
"Eh, ngomong-ngomong, ntar malam bantuin bungkus kado ya?"
"Beres, Din!" Sahut Ana.
Dinda melihat ke arah Maya yang memakai rok panjang.
"Mbak May mau tetap pakai rok?" Tanya Dinda.
"Aduh May, ribet kalau pakai rok! Ganti sana May!" Ana mengingatkan.
"Oh iya, sori! Sori! Aku lupa!" Maya berlari mengganti roknya dengan celana jean panjang.
Mahmud kembali ke lapangan. Dilihatnya masih perlombaan wanita yang sedang berlangsung.
Untuk permainan laki- laki belum dimulai. Mereka masih mempersiapkan tambang yang akan dipakai untuk pertandingan tarik tambang sebentar. Dan sebagian berdiri di pinggir lapangan melihat pertandingan sandal kompak wanita.
Sekarang final pertandingan sandal kompak wanita. Kelompok asrama putri ikut masuk final.
Paling depan Maya, terus Dinda, Santi dan Ana belakang.
Pegang bahu teman yang di depannya.
"Kita beri aba-aba bareng. Saat kita teriak kanan, kita angkat kaki kanan. Dan kita teriak kiri, maka kaki kiri yang kita angkat! Begitu seterusnya!" Santi memberitahu.
Mereka sudah siap dengan kaki sudah terpasang di sandal kompak. Yaitu sandal yang terbuat dari papan panjang terus di atasnya dipasangi beberapa karet ban dalam untuk tempat kaki. Sandal yang boncengan yaitu sandal kompak.
Begitu pun dengan peserta lomba yang lain, juga sudah siap pada posisinya.
Aba-aba dimulai.
"Persiapan! Satu! Dua! Tiga!"
"Kanan! Kiri! Kanan! Kiri!" Teriak regu asrama putri.
"Ayo ustadzah Dinda! Ayo! Cepat! Ustadzah Dinda! Ayo! Ayo!" Teriakan yel-yel santri Dinda untuk mendukung Dinda yaitu bubuhan Alia, Iqbal dan kawan-kawan.
Kelompok Dinda sampai di garis finis paling cepat.
"Yeiiii! Ustadzah Dinda menang!" Teriak pendukung Dinda.
Dinda terburu-buru ingin menghambur ke kumpulan anak-anak yang mendukungnya. Tapi Dinda yang kakinya belum benar-benar terlepas dari sandal kompak itu, membuat Dinda terjatuh.
"Aduh!" Dinda mengaduh.
"Dinda!" Pekik Ana.
"Ustadzah Dinda!" Melihat Dinda terjatuh Alia juga ikut berteriak.
Dinda mencoba berdiri. Gagal! Pergelangan kaki kirinya sakit.
"Aduh! Sakit!" Renget Dinda.
Ana, Maya dan Santi membantu Dinda berdiri dan menggandengnya untuk duduk di kursi di pinggir tempat pertandingan.
Mahmud yang tadi juga melihat permainan regu Dinda. Ia berdiri tidak jauh dari situ, tapi saat Dinda jatuh ia sudah meninggalkan tempat itu. Mahmud pergi ke tempat laki-laki yang akan memulai perlombaan sandal kompak.
Ana, Maya dan Santi pergi melihat perlombaan sandal kompak laki-laki. Merasa sendiri, Dinda berdiri dari tempat duduknya. Ia pergi ke klinik dengan menyeret kaki kirinya.
"Tri, apa ada salep untuk keseleo?" Tanya Dinda kepada Mantri Yos setelah memasuki klinik.
__ADS_1
"Siapa yang keseleo?"
"Kakiku, Tri."
Mantri mengambil salep dan memberikan pada Dinda.
"Olesi pakai ini."
"Makasih, Tri.
Dinda melepas sepatu dan kaos kakinya. Ia akan oleskan salep dari mantri pada kakinya. Di saat itu Mahmud masuk ke klinik.
"Kenapa kakinya?" Mahmud berjalan mendekati Dinda yang duduk di bangku panjang.
Sambil meringis menahan sakit Dinda menoleh ke arah Mahmud, "keseleo kayaknya,"
"Coba ku lihat!" Selesai Dinda mengoles salep, Mahmud jongkok memeriksa kaki Dinda.
"Bengkak ini," ucap Mahmud.
"Iya,"
Mahmud menggerakkan kaki Dinda pelan.
"Awh! Sakit!" Rengek Dinda sambil menyeka air matanya.
"Sakit," Dinda yang tidak tahan sakit menangis.
"Luruskan kakinya!" Dinda menurut saja.
"Lemas! Lemaskan kakinya!" Dinda mencoba untuk rileks.
