PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 14. Memasak Di Dapur Klinik


__ADS_3

"Kenapa?" Tanya Mahmud yang ternyata mengikuti Dinda mendekati Anu. Mahmud jongkok ikut mencuci sayur dengan Dinda.


"Takut nggak enak." Sahut Dinda sambil terus mencuci sayur sawi.


"Memangnya cewek-cewek di sini nggak ada yang bisa memasak, ya?" Tanya Andi sambil berjalan mendekati Santi, Ana, dan Yos.


"Enak saja. Gini-gini ya bisa lah kalau cuma masak, ya!" Ana berteriak nggak terima dibilang nggak bisa memasak.


Anu sudah masuk ke dapur. Menyelesaikan mie buatannya.


"Nu, sudah nih," Dinda membawa sawi yang sudah selesai dicuci bersama Mahmud.


"Kamu potong-potong, Din. Ini pisaunya." Anu memberikan pisau yang diambilnya dari letak penyimpanan pisau.


"Bagaimana? Kasih contohnya, Nu!" Dinda bingung seberapa ukuran sayur sawi mau dipotong. Sayangnya Anu sudah keluar dari dapur dan tidak mendengar. Mahmud yang ganti masuk ke dapur.


"Bagaimana apanya?" Tanya Mahmud pelan sambil mendekati Dinda yang sedang memegang pisau.


"Pak?" Dinda menatap Mahmud dengan tegang dan penuh tanya. Yang tadi dipikirkan akan menghindarinya, tapi sekarang  malah satu ruangan berdua. Tapi ia berusaha menutupi ketegangannya.


"Hem?" Gumam Mahmud dengan santai sambil membuka pintu-pintu lemari untuk mengeluarkan bawang merah, bawang putih dan lombok segar.


"Pak Mahmud mau ngapain?" Tanya Dinda yang sejak tadi hanya memperhatikan apa yang dilakukan Mahmud.


"Masak sayur sawi,"


"Oh!" Dinda meletakkan pisaunya di meja dan langsung melangkahkan kaki menuju ke pintu.


"Mau kemana?" Mahmud yang sudah meletakkan bumbu-bumbu dapur di meja langsung menyambar tangan kanan Dinda yang hampir sampai pintu dapur.


"Temani aku masak!" Lanjut Mahmud.


Dinda bingung. Memandang ke Mahmud, lalu ke tangannya yang sedang dipegang Mahmud.


"Bantu aku memotong sayur ini!" Pinta Mahmud dengan ramah. Mahmud melepas tangan Dinda, menunduk sambil tersenyum melihat wajah Dinda yang bingung tampak begitu lucu dan menggemaskan.


Dinda kembali ke tempatnya semula dan mengambil pisau yang diletakkan tadi. "Dipotong bagaimana ini?"


Mahmud mengerti dan memaklumi kebingungan Dinda yang nggak pernah masuk dapur untuk memasak.


"Segini." Sebagai contoh, Mahmud mengambil dua batang sawi dan dipotong.


Dinda mulai memotong sayur sawi. Mahmud mengupas bawang merah dan bawang putih lalu dicincang halus.


Dinda berdiri di samping memperhatikan Mahmud memasak.


Dari menuangkan minyak goreng, jika sudah panas, baru bawang putih lebih dulu dimasukkan, jika sudah mulai harum, baru bawang merah dan menyusul lombok segar utuh jika sudah mengeluarkan aroma harum, sawi di masukkan. Aduk sampai rata. Tambahkan garam dan penyedap. 


Sesekali Mahmud melirik Dinda yang sedang serius memperhatikannya memasak.

__ADS_1


Mengerti sayur sudah masak, Dinda mengambil mangkuk besar untuk tempat.


"Coba dicicipi, Mbak Din!" Pinta Mahmud sambil menyodorkan sendok makan mendekati mulutnya.


"Pak Mahmud saja!" 


"Ayo lah!" Mahmud tetap memaksa dan menyodorkan sendok ke mulut Dinda. Dinda tidak bisa menghindar menerima suapan Mahmud.


"Bagaimana?"


"Mantap! Enak tenan!" Dinda tersenyum dan mengangkat jempolnya. Memuji dengan tulus rasa masakan itu.


Mahmud tersenyum mendengar pujian Dinda yang tulus.


Dinda memegang mangkuk dan Mahmud yang menuangkan sayur sawi ke dalamnya.


"Ta tat …! Ini dia sayurnya sudah masak." Dinda membawa sayur di mangkok keluar dari dapur dan diletakkan dekat dengan mie yang sudah masak lebih dulu.


