
"Ayo jak. Sini aku yang mengupas bawang!" Sahut Andi menerima sisa bawang dari Dinda.
Dinda langsung lari ke kamar mandi untuk membersihkan tangan dan mencuci muka.
"Uhh! Segar!" Dinda keluar dari kamar mandi dan mendekati Mahmud yang selesai menata tempurung.
Orang-orang sudah mulai menaruh ayam di atas panggangan dan membakarnya.
Dinda ikut mendekat dan berdiri di sana. Ikut mengipasi api. Asap pun kemana-mana.
Mahmud berdiri di sampingnya juga mengipasi.
"Mengupas bawang kok sampai menangis?" Tanya Mahmud sambil memperhatikan dari samping.
"Pedasnya sampai ke mata." Jawab Dinda sekilas menoleh ke arah Mahmud dan kembali menunduk memperhatikan ayam di panggangan.
Kemudian Dinda menoleh melihat Andi yang melanjutkan mengupas bawang.
"Tuh, lihat Pak Andi!" Mahmud ikut menoleh melihat Andi.
"Hahaha!" Keduanya tertawa.
"Tuh kan! Yang mengupas bawang menangis juga! Haha!" Ledek Mahmud pada Andi, membuat semua menoleh ke Andi.
"Hahaha!" Ana, Santi, Maya iku tertawa.
"Memang enak!" Kata Ana sambil mendekati Andi.
Mereka bergantian berdiri mengipasi bara. "Bau asap!" Gumam Dinda lirih sambil mengendus badannya sendiri.
"Biarpun bau asap, tetap cantik." Bisik Mahmud yang mendengar gumaman sambil melihat sekilas Dinda.
"Bisa aja." Dinda terus meninggalkan Mahmud. Ia masuk ke dalam klinik bergabung dengan Ana dan Santi yang sudah lebih dulu nonton tivi di ruang klinik di bagian belakang.
Ruangannya luas, biasanya dipakai kalau ada pasien rawat inap.
Di sana ada tivi. Di lantai depan tivi dipasang karpet busa tipis. Dinda duduk di sana menyusul mereka yang sudah lebih dulu.
"Din, ini novelnya. Aku membaca masih dapat setengah." Ana menyodorkan novel ke Dinda.
Setelah menerima novel dari Ana, Dinda mulai tiduran dengan kedua kaki diangkat dan disandarkan ke dinding. Capek rasanya setelah berdiri mengipas tadi. Ia membuka dan melanjutkan membaca novel yang tadi sore terpotong.
Ana dan Santi ikut tiduran dengan kepala bertemu di tengah-tengah karpet.
Maya selesai menata piring, yang menuang nasi yang sudah masak dari rice cooker, ikut gabung dan tiduran di muka tivi.
Selang beberapa menit. "Ayamnya sudah ada yang masak, nih. Ayo yang mau mencoba, ambil sendiri!" Kata Andi menawari teman-teman terdengar sampai di dalam klinik.
__ADS_1
"Hei, ayamnya sudah ada yang masak, kita mau menyicipi, nggak?" Tanya Santi.
"Ayo kita lihat!" Ajak Ana. Tapi tidak ada satupun yang bangkit dari tidurnya.
"Din, kamu mengambil ayam?" Tanya Maya.
"Sebentar, Mbak May. Menunggu masak semua." Dinda tak berkutik. Ia terus membaca sambil tiduran.
Mereka berempat tidak ada yang bangun, menunggu matang semua dan makan bersama-sama.
Mahmud yang masih berdiri di sana, merasa capek juga berdiri terus sejak tadi. Mahmud melihat keliling mencari tempat duduk tapi tidak ada yang kosong. Akhirnya Mahmud masuk ke dalam klinik.
"Kalian membuat formasi apa ini?" Tanya Mahmud ketika melihat empat cewek yang sedang tiduran di depan tivi.
Andi yang mendengar menjadi penasaran langsung mendekat ikut melihat ke dalam.
"Bagus dibuat dokumentasi ini!" Andi langsung mengambil handphone nya di kantong celana langsung mengambil gambar empat cewek itu.
"Krek! Krek!" Anggap saja suara kamera handphone.
"Ayo, Ndan! Kita gabung foto!" Ajak Andi pada Mahmud.
Akhirnya mereka membuat bentuk semacam lingkaran dengan kepala enam orang berada di tengah.
