
Warna merah muda penutup kedua gunung kembarnya begitu kentara. Membuat Mahmud terpaku dan menelan salivanya.
Dinda langsung memakai safety rompinya yang diambilkan Mahmud tadi.
"Terima kasih." Ucap Dinda dengan bibir sudah membiru karena kedinginan.
"Ayo ke sana!" Mahmud dan Dinda menjauhi kubangan air menuju ke batang kayu yang roboh. Mereka duduk di sana sebentar.
Kemudian Mahmud bersama Andi berjalan melihat di sekitar air terjun.
Dinda yang kedinginan berusaha mencari cara bagaimana mengatasi rasa dingin itu.
Dinda mencari tempat yang terkena sinar matahari, supaya baju basahnya setidaknya bisa kering. Dinda berjalan keluar menuju ke tempat parkir. Di tempat ini masih ada sedikit panas karena terkena matahari. Untuk mengeringkan baju basah yang masih tetap melekat di tubuhnya, Dinda berjemur di sana.
Dalam hati dia berharap lekas pulang. Tapi menunggu para tamu belum keluar juga dari air terjun.
Gigi Dinda bergemeletuk saking dinginnya. Dia pergi mencari tempat yang masih panas, ke tempat yang berbeda. Karena tempat yang tadi sudah tidak panas lagi, sudah tertutup ranting dan daun-daun.
Dua puluh lima menit kemudian Anu muncul di tempat parkir dan menyapa Dinda yang sedang duduk di atas aspal di pinggir jalan.
"Hai, Ndan!"
"Hai!"
"Lagi ngapain kok sendiri?"
"Menunggu kalian."
"Oh!" Anu berjalan mendekati Dinda.
"Komandan Mahmud kemana?" Anu ikutan duduk di atas aspal agak jauh dari Dinda.
"Masih di dalam, kan?"
"Hm. Ndan, kenapa duduk di situ? Panas lho!" Anu bermaksud mengingatkan Dinda.
"Iya, Nu. Sengaja mencari yang panas."
"Kedinginan, ya?"
"Hm."
Anu meneguk minum dari botol mineralnya.
Tidak lama satu persatu keluar dari air terjun dan menuju ke mobil. Para tamu dan tim mulai naik ke atas mobil.
"Ndan, aku ke sana dulu." Pamit Anu berdiri dan meninggalkan Dinda.
"Iya, Nu."
Tidak lama dari itu, tampak Mahmud berjalan ke arah Dinda.
"Dicariin tahunya sudah ada di sini," kata Mahmud setelah dekat dengan Dinda yang masih betah duduk di atas aspal pinggir jalan.
"Haacing! Haacing!" Dinda bersin-bersin.
"Iya." Jawab Dinda.
__ADS_1
Baju atasnya sudah mulai kering. Celananya yang masih basah.
"Dingin?" Tanya Mahmud sambil mengulurkan tangannya ke Dinda supaya berdiri dari duduknya.
"Sudah nggak terlalu. Haacing! Haacing!" Dinda kembali bersin.
"Awas kena flu!"
Mereka menyusul para tamu naik ke atas mobil. Setelah semua sudah naik, mobil pun mulai melaju membawa mereka kembali ke camp induk.
Posisi duduk sama seperti saat berangkat tadi. Dinda duduk di bangku belakang sebelah kiri, dan Mahmud tetap memilih duduk berada di sebelah kanannya Dinda.
Dinda melihat Mahmud sekilas, ternyata Mahmud sedang duduk serong menghadap ke arahnya dan melihat ke arahnya juga.
Andi ikut semobil dengan Dinda dan Mahmud. Ia duduk berhadapan dengan Mahmud.
"Ndan, nggak terasa lho, kita tinggal seminggu lagi di sini." Ujar Andi.
"Iya. Bulan depan aku akan minta ditugaskan di sini lagi." Kata Mahmud. Dinda yang mendengar menoleh ke arahnya sebentar dan kembali menghadap ke depan.
"Kenapa, Ndan?" Tanya Andi lagi.
"Betah di sini."
"Iya ae. Apa lagi ada pacar, jangan kelamaan ditinggal! Bisa diembat orang!" Ujar Andi sambil melihat pada Dinda.
"Memangnya apa bisa minta ditugaskan di sini?" Dinda ikut nimbrung dan bertanya.
"Mudah-mudahan bisa." Jawab Mahmud agak ragu.
Tidak tahu kenapa, Dinda merasakan pedih mendengar Mahmud waktu tugas tinggal seminggu lagi dan akan berpisah. Dinda merasa sepertinya akan kehilangan sesuatu.
