
"Kriiing! Kriing! Kriiiing!" Belum lama Dinda memblender salah satu bumbu, terdengar Suara iphon di dapur umum.
Bu Tun bergegas mengangkat gagang iphon.
"Halo, selamat sore dengan dapur umum."
Terjeda sejenak.
"Oh, ada di sini, tunggu sebentar, saya panggilkan!" Kata Bu Tun dengan orang di seberang melalui iphon.
Bu Tun berteriak memanggil Dinda.
"Dik Dinda! Ada yang nyari, niiih!" Sambil menyodorkan gagang iphon ke arah Dinda. Dinda mematikan blendernya, kemudian berlari menuju ke tempat Bu Tun yang berjarak beberapa meter.
Dinda menerima sambungan telepon.
"Halo, selamat sore,"
"Selamat sore, Mbak Dinda, bisa datang ke sini kah sekarang? Anu, ini saya bingung bagaimana cara mengatur kue nya? Mau dan taruh di kotak atau di plastik? Soalnya, anu, Mbak, disini nggak ada yang bisa saya ajak tukar pendapat,"
"Iya, Bu, saya ke sana sekarang. Kita lihat sama-sama kalau saya sudah sampai di sana, ya," Dinda seolah mengerti akan kebingunan yang dialami oleh Bu Ratno.
"Iya Mbak, saya tunggu."
Setelah panggilan selesai, Dinda pamit kepada Bu Tun.
"Bu, saya mau ke dapur seberang dulu,"
"Oh, iya, Dik. Sering-sering datang ke sini, lho ya? Kalau bisa nanti malam ke sini?" Bu Tun merangkul bahu Dinda.
"Iya, Bu, saya usahakan." Dinda menoleh penuh arti kepada Bu Tun.
"Ya sudah sana. Nanti Bu Ratno kelamaan menunggu. Ke sana jalan kaki kah, Dik?" Tanya Bu Tun yang tadi nggak tahu saat Dinda datang dengan membawa mobil sendiri.
Dinda menyalami tangan Bu Tun dan menciumnya. Kemudian menunjukkan sebuah mobil yang terparkir di depan dapur.
"Naik itu, Bu."
"Ealaah! Bisa bawa mobil juga, to?" Celetuk Bu Tun. Karena Dinda jarang sekali menyetir mobil sendiri, jadi hanya sedikit orang yang tahu.
"Terpaksa, Bu." Jawab Dinda merendah sambil tersenyum.
"Pergi dulu, Bu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Dinda melangkah meninggalkan Bu Tun yang mengantarnya sampai di muka pintu dapur. Ia melewati dan menyapa ibu-ibu yang sedang membersihkan daging sapi dengan hormat menganggukkan kepala sambil tersenyum.
__ADS_1
Sebelum membuka pintu mobil, ia bertemu dengan Alia.
"Ustadzah Dinda," sapa Alia.
"Assalamualaikum, Alia," Dinda ganti menyapa sambil mengelus rambut Alia yang sudah mendekat kepadanya untuk menyalaminya dan mencium tangan.
"Waalaikumsalam, hehe…,"
"Barakallah. Oh ya Alia, bilang sama teman-teman, hari ini sama besok ngajinya libur dulu, ya!"
"Iya, Ustadzah. Nanti Alia bilang ke teman-teman." Ucap gadis kecil berambut keriting itu.
"Ustadzah pergi dulu, ya. Assalamualaikum."
"Iya, waalaikumsalam."
Alia berdiri di tempatnya, memperhatikan Dinda membuka pintu mobil sebelah kanan bagian depan kemudian masuk dan duduk di bagian belakang kemudi. Mobil berputar arah dan melaju menuju ke jalan untuk pergi ke dapur staf yang letaknya berada di seberang sungai.
Tujuh menit kemudian, Dinda telah sampai di depan dapur staf. Dapur yang biasa tempat ia makan.
Setelah turun dari mobil, Dinda melihat dapur bagian depan banyak orang. Para tamu rupanya sedang makan.
Akhirnya Dinda masuk ke dapur melalui pintu belakang.
"Nah ini orangnya datang." Sorak Bu Ratno dan langsung menarik tangan Dinda untuk diajak masuk ke kamar tempat menyimpan kue.
Kemudian Bu Ratno masuk ke kamarnya, untuk mengambil beberapa baju, dan membagikannya kepada anggota group penari yang akan dipakai untuk acara besok.
