PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 68. Patah Hati


__ADS_3

Mahmud ingin menyapa Dinda, demikian dengan Dinda. Tapi mereka mengurungkannya, karena Mahmud melihat Dinda sedang serius duduk berbincang dengan beberapa orang di depannya. Dinda pun demikian, ingin memberikan surat dinasnya kepada Mahmud, tapi surat dinas sudah di minta Pak Udin untuk membantu menyerahkan kepada Mahmud.


"Ndan, silahkan langsung saja ke ruang keuangan untuk penyelesaiannya," ucap Pak Udin.


"O, begitu ya, Pak," Mahmud dan Andi beranjak dari situ, sekilas melihat Dinda sedang menunduk menulis.


Beberapa orang yang menemui Dinda telah keluar dari ruangan itu. Dinda melihat ke kursi di depan meja Pak Udin telah kosong. 


"Loh! Mereka sudah keluar rupanya." Gumam Dinda dalam hati.


Dinda menghela nafas panjang dan berat kemudian melepaskannya dengan kasar. Ia melanjutkan pekerjaannya dengan gundah.


Pak Udin keluar ruangan, ia hendak pergi ke lapangan, juga mau melihat persiapan tim Ezra berangkat dinas sekalian dikawal oleh Bripda Mahmud dan Briptu Andi.


Dinda berdiri dari kursinya ia berjalan ke arah pintu ruangannya, hendak keluar. Langkah Dinda terhenti di sana karena bersamaan itu Dinda melihat Mahmud yang menggunakan seragam polisi lengkap berjalan keluar dari ruang keuangan dan berjalan menuju pintu  keluar kantor dengan tergesa. 


Mahmud juga menoleh ke arah Dinda yang sedang berdiri mematung sedang melihatnya dari pintu ruangannya. Pandangan mata mereka saling mengunci. Keduanya dengan wajah tegang tanpa kata, mulut mereka terkunci rapat. Tidak ada yang menyapa atau mengeluarkan kata. Keduanya  ingin mengeluarkan kata, tapi tampak sangat berat.


Mahmud terus berjalan, akhirnya Mahmud menoleh ke arah pintu dan keluar. Dinda, ingin hati berlari mengikuti Mahmud keluar, tapi tidak ia lakukan. Ia hanya menundukkan wajah sedihnya. Wajahnya memerah seakan  air mata menitik dari kedua matanya. Hatinya terasa perih dan sakit sekali. Cinta indah dan bahagia yang baru ia rasakan seolah telah terbabat oleh tajamnya pisau.


Mahmud yang sudah berjalan dan menuruni anak tangga, setelah beberapa langkah sampai di halaman kantor, ia membalikkan langkahnya dan kembali masuk ke kantor, ia akan ke ruang keuangan karena ada yang tertinggal.


"Kenapa masih mematung di sana?" Tanya Mahmud hanya dalam hati ketika dilihatnya Dinda masih berdiri menunduk di pintu ruangannya. Mahmud terus berjalan menuju ke ruang keuangan.


Tidak melihat Mahmud kembali, Dinda yang menunduk dan sempat menitikkan air mata berlari ke belakang sambil mengusap air matanya dan masuk ke dalam toilet, bukan untuk buang air kecil atau beabe, tapi sekedar untuk menenangkan diri dan hatinya. 


"Jangan gila, Dinda! Kamu telah salah dalam mencintai! Mengapa kamu melanggar komitmen kamu sendiri?! Bukankah kamu telah mengatakan untuk tidak mengenal pacaran? Bukankah pacaran dilarang dalam agama? Sadar Dinda! Sadar! Kamu telah salah mencintai! Hiiks…! Hiiiikkkks…!" Dinda menjadi menangis dan air mata lebih deras keluar dari kedua matanya, sambil mengumpati dirinya sendiri.

__ADS_1


Mahmud keluar dari ruang keuangan sudah tidak melihat Dinda berdiri di pintu ruangannya. Kali ini ia ingin menemui dan pamit sama Dinda, ia berjalan terus menuju ke ruangan Dinda, tapi saat melihat ke dalam ruangan kosong, tidak ada siapapun di sana.