Mahmud menggenggam tangan kanan Dinda di atas bangku. Membuat Dinda "deg! Siiirr!" Seperti terkena sengatan listrik. Dan menoleh ke Mahmud dan beralih ke tangannya. Kedua pipi Dinda seketika merona.
"lepasin!" Pinta Dinda lirih sambil berusaha menarik tangannya.
"Biarkan seperti ini!" Sahut Mahmud yang semakin mengeratkan genggamannya.
Andi yang duduk di depannya memperhatikan kejadian itu sambil senyum-senyum dan menatap aneh.
Tiba-tiba Pak Sulis menginjak rem dengan mendadak.
"Aaagggh…!" Semua orang berteriak.
Mahmud yang tidak berpegangan terhuyung ke depan. Bahunya membentur kepala Dinda.
"Aduh!" Dinda memegangi kepalanya.
"Maaf, tiba-tiba ada kijang menyeberang." Ucap Pak Sulis sambil menoleh ke belakang.
Semua menoleh ke seberang jalan melihat kijang yang membuat sopir menginjak rem mendadak.
"Masya Allah!" Seru mereka bersamaan.
"Besar lho Pak, kijangnya!" Seru Pak Hadi.
__ADS_1
"Untung kita nggak papa." Sambung Pak Hadi.
"Dag dug dag dug!" Jantung Dinda sudah berdetak lebih cepat saking takutnya.
Mobil mulai lagi berjalan.
"Hati-hati, Pak Sulis. Mudah-mudahan nggak ada lagi kijang menyeberang jalan."
Mahmud menoleh ke Dinda.
"Mana yang sakit?" Mahmud menarik kepala Dinda dan mengusapnya.
"Sudah nggak." Dinda ingin menarik kepalanya.
"Biarkan begini dulu!" Mahmud mendekap kepala Dinda dan mengalungkan lengan kirinya ke bahu Dinda.
"Pak!"
Bukannya melepaskan Dinda, tapi malah menggeser kepala Dinda ke dada bidangnya sambil mengusap-usap kepala Dinda yang terbentur bahunya tadi. Telinga Dinda menempel bagus di dada Mahmud. Detak jantungnya sangat jelas Dinda dengar dan rasakan. Seolah Mahmud memintanya untuk mendengarkan dan merasakan debaran di dalam dadanya.
"Kenapa detak jantung ini sama cepatnya dengan punyaku?" Batin Dinda.
Posisi begini lama-lama bikin nyaman juga buat Dinda. Meski sopir ngegas atau ngerem mendadak, tidak takut jatuh tanpa berpegangan. Semilirnya angin membuat mata tidak tahan untuk tidak terpejam. Ngantuk, itulah yang Dinda rasakan.
"Kalau aku ketiduran bagaimana?" Tanya Dinda.
"Tidur saja." Mahmud menjawab dengan senang.
"Nggak ah!" Dinda berusaha melepaskan diri dari Mahmud. Mahmud pun membebaskannya.
Dinda kembali duduk sendiri tanpa ada gangguan, ia duduk sambil memejamkan mata.
Tangan Mahmud yang kiri telentang di belakang sandaran Dinda.
Suasana di dalam mobil hening. Tiada yang bersuara.
Sampai di asrama pukul tiga lewat tiga puluh menit. Dinda langsung masuk ke kamar mandi.
Mahmud kembali bertugas di portal untuk menjaga keamanan.
Selesai mandi Dinda pergi ke masjid guna mengajar mengaji anak-anak.
Selesai mengaji, anak-anak selalu menangih Dinda untuk bercerita, seolah ustadzah Dinda memiliki hutang cerita kepada mereka.
"Ustadzah, yang lalu ceritanya belum selesai." Seru Alia serta teman-temannya.
"Oh, ya? Kemarin sampai mana ceritanya?"
Alia dan teman-temannya mengingat-ingat.
"Sampai ini, Ustadzah," jawab Alia,
"Allah kemudian memerintahkan mereka seluruh malaikat untuk bersujud kepada Adam. Serempak mereka sujud kecuali Azazil.
Azazil merasa dirinya lebih mulia dari Adam. Dia menganggap Adam yang diciptakan dari tanah berbeda dengan penciptaan dirinya yang dari api. Allah pun langsung menegur Azazil namun dengan sebutan yang baru yaitu iblis.
Azazil merespon teguran Allah dengan mengatakan 'tidak' untuk bersujud kepada Adam. Dia menerima ketetapan Allah menjadi iblis."
__ADS_1