
Padahal baru dua hari ia bisa tidur nyenyak di kamarnya. Bahkan laporan yang dinas kemarin belum selesai ia rekap. Ini sudah ada tugas lagi. Tapi ya seperti ini lah pekerjaan Ezra.
Pak Udin dan Dinda juga dibuat sibuk dengan hal ini. Mereka juga harus membantu menyiapkan segala sesuatunya.
Ezra keluar dari ruangan Pak Hadi dan menemui teman-temannya untuk menyampaikan amanah Pak Hadi.
"Persiapan! Dua atau tiga hari lagi kita akan berangkat ke lokasi XX."
"Hah! Secepat ini?" Banyak teman-teman yang protes, termasuk Haris.
"Kalau begini, kapan kita-kita bakal dapat bini, Zra?"
"Jangankan bini, cewek yang ngelirik kamu aja nggak ada, haa...haaa…!"
Mereka satu sama lain saling bersahutan.
"Jangan banyak cing cong kalau masih mau kerja, ini juga bukan keinginan aku, ini permintaan dari kantor pusat!" Setelah mendengar perkataan Ezra, semua diam tidak ada yang berani komen.
***
Semua sibuk menyiapkan diri untuk melaksanakan upacara pagi ini. Setelah dirasa siap, dan sudah mendekati waktu upacara, mereka berkumpul di lapangan.
Dinda dengan puluhan anggota tim paskibraka mengenakan baju setelan berwarna putih putih dengan kopiah hitam di kepala berpitakan bendera merah putih telah siap berdiri di lapangan. Bendera merah putih siap di kedua tangan Dinda.
Pak Hadi selaku pemimpin upacara tampak sangat gagah dengan tampilan jas hitam dan berdasi dengan setelan celana berwarna senada. Sepatu hitam tampak mengkilat, berdiri di barisan sejajar dengan para kepala bagian masing-masing departemen, disambung barisan para wakil kepala bagian, para supervisor baik yang di camp induk maupun yang dari camp di blok-blok semua telah berkumpul di barisan itu.
Setiap karyawan masing-masing departemen membentuk barisan peleton sendiri-sendiri, dengan menunjuk salah seorang menjadi pemimpin pleton, berdiri di samping kanan barisan.
Ada banyak pleton, ditambah peserta tamu undangan dari perangkat desa-desa sekitar perusahaan dan jajarannya. Juga anak-anak sekolah dari desa binaan yang dibiayai perusahaan.
Para ibu-ibu dan istri-istri karyawan bersatu dalam pleton paduan suara dengan berpakaian seragam atasan berwarna putih dan bawahan rok berwarna hitam.
Mahmud dan Andi dengan baju dinas seragam kepolisian tampak gagah dan menawan. Mereka sibuk menata semua barisan. Setelah selesai merapikan barisan di setiap pleton, kini Mahmud berjalan dengan tegap menuju ditengah-tengah lapangan.
Pagi mulai terik. Panas matahari menyengat di kulit.
"Perhatian semua! Komando saya ambil alih! Siap grak!" Suara teriakan Mahmud menggelegar di lapangan. Peserta upacara yang tadinya riuh seperti tawon, kini suasana menjadi hening.
Pukul sembilan tepat, upacara di lapangan PT XX siap di mulai.
Mahmud balik ke belakang, menghadap ke semua peserta upacara.
"Perhatian semua! Siap grak! Istirahat ditempat grak!" Kemudian Mahmud balik kanan.
Santi selaku pembawa acara membacakan susunan upacara.
__ADS_1
Para mantri dan petugas kesehatan siap berdiri di belakang peserta upacara lengkap dengan perlengkapannya. Tandu pun telah disiapkan untuk berjaga-jaga.
Pembina upacara telah berdiri di podium.
"pengibaran bendera Sang Merah Putih." Suara Santi terdengar menggaung di lapangan.
"Perhatian semua! Siap grak!" Suara Mahmud menggelegar.
"Siap grak!" Suara lantang dari barisan paskibraka. Seluruh mata di lapangan tertuju pada barisan paskibraka itu.
"Langkah tegap maju jalan!"
"Brok brok brok brok!" Suara langkah kaki barisan pengibar bendera Sang Merah Putih menuju tiang bendera di tengah lapangan.
Dirigen lagu Indonesia Raya berdiri di depan barisan paduan suara, siap memandu.
Beberapa detik kemudian,
"Brak!" Suara bendera dibentangkan.
