
Satu setengah jam di lokasi sudah cukup untuk mengumpulkan data yang diperlukan. Tamu dan tim kembali ke blok sudah melewati dari jam makan siang. Meski begitu mereka tetap makan, karena sudah disiapkan.
Selesai makan langsung meninggalkan blok dan menuju ke lokasi wisata air terjun. Karena cuaca cerah, di jalan pun tidak ada hambatan, empat puluh menit perjalanan telah mengantarkan mereka untuk sampai di tempat wisata.
Satu persatu turun dari mobil. Pak Hadi dan para tamu berjalan lebih dulu.
Dinda melepas helm dan rompinya, dan disimpan di dalam mobil. Terlihat ada dua mobil yang sudah terparkir di sana. Suara ramai orang di bawah air terjun pun terdengar sampai di pelataran parkir.
"Ayo!" Ajak Mahmud yang sudah berjalan mendahului Dinda.
Kini mereka telah sampai di bawah air terjun. Hawanya sangat sejuk dan jauh dari polusi udara. Para tamu ada yang langsung menceburkan diri ke kubangan kolam tepat di bawah air terjun, ada yang berfoto-foto. Mahmud juga langsung bergabung dengan mereka menuju ke bawah dekat jatuhnya air terjun.
"Hai, Din!" Teriak Ana yang sudah berdiri di atas batu besar yang berada di bawah jatuhnya air terjun sambil melambaikan tangan ke arah Dinda.
Dinda tersenyum dan membalas mengangkat dan melambaikan tangannya kepada Ana.
Maya, Santi dan beberapa yang lain dengan rambut sudah basah, duduk di sebuah batang kayu agak jauh di pinggir sungai, Dinda ikut gabung duduk bersama mereka.
"Din, nggak langsung renang?" Tanya Maya.
"Iya, Din, ini aku membawa sabun kalau mau sekalian mandi." Santi menunjukkan botol sabun cair ke arah Dinda.
"Aku nggak membawa baju ganti, Mbak." Dinda enggan masuk ke kolam dan berenang.
Dinda melihat ke sekelilingnya. Ternyata hampir semua penghuni asrama putri dan asrama putra ada di sana.
"Din, ayo sini!" Teriak Ana.
Dinda hanya tersenyum dan melambaikan tangan saja.
Dilanjutkan ngobrol kembali dengan Maya dan Santi.
"Mbak Din, ayo kita renang!" Ajak Noni yang baru saja keluar dari kolam dan berdiri di pinggir kolam.
"Iya, Non, lanjutkan saja." Jawab Dinda.
Ternyata sejak tadi Mahmud memperhatikan Dinda. Berulang kali dipanggil dan diajak turun ke air kok nggak ada pergerakan.
Tiba-tiba Mahmud datang mendekatinya dan langsung menarik tangannya.
"Ayo!" Ajak Mahmud.
"Iya, Ndan. Tarik saja. Kalau nggak begitu dia nggak mau turun ke air!" Seru Santi.
"Hahaha … iya, Pak Mahmud. Benar itu." Timpal Maya.
__ADS_1
"Iya, aku ke sana! Tapi, ini lepasin!" Pinta Dinda kepada Mahmud untuk melepaskan tangannya. Tapi tidak digubris Mahmud.
Mahmud menuntun Dinda dan mengajaknya naik di sebuah batu besar di bawah jatuhnya air. Dinda mulai merasakan rintikan air seperti air gerimis mengenai dirinya.
"Wow, ternyata asyik juga!" Teriak Dinda dan tersenyum senang karena baru ini ia naik ke batu besar itu.
"Pak Andi, dokumentasikan, dong!" Teriak Mahmud meminta Briptu Andi untuk mengambil gambarnya dengan Dinda. Dinda berdiri dengan merentangkan kedua tangannya, dan Mahmud duduk di depannya dengan kaki berselonjor.
"Mbak, kesana yuk!" Mahmud mengajak melompat ke batu besar yang di sebelah kirinya.
Ciut nyali Dinda. Baru melihat saja sudah takut duluan. Batunya berlumut membuatnya takut.
"Nggak! Aku nggak berani." Dinda memegang lengan Mahmud.
"Jangan ke sana." Tatapan Dinda penuh permohonan ke arah Mahmud. Membuat Mahmud iba.
Padahal beberapa orang sudah melompat ke sana, termasuk Noni.
"Nggak kepingin mengambil foto di sana?" Tanya Mahmud.
