PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 54. Durian Untuk Dinda


__ADS_3

Dinda diam, menunduk. Ia tidak tahu harus berkata apa untuk menanggapi perkataan Mahmud.


Mahmud mengeluarkan ponselnya.


"Cekrek! Cekrek!" Suara kamera ponsel.


Mahmud mengambil beberapa foto dirinya bersama Dinda.


"Bagus." Ucap Mahmud setelah melihat hasil jepretannya.


"Lihat," Dinda meminta untuk ikut melihat foto di galeri ponsel Mahmud.


Mahmud menyerahkan ponselnya pada Dinda.


"Masya Allah!" Dinda tersenyum melihat galeri Mahmud penuh dengan gambar-gambarnya. Foto dengan berbagai momen. Ada beberapa foto yang ketika ke Blok mengadakan audit, foto mengantar tamu, foto saat di air terjun, dan masih banyak foto-foto pada momen-momen yang lain, dan yang terakhir, foto setelah upacara.


"Punya fotoku?" Tanya Mahmud.


"Enggak." Dinda menggelengkan kepala.


"Pinjam ponselnya, sini," Dinda menyerahkan ponsel miliknya kepada Mahmud.


"Cekrek! Cekrek!" Suara kamera ponsel Dinda.


Mahmud mengambil beberapa foto dirinya dan Dinda dengan gaya yang berbeda.


Mahmud mengetikkan nomor ponsel miliknya di kontak Dinda.


"Ketikkan alamat rumah di memo," Mahmud meminta alamat rumah Dinda.


Dinda menuruti permintaan Mahmud. Dinda mengetikkan alamat rumahnya dan disimpan di memo ponsel Mahmud. Setelah itu Dinda menyerahkan ponsel milik Mahmud.


Kemudian Dinda meminta beberapa foto dari Mahmud untuk dikirimkan ke handphone miliknya. Mahmud pun mengikuti keinginan Dinda. 


"Mbak Din,"


"Ya,"


"Sekali lagi aku sarankan, jangan memilih pasangan yang berbeda keyakinan! Menikah itu hanya sekali dalam seumur hidup, temukan pilihan yang tepat. Menikah dengan yang satu keyakinan saja belum tentu bahagia, apalagi kalau berbeda. Aku sayang Mbak Dinda, aku ingin Mbak Dinda bahagia. Jangan menyesal di kemudian karena kesalahan dalam memilih."


Dinda mendengarkan semua kata-kata Mahmud. Seperti kata-kata seorang kakak yang sedang menasehati adiknya.


"Tapi, jodoh itu seperti suatu yang rahasia. Karena bukan kita yang menentukan, Pak. Jodoh, rezeki, maut sudah ditentukan bersamaan dengan ditiupkannya ruh, sejak kita berumur empat bulan di dalam kandungan ibu, sebelum kita lahir ke dunia ini,"


"Iya, benar. Dan aku berharap kamu adalah jodohku!" 


"Ndan, kami pamit mau balik ke kampung," ucap sopir setelah selesai menurunkan semua buah durian dan menutupnya dengan terpal. 


Dinda dan Mahmud berdiri dari tempat duduknya.


"Iya, Pak. Terima kasih banyak." Ucap Mahmud. 


Sopir melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Dinda berjalan menghampiri buah durian sebanyak dua bak mobil pick up yang sudah diturunkan di samping asrama putri dan tertutup terpal.


"Terus untuk apa buah durian sebanyak ini?" Tanya Dinda menoleh ke arah Mahmud yang sedang berdiri tidak jauh dari nya.


"Untuk membuktikan c … i … n...,"


"Bukan itu maksudku," potong Dinda.


"Kalau yang itu terserah padamu!" Mahmud tersenyum sambil mengendikkan bahunya. Mahmud nggak mau tahu, akan diapakan buah durian sebanyak itu.


Mereka berjalan beriringan. Dinda akan kembali ke kantor, Mahmud pun akan pergi ke pos.


"Bagaimana kalau kita buat dodol?" Usul Dinda.


"Dodol? Dodol durian?" Mahmud merasa aneh dengan sebutan dodol durian. Karena selama ini yang ia tahu, dodol, ya dodol dari ketan.


"Iya. Bagaimana?" Tanya Dinda.


"Oke. Boleh dicoba."


Mereka berjalan sudah sampai di depan poliklinik. Sampai di sini mereka berpisah. Dinda berbelok ke kiri untuk menuju kantor dan Mahmud berbelok ke kanan untuk pergi ke pos. 


Ketika Dinda memasuki kantor, ia berpapasan dengan Ezra yang keluar dari ruangannya.