"Bendera siap!" Suara teriakan lantang dari salah seorang anggota tim paskibraka.
"Kepada bendera Sang Merah Putih Hormat grak!" Teriakan Mahmud selaku komandan upacara.
Bersamaan dengan itu lagu Indonesia Raya dinyanyikan.
Penghormatan bendera merah putih bertujuan untuk memperkokoh sikap kesadaran berbangsa dan bernegara, menumbuhkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air kita. Cara kita untuk mengenang para pahlawan yang telah gugur, cara kita menghormati para pahlawan yang telah rela menumpahkan darahnya untuk tanah air.
Sekitar puluh sepuluh upacara selesai. Mereka mengambil banyak gambar untuk dokumentasi dan kenang-kenangan.
Dinda berjalan ke pinggir lapangan mencari tempat yang teduh di bawah pohon.
Mahmud yang sejak tadi mencari keberadaan Dinda, segera mendekati Dinda yang berjalan. Tiba-tiba Mahmud menarik tangannya. Membuat Dinda kaget
"Kita belum foto!" Mahmud menarik tangan Dinda ke dekat podium dan tiang bendera.
"Tadi kan sudah," sudah beberapa kali mereka foto bersama-sama dengan seluruh petugas. Tapi Mahmud belum puas. ia ingin foto bersama Dinda.
"Andi, tolong dong!" Mahmud meminta tolong Andi untuk mengambil foto mereka berdua.
"Jangan marah ya, hanya ini kenang-kenangan bersamamu yang ku punya," kata Mahmud pelan sambil melihat beberapa foto dirinya dengan Dinda di ponselnya.
Panas semakin menyengat dan terasa perih di kulit. Mereka berjalan ke pinggir lapangan mencari tempat yang teduh di bawah pohon bersama dengan yang lainnya.
Mahmud dan Dinda duduk berdampingan, Dinda menyelonjorkan kedua kakinya yang terasa pegal.
__ADS_1
"Kenapa? Capek?" Tanya Mahmud.
"He'em. Maklum nggak pernah upacara, cuma setahun sekali, heehee…."
Mahmud berdiri, berjalan meninggalkan Dinda untuk mengambil dua botol air mineral. "Sayang," Mahmud memberikannya pada Dinda.
'Deg! Siir!' Ada sesuatu yang berbeda yang Dinda rasa.
'Sayang? Nggak salah dengar kah aku?' Tanya Dinda dalam hati.
Kata 'sayang' yang keluar dari mulut Mahmud mampu memporak porandakan ketenangan Dinda.
"Kok bengong? Ayo minum dulu!" Ucap Mahmud mengagetkan Dinda.
"Iya. Terima kasih," Dinda menerima botol air mineral dari Mahmud.
Tanpa mereka ketahui, Andi mengambil gambar mereka.
"Besok malam acara di gedung. Sebentar malam berarti latihan terakhir?"
"Iya," jawab Dinda.
"Sebentar kita latihan!" Pinta Mahmud dengan menoleh di samping, ke tempat Dinda.
"Oke!" Dinda berdiri. Karena dilihatnya di pinggir lapangan sebelah yang lain, ibu-ibu sudah berkumpul siap akan lomba.
"Aku mau ganti baju!" Dinda meninggalkan Mahmud. Mahmud pun demikian. Ia segera pergi ke kamarnya di asrama seberang untuk mengganti bajunya.
***
Dinda dan yang lainnya telah kembali ke lapangan berkumpul dengan ibu-ibu. Mereka akan mengadakan berbagai lomba.
lomba yang pertama yaitu memasukkan benang ke dalam lubang jarum sambil berjalan. Sebagai pemenangnya akan diambil juara satu dan juara dua.
Lomba yang kedua, yaitu sandal kompak. Satu sandal untuk empat orang.
"Wow! Ini lebih seru!" Kata Ana yang berdiri di samping Dinda.
"Satu orang jatuh, yang lain ikut jatuh, haaahaaa…!" Lanjut Ana.
"Namanya juga sandal kompak, Na!" Sahut Maya.
"Ayo kita ikut ini, yuk! Pas kok kita empat orang," Ajak Santi.
"Iya. Ayo!" Jawab Dinda.
__ADS_1
"Kalau menang apa hadiahnya, Din?" Tanya Maya.
"Ada, deh!" Dinda jadi ingat kalau dirinya belum membungkusi kado-kado sebagai hadiah.