"Nggak." Dinda menggelengkan kepala.
"Ya sudah. Kita foto di tempat lainnya saja."
Mahmud turun dari batu itu, Dinda mengikutinya dengan hati-hati, karena bebatuan saja yang ada di sana. Mahmud menoleh ke arah Dinda dan membantunya turun. Kemudian menggandengnya menuju ke batuan yang rata dan besar, letaknya agak jauh dari jatuhnya air. Ini batu dekat dengan kolam, mereka banyak yang berenang di kolam itu.
Setelah itu Mahmud turun ke kolam dan berenang. Dinda duduk di pinggiran kolam dengan kedua kaki masuk ke dalam kolam.
Dinda melihat jernihnya air terjun yang turun dari ketinggian beberapa meter itu. Percikan airnya mengenai wajah dan baju Dinda.
Tiba-tiba Mahmud datang mengagetkannya dengan menyiramnya air dengan kedua telapak tangannya.
"Pak! Basah nih!" Teriak Dinda. Tapi Mahmud nggak peduli. Malah ditariknya paksa tangan Dinda supaya masuk ke dalam kolam. Bertahan sekeras apapun, akhirnya Dinda kecebur ke dalam kolam juga.
"Aaagghh!" Pekik Dinda.
Apa boleh buat, sudah kepalang basah, akhirnya Dinda berenang mengikuti Mahmud yang terus menggandeng tangannya. Tidak bisa dielakkan baju seluruhnya basah.
Mereka berenang beberapa kali bolak-balik.
Lima belas menit kemudian mereka berhenti di bawah tempat duduk Dinda yang tadi.
Mahmud keluar dari kolam dan duduk di sana.
"Ayo naik sini!" Mahmud mengulurkan tangan ke arah Dinda.
__ADS_1
Dinda pun ingin naik, karena sudah merasakan dingin.
Tiba-tiba Noni mendekatinya dan berbisik ke telinga Dinda.
"Mbak Din, bajumu transparan."
"Hah!" Dinda memekik kaget. Kemudian melihat dirinya sendiri.
"Astagfirullah!" Dinda menepuk jidatnya sendiri. Saking asyiknya Dinda lupa jika memakai kaos putih. Sehingga baju bagian dalamnya sudah pasti tembus pandang.
"Kenapa?" Tanya Mahmud membuat kedua pipi Dinda seketika merona.
"Ayo naik sini! Nggak dingin apa terus di dalam air?"
Dinda menggigit bibir bawahnya. Matanya mulai berkaca-kaca.
Mahmud bingung dengan ulah Dinda.
"Oh!" Akhirnya Mahmud menepuk jidatnya setelah tahu apa yang Dinda alami. Lalu Mahmud kembali menceburkan dirinya dan mendekati Dinda.
"Membawa baju ganti, nggak?" Tanya Mahmud berbisik.
Dinda menggelengkan kepala.
"Seksi. Aku sudah lihat dan bisa mengira-ngira seberapa besar ukuran punyamu," goda Mahmud sambil tersenyum. Membuat Dinda memelototkan kedua matanya dan mencubit pinggang Mahmud.
"Auw! Sakit tahu!"
"Biarin!"
"Tunggu di sini! Ku Ambilkan rompi yang di mobil!" Mahmud tersenyum dan keluar dari kolam. Dinda hanya memandangnya dengan penuh harap.
Mahmud berlari keluar menuju ke tempat parkir mobil yang tadi ditumpangi, guna mengambilkan rompi safety milik Dinda yang tadi disimpan di dalamnya. Setelah menemukan yang dicari, Mahmud segera kembali menemui Dinda yang menunggunya penuh harap.
"Ayo naik!" Terus pakai ini!" Mahmud mengulurkan tangannya ke arah Dinda.
"Jangan lihat, ya!" Tegur Dinda.
"Bagaimana bisa nggak melihat?" Goda Mahmud.
"Pak Mahmud!"
"Hahaha! Iya, Iya! Iya! Ayo!"
Dinda menerima uluran tangan Mahmud untuk bisa naik dan keluar dari kolam itu. Warna merah muda penutup kedua gunung kembarnya begitu kentara. Membuat Mahmud terpaku dan menelan salivanya.
__ADS_1
Dinda langsung memakai safety rompinya yang diambilkan Mahmud tadi.
"Terima kasih." Ucap Dinda dengan bibir sudah membiru karena kedinginan.