PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 53. Dinda Bersama Mahmud


__ADS_3

***


Pagi ini Dinda duduk di kursi belakang meja kerjanya. Ia akan melayani beberapa orang yang sudah mengantri ingin bertemu dengannya.


Ditempat lain, Ezra bersama teman-teman yang dibentuk dalam satu tim melakukan persiapan akan berangkat dinas lusa. Mereka mengatur beberapa baju, dan berbagai perlengkapan yang lain dimasukkan ke dalam tas ransel.


Selesai itu, Ezra pergi ke kantor dan langsung masuk ke ruangan Pak Hadi. Mereka membicarakan hal yang serius yang berkaitan dengan pekerjaan yang harus dilakukan Ezra bersama anggota tim di lokasi yang akan dituju. 


***


Di pintu gerbang masuk perusahaan, ada dua mobil pick up berjalan masuk, dan berhenti di depan pos jaga.


Sopir turun dari mobil.


"Selamat pagi,"


"Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Andi yang saat ini mengenakan baju polisi. Ia keluar dari pos.


"Saya ingin bertemu dengan Pak Mahmud, pak," 


"Ya, ada apa?" Tanya Mahmud yang baru saja keluar dari asramanya yang tidak jauh dari pos. Ia berjalan mendekati Andi dan orang tersebut.


"Saya mengantarkan hadiah yang dijanjikan para orang tua di desa kepada anda tadi malam,"


Si sopir menunjuk pada dua pick up yang di belakangnya ditutup terpal. Mereka berjalan pelan mendekat ke mobil yang sedang diparkir itu.


Sebelum terpal dibuka, dari baunya yang sangat menyengat saja sudah bisa ditebak apa isi bak mobil pick up tersebut. Tapi untuk mengetahui secara pasti apa saja isi muatan mobil itu, si sopir membuka terpal penutup, ternyata isinya buah durian saja, tidak ada selain itu.


Mahmud, Andi, dan beberapa petugas keamanan yang ada di situ terkesima dengan buah durian yang diberikan oleh mereka para orang tua.


"Jadi ini mau saya turunkan dimana, Pak Komandan?" Tanya si sopir.


"Apa tidak salah ini untuk saya?" Tanya Mahmud memastikan.


"Ini benar untuk anda, Ndan."


"Terima kasih kalau begitu, sampaikan kepada beliau-beliau, hadiah saya terima dengan senang hati," ucap Mahmud dengan tersenyum.


Asrama tampak sepi, karena semua karyawan pergi bekerja. Hanya ada beberapa orang saja di sana. Kemudian Mahmud membagikan sebagian buah durian itu kepada mereka. Satpam, petugas keamanan lainnya semua mendapat bagian. Setelah masing- masing sudah selesai mengambil, Mahmud ingin membawa sisanya ke asrama putri. Karena ia ingat, beberapa hari yang lalu, untuk membuktikan keseriusan cintanya, seseorang menginginkan buah durian satu bak mobil hiline. 


"Pak, minta tolong diantarkan ke asrama putri, ya,"


"Baik, Ndan." Sopir masuk ke dalam mobil. Mahmud menyusul masuk, duduk di samping kiri sopir. Mobil berputar arah, kemudian melaju menuju ke asrama putri. 


Sebelum sampai asrama putri, Mahmud meminta mobil berhenti di depan kantor.

__ADS_1


"Tunggu sebentar, Pak," Mahmud turun dari mobil, langsung masuk ke kantor. Ditujunya ruangan Dinda.


Dilihatnya Dinda sedang berada di depan komputer.


"Tok! Tok! Tok!" Suara pintu ruangan Dinda diketuk.


Dinda yang sedang serius menginput data ke komputer, menoleh ke arah pintu. Dilihatnya ada komandan Mahmud berdiri di depan pintu, Dinda berdiri untuk mendatanginya.


"Pak Mahmud," sapa Dinda.


"Ikut saya sebentar!" Mahmud langsung keluar diikuti Dinda di belakangnya.


"Ada apa?" Tanya Dinda.


"Ikut dulu, nggak lama!" Mahmud meminta Dinda naik ke dalam mobil.


Mobil kembali melaju menuju ke asrama putri yang jaraknya tidak jauh dari kantor.


Mobil berhenti di depan asrama putri. Pada jam kerja begini suasana tampak sunyi. Tidak ada seorangpun berseliweran di sana. 


