PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 15. Suara Di Ht


__ADS_3

"Ana, Dinda mana?" Tanya Andi yang baru datang dan duduk di teras bersama Mahmud.


"Tadi di kamar sih, nggak tahu sekarang. Coba ku lihat dulu." Ana berjalan ke arah kamar dan membuka pintu.


"Nggak ada di kamar!" Teriak Ana tapi tidak ada respon dari Andi maupun Mahmud.


Lalu Ana berjalan mendekati Andi dan Mahmud. Dan memberitahu, "Anaknya nggak ada di kamar!" 


"Kemana?"


"Nggak tahu!" Ana tersenyum sambil mengedikkan bahunya dan masuk ke dalam.


Mahmud dan Andi bangun dari duduknya, berjalan menuju ke klinik. 


"Kok sepi, Tri?" Tanya Andi kepada Mantri yang sedang duduk sendiri di meja kerjanya.


"Iya,"


"Anu kemana?" Andi celingukan mencari keberadaan Anu.


"Oh, Anu, dia lagi ke kantor. Nyiapin ruang meeting, mau ada meeting katanya. Sama Dinda pastinya." Jawab Yos sambil melihat Andi dan Mahmud bergantian.


Andi dan Mahmud yang belum sempat duduk, pamit sama Yos.


"Kalau begitu kita kembali ke asrama, Tri," Pamit Mahmud sambil mengajak Andi.


"Oh, iya, Ndan." Yos mengangguk.


Dinda baru saja membuka pintu ruangannya, langsung terdengar deringan iphon di atas mejanya. Ia segera mendekati dan mengangkat gagang iphon itu.


"Halo, selamat malam." Sapa Dinda


"Selamat malam. Din, beritahu seluruh manajer, Asisten dan bagian keamanan untuk meeting sekarang." Suara Pak Hadi dari seberang.


"Ya, Pak."


"Klek." Suara gagang iphon di seberang lebih dulu di tutup.


Dinda langsung memencet beberapa nomor di iphon untuk menjalankan titah Pak Hadi. Ada beberapa nomor sulit dihubungi dan tidak diangkat. Dinda berjalan menuju ke ruang radio untuk menemui kak Sudin yang sebagai operatornya.


"Tok tok tok!" Dinda mengetuk pintu.


"Masuk, Din!" Teriak kak Sudin dari dalam karena Dinda kelihatan dari pintu yang bagian atasnya transparan terbuat dari kaca.


Dinda langsung membuka pintu dan masuk, kemudian menutup kembali pintu itu.


"Ada apa, Din?"

__ADS_1


"Kak, minta tolong!"


"Apa?" Sudin yang sedang duduk di depan radio mendongakkan kepala melihat Dinda.


"Tolong bilang ke semua manajer dan asisten juga bagian keamanan untuk meeting di kantor sekarang, Pak Hadi sudah menunggu."


"Coba kamu yang ngomong sendiri!" Sudin sudah mau beranjak dari kursinya.


"Nggak, Kak. Aku nggak bisa ngomong lewat radio," Dinda mencegah Sudin berdiri dari tempat duduknya.


"Aku pernah dengar tuh kamu ngomong sama tiga dua satu,  hayo…!"


"Itu terpaksa, kak."


"Sudah, nggak usah ngelak! Coba sekarang juga kamu anggap terpaksa!" Sudin berdiri dari tempat duduknya dan mendorong Dinda untuk gantian duduk di posisinya tadi.


"Yaahh, Kak Sudin, gimana, sih?"


"Ayo, kamu pasti bisa!"


"Oke deh, aku coba!"


"Oke! Kalau sudah siap tekan ini tombol on/off nya."


Pada awalnya, Dinda merasa nervous berada di depan radio, karena suaranya akan didengarkan oleh banyak orang dan sampai di mana-mana. Nervousnya melebihi  ketika dia pertama kali berada di atas panggung yang ditonton oleh ratusan undangan. 


"Kak, nanti kalau orang-orang belum pada datang, tolong beritahukan lagi, ya,"


"Yoi, Din."


"Makasih ya, Kak." Dinda keluar dari ruangan dan berjalan menuju ke ruangannya sendiri. Tapi sebelum memasuki ruangannya, ia melihat ke ruang meeting, sudah ada beberapa orang duduk di sana.


