
Di dapur terdengar begitu ramai. Menjelang pagi adalah waktu yang paling sibuk di dapur. Semua alat masak berbunyi. Empat kompor gas merk rinai tungku dua menyala semua. Karyawan bagian dapur sibuk menyiapkan menu untuk sarapan.
"Selamat pagi, Bu Ratno, Bu Jar," Sapa Dinda ketika memasuki dapur lewat pintu belakang.
"Selamat pagi," jawab mereka serempak sambil menoleh ke Dinda yang sedang berjalan mendekati mereka.
"Eh, Mbak Dinda, sudah siap mau ke blok pagi ini, Mbak?" Tanya Bu Ratno dan Bu Jar bareng.
"Iya, Bu."
"Mbak Dinda mau sarapan apa? Biar aku buatkan?" Tanya Bu Jar.
"Terima kasih, Bu Jar. Aku mau minum teh hangat saja, Bu. Sama minta air minum kutaruh di botol ini." jawab Dinda sambil menunjukkan botolnya, kemudian mengisi botolnya dengan air putih dari teko di atas meja dan menyelipkan kembali botol minum di kantong samping tas ransel.
"Di depan juga sudah ada Pak Rizki dan kawan-kawan." Kata Bu Ratno yang barusan dari depan.
"Beliau-beliau minta dibuatkan sarapan apa, Bu?" Tanya Bu Jar pada Bu Ratno.
"Minta dibuatkan kopi semua, Bu Jar."
Bu Jar membuat teh manis dan tiga gelas kopi.
Dinda mengambil teh manisnya dan menyeruput pelan. Bu Jar mengantar kopi ke depan. Dinda mengikutinya di belakang tidak menyadari seseorang sedang menatapnya.
Dari jauh Mahmud menatap Dinda yang sedang berjalan mengikuti Bu Jar. "Penampilan berbeda. Tetap terlihat feminim." Batin Mahmud.
"Nah, itu Mbak Dinda. Saya kira belum bangun, mau saya suruh Bu Jar untuk bangunin pakai air satu gayung,"
"Hahaha," kata Pak Rizki disambut tawa oleh Duki asisten Pak Rizki, Mahmud dan Bu Jar.
"Bisa saja Pak Rizki ini," ujar Bu Jar.
"Jangan pakai air satu gayung dong, Pak!" Dinda memasang wajah ngambek sambil menarik kursi untuk ikut bergabung duduk dengan Beliau-beliau.
"Terus pakai apa?" Tanya Pak Rizki.
"Pakai itu lho! Yang orang biasa bangunin, Sahur sahur ayo kita sahur! Biar tambah ramai." Sahut Dinda.
"Itu kalau Ramadhan, Din," sahut Duki.
"Tin! Tin!" Obrolan mereka terhenti ketika mendengar suara klakson mobil hiline di depan dapur.
Bu Ratno dan Bu Jar berjalan ke depan.
"Pak Sulis, minum kopi atau teh?" Tanya Bu Jar setelah melihat Pak Sulis di belakang kemudi.
"Sudah di asrama tadi, Bu Jar." Sahut Pak Sulis sambil turun dari mobil.
__ADS_1
"Berangkat sekarang, Pak?" Tanya Pak Sulis setelah mendekati Pak Rizki.
"Iya, Pak Sulis." Jawab Pak Rizki.
Pak Rizki, Duki, Mahmud menyerup kopinya, Dinda pun menghabiskan tehnya.
"Bu, kami berangkat," pamit mereka kepada kedua ibu dapur.
"Iya, hati-hati semua!"
Semua menggunakan baju safety untuk di lapangan. Kemudian semua keluar mengikuti Pak Sulis.
"Mbak Dinda yang duduk di depan, ya!" Kata Pak Rizki sambil naik di kursi penumpang bagian belakang sebelah kiri.
"Ya, Pak," jawab Dinda, Pak Sulis membukakan pintu kiri depan untuk Dinda.
"Terima kasih, Pak Sulis," ucap Dinda.
"Iya, Mbak," sahut Sulis.
Duki minta duduk di belakang sendiri, katanya biar leluasa bisa untuk tidur. Mahmud masuk lewat pintu kanan belakang sopir. Pak Sulis naik di belakang kemudi. Setelah semua duduk dengan tenang di tempat masing-masing, Pak Rizki berkata,
"Sebelum berangkat, mari kita bersama-sama berdoa," Pak Rizki memimpin berdoa. Semua menengadahkan tangan ke atas.
"Allahumma hawwin ‘alainaa safaranaa hadzaa waatwi ‘annaa bu’dahu. Allahumma antashookhibu fiissafari walkholiifatu fiil ahli.
Artinya: “Ya Allah, mudahkanlah kami bepergian ini, dan dekatkanlah kejauhannya. Ya Allah yang menemani dalam bepergian, dan Engkau pula yang melindungi keluarga."