"Yuk kita makan sekarang!" Ajak Mahmud kepada semua.


Anu sudah menyiapkan piring dan sendok sebelumnya. Mereka makan bersama-sama, duduk di teras dapur klinik dengan piring di tangan masing-masing. 


Selesai makan, Santi, Ana, Andi dan Yos bagian mencuci piring dan peralatan bekas untuk memasak. 


Ketika Adri dan Noni lewat pulang dari bermain voli, mereka masih duduk santai sambil ngobrol di teras dapur klinik itu.


*


"Din, aku duluan ke dapur." Pamit Ana sambil keluar asrama.


"Iya, Mbak," jawab Dinda.


Dinda pun berniat ke dapur untuk mengisi botol minumnya. Dia bergegas pergi mengambil botol di kamar, dan segera menyusul Ana.


Tiba menaiki beberapa anak tangga akan menuju pintu masuk ke dapur, Dinda berhenti mendengar Adri berbicara.


"Bikin malu saja. Masak sudah tahu malam, hujan lagi. Alasannya pergi ke koperasi, padahal pacaran dan ciuman di jembatan. Hiih, nggak sesuai dengan penampilannya, tertutup semua dari kepala sampai ke ujung kaki. Dia menganggap dirinya itu seorang selebritis gitu mungkin,"


"Ada apa sih, Dri? Yang kamu omongin itu siapa? Kok teriak marah-marah begitu ngomongnya? Semua yang di dapur lho jadi dengar," Ana duduk didekat Adri.


"Biar aja semua mendengar! Siapa lagi kalau bukan teman sekamarmu itu." Kata Adri.


"Memangnya siapa yang lihat kalau ia pacaran dan ciuman di jembatan?" Tanya Ana.


"Ada seseorang melihat dari jendela kamarnya tadi malam."


Dinda tidak jadi masuk ke dapur. Ia membalikkan badan dan menuruni anak tangga kemudian berlari menuju ke asrama putri dan langsung masuk ke kamarnya. Naik ke ranjang dan membawa buku novel seolah dia tidak pergi ke dapur dan tidak mendengar gunjingan orang tentang dirinya.


"Yang ku khawatirkan terjadi. Padahal aku nggak menginginkan hal ini. Ini semua gara-gara Mahmud!" Dinda marah sendiri.

__ADS_1


"Dinda! Din!" Belum sempat Dinda membuka buku novel, Anu memanggil Dinda dari luar.


Dinda segera mengenakan hijab instannya dan keluar kamar.


"Ada apa, Nu?"


"Ada pesan dari Pak Hadi, disuruh menyiapkan mau ada meeting malam ini pukul delapan."


Dinda melihat jam yang menempel di dinding ruang tamu. 


"Jam tujuh sekarang, Nu. Tunggu, ya!"


"Yoi!" Anu tetap berdiri di luar. Dinda berlari masuk ke kamar dan mengganti babydollnya dengan baju semi formal.


Hanya lima menit, Dinda sudah kembali 


"Bantuin ya, Nu?"


"Ayo! Siapa takut." Mereka berdua pergi menuju ke kantor.


"Gayamu, Nu."


"Nggak papa, kan masuk hitungan lembur, hehehe…!" Anu tertawa renyah.


"Meeting dengan siapa, Nu, kok mendadak?"


"Nggak tahu." Anu mengendikkan bahunya.


"Siapin konsumsinya seperti biasa, Nu."


"Siap, Ndan!"


"Ndan?"


"Kalau jadi sama komandan Mahmud kan jadi bu komandan, maka aku manggilnya juga Ndan,"


"Anu!" Dinda akan memukul Anu, tapi Anu sudah duluan menghindar.


"Hahaha!" Anu tertawa.


Mereka berpisah di pintu kantor. Anu langsung masuk ke dapur kantor, sedangkan Dinda masuk ke ruangannya. Tidak lama dari dapur, Anu masuk ke kantor menuju ke ruang meeting, untuk membersihkan dan menata ruangan itu.


*


Sementara di asrama putri.


Adri, Ana dan yang lain sudah kembali dari dapur. Ruang tamu dan teras asrama begitu ramai. 


"Ana, Dinda mana?" Tanya Andi yang baru datang dan duduk di teras bersama Mahmud.

__ADS_1


"Tadi di kamar sih, nggak tahu sekarang. Coba ku lihat dulu." Ana berjalan ke arah kamar dan membuka pintu.


"Nggak ada di kamar!" Teriak Ana. Lalu berjalan mendekati Andi dan Mahmud.


__ADS_2