
Kemarin dan hari ini, sejak pagi Bripda Mahmud bersama Pak Udin pergi mengawal tamu ke blok dan lokasi kerja. Seperti biasa setiap tamu perusahaan yang datang, ujung-ujungnya setelah selesai semua urusannya, mereka meminta untuk diantar pergi ke air terjun.
Untuk pergi ke blok memakan waktu yang panjang, karena jarangnya yang cukup jauh. Untuk kembali ke camp induk pun hari sudah malam.
Sudah beberapa kali Mahmud pergi ke air terjun. Selain beberapa kali mengantar tamu, pernah juga beberapa kali ke air terjun sambil bakar-bakar ayam dengan penghuni asrama putra dan penghuni asrama putri. Tapi belum pernah sekalipun melihat Dinda ikut pergi.
"Sewaktu-waktu aku akan mengajaknya ikut ke air terjun." Batin Mahmud.
Sementara Dinda di ruangan kerjanya, ia sedang sibuk di depan komputernya. Sesekali ia diminta datang ke ruangan radio karena ada bagian HRD di kantor pusat ingin menghubunginya langsung.
"Tok tok tok!" Sudin mengetuk pintu ruangan Dinda yang sudah terbuka.
Dinda melihat ke arah pintu,
"Ya, kak Sudin," Dinda mengalihkan pandangannya dari komputer ke arah pintu.
"Din, bagian HRD Banjarmasin mau hubungi lagi." Kata Sudin yang sudah berdiri di pintu ruangan Dinda.
"Iya kak, aku akan segera ke ruangan kak Sudin."
Sudin pergi meninggalkan Dinda. Dinda menyimpan data yang diinput ke komputernya tadi. Kemudian keluar ruangannya menuju ke ruangan ssb.
"Masuk saja, Din!" Kata Sudin yang sudah melihat Dinda dari balik pintu ruang transparannya.
Dinda membuka pintu kemudian masuk dan menutup kembali pintu itu.
Setelah Sudin menghubungkan Dinda dengan HRD Banjarmasin, selanjutnya Dinda bicara dengan pihak yang ingin menghubunginya.
Hari Sabtu sungguh melelahkan. Pekerjaan begitu padat. Maklum Minggu hari libur, jadi supaya tidak terbengkalai pekerjaan yang bisa diselesaikan segera diselesaikan hari ini.
"Ndan, kusut banget wajahnya," Anu menaruh teh di meja Dinda.
"Iya kah? Oh ya, Anu, minta tolong bikinkan kopi, ya?" Dinda masih menatap ke layar komputer.
"Kopi untuk siapa, Ndan?"
"Untuk aku lah, Nu."
"Tumben Ndan, mau minum kopi?"
"Iya, biar nggak ngantuk. Lagi banyak kerjaan nih."
"Mau ku bantuin, kah?"
"Memangnya kamu sudah nggak sibuk?"
"Kalau sekarang masih sibuk sih, tapi nggak lama lagi kelar."
"Beneran nih, mau bantuin?"
"Ayo jak. Tapi aku selesaikan dulu pekerjaanku, Ndan."
"Oke, Nu. Jangan lupa kopi buat aku, ya. Gulanya sedikit saja."
__ADS_1
"Siap." Anu segera keluar dari ruangan Dinda. Dinda terus berkutat di komputernya.
Karena Anu siap membantunya, Dinda ingin mencari pinjaman komputer satu lagi. Dinda pergi ke ruang produksi. Ruang produksi tanpa pintu, hanya disekat dengan meja kabinet.
Dilihatnya Ana sedang duduk santai.
"Mbak Ana, lagi ngapain?"
"Ngantuk aku, Din."
"Itu komputer lagi nggak dipakai, kah?"
"Iya. Kumatikan dari tadi."
"Kupinjam sebentar ya, Mbak?"
"O, pakai aja. Aku mau pulang, pusing kepalaku kalau ngantuk nggak dipakai tidur."
Dinda menuju ke komputer dan menyambungkan dengan colokan listrik kemudian menghidupkannya. Ana pun berdiri dari duduk malasnya kemudian ngeloyor keluar dari ruangannya. Dinda tersenyum melihat tingkah Ana.
"Ndan, ini kopinya." Anu membawa segelas kopi pesanan Dinda, sedang melihat Dinda duduk di depan komputer di ruang produksi.
"Tolong dibawa ke sini, Nu!" Anu meletakkan kopi di meja depan Dinda di samping komputer.
"Aku bantuin apa nih?" Tanya Anu.