Setelah semua turun dari mobil, sopir dan beberapa orang yang ikut dari kampung, membuka terpal yang menutupi bak belakang mobil.


"MasyaAllah!" Saking kagetnya melihat durian memenuhi dua bak mobil, Dinda memekik sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Maksud ...?"


"Durian ini buat kamu."


"Hah! Sebanyak ini?"


"Untuk membuktikan keseriusan cintaku!" Ucap Mahmud tanpa ragu.


Dinda melotot ke arah Mahmud. 'Untuk membuktikan keseriusan cintaku!' Ulang Dinda dalam hati. 


"Diturunkan di sini saja, Pak." Mahmud menunjuk tempat kosong di samping asrama putri.


Sopir menurunkan buah durian itu di tempat yang Mahmud tunjukkan.


"Pak, ini banyak sekali," tunjuk Dinda pada buah-buah durian itu, dengan mengikuti Mahmud yang berjalan menuju teras.


"Ya, sesuai permintaanmu tempo hari," ucap Mahmud sambil tersenyum, menahan tawa melihat Dinda berkacak pinggang dengan tangan kirinya, sedang satu tangannya memegangi kepalanya, menunduk. Dinda mencoba mengingat ucapannya waktu itu.


Flashback


"Sudah sehat beneran?" Tanya Mahmud kepada Dinda.

__ADS_1


"Sudah," Dinda yang menunduk, menjawab dengan singkat.


"Berapa Ndan harga durian sekarang?" Tanya Andi.


"Durian harganya tetap bertahan. Berbeda dengan harga buah-buahan musiman yang lainnya. Kalau durian, disaat musimnya saja mahal, apalagi kalau pas nggak musim, bisa lebih mahal." Mahmud beralih memperhatikan mereka yang membuka durian.


"Kalau begitu mungkin bisa dipakai untuk nembak wanita pujaan, ya?" Celetuk Dinda, membuat semua mata menoleh ke arahnya.


"Maksudnya bisa untuk ngelamar cewek, begitu?" Tanya Andi.


"Bukan. Tapi untuk membuktikan keseriusan cintanya!" Jawab Dinda.


"Dengan begitu, apa mungkin bisa langsung diterima cintanya? Tanpa ada penolakan?" Tanya Andi yang sangat penasaran dengan pemikiran Dinda.


"Bisa jadi, apa lagi kalau saat harganya mahal. Dan seandainya buah duriannya sebanyak satu gerobak mobil hiline, hiii… hiii!" Jawab Dinda asal dan diakhiri cekikikan karena merasa lucu dengan pemikirannya.


"Apa!" Jawab Anu dan Yos bareng dengan mata melotot.


"Hiii… hiii… nggak usah pura-pura kaget begitu," sahut Dinda santai.


Flash on.


Dinda mengikuti Mahmud duduk di bangku. Dinda duduk di sebelah kiri Mahmud.


"Pak, waktu itu cuma bercanda, bukan untuk beneran," Dinda mencoba untuk menjelaskan, supaya Mahmud tidak salah paham. 


"Beneran juga nggak papa." Jawab Mahmud tenang.


Kemudian Mahmud menoleh kepada Dinda, "Aku ingin membuktikan keseriusan cintaku padamu."


Dinda menunduk.


"Kamu mengerti, kan maksudku?"


Dinda mengangguk dan terus menunduk, tidak berani menatap Mahmud. Dinda merasa telah ceroboh dengan kata-katanya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata selalu diingat Mahmud.


"Aku harap, selama aku tidak ada, kamu tidak berpaling." Kata Mahmud.


Dinda mengangkat wajahnya, melihat Mahmud yang sedang memandang lurus ke depan.


"Aku dengar ada seseorang yang juga menyukaimu, dia bahkan rela akan berpindah keyakinan demi cintanya. Tapi, aku berpesan sama Mbak Dinda, jika memang kita tidak jodoh, aku sarankan, Mbak Dinda jangan memilih yang berbeda keyakinan!" Suara Mahmud lirih, tapi mampu menembus relung hati Dinda. Mata Mahmud tajam menatap Dinda. Seolah sedang mencari ketulusan dari pancaran kedua mata yang bening itu.


"Bulan depan aku akan datang ke sini." 


Dinda diam, menunduk. Ia tidak tahu harus berkata apa untuk menanggapi perkataan Mahmud.

__ADS_1


__ADS_2