"Hai, Din," sapa Ezra.


"Hai, Kak, kebetulan nih ketemu di sini, Kak Ezra entar sore sibuk, nggak?" Tanya Dinda setelah keduanya berhenti di dekat pintu masuk.


"Ntar sore, emmm …, bukannya sebentar kita terakhir latihan vokal group?" 


Ezra yang kebelet buang air kecil, sudah tidak bisa menunda mau pergi ke toilet.


"Sebentar, Din. Aku ke belakang dulu." Setelah pamit, Ezra langsung lari ke toilet.


Dinda pun pergi ke ruangannya sendiri.


Sebelum masuk ke ruang kerjanya, Dinda dicegat Ana yang sudah berdiri di pintu ruangan Dinda.


"Din, kamu apain Ezra kok lari-lari kayak gitu?"


"Aku? Ngapain Kak Ezra? Emm … Aku nggak ngapa-ngapain tuh, Mbak! Memangnya ada apa?"


"Enggak! Aneh saja lihat Ezra setelah sama kamu, terus kok lari-lari!"


"Ohh, itu," Dinda akhirnya ber oh saja sambil melewati Ana, dan masuk ke dalam.


Ana mengikuti Dinda masuk.


Dinda duduk di depan komputer. Ana mengikuti dengan berdiri di sampingnya.


"Kamu dari mana sih, Din?"


"Ada apa, sih?" Dinda bertanya balik sambil membolak balik berkasnya, mencari sampai mana yang iya input tadi. 

__ADS_1


"Aku tadi ke sini, tapi kamu nya nggak ada."


Jawab Ana sambil menarik kursi untuk duduk di dekat Dinda.


"Ngapain nyariin aku? Oh, ya, Mbak Ana, aku punya durian. Kita bisa makan sepuasnya."


"Banyak kah? Kok makan sepuasnya?"


Tiba-tiba Santi dan Maya berdiri di pintu ruangan Dinda.


"Wooi… , ternyata di sini. Ku cariin di ruanganmu, Na, Ana." Ucap Santi dan langsung masuk ke dalam. Diikuti Maya juga masuk ke ruang Dinda.


"Jam berapa ini?" Tanya Dinda sambil melirik jam di tangannya. 


"Lima belas menit lagi pukul dua belas." Sahut Maya.


"Waktunya. Waktunya." Kata Maya.


Sudah biasa seperti hari-hari sebelumnya, setiap mendekati jam istirahat, empat cewek ini selalu berkumpul di salah satu tempat. Dan anehnya, pasti ada saja yang dijadikan topik pembicaraan.


"Lagi bahas apa sih kalian?" Tanya Maya sambil menarik kursi untuk duduk.


"Dinda dapat durian katanya." Jawab Ana.


"Iyakah, Din?" Tanya Santi sambil memainkan pulpennya.


"Dijamin kita bisa makan sepuasnya."


"Gayamu, Din," ucap Maya sambil melirik ke Dinda. Dinda hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.


Kalau sudah berkumpul begini, Dinda yang ingin melanjutkan menginput data ke komputer sudah tidak bisa fokus. ia akhirnya menyimpan data yang sudah dimasukkan kemudian mematikan komputernya. Dan menata berkas-berkas di atas meja.


"Silahkan kalian makan sebanyak yang kalian mau. Selama tidak memiliki riwayat darah tinggi, lho, ya. Jangan gara-gara makan buah durian, terus darah tinggi kumat, yang disalahin buah duriannya!"


"Durian dapat dari mana, Din?" Tanya Santi.


"Pak Mahmud. Jangan kaget, ya, nanti kalau pulang! Durian sebanyak dua pick up ditaruh di sebelah asrama."


"Apa Din? Dua pick up? Memangnya kamu mau jualan durian?" Pekik Maya.


"Hey! Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan ucapanmu yang waktu itu, Din?" Santi mengingatkan kejadian ketika mereka sama-sama berada di teras belakang klinik.


"Rasain loh! Kalau memang iya," sahut Ana.


"Senjata makan tuan tuh, namanya," sahut Maya.


"Kata bertuah!" Kata Santi.


Ketiga orang itu saling sahut menyahut sesuai dengan penemuan pikiran mereka masing-masing.


"Mulai sekarang kita harus hati-hati, kalau bicara. Karena ucapan adalah doa!"


"Tuh, dengerin!"

__ADS_1


"Ya udah, pulang yuk!" Ajak Dinda setelah melihat jam di tangannya menunjukan pukul dua belas lewat.  Empat cewek itu keluar dari ruangan Dinda. Mereka berjalan bersama meninggalkan kantor. 


__ADS_2