
Malam itu juga Bripda Mahmud menelepon Pak Udin dan Pak Hadi melaporkan kejadian tersebut.
Pukul satu malam, ke enam pemuda yang ingin membuat onar di perusahaan dibawa ke kampung, untuk supaya ditindaklanjuti oleh aparat setempat.
Sampai di balai desa, semua orang tua dari para pemuda itu dipanggil untuk mempertanggung jawabkan kelakuan anak-anaknya. Mereka secara materi adalah orang-orang kaya.
Banyak dari pihak keluarga mengucapkan terima kasih kepada Mahmud.
"Pak polisi, terimakasih telah membawa anak kami kembali kepada kami, dalam kondisi anak kami yang masih utuh dan baik-baik saja. Terima kasih, Pak, tidak menganiaya atau memukul anak saya."
Mahmud dibuat bingung dengan ucapan salah seorang orang tua dari mereka.
"Maka dari itu, karena perusahaan juga telah menyerahkan semuanya kepada aparat desa, sangsi apa yang akan diberikan buat mereka. Saya selaku polisi hanya menjalankan tugas saya, yaitu mengayomi, melindungi semua masyarakat dengan baik. Menindak tegas dan memberi sangsi kepada mereka yang melanggar peraturan sesuai dengan peraturan yang berlaku. saya sebagai polisi tidak boleh berbuat yang semena-mena terhadap siapapun. Tidak boleh main hakim sendiri." Ucap Mahmud untuk menjelaskan kepada semua orang yang hadir di balai desa terutama para orang tua yang ada di situ,
"Saya orang tua akan mendidik dan akan mengawasi lebih ketat lagi. Supaya hal seperti ini tidak terulang lagi. Saya rasa jika hanya ucapan terima kasih tidak akan cukup buat Pak Polisi. Maka dari itu, kami akan memberikan sesuatu yang saya punya untuk Pak Polisi."
"Terima kasih, Pak, Bu, jangan terlalu repot."
"Oh, tidak merepotkan, Pak Polisi. Justru saya akan senang jika Pak Polisi menerima hadiah dari kami."
"Jika Bapak dan Ibu memaksa, saya terima,"
Ucap Mahmud. Padahal ia belum tahu sesuatu atau hadiah apa yang akan diberikan mereka untuknya.
Semua orang tua bersama aparat desa saling berembug.
Orang-orang di kampung itu memiliki tanah dan kebun yang luas-luas. Banyak pohon durian yang tumbuh di lahan mereka. Mereka akan memetik buah durian untuk diberikan kepada Pak Polisi sebagai hadiah.
Mahmud, Andi, Pak Hadi dan Pak Udin saling pandang. Mereka berada di kampung sampai hampir subuh masih belum kembali ke perusahaan.
"Baiklah, nanti biarkan kami yang mengirim hadiahnya ke tempat Bapak." Kata salah seorang di antara mereka.
__ADS_1
Karena semua sudah beres, maka Pak Hadi, Pak Udin, Mahmud dan Andi kembali ke perusahaan dengan mobil yang dikemudikan oleh Pak sulis.
Mobil memasuki lokasi perusahaan, sayup-sayup terdengar suara adzan subuh dari masjid.
"Pak Sulis, kita langsung ke masjid saja!" Titah Pak Hadi.
"Ya Pak." Pak Sulis melajukan mobilnya menuju ke pelataran masjid. Sampai di sana semua turun dan langsung menuju ke tempat untuk berwudhu.
Setengah jam kemudian, semua sudah di dalam asrama masing-masing.
Di asrama dekat pos,
"Ndan, aku mau tidur dulu, ya. Mataku mengantuk sekali rasanya."
"Sama. Aku juga begitu."
Semalam suntuk kedua polisi itu tidak tidur. Ada kesempatan pagi ini mereka menganti waktu tidurnya.
🌞
Sambutlah pagi hari dengan semangat baru. Tidak peduli seberapa baik atau buruk dirimu. Bangunlah setiap pagi dan bersyukurlah bahwa kamu masih diberi kesempatan untuk memperbaikinya.
Suara adzan terdengar sampai di asrama putri. Dinda masih sangat mengantuk. Tapi ia tetap harus bangun. Pergelangan kaki kirinya terasa cenut-cenut. Setelah dilihatnya, tampak masih sedikit bengkak. Dinda bangkit dari tempat tidurnya, dengan pelan pergi ke kamar mandi bangun untuk menjalankan sholat subuh.
