
Beberapa menit kemudian,
"Bagaimana, Din? Dah siap?"
"Oke, kak," Dinda beranjak mendekati tempat duduk Sudin.
Sudin memindah chanel nya dan mulai memanggil kepala bagian blok D dengan kode.
Sekitar setengah jam Dinda berada di ruangan itu. Dinda berbicara dengan kepala bagian blok D. Kepala bagian meminta berbagai blangko untuk dikirim ke sana dan minta kalau bisa Dinda juga datang ke blok.
Setelah Dinda dan kepala bagian selesai berbicara via chanel tersebut, Sudin memindah ke channel yang lain tempat ia memonitor beberapa kendaraan dan alat berat yang sedang beroperasi malam. Dinda yang duduk di sebelah Sudin ikut menyemangati mereka yang sedang bekerja malam.
Mendengar suara Dinda di chanel tersebut menjadi ramai, mereka saling bersahutan. Ada yang bilang,
"Tumben Mbak Dinda muncul di sini, kita di lapangan jadi tambah semangat nih!"
Dinda melihat Sudin yang ikut tersenyum mendengar ocehan orang-orang itu.
"Haaa… haaa… bisa aja." Sahut Dinda menoleh ke arah Sudin yang masih tersenyum.
"Keenakan Sudin itu ada yang nemenin."
"Benar rojer. Jadi betah dan nggak ngantuk!" Sahut Sudin.
"Selamat bekerja untuk semua! Jangan lupa jaga kesehatan dan keselamatan! Ini saya kembalikan dengan operator. Selamat malam," Dinda pamit mengundurkan diri dari channel itu.
"Selamat malam, Mbak Dinda. Sering-sering muncul ya, nemenin kita!" Sahut salah satu dari mereka yang tengah kerja jam malam.
"Kak Sudin, ini roti kakak?" Dinda merasakan lapar karena tadi belum makan. Ia melihat ada bungkusan roti di atas meja Sudin.
"Minta ya, Kak." Dinda menoleh ke arah Sudin. Sudin pun menganggukkan kepala.
Dinda melihat jam yang menggantung di dinding ruangan itu. Pukul setengah sembilan. Kemudian membuka bungkus roti, memotongnya dan memakannya.
Anu membuka pintu.
"Eh, Ndan, masih di sini?"
"Iya, ini sudah mau pulang,"
"Kak Sudin, minta minumnya, ya?" Dinda langsung membuka penutup gelas teh Sudin yang masih utuh. Sudin melihat saja tingkah Dinda.
"Kelaparan ya, Din?" Tanya Sudin melihat Dinda menaruh gelas setelah meneguknya setengah.
"Iya."
__ADS_1
"Belum makan, Ndan?" Tanya Anu.
"Belum." Jawab Dinda singkat.
"Bikin mie mau nggak?" Tawar Anu.
"Bikin di mana?" Dinda menoleh ke arah Anu.
"Di dapur belakang, ada mie di sana." Sahut Anu.
"Sisa mie yang kemarin kah, Nu?" Tanya Sudin.
Karena Anu sering menemai Sudin kalau malam, dan mereka sering membuat mie instan kalau malam lapar.
"Iya,"
"Aku mau." Ucap Dinda. Kemudian berjalan ke arah pintu hendak keluar dari ruangan. Dari pintu situ tampak ramai orang hendak masuk ke ruang perencanaan.
Dinda mengurungkan keluar dan menutup kembali pintu ruangan Sudin.
"Di belakang ramai orang, Nu?" Dinda menoleh ke Anu.
"Iya. Orang perencanaan persiapan untuk berangkat besok." Sahut Anu sambil memotong roti sisa yang tadi dimakan Dinda.
"Tim Ezra akan berangkat lagi besok?" Tanya Sudin.
Dinda kembali duduk.
"Kok duduk? Nggak jadi bikin mie?" Tanya Sudin dan Anu yang melihat Dinda duduk lagi.
"Nggak jadi. Banyak orang di sana. Malu aku. Makan roti ini saja. Aku habisin nggak papa ya, Kak? Besok rotinya ku ganti, deh,"
Sudin dan Anu tersenyum.
"Kacian, deh. Malam-malam ada orang kelaparan," kekeh Sudin.
Dinda makan roti sambil menunggu Sudin selesai. ia akan bareng pulang bersama Anu dan Sudin.