*


Di dalam pos keamanan, sedang duduk Pak Adul, kepala sekuriti. Tidak lama kemudian,  datang Mahmud dan Andi yang baru selesai makan di dapur. Akhirnya, mereka bertiga duduk di dalam pos bertugas sambil  mendengarkan saluran radio ht yang diletakkan di atas meja selalu on.


Pak Adul memberitahu, "Ndan, tadi terdengar iphon berbunyi, tapi saya nggak sempat angkat, soalnya bersamaan ada tamu yang lapor." 


"Iyakah, Pak? Siapa ya, malam-malam telepon ke pos?" Tanya Mahmud tanpa ada jawaban dari kedua teman duduknya.


Ketiganya kembali diam fokus mendengarkan suara Sudin si operator radio dengan beberapa sopir dump truck yang sedang melaporkan posisinya di jalan.


"Oke roger, enam satu."


Radio kembali sunyi tidak ada suara. Pos pun ikut sunyi.


Lima menit kemudian kembali terdengar suara dari radio. Suara lembut dan tegas seorang perempuan. Jarang sekali ada suara perempuan di radio. 

__ADS_1


"Selamat malam, Mohon maaf sebelumnya, di sini lima tiga satu numpang lewat. Mohon perhatiannya. Sekali lagi mohon perhatiannya! Diberitahukan kepada yang terhormat seluruh Bapak Manajer dan seluruh Bapak asisten manajer, Bapak polisi yang bertugas, juga Bapak kepala bagian keamanan, dimohon kehadirannya di ruang meeting sekarang juga. Sekali lagi, dimohon kehadirannya di ruang meeting sekarang juga. Satu dua satu sedang menunggu. Terima kasih. Enam satu. (Suara Dinda)"


Radio kembali sunyi.


"Aku sepertinya nggak asing dengan suara ini," kata Andi ketika mendengar suara Dinda untuk memanggil dan memberitahukan meeting via saluran radio ht.


"Tidak beda!" Sahut Mahmud.


"Dinda itu," Pak Adul ikut menimpali.


"Jernih." Sahut Mahmud lagi.


"Ya. Sejernih orangnya." Timpal Andi.


Pak Adul ikut menoleh ke Mahmud dan tersenyum.


"Ayo, persiapan ke kantor!" 


"Siap, Ndan!" Sahut Andi dan Pak Adul bersamaan.


"Jangan lupa hubungi sekuriti untuk berjaga di sini, Pak Adul!" Titah Mahmud.


"Siap, Ndan." Pak Adul pun menjalankan apa yang diperintahkan Mahmud, memanggil dua orang security untuk berjaga di pos melalui radio.


Tidak pake lama, kedua sekuriti itu segera datang.


"Kita mau ke kantor dulu, Pak." Mahmud, Andi dan Pak Adul pamit pergi ke kantor.


"Iya, Pak Ndan, silakan!" Jawab kedua sekuriti itu.


*


Pak Hadi berada di dalam ruangannya, menyiapkan beberapa berkas yang akan dibahas di meeting malam ini. Melalui dinding kaca riben di ruangannya ia melihat peserta meeting sudah banyak yang datang. Ia langsung keluar.


"Ayo, kita mulai sekarang! Keburu tambah malam lho nanti!" Kata Pak Hadi sambil berjalan mendahului masuk ke ruang meeting, semua mengikuti di belakangnya


Ketika Dinda masuk dengan memberikan buku hadir kepada peserta,


"Oh ya, Din. Tolong ambilkan berkas di atas meja saya!" Kata Pak Hadi. Dinda langsung keluar dari ruang meeting untuk mengambilkannya.


Tidak lama Dinda sudah kembali ke ruang meeting, dan meletakkan berkas Pak Hadi di meja depan Pak Hadi duduk. 


Pak Hadi mulai membuka acara meeting malam ini. Bersamaan Anu masuk ke ruangan membawa minuman dan snack.


Kali ini membahas tentang peresmian jalan dan jembatan yang dibangun oleh perusahaan, untuk menghubungkan perusahaan dengan desa sebelah yang biasanya melalui air, kali ini sudah bisa melewati darat. Rencana peresmian seminggu lagi, yang akan dihadiri oleh Bapak Bupati, camat, aparat dan sesepuh desa  setempat, juga pimpinan perusahaan-pimpinan perusahaan tetangga. Supaya acara berjalan dengan lancar, maka dalam rapat ini dibentuk ada beberapa seksi.


Mendekati pukul sebelas malam rapat baru saja selesai.

__ADS_1


__ADS_2