
Sekiranya pembicaraannya dengan Pak Udin selesai, Bripda Mahmud pamit untuk kembali bertugas di pos depan. Setelah berdiri dari kursinya, Bripda Mahmud mendekati meja Dinda dan meletakkan dengan pelan sebuah lipatan kertas tepat di atas buku di depan Dinda.
Hal itu reflek membuat Dinda terperanjat kaget dan langsung mendongakkan kepalanya keatas, melihat Mahmud. Di saat Bripda Mahmud tepat berada di depannya sedang menatapnya. Sorot mata yang tenang tapi menghunus tajam sampai ke dalam relung hati, Dinda tidak mengerti apa itu artinya. Yang pasti bisa membuat Dinda merona.
Setelah meletakkan lipatan kertas itu, Bripda Mahmud keluar dari ruangan. Dinda langsung membuka lipatan kertas itu, setelah dibuka, dibaca tulisan di atas kertas itu, yang bertuliskan huruf besar semua.
"DEK, AKU PADAMU" Baca Dinda dalam hati.
Dinda melihat ke arah Bripda Mahmud yang berjalan di luar ruangan Dinda, tiba-tiba membalikkan badan dan melihat ke arah Dinda.
"Deg! Siiirrr!" Itu yang dirasakan sama-sama oleh kedua insan ini.
Saling terpaku melempar busur panah melalui pandangan mata beberapa saat lamanya, wajah Dinda berubah merona kemudian menunduk. Bripda Mahmud membalikkan badan dan meneruskan berjalan keluar dari kantor dengan tegap dan gagah.
"Rasa apa ini? Sungguh aneh. Membuat jantungku ingin meledak rasanya." Batin Dinda.
"Gadis manis! Kamu telah membuat jantungku mau pecah! Jika kamu tahu betapa menderitanya aku, bahkan seluruh tubuhku tegang dan meremang." Gumam dalam hati Bripda Mahmud sepanjang perjalanan menuju ke pos.
"Aish! Sudah sesak tambah sesak celanaku ini." Bripda Mahmud menunduk melihat ke celananya ada yang tampak lebih menonjol.
Sepuluh menit kemudian Bripda Mahmud sudah sampai di pos jaga. Ia langsung menuju ke asrama dan masuk ke kamar mandi guna mengurus sesuatu yang tampak menonjol tadi sampai tuntas. Hanya nama Dinda yang ia sebut. Dua puluh menit kemudian ia keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan tampak lebih segar.
"Sudah mandi, Ndan?" Tanya Andi yang baru saja masuk, melihat basah rambut Bripda Mahmud.
"Iya, gerah sekali tadi, mandi jadi segar." Ucap Mahmud.
"Memangnya habis patroli di mana, sih? Kok tadi aku lihat keluar dari kantor? Jangan-jangan habis ketemu sama si doi di kantor?" Tanya Andi penuh selidik.
"Ia, dari kantor." Jawab singkat Mahmud
"Terjadi sesuatu, ya. Sampai mandi segala."
"Cuma lihat doang, bisa jadi tegang dan menuntut untuk dituntaskan."
"Gawat! Kebelet itu namanya, Ndan. Hahaha!"
Selesai mengenakan baju, Mahmud mengambil bantal dan dilemparnya ke Andi yang menertawakannya. Bukannya menangkap, Andi malah meninju bantal itu dan kembali terlempar ke arah Mahmud. Andi segera keluar kamar setelah itu.
Mahmud menangkap bantal itu supaya nggak jatuh ke lantai.
__ADS_1
Selesai ganti baju, Mahmud menyusul Andi keluar dan duduk di dalam pos.
*
Dinda sudah selesai dengan semua berkas-berkas yang tadi menumpuk di atas meja kerjanya. Sekarang dia duduk santai di sofa ruang tamu sambil membaca koran.
Pak Hadi dan Pak Udin bersamaan keluar dari ruangannya masing-masing.
"Pak Udin, kemarin saat acara peresmian kan makan-makan. Ada yang makan suap-suapan, lho." Kata Pak Hadi sambil berjalan menuju ke sofa yang berseberangan dengan Dinda duduk.
"Iya kah?" Ucap Pak Udin sambil berjalan mendekati pak Hadi yang masih berdiri di belakang sofa.
Dinda mendengar percakapan mereka, tapi ia tetap menunduk melihat ke koran.
###
Assalamu'alaikum w.w.
"Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu akbar!
Laa ilaha illallah allahu akbar
Gema takbir berkumandang sejak selesai sholat maghrib kemarin sore, guna menyongsong datangnya hari raya besar.
Begitu pun tadi pagi setelah selesai sholat subuh, suara takbir terus dikumandangkan.
"Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu akbar!
Laa ilaha illallah allahu akbar
Allahu akbar walillahilhamd."
Hujan rintik-rintik turun bersamaan dengan pukul enam tiga puluh waktu kami sekeluarga keluar dari rumah akan berangkat pergi ke tanah lapang Ranomawuri untuk melaksanakan ibadah sholat Idul Adha berjamaah.
Ketika kami sampai di lapangan, orang-orang berteduh di teras-teras rumah penduduk di sekitar lapangan Ranomawuri. Karena lapangan yang kemarin sore sudah dibersihkan dan disiapkan basah kuyup dan sebagian tergenang air hujan tadi malam.
Sebagian jamaah sudah menggelar terpal untuk alas. Aku setelah turun dari kendaraan, langsung masuk ke lapangan membaur dengan jamaah perempuan, karena kulihat di sana ada terpal yang masih kosong. Karena aku dari rumah tidak membawa alas. Hanya kain sajadah dan mukena yang sudah kupakai.
Atas himbauan imam yang berdiri di mimbar, supaya jamaah segera memasuki lapangan karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit. Karena sholat berjamaah akan dilekasi pukul tujuh tepat.
__ADS_1
Hujan Pun masih sama, hujan rintik-rintik seperti tadi. Mendung putih rata menaungi di atas kami berdiri.
Himbauan imam berulang-ulang terdengar, supaya jamaah segera dan cepat menuju ke lapangan.
Terlihat beberapa jamaah berlarian takut ketinggalan.
Akhirnya, pukul tujuh sepuluh menit ibadah sholat sunah Idul Adha dimulai. Imam mulai mengangkat kedua tangannya dan bertakbir "Allahu akbar!"
Dan diikuti oleh ratusan makmum di belakangnya. Sholat Pun dilaksanakan dengan khusyuk dan khidmat tanpa memperdulikan rintiknya hujan walaupun sajadah dan mekenah jadi basah.
"Sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku sesungguhnya hanya untuk Allah Tuhan seru sekalian alam!"
Akhir kata, Author mengucapkan,
"SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1443 H"
JADIKAN MAKNA DAN ESENSI UTAMA
DARI BERKURBAN SEBAGAI MOTIVASI
DIRI SENDIRI DALAM MENINGKATKAN
KEPEDULIAN SOSIAL KITA KEPADA SESAMA, TANPA MEMANDANG SUKU
BANGSA RAS, MAUPUN BAHASA,
JADIKAN MOMENTUM UNTUK MENINGKATKAN KETAKWAAN KEPADA ALLAH SWT,
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
UNTUK SEMUA SAHABAT, SAUDARA, PARA READER TERCINTA,
TERIMA KASIH BANYAK UNTUK SEMUA
SEMOGA KITA SEMUA SELALU DIBERIKAN KESEHATAN, PANJANG UMUR,
AMIN YA ALLAH YA ROBBAL ALAMIN
🙏
__ADS_1