PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 19. Di Dalam Mobil


__ADS_3

Pukul sembilan malam tim bersama enam orang karyawan berangkat ke kantor induk dalam cuaca hujan dan dingin menggigit.


"Kita jalannya slow saja Pak Sulis, ya. Yang penting selamat sampai tujuan," pesan Pak Rizki.


"Iya, Pak." Pak Sulis menganggukkan kepala.


Semua mengetahui medan seperti apa yang akan mereka lewati. Perjalanan di malam hari yang gelap. Tidak ada penerangan lampu jalan seperti gemerlapnya lampu di jalan kota. Ini adalah lokasi jalan proyek perusahaan di tengah hutan. Kanan kiri jalan rimbun oleh pepohonan yang besar-besar, lebih sering mendengar suara uwak uwak dan monyet bergelantungan, sering juga menemui jurang-jurang yang sangat terjal. Tentu berbeda suasananya perjalanan siang dengan perjalanan malam hari. 


Ada istri karyawan yang sedang hamil, ia duduk di depan di samping kiri sopir, suaminya duduk di sebelah kirinya. Di saf belakangnya, Dinda duduk di bagian tengah, disusul Mahmud duduk di pinggir kiri dekat pintu. Di sebelah kanan Dinda duduk istri karyawan juga, dan paling kanan Pak Rizki.


Di saf paling belakang, Duki bersama tiga orang karyawan.


Meski mobil sarat penumpang, tidak mengurangi  dinginnya udara malam. Ditambah lagi guyuran hujan. Dinda pun merasa kedinginan, kedua telapak tangannya juga dingin.


Mahmud duduk di sebelah kiri Dinda dengan tangan kanan telentang di belakang Dinda.


Hembusan nafas Mahmud terasa hangat menerpa bagian kiri Dinda.


"Dingin, ya." Bisik Mahmud.


Dinda mengiyakan dengan menganggukkan kepala tanpa menoleh.


"Dingin banget tangannya," batin Mahmud saat menyentuh tangan Dinda. Membuat Dinda kaget dan menoleh ke arah Mahmud. Tapi Mahmud cuek saja seolah tidak terjadi sesuatu. 


Satu jam sudah mobil terus melaju di bawah guyuran air hujan. Sunyi dan dingin membuat penumpang mengantuk. Beberapa orang tanpa terasa memejamkan matanya. Termasuk Dinda, semakin lama mata terasa berat untuk dibuka. Hanya pak Mahmud dan Pak Sulis yang terdengar masih mengobrol. Melihat Dinda tertidur, Mahmud menyandarkan kepala Dinda ke bahu kanannya. 


Sampai mobil berjalan pelan karena Sulis merasa ada yang berbeda dengan ban mobil bagian belakang. Sulis menghentikan mobil.


"Kenapa, Pak Sulis?" Tanya Mahmud yang ikut merasa ada keganjilan.


"Kayaknya ban belakang kempis, Ndan. Sebentar saya cek dulu!" Sulis membuka pintu untuk keluar. Mahmud pun ikut menyusul keluar. Keduanya mengecek ke belakang mobil. Benar adanya. Ban belakang sebelah kanan kempes.


"Pak Sulis membawa ban serepnya? Tanya Mahmud.


"Ada, Ndan." Pak Sulis membuka bagasi belakang untuk mengambil ban serep serta peralatan untuk mengganti ban.


Saat itu ada dump truck lewat dari arah berlawanan. Melihat Pak Sulis berada di luar mobil, sopir dump truck itu pun berhenti.


"Ada apa, Pak Sulis?" Teriak Pak sopir dump truck.


"Lagi ngeban, Mang." Jawab Sulis yang akan mengganti ban ditemani Mahmud. Kemudian Amang sopir dump truck itu turun, ikut membantu melepas ban yang kempis dan memasang ban yang baru.


Mendengar orang berteriak dan ribut, Dinda terbangun, melihat orang di dalam mobil masih tidur. Dinda mencari sumber suara ternyata ada di belakang mobil, juga melihat mobil dump truck berhenti di seberang jalan.


Walau tidak sederas tadi, tapi hujan masih setia turun dengan rintik-rintik. Beberapa menit kemudian, Amang kembali ke dump trucknya. Sulis dan Mahmud kembali masuk ke mobil. 


"Mang, saya duluan!" Pamit Sulis dan Mahmud pada sopir dump truck.


"Iya, Ndan, Pak Sulis. Silahkan!" Sulis masuk dan duduk di belakang kemudi. 


Mahmud juga kembali duduk di sebelah kiri Dinda, melepas baju safetynya yang basah. Dia kembali hanya memakai kaos pres body menampilkan tubuhnya yang macco. 

__ADS_1


"Tin! Tin!" Suara klakson mobil dan kembali melaju. 


