PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 59. Persiapan Untuk Nanti Malam


__ADS_3

"Ayo mandi, keburu gelap lho!" Ajak Bu Jar. 


"Ayo, Mbak Dinda!" Ajak Bu Ratno karena dilihatnya Dinda masih duduk di tanah.


"Iya, Bu," sahut mereka serempak. Dinda berdiri dan mengibas untuk membersihkan celana bagian belakangnya.


"Bagaimana, kita bareng Bu Ratno sama Bu Jar?" Tanya Maya dengan melihat ketiga temannya bergantian.


Bu Ratno dan Bu Jar terus berjalan meninggalkan mereka menuju ke sungai.


Beberapa menit setelah Bu Ratno dan Bu Jar meninggalkan mereka,


"Grojok! Grojok! Grojok!" 


"Hei, suara apa itu?" Teriak Ana.


Semua mencari sumber suara dari berbagai arah.


"Tuh! Di sana!" Sahut Ezra sambil menunjuk pancuran air di belakang dapur.


Air bak penampungan di belakang dapur penuh dan airnya terbuang. Semua mata melihat ke tempat yang ditunjuk Ezra.


"Berarti, tempat kita juga mengalir, dong?!" Kata Dinda melihat ke mereka semua untuk meminta jawaban.


"Ayo dilihat!" Maya berjalan lebih dulu untuk mengecek air di dalam asrama tempat mereka tinggal. Santi mengikuti di belakang.


"Kak Ezra," Dinda mendekati Ezra yang berdiri tidak jauh darinya.


Ezra menoleh tanpa menjawab.


"Ambil dodolnya, Kak. Kemarin aku menyimpan untuk Kak Ezra. Ayo!" Dinda mengajak Ezra ke asrama. Dinda berjalan lebih dulu tanpa menunggu jawaban dari Ezra. Ezra melihat kepergian Dinda dari belakang.


Haris menyikut lengan Ezra yang masih terpaku di tempatnya berdiri.


"Ayo!" Ezra melangkahkan kaki bersama Haris menuju depan asrama putri.


Di dalam asrama putri, di belakang ada Maya, Ana dan Santi, mereka berebut masuk ke kamar mandi.


Dinda datang.


"Tempat kita mengalir airnya, Mbak?" Tanya Dinda sambil terus berjalan menuju kamar.


"Ngalir, Din. Lihat tuh Maya sama Santi rebutan masuk kamar mandi." Ana mengadu, Dinda tersenyum.


"Kenapa nggak mandi bareng saja, biar nggak berebut?" Dinda memberi solusi.


"Hei! Dengerin tuh kata Dinda." Ucap Ana.


"Mandi bareng, May?" Tanya Santi menatap Maya minta persetujuan.


"Ya, sudah. Ayo!" 

__ADS_1


"Dari tadi, kek!"


"Kamu juga mau bareng kah, Na?"


"Nggak aku!" Ana bergidik terus meninggalkan Maya dan Santi. 


Dinda masuk ke kamar sambil tersenyum melihat tingkah orang-orang itu.


Tidak lama Dinda keluar dari kamar dengan membawa kotak plastik berwarna hijau yang tutupnya bergambar bunga matahari. Ia berjalan ke depan.


"Kak Ezra, ini untuk Kak Ezra." Dinda menyerahkan kotak plastik itu pada Ezra. Ezra menerima kotak pemberian Dinda. Ia memperhatikan kotak yang sekarang sudah beralih di tangannya.


"Terima kasih ya, Kak. Kemarin sudah banyak membantu," ucap Dinda.


"Aku juga terima kasih, diberi ini." Ezra mengangkat kotak pemberian Dinda ke depan setinggi dadanya.


"Aku balik dulu. Kita ketemu nanti di gedung." Ezra pamit.


"Okay, Kak."


Ezra tersenyum dan beranjak meninggalkan tempat itu.


Haris heran melihat Ezra tersenyum pada Dinda. Dinda menganggap hal itu sudah biasa. 


Sebelumnya mana ada Ezra tersenyum, jangankan tersenyum, bicara dengan perempuan aja, enggak. Itu yang membuat Haris heran.


Selesai mandi, Dinda pergi ke dapur memenuhi panggilan Ibu dapur.


"Eh, Mbak Dinda. Ini lho, aku minta pertimbangan, coba lihat bagaimana ini kuenya?" Bu Ratno mengambil dan menunjukkan isi kotak kue pada Dinda.


Dinda melihat kue di dalam kotak. Isinya sangat penuh.