"Kemana? Kok nggak ada?" Tanya Mahmud lirih, sambil menoleh kesana kemari untuk mencari keberadaan Dinda. Karena tidak menemukan, Akhirnya Mahmud keluar dari kantor dan bergegas menuju ke seberang persiapan berangkat mengawal tim yang akan berangkat Dinas, sekaligus Mahmud dan Andi aplusan diganti dengan brimob yang akan ditugaskan bulan berjalan.


Beberapa menit Dinda di kamar mandi. Setelah puas dan merasa lega, ia menghentikan tangisnya. 


"Jangan lemah, Dinda! Jangan cengeng! Harus tegar! Kuat!" Dinda menyemangati dirinya sendiri. 


Kemudian mencuci mukanya dengan air beberapa kali untuk menghilangkan bekas tangisnya.


"Tersenyum! Sembunyikan lukamu dibalik senyummu! Jangan biarkan orang menertawai kebodohanmu!" Dinda masih terus mengumpati dirinya sendiri, dan mencoba tersenyum. Tersenyum yang seperti biasanya.


Dinda masuk ke ruangannya dengan wajah segar karena habis mencuci wajahnya. Ia langsung duduk di depan komputernya. Ingin menginput data ke komputer, tapi pikiran masih belum sinkron dengan pekerjaan. Akhirnya ia hanya bermain game di komputer itu untuk menghilangkan kesedihan hatinya.


"Din, ayo pulang!" Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul dua belas. Ana berdiri di pintu ruangan Dinda.


"Iya, Mbak. Tunggu aku matikan komputer dulu!" Dinda mematikan komputernya dan mencabut stop kontak yang menghubungkan ke listrik.


Kemudian keluar kantor berjalan beriringan bersama Ana.


Hampa! Sepi! Sunyi! Menghinggapi perasaan. Seperti ada sesuatu yang besar telah hilang darinya. Itulah yang Dinda rasakan saat ini.


"Harus bisa berdamai dengan kehampaan ini!" Tekat Dinda ucapkan tapi hanya dalam hati.


Sepanjang jalan pulang, Dinda dan Ana hanya saling diam. Tidak ada yang bersuara. Dan pada akhirnya, mereka telah sampai di dapur untuk makan siang.


"Wah, baunya kok segar nih, apa menunya, ya?" Tanya Dinda pada Ana supaya menebak.

__ADS_1


"Nggak usah ditebak, Din. Lihat aja langsung!"


"Heee… hee… iya deh." Dinda dan Ana langsung ke meja belakang melihat menu makan siang.


"Wow, nasi pecel. Aku suka banget, nih!" Dinda tanpa mengambil nasi, ia langsung menaruh berbagai sayuran di atas piringnya kemudian menuangkan sambel pecel di atasnya, terus menambahkan kerupuk. 


Dinda duduk di tempat biasa ia duduk untuk makan. Ana yang juga sudah mengisi piringnya dengan nasi pecel duduk di samping Dinda.


"Din, jadi terasa sepi, ya?"


"Maksudnya, Mbak?" Dinda menoleh ke arah Ana.


"Kan sudah berkurang beberapa orang dari tim nya Ezra, terus polisi juga sudah pulang ke asalnya,"


"Hemmm, iya juga, ya," sahut Dinda asal, sambil terus makan pecel tanpa nasi di depannya.


"Tapi yang aplusan nggak lama juga akan datang kok penggantinya, Mbak." Ucap Dinda kemudian.


"Ya kalau kita kenal mereka, Din. Kalau nggak kenal, ya nggak ada yang mau main ke tempat kita," sahut Ana.


Selesai makan, Dinda dan Ana kembali ke asrama. Begitu masuk kamar, Dinda langsung merebahkan tubuhnya ke ranjang, begitu pun dengan Ana. Tapi Ana masih sempat mengganti bajunya dengan baju tidur. Berbeda dengan Dinda, ia bahkan tidak melepaskan hijabnya langsung melempar tubuhnya ke tempat tidur begitu saja. Hati dan pikirannya belum bisa berdamai. Tapi ia berusaha untuk selalu bersikap tenang. 


Ia tidak mau orang mengatakan dirinya sedang patah hati. Iya, patah hati!


Bahkan ada pepatah mengatakan "lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati!"


Ah! Itu pepatah yang salah. Dinda sangat tidak setuju. Menurutnya sakit gigi dan sakit hati itu sama-sama sakit, dan sungguh tidak enak dan tidak nyaman. Tapi kalau sakit hati, sakitnya tuh di sini banget.

__ADS_1


__ADS_2