut melihat orang yang mendatangi mereka.


"Cari tempat untuk apa?" Tanya Haris.


"Air tempat kami nggak mengalir. Jadi kami mau mandi di sungai." Ana menjelaskan.


"Mandi di sungai?!" Ezra tersentak kaget. Ia tidak rela jika Dinda ikut mandi di sungai apa lagi tempatnya terbuka seperti itu.


Bu Ratno dan Bu Jar memakai kain jarik yang dililitkan di tubuhnya siap pergi mandi di sungai. Mereka keluar dari dapur, berjalan melewati belakang asrama putri, sehingga bertemu dengan empat gadis penghuni asrama putri bersama Ezra dan Haris.


"Ayo mandi, keburu gelap lho!" Ajak Bu Jar. 


"Ayo, Mbak Dinda!" Ajak Bu Ratno karena dilihatnya Dinda masih duduk di tanah.


"Iya, Bu," sahut mereka serempak. Dinda berdiri dan mengibas untuk membersihkan celana bagian belakangnya.


"Bagaimana, kita bareng Bu Ratno sama Bu Jar?" Tanya Maya dengan melihat ketiga temannya bergantian.


Bu Ratno dan Bu Jar terus berjalan meninggalkan mereka menuju ke sungai


Beberapa menit setelah Bu Ratno dan Bu Jar meninggalkan mereka,

__ADS_1


"Grojok! Grojok! Grojok!" 


"Hei, suara apa itu?" Teriak Ana.


__ADS_2