Pukul lima mobil berangkat ke blok. Pak Sulis melajukan mobilnya. Jalanan masih lengang dan gelap. Di kanan dan kiri jalan hanya pepohonan saja, sering juga tampak jurang-jurang yang terjal di kanan dan kiri jalan, membuat ngeri dan ciut nyali. Hanya sesekali menemukan pemukiman dan rumah penduduk, itu pun tidak sebanyak bangunan rumah di kota. Penumpang mobil pun tidak ada yang bersuara. Radio ht yang terpasang di mobil pun masih sepi. Untuk mengusir sepi, Pak Sulis menyetel kaset sholawatan Sabyan.
"Dengan Kasihmu Ya Robbi berkahi hidup ini, Dengan cintamu Ya Robbi damaikan mati ini, Saat salahku melangkah gelap hati penuh dosa, Beriku jalan berarah temui-MU di surga,
Terima sembah sujudku terimalah do'a ku,
Terima sembah sujudku izinkan ku bertaubat,
Maulana Ya Maulanaa Yaa sami' du'aanaa, Maulana Ya Maulanaa Yaa sami' du'aanaa."
Dengan lirih Dinda mengikuti lirik itu untuk menghilangkan jenuh. Tanpa disadarinya, seseorang yang duduk dibagian belakang sejak tadi memasang telinga mendengarkan suaranya.
*
Sementara di asrama putri, Maya dan Santi sedang antri di kamar mandi, karena akan sholat subuh.
"Hei, ayo cepat, sudah siang nih!" Maya menggedor-gedor pintu kamar mandi, karena yang di dalam lama sekali tidak lekas keluar, sampai membuat Ana terbangun dari tidurnya dan keluar dari kamar.
"Iya, tunggu!" Sahut Adri yang kebelet dan sakit perut masih di dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Ada apa sih, pagi-pagi sudah ribut? Gangguin orang yang masih enak-enaknya tidur saja!" Ana ngomel-ngomel.
"Kamu tuh, Na, sudah siang begini baru bangun?"
"Siapa di dalam?" Tanya Ana lagi.
"Adri kayaknya." Jawab Maya.
"Sudah nih, siapa duluan masuk?" Teriak Adri keluar dari kamar mandi.
"May, aku dulu, ya?" Teriak Santi yang berada di dekat kamar mandi.
"Iya, San!" Jawab Maya yang sedang ngobrol dengan Ana.
"Hei, An, apa benar yang dikatakan Adri tentang Dinda?" Maya kepo.
"Aduh May, Adri saja kok kamu dengerin! Dia itu ngomongnya sering ngaco dan nggak jelas. Kayak nggak tahu wataknya Adri bagaimana, May," Sahut Ana.
"Dari dulu kok nggak berubah!" Maya mengomel.
Ana kembali masuk ke kamar dan menutup pintu.
*
Tim keuangan telah tiba di blok bersamaan dengan saatnya karyawan sarapan di dapur.
Pak Rizki dan tim turun dari mobil, langsung disambut oleh kepala bagian di blok dan langsung masuk ke kantor yang sudah disiapkan untuk dipakai sementara. Semua sudah duduk di tempat masing-masing, siap melayani karyawan untuk mengambil statemen dan gaji mereka.
Semua bekerja sesuai bagiannya masing-masing. Mahmud bekerja sama dengan bagian keamanan di blok untuk memperketat penjagaan. Tidak mencampur adukkan pekerjaan dengan masalah pribadi.
Saat tiba jam istirahat, makan siang diantar ke kantor. Anggota tim bergantian istirahat, makan dan sholat. Pekerjaan berlanjut terus, sampai sore menjelang maghrib baru selesai.
"Ayo, kita makan dulu!" Ajak Pak Rizki.
"Iya, Pak," Semua mengikuti Pak Rizki ke dapur. Dinda langsung ke belakang.
"Halo, Bu Wati," sapa Dinda.
Bu Wati adalah wanita berusia 50 tahun, bekerja sebagai ibu dapur di blok berasal dari Jawa, logat bicaranya sangat kental logat Jawa. Karena sebulan sekali Dinda selalu datang dan sering ngobrol membuat hubungan Dinda dan Bu Wati dekat. Bu Wati sudah menganggap Dinda seperti anak sendiri.
"Hei, Dinda, kok lama baru muncul lagi di sini," Bu Wati menggandeng lengan Dinda.
"Ya sebulan sekali to, Bu. Bu wati awet muda, e." sahut Dinda sambil senyum.
"Bisa saja, Dinda ini. Mau makan? Ayo mau makan apa?" Bu Wati membimbing Dinda ke meja makan.
"Iya, Bu. Tapi saya mau ke kamar mandi dulu,"
__ADS_1
"O, ya, sana."
Dinda pergi ke kamar mandi.