
"Pak Udin, kemarin setelah acara peresmian, kan makan-makan. Ada yang makan itu suap-suapan, lho." Kata Pak Hadi sambil berjalan menuju ke sofa yang berseberangan dengan Dinda duduk.
"Iya kah?" Ucap Pak Udin sambil berjalan mendekati pak Hadi yang masih berdiri di belakang sofa.
Dinda mendengar percakapan mereka, tapi ia tetap menunduk melihat ke koran. Pura-pura nggak mendengar, karena ia tahu siapa yang jadi objek pembicaraan mereka.
"Siapa, Pak Hadi?" Tanya Pak Udin sambil duduk di sofa single.
"Asistennya Pak Udin, tuh," sahut Pak Hadi.
"Dinda ini pura-pura nggak dengar lagi," sambung Pak Hadi.
"Beneran kah Din? Sudah jadian kah?" Kepo Pak Udin sambil mengambil koran yang lain.
"Apa sih Pak? Apanya yang jadian?" Dinda dengan meletakkan korannya di meja, dan melihat ke Pak Hadi dan Pak Udin yang suka mengganggu dan kepoan itu sekilas.
"Alaaahh, ngaku aja kenapa sih, kalau pacaran sama komandan Mahmud. Kalau dilihat-lihat kalian berdua serasi juga kok. Iya kan Pak Udin?"
"Iya, serasi. Setuju." Sahut Pak Udin sambil senyum-senyum.
"Anu, Pak Udin, siap-siap saja kita menunggu undangannya. Soalnya aku dengar-dengar tu Dinda nggak mau pacaran,"
"Ow minta langsung tunangan atau ke pelaminan. Bagus tuh. Setuju," timpal Pak Udin.
"Ngomong apa sih Bapak ini?" Dinda mulai cemberut.
"Lha, komandan Mahmud sendiri kok yang ngomong begitu," sahut Pak Hadi sambil menahan senyum, karena telah sukses mengerjai Dinda sampai cemberut dan kesal. Pak Hadi berjalan ke arah pintu dan berdiri disana menghadap keluar.
"Komandan Mahmud ngomong bagaimana, Pak Hadi?" Tanya Pak Udin kepo.
Dinda memperhatikan orang dua itu bergantian.
"Katanya gini," Pak Hadi berjalan kembali ke tempatnya berdiri tadi.
"Aduh Pak Hadi, mau nembak susahnya minta ampun. Terus kataku, apa sudah dicoba, Ndan? Terus komandan Mahmud ngomong bilangnya anaknya nggak mau pacaran, Pak. Mintanya langsung dilamar. Begitu." Pak Hadi menjelaskan panjang lebar.
"Pak, sudah deh. Nggak usah ngomong aneh-aneh, deh. Pak Mahmud itu sudah punya istri dan anak." Sahut Dinda.
"Kata siapa?" Tanya Pak Hadi.
"Ya kata Pak Mahmud sendiri. Dia itu dijodohkan sama anak pimpinannya. Katanya awalnya mereka nggak cinta. Tapi kalau sekarang sudah punya anak, berarti kan saling cinta. Ya nggak?" Sahut Dinda menjelaskan.
"Masak, sih?" Tanya Pak Udin.
"Tapi orangnya suka banget sama kamu lho, Din." Sambung Pak Udin.
"Nggak. Bohong itu. Mahmud itu belum nikah." Pak Hadi bersikukuh.
"Orangnya sendiri lho, ngomong sudah nikah." Dinda nggak mau kalah. Ia langsung berdiri meninggalkan orang dua itu.
Kalau di waktu senggang mereka memang sering suka bercanda, berolok untuk hiburan biar nggak tegang terus. Berbeda dengan disaat bekerja, memang harus serius.
Jam dinding menunjukkan pukul dua belas. Saatnya istirahat.
"Din, ayo istirahat dulu!" Ajak Pak Hadi yang sudah berjalan bersama Pak Udin menuju pintu keluar.
"Ya, Pak." Jawab Dinda yang sedang mematikan komputernya. Kemudian menyusul keluar dari kantor.
Sesampai di halaman kantor bertemu Anu yang berjalan dari arah dapur di belakang kantor.
__ADS_1
"Ndan!" Panggil Anu membuat Dinda menoleh dan berhenti.
"Hai, Nu!"
Kemudian mereka berjalan bareng.
"Ndan, dapat salam tadi," Anu menoleh ke Dinda.
"Salam? Dari?"
"Yang tadi ke kantor,"
"Banyak Anu yang tadi ke kantor."
"Pokoknya yang istimewa deh!"
"Siapa?"
Mereka berdua terus berjalan.
*
Selesai mandi, Mahmud duduk di pos bersama Andi dan dua orang satpam.
Andi melihat jam di dinding.