"Bu, persediaan kuenya banyak, kah? Kalau saya lihat ini isinya sangat banyak. Kita bikin tujuh ratus kotak lho, bu. Jangan sampai kurang kotaknya." 


"Ini saya buat lima jenis kue, Mbak. Tapi kayaknya satu jenis kue nggak sampai tujuh ratus, bagaimana? Apa saya bikin adonan lagi, ya?" Bu Ratno bimbang.


"Bu, bagaimana kalau isi kotaknya saja yang dikurangi? Satu kotak isi empat, bagaimana?" Dinda mengutarakan pendapatnya. Bu Ratno mengambil kotak kue dan mengurangi satu kue dari kotak itu.


"Begini, Mbak Din? Boleh?" Bu Ratno menunjukkan isian kotak yang sudah dikurangi.


"Iya, Bu, begini sudah bagus." Jawab Dinda setelah melihat isi kotak kue. Ada irisan cake, panada, brownies yang ditaburi meses coklat sama risol.


Bu Ratno langsung berdiri dan pergi ke kompor. Rupanya masih menggoreng panada.


Dinda mengikuti Bu Ratno.


"Oh, bikinnya belum selesai ya, Bu?" Dinda melihat sekeliling dapur.


"Iya Mbak, masih menggoreng panada. Soalnya tadi saya dulukan mengoven cake, Mbak." Jawab Bu Ratno sambil membolak-balikkan panada di penggorengan.


"Kalau begitu Dinda panggilkan penghuni asrama putri ya, Bu, untuk membantu mengemas kue ke dalam kotak kue?"

__ADS_1


"Iya, Mbak Din. Boleh banget, kalau mereka nggak repot, sih. Mbak Din coba rasa ini!" Bu Ratno menyodorkan panada yang sudah agak dingin.


"Wah, aku yakin pasti enak, nih," Dinda mengambil satu panada.


"Diisi apa, Bu, dalamnya?" Dinda mulai membelah kue panada di tangannya.


"Ku isi sama mihun, Mbak, aku bumbui agak pedas, bagaimana rasanya?" Tanya Bu Ratno memperhatikan Dinda yang sudah duduk di bangku kayu dekat kompor.


"Rasa memang nggak bisa bohong. Ini enak banget, Bu. Mantul tenan." Dinda mengacungkan jari jempolnya.


"Bisa aja Mbak Dinda," Bu Ratno tersenyum senang mendapat pujian masakannya dari Dinda.


"Ya sudah, saya panggil mereka, supaya ke sini." Dinda yang sudah menghabiskan kue panada itu beranjak dari duduknya, dan keluar dari dapur.


Setelah memberitahu Ana, Maya dan Santi di asrama putri supaya membantu di dapur, Dinda melihat mobil Pak Sulis yang kebetulan jalan pelan lewat di muka asrama. 


"Pak Sulis!" Dinda menghentikan mobil yang dikendarai Pak Sulis.


Sulis pun menghentikan mobilnya.


"Ada apa, Mbak Din?" Sulis mengeluarkan kepalanya dari pintu mobil.


"Pak, bisa nebeng ke dapur seberang, nggak?" Tanya Dinda yang masih berdiri di teras asrama.


"Bisa. Ayo naik!"


Dinda berjalan dan masuk ke dalam mobil.


Mobil pun melaju mengantarkan Dinda ke seberang. Setelah mobil memutari komplek asrama, sekarang mobil melewati pintu gerbang masuk dan pos jaga. Dinda memperhatikan pos. Tapi ia tidak melihat seseorang yang beberapa waktu lalu selalu menggodanya atau memintanya untuk mau menjadi pacarnya.


"Kemana orang itu? Kok akhir-akhir ini aku nggak melihatnya?" Tanya Dinda hanya dalam batin.


Mobil berhenti di depan dapur umum. Dinda pun turun dari mobil.


"Pak Sulis, terima kasih, ya," Sulis mengangguk.


Sebelum mobil kembali berjalan, Dinda masuk ke dapur.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam," wanita setengah baya itu menjawab salam sambil menoleh ke pintu dapur. 


Dinda berjalan mendekatinya, meraih tangannya untuk salaman.


"Eee… jabang bayik, Dik Dinda to ini tadi," Bu Tun tersenyum senang Dinda datang.


"Lah… dikira siapa, Bu?" 


"Tak tunggu-tunggu dari kemarin, kok nggak datang ke sini," Dinda mengikuti Bu Tun berjalan ke belakang.


"Sekarang datangnya, heee heee," sahut Dinda.

__ADS_1


__ADS_2