Baju sangkarut atau baju basulau merupakan pakaian rompi yang dilapisi oleh sulau atau kerang, ini adalah baju adat daerah Kalimantan Tengah.
Dinda mendapat baju dengan warna yang berbeda. Yaitu berwarna putih tulang. Sedangkan yang lain berwarna merah.
Belum sempat Dinda bertanya, Maria langsung menjelaskan.
"Mbak Dinda besok kan berdiri di dekat kita pokoknya. Kita para penari, menari membentuk lingkaran selang seling wanita dan pria. Setelah pak Bupati datang, Mbak Dinda tugasnya mengalungkan bunga."
Dinda mengangguk, tanda mengerti.
Besok mereka akan menarikan tarian tradisional yaitu tari Manasai atau tarian selamat datang untuk menyambut tamu yang datang. Ciri khas dari tarian tradisional ini adalah bentukan lingkaran selang seling yang dilakukan oleh penari wanita dan pria.
"Tariannya seperti apa, sih?" Tanya Dinda penasaran, karena tidak pernah melihat mereka latihan.
"Ayo, Bu, kita latihan, waktu kita tunggal malam ini, lho." Kata Maria.
"Kalau begitu, panggil saja semua anggota penari, kita latihannya di sini." Sahut Bu Ratno.
__ADS_1
Akhirnya Maria sibuk menghubungi teman-teman yang akan menari besok.
Setengah jam kemudian mereka sudah berkumpul, dan mulai menari dengan diiringi irama lagu manasai.
Semua dimulai dengan menghadap kedalam lingkaran, kemudian berputar ke arah kanan sambil melakukan gerak maju bergerak berlawanan arah jarum jam kemudian menghadap ke arah luar lingkaran, berputar lagi ke arah kiri sambil melakukan gerak maju. Begitu seterusnya sambil berputar terus berlawanan arah jarum jam dengan mengikuti irama lagu lagu Manasai. Setiap gerakan kaki dalam tarian ini, mirip dengan gerakan dalam irama Cha-Cha.
Melihat gerakan yang mudah diikuti, Dinda pun ikut menggerakkan badannya mengikuti irama.
"Yap! Bagus!" Puji Dinda sambil mengacungkan kedua ibu jarinya ke atas.
*
Tiba hari H. Setelah menunggu beberapa saat, Bupati datang disambut dengan tarian seperti yang dipraktekkan tadi malam dan Dinda mengalungkan bunga ke leher Bapak Bupati. Diteruskan dengan pemotongan pita sebagai simbol diresmikannya jembatan tersebut, mendengarkan sambutan-sambutan dan dilanjutkan doa. Dan terakhir acara ramah tamah yaitu makan.
Sambil menunggu nasi kotak datang, Dinda duduk bersama dengan kelompok penari tadi. Tanpa disadarinya, dari kejauhan seseorang tengah memperhatikannya.
Ketika Dinda menengok ke kiri, ia melihat seseorang tengah menatapnya. Setelah saling bertemu pandang, mereka saling melempar senyum.
Seseorang itu adalah Mahmud. Mahmud mendekat ke tempat Dinda duduk. Ia menyerahkan kotak nasi kepada Dinda.
"Terima kasih." Dinda menerimanya sambil tersenyum.
"Manis." Gumam Mahmud lirih di telinga kiri Dinda.
Wajah Dinda seketika meremang dan bersemu merah.
Mahmud menusukkan sedotan kemudian memberikan air mineral gelasan kepada Dinda.
"Minum dulu." Kata Mahmud setelah duduk di kursi di samping kiri Dinda.
Dinda tidak menyia-nyiakan kebaikan di depan matanya. Diterimanya air mineral gelas itu dan diminumnya menggunakan sedotan.
Orang-orang disekitar Dinda dan Mahmud sudah mulai makan. Dinda ikut membuka nasi kotak itu. Kemudian menoleh ke arah Mahmud.
"Mana punya Pak Mahmud?" Tanya Dinda yang melihat Mahmud tidak membawa nasi kotak.
"Silahkan makan, saya nanti saja."
Dinda merasa nggak enak jika makan sendiri.
"Makan bersama kalau begitu." Ajak Dinda sambil menyodorkan kotak nasi ke arah Mahmud.
"Rezeki jangan ditolak." Kata Mahmud sambil mengambil sendok di tangan Dinda.
"Sendoknya bekas aku, Pak. Apa nggak papa?"
"Nggak berbisa, kan?" Mahmud sambil mengerlingkan mata ke arah Dinda.
__ADS_1
"Ishh, aku bukan ular."