"Pantesan perutku sudah kukuruyuk, sudah jamnya makan siang tahunya. Ayo, Ndan, kita makan!" Andi menoleh ke Mahmud dan kedua satpam.
"Iya, Ndan, silahkan makan. Biarkan kami bergantian jaga di sini." Kata salah seorang satpam itu.
Mahmud dan Andi beranjak dari kursi.
"Kalau begitu saya ke dapur dulu ya, Pak." Pamit Mahmud.
Mahmud dan Andi berjalan sudah sampai di depan klinik, mereka berhenti setelah melihat ke arah kantor dilihatnya Dinda sedang berjalan berdua bersama Anu.
*
Kembali pada Dinda dan Anu.
Mereka berdua terus berjalan.
"Ndan, coba lihat di depan klinik!"
"Kenapa emang?" Tanya Dinda yang masih berjalan sambil menunduk, karena jalannya sedang turunan, takutnya kalau nggak hati-hati bisa terpeleset.
Kemudian mengangkat wajahnya dan melihat lurus ke depan ke tempat yang Anu tunjuk.
"Oh, Pak Mahmud dan Pak Andi." Gumam Dinda tenang.
"Iya. Lagi ditungguin, tuh!" Sahut Anu.
"Ah, sok tahu kamu, Nu!"
"Ih, dibilangin nggak percaya."
Tidak lama Anu dan Dinda sampai di depan klinik. Di sana masih berdiri Mahmud dan Andi juga Mantri Yos.
"Bareng yuk ke dapur!" Ajak Anu.
__ADS_1
Mahmud berdiri diam sambil terus memperhatikan Dinda.
"Memang lagi nungguin." Sahut Mantri Yos.
Kemudian mereka berjalan bareng berjajar memenuhi jalan.
"Mbak Din, coba makan di depan." Ajak Mahmud kepada Dinda untuk makan di ruang depan saat di dapur.
"Nggak biasa, Pak. Sudah biasa makannya di dapur belakang." Dinda sambil menoleh ke Anu.
"Tapi aku pernah lihat makan di depan?"
"Iya, kecuali kalau ada tamu,"
"Kita kan tamu juga, Mbak?" Pertanyaan jebakan Mahmud membuat Dinda tidak menjawab.
Akhirnya mereka sampai di depan dapur.
Anu sudah masuk duluan lewat pintu belakang. Dinda akan menyusul tapi, tapi lengan Dinda sudah duluan dicekal Mahmud untuk diajak masuk lewat pintu depan.
"Apaan sih, Pak!"
"Sst! Jangan protes!" Mahmud meletakkan telunjuknya di depan mulutnya.
Dinda tidak bisa menolak dan mengikuti Mahmud.
Di dalam sudah banyak karyawan staf yang duluan makan dan hampir memenuhi meja makan di sana.
Mahmud melepas cekalannya pada lengan Dinda untuk mengambil piring dan isinya. Ini kesempatan Dinda untuk lepas dari Mahmud dan berlari ke belakang.
Banyak mata memandangnya saat Dinda masuk lewat pintu depan tadi, karena tidak biasanya. Di bagian depan hanya sering dipakai tempat makan untuk kaum pria. Sedang kan yang wanita lebih nyaman di belakang. Tidak ada peraturan seperti itu sebenarnya, tapi karena sudah terbiasa dan menjadi nyaman begitu.
Dinda lekas mengambil piring di belakang dan mengambil isinya. Lalu mencari tempat duduk yang masih kosong. Tanpa disadarinya, Mahmud pun mengikutinya dan ikut makan semeja dengan Dinda.
"Pak Mahmud!"
"Aku mau makan bareng!"
Dinda melanjutkan menyendok makanannya.
Begitupun dengan Mahmud.
Tidak ada percakapan yang berarti, mereka makan dengan diam, hanya sesekali mereka terpaku dengan tatapan mata yang saling menggetarkan dan tidak dimengerti.
Mahmud lebih dulu menyelesaikan makannya. Kemudian berdiri untuk mengambil air minum, sekalian mengambil minum untuk Dinda.
"Ini minummu!"
Dinda yang barusan menyelesaikan makannya terkejut dan mendongakkan muka kepada Mahmud.
"Nggak kebalik ya Pak. Seharusnya saya yang melayani anda sebagai tamu, tapi terima kasih sudah diambilkan,"
Dinda menerima air minum itu dan meminumnya.
"Nggak! Aku sedang melayani pacarku!"
"Huk… huk…!" Dinda tersedak minumnya.
Mahmud terlihat panik. Tapi tidak lama batuk Dinda reda sampai mengeluarkan air mata karena tersedak tadi.
__ADS_1
"Mbak, nggak papa, kan?" Tanya Mahmud masih panik.
"Nggak papa kok." Jawab Dinda sambil mengusap air matanya dengan tisu.