PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 43. Di Kantor


__ADS_3

***


Di asrama dekat pos jaga.


 


Setelah pulang dari klinik, Mahmud dan Andi masuk ke dalam kamar bersamaan.


"Ndan, gimana rasanya setelah nembak?"


Tanya Andi, yang sejak dalam perjalanan pulang dari klinik sampai kini, ia melihat Mahmud berwajah lebih ceria.


"Yah, setidaknya sudah plong. Sudah bisa menyampaikan apa yang menjadi beban dalam perasaanku. Puas rasanya," Sahut Mahmud lega.


"Ndan, ingat nggak tentang ucapannya yang mengenai durian sebanyak gerobaknya mobil hiline?" Tanya Andi yang sudah duduk di tepi ranjangnya.


Mahmud yang sudah telentang di atas ranjangnya, menoleh ke tempat Andi. 


"Iya, aku juga lagi kepikiran bagaimana caranya aku untuk mendapatkan durian itu,"


"Ndan, kebayang nggak sih, kalau ada durian sebanyak itu, untuk apa coba?" Tanya Andi penasaran.


"Kita nggak bisa menyelami pikiran seorang Dinda, Ndi. Coba saja kita lihat nanti, apa yang akan dia lakukan jika ada durian sebanyak yang dia sebutkan! Yang jelas, nggak mungkin dia akan memakannya sendiri!"


"Pastinya lah, Ndan!" Andi merebahkan badannya di ranjang tempat tidurnya.


"Sudah malam, Ndan! Tidur!"


"Heem."


Kamar pun menjadi hening. Hanya terdengar dentingan jarum jam yang menempel di dinding kamar. Andi mulai terlelap dan terbuai masuk ke alam mimpi.


Berbeda dengan Mahmud. Matanya belum mau terpejam. Pikirannya masih berkelana menuju kepada sang gadis pujaan.


"Dasar cewek antik!" Gumam Mahmud dalam hati, sambil membayangkan wajah Dinda tadi saat Mahmud mengungkapkan perasaan padanya. Dinda menunduk dan menjadi pendiam, nggak cerewet seperti biasanya.


"Oh, Angin malam, sampaikan selamat malam dan salam rinduku pada dia yang di sana!" Gumam Mahmud dengan bibir tersungging senyuman. Kemudian dia pun terlelap.


Bermimpilah untuk malam ini dan biarkan sang mentari menjemput dengan pancaran sinarnya yang hangat di pagi hari.


 💥💥

__ADS_1


Tuhan menciptakan pagi hari ini dengan sangat indah, maka mulailah dengan penuh keceriaan dan semangat!


Dinda dan Ana baru saja sarapan dan kembali dari dapur. Mereka berada di dalam kamar sedang bersiap akan berangkat ke kantor.


Ana masih berdiri di depan cermin. 


Sementara Dinda baru selesai mengenakan kain hijabnya. 


Tampilan Dinda pagi ini tampak begitu manis dan kalem dengan pakaian kantor yang atasan manset berlengan panjang warna putih dilapisi dengan rompi panjang berwarna biru muda, senada dengan warna celana kain sebagai bawahannya. Tidak ketinggalan  dipadu dengan hijab yang berwarna beige atau krem.


"Din, bagus nggak aku pakai ini?" Tanya Ana yang mencoba baju atasan yang baru diambilnya dari koperasi beberapa waktu lalu. Baju warna putih model office style dengan model V di bagian lehernya yang terbuka terlalu kebawah, sehingga menampakkan lipatan di antara kedua buah d*d* milik Ana yang berukuran besar itu.


"Bagus, apalagi kalau luarnya dilapisi pakai blazer akan lebih bagus, deh." Ucap Dinda yang sebelumnya telah memperhatikan penampilan Ana, dengan celana jean sebagai bawahannya.


"Gerah, Din, pakai blazer segala." Gerutu Ana.


"Kalau gerah, nanti sampai ruangan dicopot lah,"


"Begini saja sudah bagus, kan?" Ana masih terus berkaca, melihat penampilannya dari kanan dan kiri berganti-ganti.


"Iya, tapi menggoda iman bagi pria yang melihatnya."


"Biar begini saja, ah. Anggap saja pemandangan gratis, Din."


Kemudian mereka berangkat ke kantor.