Pukul setengah sepuluh mereka bertiga baru keluar dari kantor. Di ruang perencanaan masih ramai orang-orang tim nya Ezra yang mempersiapkan berkas-berkas yang akan dibawa berangkat dinas besok.
Sampai di pertigaan sebelah klinik mereka berpisah. Sudin langsung pergi menuju ke asramanya yang letaknya di seberang. Anu masuk ke klinik yang masih ada beberapa orang. Mahmud juga ada di sana.
"Ndan, nggak mampir dulu?" Tanya Anu.
"Nggak, Nu. Sudah malam." Dinda terus saja berjalan menuju ke asramanya.
__ADS_1
"Siapa, Nu?" Tanya Mahmud pada Anu yang barusan masuk ke klinik.
"Dinda."
"Di mana dia?" Mahmud beranjak dari tempatnya lalu keluar klinik mencari keberadaan Dinda. Tapi tidak melihatnya. Dinda sudah masuk ke dalam asrama putri.
***
Saat acara makan malam di rumah Pak Hadi, sebenarnya kesempatan Mahmud dan Dinda untuk bertemu dan berbicara. Tapi sebelum acara makan malam dimulai, Anu datang memanggil Dinda. Kemudian Dinda dan Anu keluar rumah Pak Hadi bersama menuju ke kantor.
Mahmud berharap Dinda tidak lama urusannya dan bisa kembali lagi ke rumah Pak Hadi untuk makan malam bersama. Tapi sampai acara makan malam selesai, mereka pun berbincang-bincang berbagai hal, Dinda tidak muncul juga. Sampai orang-orang habis berpamitan dan kembali, Dinda tidak muncul juga. Akhirnya, Mahmud pun mengajak Andi berpamitan pada Pak Hadi dan Bu Hadi dan berniat menunggu Dinda di klinik.
Hampir dua jam Mahmud menunggu di klinik.
Samar-samar dari dalam klinik Mahmud mendengar suara Anu.
"Ndan, nggak mampir dulu?" Tapi Mahmud tidak tahu Anu bertanya pada siapa.
"Nggak, Nu. Sudah malam." Hanya samar Mahmud mendengar suara itu. Tapi ia yakin bahwa itu suara Dinda.
"Siapa, Nu?" Tanya Mahmud pada Anu yang barusan masuk ke klinik untuk memastikan instingnya benar atau tidak.
"Dinda." Jawab Anu.
"Di mana dia?" Mahmud beranjak dari tempatnya lalu keluar klinik mencari keberadaan Dinda. Tapi tidak melihatnya. Dinda sudah masuk ke dalam asrama putri.
Mahmud keluar klinik menuju ke asramanya di sebelah pos jaga dengan hati gelisah karena tidak bisa menemui Dinda.
***
Dinda yang sudah sampai di asrama putri, setelah masuk kamar mandi dan membersihkan anggota badannya dan berwudhu, ia kemudian masuk ke kamarnya untuk menjalankan sholat isya'. Selesai itu ia naik ke tempat tidurnya. Ia hendak tidur. Tapi tidak bisa langsung memejamkan matanya.
Pikirannya kembali mengingat Mahmud ketika tadi melihatnya di tempat Pak Hadi di belakang rumah, Mahmud ikut membakar ayam, ketika mata mereka saling melihat, mereka saling tersenyum.
"Nyesss!" Terasa sejuk dan segar di dalam hati Dinda. Tapi ada rasa gelisah juga, karena tidak ada rangkaian kata yang terucap di antara mereka.
***
Pagi hari, pukul sembilan, Dinda duduk di belakang meja kerjanya, sedang duduk berhadapan dengan beberapa orang karyawan. Mahmud dan Andi datang ke ruangan itu langsung disambut oleh Pak Udin.
"Mari Ndan, silahkan!" Pak Udin mempersilahkan Mahmud dan Andi duduk di kursi di depan mejanya.
Mahmud ingin menyapa Dinda, demikian dengan Dinda. Tapi mereka mengurungkannya, karena Mahmud melihat Dinda sedang serius duduk berbincang dengan beberapa orang di depannya. Dinda pun demikian, ingin memberikan surat dinasnya kepada Mahmud, tapi surat dinas sudah di minta Pak Udin untuk membantu menyerahkan kepada Mahmud.
"Ndan, silahkan langsung saja ke ruang keuangan untuk penyelesaiannya," ucap Pak Udin.
__ADS_1
"O, begitu ya, Pak," Mahmud dan Andi beranjak dari situ, sekilas melihat Dinda sedang menunduk menulis.