"Aduh!" Teriak Dinda membuat Mantri Yos tertawa.
"Krek!" Bunyi otot kaki. Mahmud kemudian melepaskan kaki itu.
"Kok diketawain, sih Tri," protes Dinda.
"Habisnya kamu tuh…,"
"Apa," tanya Dinda.
"Nggak. Nggak jadi." Mantri tersenyum dan kembali masuk ke ruangan di dalam.
"Coba sekarang berdiri! Masih sakit nggak!" Pinta Mahmud.
Dinda merasa kakinya lebih nyaman walau masih bengkak. Ia mencoba berdiri dan berjalan pelan
"Sudah nggak sakit." Dinda tersenyum.
Mahmud yang tadi sempat ikut khawatir, sekarang ia merasa lega.
"Pak Mahmud,"
"Hemm," Mahmud menoleh
"Terima kasih."
Mahmud langsung keluar dan menuju ke lapangan. Sekarang pertandingan tarik tambang pria. Penontonnya lebih ramai. Mahmud langsung menerobos di antara penonton untuk menuju ke tengah.
"Kamu nggak nonton, Din?" Mantri keluar klinik mau ikut nonton tarik tambang.
__ADS_1
Dinda menyusul keluar klinik. Ia berdiri di pinggir lapangan, melihat lapangan penuh penonton dan suara teriakan untuk saling menyemangati peserta lomba. Dinda hanya menonton sampai di situ. Kemudian berjalan menuju ke asramanya.
"Dari mana, Din?" Tanya Maya yang duduk sendiri di teras klinik.
"Dari klinik, minta obat sama Mantri, ini." Jawab Dinda sambil memperlihatkan salep di tangannya.
"Oalah, makanya, kucari di kamarmu kok nggak ada,"
Dinda ikut duduk di sebelah Maya sebentar.
"Siapa di kamar mandi?" Tanya Dinda.
"Santi lagi mandi. Makanya aku duduk di sini, nungguin dia selesai," sahut Maya.
"Mbak Ana, kemana?"
"Ana jadi pendukung kelompoknya Haris dan Ezra tanding tarik tambang." Jawab Maya.
Santi keluar kamar mandi, ganti Maya yang masuk. Dinda pergi ke kamarnya.
***
Selesai makan malam, Ana, Maya dan Santi duduk bersama di ruang tamu membantu Dinda membungkus kado untuk hadiah pemenang lomba, yang akan dibagikan besok malam, pas acara puncak yang akan diadakan di gedung serbaguna.
Mahmud, Andi, Mantri Yos dan Duki dari makan malam di dapur, ikut bergabung
Di ruang tamu. Ikut membantu menempelkan tulisan di luar bungkusan kado yang sudah jadi.
***
Di gedung serbaguna, alat musik sudah dimainkan. Suaranya menggema sampai di asrama putri. Terdengar suara Pak Hadi dan Pak Udin bergantian menyanyi. Setelah itu, tidak lama terdengar suara panggilan.
"Perhatian! Perhatian! Ditujukan kepada para juri untuk baca puisi tingkat anak-anak, diminta kehadirannya segera! Karena acara sudah akan dimulai!" Suara yang terdengar dari gedung.
"Din, ayo persiapan!" Ucap Maya yang sudah siap sejak tadi, sejak sebelum membantu membungkus kado.
"Kasih selesai ini dulu, Mbak. Tinggal tiga kotak lagi kok ini!"
"Jam berapa ini?" Tanya Dinda.
"Setengah delapan."
"Setengah jam lagi kan acaranya?"
***
Pukul tujuh lewat lima puluh menit, Dinda bersama penghuni asrama putri berjalan menuju gedung.
Ketika berjalan sampai di jembatan, terdengar panggilan lagi dari gedung
"Perhatian! Perhatian! Sekali lagi panggilan ditujukan kepada para juri untuk baca puisi tingkat anak-anak, diminta kehadirannya! Karena acara akan segera dimulai!"
Dinda berusaha berjalan cepat. Karena ia tidak berani berlari, karena kakinya baru saja baik dari keseleo.
Maya dan yang lainnya sudah sampai di gedung, mereka langsung masuk. Dinda menyusul kemudian.
Duki yang berdiri di atas panggung menyambut kedatangan para juri.
"Ini dia para juri sudah hadir. Kami ucapkan selamat datang kepada para dewan juri. Silahkan langsung ke depan saja! Silahkan menempati kursi yang sudah disediakan!"
Maya menoleh mencari Dinda yang masih jauh di belakangnya. Maya langsung mencari tempat duduk yang sudah di siapkan, kursi di deretan terdepan.
__ADS_1