"Krek! Krek!" Mereka bergiliran melihat karya Andi.
Setelah itu semua keluar dari klinik.
Adri menyiapkan sambal, sayur lalapan di wadah. Juga ayam bakar di taruh di baki lebar. Kemudian semua dihidangkan di lantai yang beralas karpet di depan tivi. Tidak lupa piring dan air kobokan.
Mereka makan bersama dengan piring di tangan masing-masing. Makan sambil ngobrol.
"Eh, kalau pas nggak kerja, enaknya ke air terjun sambil bawa makan begini enak barangkali, ya?" Ucap Santi.
"Boleh, tu." Jawab Ana dengan makanan masih ada di mulutnya.
"Besok kita kan nggak kerja? Besok Kah kita ke air terjun?" Tanya Adri.
"Boleh juga, tuh!"
"Membakar ayamnya di sana saja."
Dinda diam saja mendengarkan rencana mereka. Akhirnya mereka sepakat besok akan pergi ke air terjun.
Adri sudah berbaikan sama Dinda, sudah mengakui kesalahannya dan meminta maaf pada Dinda maupun Mahmud. Itu dilakukan sore tadi setelah ditanya Mahmud ketika di klinik tadi.
Malam menunjukkan hampir pukul dua belas, mereka baru selesai makan dan ngobrol-ngobrol. Setelah itu, semua bubar dan pulang ke asrama masing-masing.
__ADS_1
*
Pagi, seperti biasa setelah mendengar kumandang adzan dari masjid, Dinda bangun untuk menjalankan sembahyang subuh di kamarnya. Sedangkan Ana masih setia tidur di bawah selimutnya. Sebenarnya ia tahu Dinda sudah bangun, tapi Ana masih suka malas untuk bangun.
Setelah sholat subuh, Dinda tidak bisa tidur lagi. Dari pada bengong di kamar tidak melakukan apapun, Dinda mengganti bajunya dengan setelan baju olahraga dan mengenakan sepatu ket putihnya. Ia akan lari pagi keliling komplek.
Pukul enam lewat ia keluar dari asrama. Mulai berlari dan melintasi klinik.
"Ndan!" Teriak Anu yang juga mengenakan baju olah raga.
"Hei, Nu!" Dinda menoleh ke arah Anu sebentar dan terus berlari meninggalkan Anu.
Ternyata Anu juga lari pagi bersama dengan Yos, Mahmud dan Andi. Mereka berlari di belakang Dinda.
"Sendirian Mbak Din?" Tanya Mahmud yang sudah berlari sejajar dengan Dinda.
"Iya," jawab Dinda sambil terus berlari.
"Sering ya lari pagi?"
"Nggak juga. Kalau lagi pingin saja."
"Nanti ikut ke air terjun, yuk?" Ajak Mahmud sambil mengimbangi larinya Dinda.
"Nggak janji, ya."
Tanpa terasa mereka telah sampai di gerbang masuk.
"Mbak Din, mampir dulu!" Mahmud langsung belok ke asramanya di sebelah kanan gerbang masuk.
"Terima kasih, Pak." Dinda terus berlari meninggalkan Mahmud dan menuju ke asrama putri.
Selesai sarapan, Dinda, Pak Udin dan Pak Hadi menuju ke mess tamu, berbincang dengan beberapa tamu yang datang tadi malam. Mereka membicarakan beberapa hal, dan akhirnya membutuhkan beberapa berkas yang ada di kantor.
Dinda menelpon Anu yang sedang berada di klinik, meminta Anu untuk mengambilkan beberapa berkas di kantor untuk diantarkan ke mess tamu.
Setelah menunggu beberapa berkas yang diperlukan datang, mereka berbincang beberapa hal.
Anu datang menyerahkan berkas kepada Dinda.
"Terima kasih, Nu." Dinda menerimanya di teras mess. Kemudian Anu pergi.
Dinda masuk menyerahkan berkas-berkas itu dan dipelajari oleh para tamu itu.
Kemudian tamu menginginkan pergi ke lokasi kerja untuk melihat langsung.
Dinda menyiapkan segala keperluan untuk ke lokasi yang dekat dengan blok D, dengan naik mobil memakan waktu kurang lebih satu setengah jam. Mereka berangkat pukul sembilan menuju ke lokasi.
__ADS_1