"Ayo main tebak-tebakan, Mbak Din, biar nggak ngantuk!" Ajak Mahmud.


"Ayo! Siapa takut!" Sahut Dinda semangat dengan suara yang agak parau orang bangun tidur.


"Yang menang ngasih tebakan, yang kalah diapain, ya?"


"Yang kalah yang menjawab!" Sambar Dinda.


"Hahaha!" Pak Sulis ikut tertawa.


"Nggak asyik. Kalau nggak bisa menjawab di jentik, hayo!" Mahmud memberi kesepakatan.


"Apa yang Jauh di mata dekat di hati?" Tanya Mahmud.


"Usus!" Jawab Dinda.


Sekarang Dinda. "Rambut putih namanya uban, rambut merah namanya pirang, kalau rambut hijau namanya apa?"


"Rambut disemir hijau." Sahut Mahmud.


"Salah haha! Hayo! Pak Sulis tahu, apa?" Tanya Dinda.


"Rambutan belum mateng." Jawab Pak Sulis sambil terus memegang kemudi dan fokus di jalan.


"Betul, Pak Sulis. Yang nggak bisa menjawab dijentik. Sini!" Kata Dinda.


"Jus jus apa yang turun dari langit?" Tanya Dinda.


"Jus, Justru itu yang aku enggak tau." Sahut Mahmud.


"Betul." Ucap Dinda.


"Apa bedanya kamu dengan jarum jam?" Tanya Mahmud.


"Apa, ya?" Dinda mikir tapi nggak menemukan jawabannya.


"Ayo, cepat!"


"Nggak tahu. Apa coba?"


"Sini dijentik tangannya."


"Nggak mau. Jawab dulu, apa ayo?" Rajuk Dinda.


"Kalau jarum jam muterin angka. Kalau kamu muterin pikiran aku terus." Sahut Mahmud.


"Hii, ngaco." Dinda cemberut.


"Hahaha!" Mahmud dan Sulis ngakak.

__ADS_1


"Satu lagi, nih! Panda panda apa yang bikin seneng?" Tanya Mahmud.


"Panda imut." Sahut Dinda.


"Salah, bukan itu. Apa hayo?"


"Hem, panda pandangin kamu … hii… jangan ngaco, deh!" Dinda cemberut.


"Hahaha! Ayo! Mau diteruskan menjawabnya atau mau di jentik?"


"Hiii…!" Dinda ngambek.


"Pandangin kamu apa? Lanjutin!"


"Lanjutin sendiri!"


"Lha! Kenapa jadi ngambek? Kan ini tebak-tebakan?"


"Habis pertanyaannya ngaco."


"Hahaha!" Spontan Mahmud tertawa sambil menarik hidung Dinda.


Dan tanpa terasa mobil pun memasuki pintu gerbang camp induk. Mobil menuju ke asrama putri untuk menurunkan Dinda.


"Tidur yang nyenyak." Bisik Mahmud ke telinga Dinda ketika Dinda turun dari mobil.


"Terima kasih,"


Dinda langsung masuk ke asrama putri. Dan mobil kembali melaju ke tempat lain.


*


Adri masih membicarakan kejadian di jembatan yang dialami Dinda dan Mahmud tempo hari, walaupun berita yang disebarkan itu tidak benar. Dinda cuek saja, tidak mau menanggapinya. Dinda tetap sibuk dengan pekerjaan dan kegiatannya.


Sore sepulang dari kantor, Dinda pergi ke masjid mengajar mengaji anak-anak. Selesai mengaji, anak-anak sering meminta Dinda untuk bercerita tentang kisah-kisah Nabiyullah. Anak-anak sangat antusias mendengarkannya.


"Ustadzah, cerita tentang kisah-kisah Nabi, dong!" Pinta Alia yang diikuti teman-temannya kompak.


"Oke! Mau mendengarkan tentang kisah Nabi siapa?"


"Dari Nabi pertama, Ustadzah."


"Baik. Sebelum bercerita tentang kisah Nabi, Ustadzah mau bertanya, nih! Ada berapa jumlah Nabi dan Rasul?" Tanya Dinda kepada anak-anak. Anak-anak tampak berpikir.


"Ayo! Siapa yang bisa menjawab dengan benar, Ustadzah kasih hadiah uang lima ribu."


"Saya Ustadzah!" Alia mengacungkan tangan.


"Ya, Alia."


"Ada dua puluh lima Nabi dan Rasul." Jawab Alia.

__ADS_1


"Baik. Sekarang dengarkan Ustadzah menerangkan, ya!" Dinda memperhatikan anak-anak semua duduk diam siap mendengarkan. Termasuk Iqbal, anak laki-laki kelas dua Sekolah Dasar yang suka ribut dan usil sama temannya. 


__ADS_2