"Ini Nu, kamu mengerjakan yang di ruanganku saja." Dinda mengajak Anu ke ruangannya.
"Dihitung lembur, kan, Ndan?"
"Asyiiik." Anu tersenyum lebar.
Setelah Dinda menunjukkan mana-mana yang dikerjakan Anu, dan Anu pun langsung paham dan mengerjakannya, Dinda kembali ke komputer produksi.
Pukul empat lewat, Pak Hadi keluar dari ruangannya. Dilihatnya Dinda duduk di ruangan tamu di depan ruangannya.
"Lembur ya, Din?"
"Iya, Pak." Dinda menjawab sambil melirik sekilas saja ke arah Pak Hadi.
Pak Hadi yang sudah berjalan hampir sampai di pintu keluar balik lagi dan berhenti sambil nyender di meja kabinet.
"Oh ya, Din, nanti pukul tujuh tiga puluh ada meeting. Bilangin ke semua manajer dan asisten."
Dinda mengangkat wajahnya mengalihkan dari layar komputer untuk melihat ke arah Pak Hadi.
"Iya, Pak." Jawab Dinda sambil menganggukan kepala.
Pak Hadi kembali berjalan dan meninggalkannya.
Dinda berlari ke ruang ssb, takut Sudin keburu pulang.
"Kak Sudin."
__ADS_1
"Ya ampun, ngagetin saja Din, kamu ini!"
"Sori sori!"
"Ada apa sampai ngos ngosan kayak itu?"
"Kak, tolong bilangin manager dan asisten seluruhnya, ntar malam ada meeting pukul tujuh tiga puluh."
"Coba ngomong sendiri! Ayo sini!" Sudin menunjukkan tempat dan memberikan alat komunikasi ke Dinda.
"Nggak ah! Kak Sudin saja. Nggak kasihan apa, aku ngos ngosan begini,"
"Siapa juga yang nyuruh lari-lari?"
"Takutnya Kak Sudin keburu pulang."
"Ya sudah, aku bilang ke mereka."
"Terima kasih ya, Kak. Kak Sudin the best deh!" Dinda mengangkat kedua jempolnya ke arah Sudin, membuat Sudin tersenyum. Kemudian Dinda keluar dari ruangan itu dan meneruskan pekerjaannya.
Tanpa terasa jam sudah menunjukkan hampir pukul lima sore. Dinda buru-buru menyimpan datanya ke sebuah flashdisk kemudian mematikan komputer milik bagian produksi yang dipinjamnya tadi.
"Bagaimana Nu? Sudah sampai mana?" Tanya Dinda yang sudah masuk ke ruangannya.
"Sampai sini, Ndan." Anu menunjukkan berkas yang diinput ke komputer.
"Oke deh, Nu. Sudah sore nih. Kita lanjutkan ntar malam atau besok saja. Aku mau pulang sekarang."
"Baiklah, Ndan, kalau begitu. Bareng ya pulangnya! Aku save dulu ini."
Dinda mengemasi berkas-berkas yang ada di atas mejanya.
*
Sebelum jam makan malam Bripda Mahmud, Pak Udin dan rombongan tamu sudah datang di camp induk. Jadi mereka bisa makan malam bareng di dapur staf.
Selesai makan malam, Mahmud dan Andi ke poliklinik membawa beberapa buah durian yang didapat Mahmud saat di jalan pulang mengantar tamu tadi. Ada beberapa orang menjual buah durian di pinggir jalan, dan beberapa tamu membelinya, kemudian Mahmud diberi beberapa buah.
"Kok sepi, Tri, pada kemana ni orang-orang?" Tanya Mahmud karena dilihatnya hanya Mantri Yos seorang diri.
"Anu dan yang lainnya masih ke masjid, Ndan."
Kemudian mereka duduk di dalam klinik.
*
Dinda, Maya, Santi dan yang lainnya, termasuk Anu dan Duki masih di masjid, karena selesai jamaah sholat maghrib mendadak ada rapat pengurus masjid. Dan diteruskan sholat isya berjamaah.
Selesai pulang dari masjid, rencana Dinda mau pergi ke dapur untuk makan malam. Tapi, saat sampai di depan klinik, "hei! Kesini dulu semua!" Mantri Yos memanggil semuanya untuk mampir ke klinik.
Anu, Santi, Maya dan Duki berbelok dan masuk ke klinik. Dinda pun ikut mereka.
"Ada apa, Tri?" Tanya Duki.
__ADS_1
"Ada apa sih Tri, heboh?" Dinda ikut penasaran.