Tidak hanya mereka yang semalaman pergi ke kampung saja yang merasa lelah dan mengantuk. Ditambah dengan cuaca pagi yang begitu dingin, Ana yang sekamar dengan Dinda sama sekali tidak terusik untuk bangun pagi. Ia masih tidur nyenyak di bawah selimut tebalnya. Begitu pun dengan Dinda. Selesai sholat subuh, Dinda menarik selimutnya kembali. Namun Ia tidak bisa memejamkan matanya lagi. Diambilnya sebuah buku dan dibacakan di atas tempat tidur.
Berbeda dengan Ezra dan kawan-kawan. Pagi ini mereka sudah berada di lapangan voli yang terletak di depan asramanya. Mereka berolahraga. Melakukan senam. Ada yang sit up, ada yang push up, dan lain sebagainya.
Dinda melihat jam di atas nakasnya menunjukkan pukul setengah tujuh. Dia pun turun dari tempat tidurnya, kemudian mengganti baju tidurnya dengan setelan treining dan mengenakan sepatu kets. Ia keluar dari asrama, melakukan pemanasan sebentar untuk melenturkan otot-otot nya. Ia akan jogging dan lari pagi keliling lokasi perusahaan.
Beberapa meter Dinda keluar dari pintu gerbang, ia bertemu dengan Ezra yang juga jogging.
__ADS_1
"Hai, Din! Barengan, yuk!"
"Hai kak, ayo!" Akhirnya mereka berjalan sejajar.
Pagi hari, udara sangat sejuk. Tetesan embun pagi membasahi rumput yang tumbuh di pinggir jalan. Terdengar indahnya suara kicauan burung-burung yang bertengger di atas dahan. Pohon-pohon besar berdiri kokoh dan menjulang tinggi.Jalanan yang masih sepi, yang hanya sesekali dilalui satu atau dua kendaraan saja.
"Kira-kira ada yang cemburu nggak nih, kalau kita barengan begini?" Tanya Ezra memecah keheningan di antara keduanya.
Sejak pulang dari dinas, Ezra melihat kedekatan Dinda dengan Polisi itu. Ia pun mendengar kabar angin bahwa ada hubungan khusus di antara mereka.
Dinda merasa pertanyaan Ezra agak aneh. Setelah diam, Dinda pun menjawab.
"Mengapa cemburu?" Pertanyaan bodoh Dinda.
"Barangkali?" Ezra kemudian berlari meninggalkan Dinda.
Karena pergelangan kaki kirinya baru baik dari keseleo, Dinda tidak berlari. Ia hanya berjalan cepat saja. Itu pun kaki nya masih terasa cenut-cenut.
Setelah Ezra berlari jauh di depan Dinda, Ezra baru sadar bila ia telah meninggalkan Dinda di belakangnya.
Ezra merasa aneh, Kenapa Dinda tidak menyusulnya berlari? Tidak seperti kebiasaan sebelumnya. Dulu, jika Ezra berlari, Dinda akan ikut berlari di belakangnya. Karena Dinda tidak pernah mau berlari di depannya atau mendahuluinya. Meski begitu, Dinda tidak mau ditinggal, karena pagi yang masih sepi membuatnya takut.
"Kak Ezra! Aku jangan ditinggal!" Dinda pasti akan berteriak seperti itu jika Ezra berada jauh di depannya. Setelah itu Ezra akan memutar tubuhnya berbalik untuk melihat Dinda yang sedang berlari menyusulnya.
"Ayo lebih cepat larinya, aku tarik dari sini!" Ezra menggerakkan tangannya seolah sedang menarik tali untuk menarik Dinda supaya Dinda cepat sampai di dekatnya.
Setelah itu mereka akan tertawa atau berteriak bersama.
Ezra berdiri di bawah pohon besar di pinggir jalan, menunggu Dinda yang masih belum terlihat olehnya. Ezra khawatir kenapa Dinda lama tidak muncul.
Dinda terus berjalan. Dinda tidak berteriak memanggil Ezra untuk menunggunya, karena hari ini ia tidak bisa berlari. Ia tidak ingin Ezra menunggunya terlalu lama.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian,