
Pak Komar adalah HRD sementara di kantor cabang baru itu bertanya,
"Ngomong-ngomong sudah pada sarapan apa belum, nih?" Sambil tatapan matanya melihat satu persatu orang yang baru datang dari kantor senior.
"Ya belum, Pak. Perut sudah keroncongan minta diisi nih, dapurnya di sebelah mana, ya?" Dinda yang duduk di sofa single melihat ke arah belakang. Rekan-rekan yang lain menyeruput kopi sambil merokok.
"Mau sarapan apa? Biar saya pesankan! Di sini sudah ada dapur, tapi belum ada tukang masaknya. Yang ada masih office boy dua orang, tapi tugasnya hanya bersih-bersih ruangan dan bikin minum," Kata Pak Komar menjelaskan.
Semua orang di ruangan itu saling pandang. Seolah bertanya "kita sarapan apa?"
Karena di antara mereka tidak ada yang tahu makanan apa yang dijual di daerah itu.
"Bagaimana kalau kita cari makannya pergi keluar? Sambil lihat-lihat di luar?" Usul Pak Gugun sambil memainkan matanya lirik sana lirik sini.
Akhirnya, Pak Komar memesan makanan secara online. Kantor yang baru ini terletak di tengah kota dekat dengan pasar dan pusat perbelanjaan.
Sambil menunggu pesanan datang, Pak Komar mengajak mereka ke belakang kantor. Pak Komar menunjukkan bangunan di belakang kantor, bangunan tersebut untuk mess karyawan.
"Menempuh perjalanan jauh pasti melelahkan, Silahkan istirahat saja dulu!" Usai sarapan, Pak Komar menunjukkan tempat istirahat mereka.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Dan hari ini adalah bulan ke empat Dinda bekerja di kantor itu. Pekerjaan berjalan lancar tanpa ada kendala yang berarti.
Malam hari selesai makan malam, Dinda masuk ke kamarnya. Di sini satu kamar dia tempati sendiri, kamar mandi pun sudah ada di dalam kamar, jadi tidak perlu mengantri saat mau mandi. Di dalam kamar dilengkapi dengan tivi dan ac. Tempat tidurnya spring bed. Juga ada lemari baju, dan satu set sofa.
Mess berada di belakang kantor, kamar berjajar-jajar membentuk huruf U, di tengahnya adalah taman banyak tumbuh tanaman bunga. Semua pintu kamar menghadap ke taman.
Belum lama Dinda merebahkan tubuhnya di atas bed, ponselnya berbunyi. Dinda mengambil ponselnya.
"Sayangnya bunda kapan pulang? Sudah hampir setahun lho, nggak pulang. Bunda kangen sama kamu lho, Nok," ucap Bundanya Dinda ketika menelpon Dinda.
(Nok adalah kepanjangan dari Denok, yaitu panggilan sayang dari orang-orang terdekatnya untuk Dinda ketika kecil sampai kini).
"Bunda sama Ayah sehat? Baik-baik saja kan Bun, di rumah?" Bukannya menjawab, Dinda malah balik bertanya keadaan ayah dan bundanya.
"Alhamdulillah, Bunda sama Ayah sehat, Nak. Ini kakakmu juga ada di rumah, loh. Juga kangen sama kamu, katanya. Oh,ya, kamu masih ingat nggak sama Mas Mamat?"
__ADS_1
"Mas Mamat? Yang anaknya Tante Rini? Mereka pindah ke Palembang kan, Bun?"
Dinda ingat nama panggilan saja, dulu saat ia masih kecil sering bermain sama Mamat. Saat itu Mamat kelas tiga sekolah dasar. Dan ia sendiri belum sekolah, tapi suka mengganggu jika Mamat dan Ridwan, kakaknya Dinda sedang belajar kelompok. Kalau sekarang bertemu mungkin tidak kenal. Karena perubahan wajah ketika dewasa tidak sama dengan wajah ketika masih usia anak-anak.
"Iya, dulu pindah ke Palembang, sekarang sudah kembali ke sini menempati rumahnya yang dulu, jadi kapan kamu pulang? Tante Rini dan keluarganya sering nanyain kamu lho,"
"Nanti deh Bun, aku minta ijin atasan,"
"Jangan nanti-nanti, Nok! Bunda sudah kangen! Apa Bunda datang menyusul ke tempat kamu bekerja, hem?"