***


Ketika Dinda dan Ana sampai kantor, suasana sudah sangat ramai. Banyak orang berkumpul di sana. Pak Hadi, Pak Udin, Mahmud, Andi dan beberapa orang lainnya duduk di sofa di depan ruangan Dinda. Juga sudah ada beberapa gelas kopi dan teh di atas meja.


"Selamat pagi," sapa Dinda dan Ana hampir bersamaan, membuat semua mata menoleh kepada mereka sambil serentak menjawab sapaan mereka.


"Selamat pagi."


"Cukup dengan secangkir kopi dan senyuman manismu berhasil membuat pagi ku menjadi sempurna. Iya, nggak, Din?" Pak Hadi tiba-tiba berkata begitu sambil melirik Mahmud dan berpindah melihat ke arah Dinda yang masih berjalan akan menuju ke ruangannya.


"Romantis banget kata-kata Pak Hadi. Tumben?" Sahut Sudin si operator radio sambil melihat ke Dinda.


"Tahu tuh, Pak Hadi." Dinda mencoba cuek dan terus berjalan menuju pintu ruangannya, ia melewati Sudin yang sedang berdiri dekat dengan pintu itu.


"Dinda, nggak usah pura-pura! Iya kan, komandan Mahmud?" Kebiasaan Pak Hadi yang suka main gojlok, nih. Sekarang Dinda dan Mahmud yang jadi bahan gojlokan.

__ADS_1


"Maksud Pak Hadi itu apa, Din?" Tanya Sudin.


"Nggak tahu, kak."


"Ayo, semua masuk ke ruang meeting, sekarang!" Perintah Pak Hadi sambil berdiri dan berjalan menuju ke ruang meeting. Kemudian diikuti oleh semua orang yang ada di tempat itu.


Dinda tidak ikut masuk ke ruang meeting, tapi ia masuk ke ruangannya, karena ada beberapa karyawan yang sudah menunggunya ingin bertemu. 


Di ruang meeting, rapat yang dipimpin Pak Hadi membentuk tim petugas upacara yang akan dimulai berlatih setelah rapat selesai.


Beberapa menit setelah menyelesaikan pertemuannya dengan beberapa karyawan itu, Dinda berjalan meninggalkan ruangannya, dan menyusul masuk ke ruang meeting.


Di dalam ruang meeting sedang berlangsung memilih siapa yang bertugas menjadi apa. Tadi yang lebih utama untuk dilatih adalah tim pengibar bendera.


"Din, kamu yang membawa bendera, ya. Soalnya semua sudah mendapat bagiannya." Kata Pak Hadi.


"Iya, Din. Kamu kan tinggi," sahut Sudin.


Dinda masih diam saja mendengar mereka yang saling menunjuk satu sama lain.


"Begitu deh kalau badan tinggi, langsung mendapat posisi. Berbeda dengan awak yang pendek ini, apa lah daya," gumam Ana lirih, tapi Dinda masih bisa mendengarnya. 


"Mbak Ana jadi apa? Tanya Dinda membuat suara riuh terhenti.


Suasana ruangan menjadi sunyi.


"Ana nanti bagian menyanyi lagu Indonesia Raya!" Sahut Pak Hadi tiba-tiba memecah suasana sunyi. 


Akhirnya, kurang lebih dua puluh menit rapat sudah selesai dan ditutup oleh Pak Hadi. Pukul sembilan mereka telah keluar dari ruang meeting, dan mereka langsung akan menuju ke lapangan untuk latihan.


Di saat itulah ada rombongan beberapa orang dari bagian perencanaan memasuki kantor. 


Sementara di luar ruangan Dinda ada beberapa orang dari blok yang sedang menunggunya.


Sedang Dinda keluar dari ruang meeting, beberapa orang dari blok langsung berdiri dari sofa, dan menghampiri Dinda.


"Bu, saya ingin memberikan ini," setelah bertegur sapa dan menyampaikan apa maksud dan tujuannya, orang itu memberikan lembaran kertas kepada Dinda. Dinda menerima kertas itu.


"Mari, masuk ke ruangan," Dinda mempersilakan orang itu duduk di kursi di depan mejanya.


"Nanti saya menyusul, ya!" Pamit Dinda kepada semua orang yang akan pergi latihan di lapangan. Kemudian Dinda ke ruangannya.

__ADS_1


Ada sepasang mata tertuju pada wanita yang sedang berjalan memasuki ruangannya itu.


__ADS_2