Waduh, kalau Bunda sudah mengancam begini, Dinda tidak bisa mengelak harus segera mengambil ijin.
"Iya deh, kalau begitu Denok usahakan minta ijin minggu depan ya, Bun,"
"Ya jangan cuma ijin to Nok, sekalian cuti gitu, kan kamu sudah setahun lho nggak pulang,"
"Iya deh, nanti Denok bilang sama atasan, Bun. Mudah-mudahan dibolehin cuti."
Memang bisa kacau kalau Bunda sudah mengeluarkan jurus anca-man.
Setelah Dinda mengantongi surat cuti dari perusahaan, selesai pulang jamaah sholat maghrib di mushola dekat kantor, ia menyimpan mukenanya, lalu mengambil dan mengenakan jaket hoodie yang ada penutup kepala untuk menutup kepalanya yang berhijab karena angin di luar terasa sangat dingin. Dinda keluar dari kamar.
"Mau kemana, Din?" Tanya Pak Komar yang berjalan di belakangnya.
Dinda berhenti melangkah dan menoleh di arah sumber suara. Dilihatnya Pak Komar berjalan ke arahnya.
"Eh, Bapak. Saya mau keluar sebentar, Pak."
"Kemana?" Tanya Pak Komar yang seolah tidak tahu kebiasaan Dinda.
"Biasa, mau cari makan di tempat lesehan, heeheee…" sahut Dinda diakhiri merenges.
"Kebiasaan kamu Din. Anak gadis kok suka makan di tempat lesehan," mereka berjalan beriringan menuju pintu keluar depan.
"Lha. Pak Komar sendiri mau kemana? Kok juga keluar?"
"Ada deh, hee heee…!" Jawab Pak Komar sambil ngeloyor menuju mobil di parkiran.
__ADS_1
Dinda hanya tersenyum mendengar jawaban Pak Komar. Dan ia terus berjalan keluar pintu gerbang. Ia berjalan santai sambil memasukkan kedua tangannya ke saku woody. Berjalan di trotoar yang sudah dipenuhi warung-warung gerobak dan lesehan.
Jarak beberapa meter dari ia berjalan, Dinda melihat seseorang yang sepertinya ia cukup kenal. Seorang pria menyeberang jalan dengan menggandeng tangan wanita. Pria dan wanita itu tampak asyik mengobrol tanpa merasa terganggu dengan keadaan sekitar. Seolah dunia milik mereka berdua, yang yang lain hanya numpang.
Dinda terus memperhatikan pria itu.
"Asyik sekali mereka. Oh mungkin dia sudah menikah dan itu istrinya." Batin Dinda yang masih diam berdiri di tempatnya, kakinya seolah terpaku di sana dan berat untuk melangkah karena melihat pemandangan di depannya itu.
Dinda tersenyum masam.
"Sreettt!"
Hatinya terluka. Terasa sangat perih. Seakan tergores sesuatu yang sangat tajam.
"Menoleh ke arahku pun tidak! Ah!!! Mungkin dia telah lupa! Iya LUPA!" Dinda bermonolog.
Kemudian Dinda melihat kepada dirinya sendiri. Melihat pakaian dan penampilannya saat ini. Dinda tertawa getir. Kedua netranya memancarkan kesedihan.
Tiba-tiba.
"Tin! Tin!"
Mobil yang mengklakson berhenti tepat di samping kanannya berdiri.
Dinda berjingkat kaget.
"Ah! Ya ampun!" Dinda berteriak dan menoleh ke arah mobil yang membuatnya kaget.
"Dinda! Dari tadi kamu masih di sini?! Haa… Haa…! Haa…!" Teriak Pak Komar dari dalam mobil sembari tertawa melihat keterkejutan Dinda.
"Pak Komar! Apaan sih bikin kaget!" Balas Dinda dengan teriak dan menyamarkan kesedihannya.
"Haa…! Haaa…! Ayo masuk!" Ajak Pak Komar sambil membuka pintu penumpang depan sebelah kiri dan langsung diiyakan Dinda.
"DINDA?! Suara itu!" Batin Mahmud, pria yang menggandeng tangan wanitanya yang secara reflek langsung melepas tangan yang dipegangnya. Matanya terbelalak menatap mobil yang mulai berjalan itu.
SELESAI
__ADS_1