PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 8. Dinda Hampir Pingsan


__ADS_3

"Tiga lima satu. Tiga lima satu."


Suara panggilan dari radio ht yang menyebut kodenya. Dinda bergegas bangun untuk menjawabnya.


"Roger. Tiga lima satu di sini, ganti,"


"Tiga lima satu tolong bikin berita acara kecelakaan yang terjadi pagi tadi, buat laporan juga siapa-siapa saja karyawan yang kecelakaan dan bagaimana kondisinya ganti,"


"Roger dua tiga satu,"


"Roger kalau sudah selesai segera konfirmasi. Untuk sementara enam satu."


"Roger enam satu."


Dinda keluar dari kamar, suasana sepi, semua sudah pergi ke kantor. Ia segera pergi ke belakang menyambar handuknya dan masuk ke kamar mandi. Dua puluh menit kemudian ia sudah berada di poliklinik menemui mantri dan  beberapa pasien korban kecelakaan yang kondisinya tidak ringan.


"Lagi ngapain?" Mahmud yang sejak tadi berada di klinik mengagetkan Dinda yang sedang menulis data yang ia perlukan.


"Eh, Pak Mahmud. Ini Pak, lagi ngumpulin data." Jawab Dinda dengan melihat Mahmud sekilas dan lanjut menulis.


Mahmud kembali dengan kesibukannya meski sesekali melirik ke arah Dinda. Selesai menulis, Dinda mendekati pasien untuk menanyakan kondisinya. Sampai pada pasien bernama Noldi, yang sementara lukanya masih dibersihkan oleh mantri. Terlihat kakinya bengkak, digerakkan maupun disentuh sakit. Dan juga masih ada beberapa luka yang berdarah. 


"Oh!" Seketika wajah Dinda pucat. Mahmud yang seolah memiliki insting takut kalau terjadi sesuatu pada Dinda. Seperti yang terjadi tadi saat di lokasi kecelakaan. Mahmud sudah berjalan mendekatinya, lalu membantunya ke tempat duduknya yang tadi.


Dinda berkeringat dingin.


Mahmud mengambilkan teh untuk Dinda.


"Ayo minum dulu!" Dinda menerima dan meminumnya.


"Terima kasih. Ya Allah, lemas aku," suara pelan Dinda.


Mahmud menarik catatan Dinda dan membantu melanjutkan tulisan Dinda.


Dua puluh menit kemudian Mahmud sudah selesai menuliskan untuk Dinda. Dan Dinda pun sudah nampak baikan.


"Sudah makan apa belum?" Tanya Mahmud menyadarkan Dinda jika sejak pagi Dinda belum sarapan.


Tanpa perlu jawaban dari suara Dinda, Mahmud sudah tahu jawabannya.


"Ayo!" Mahmud mengulurkan tangannya ke hadapan Dinda, supaya Dinda mau memegangnya.

__ADS_1


Dinda bangkit dari duduknya tanpa harus memegang tangan Mahmud.


Mahmud hanya menggelengkan kepala.


Lalu mereka berjalan sejajar menuju dapur.


"Bu, lapar," Mahmud menuju wastafel untuk mencuci tangannya. Dinda langsung menemui ibu dapur yang sudah dianggapnya seperti bundanya sendiri. 


"Mbak Dinda. Iya, tadi pagi Mbak Dinda nggak muncul di dapur untuk sarapan," Jawab Bu Ratno sambil menyiapkan piring dan sendok untuk Dinda dan Mahmud.


"Tadi pagi lupa, Bu." Jawab Dinda.


Mahmud yang sudah berbalik dari wastafel hanya melihat ke arah Dinda sambil menggelengkan kepala.


"Pantesan hampir pingsan lagi. Kamu tidur dan nggak sarapan." Batin Mahmud.


"Ya ampun, Mbak Dinda."


"Pak Mahmud, bagaimana ini Mbak Dinda kok bisa sarapan saja sampai lupa," kata Bu Ratno dilanjut mengadu kepada Mahmud yang dilihatnya menggelengkan kepala sambil menatap Dinda.


"Ayo, makan yang kenyang!" Kata Bu Ratno sambil meletakkan piring di meja.


Dapur masih sepi, karena waktu makan siang masih tiga puluh menit lagi.


Dari sikap Mahmud, Bu Ratno yang sudah banyak makan garam kehidupan bisa melihat bahwa Mahmud memiliki perhatian yang lebih terhadap Dinda. Sikap itu tidak bisa disembunyikan oleh Mahmud.


*


Siang setelah jam istirahat, Dinda sudah menghadap komputer di meja kerjanya. Sibuk dengan pekerjaan dan beberapa laporan. Mahmud langsung saja nyelonong masuk ke ruangan Dinda.


"Dreeet." Suara kursi di depannya ditarik membuat Dinda mengalihkan pandangannya, dan baru menyadari kalau seseorang ada di depannya.


"Pak Mahmud," Dinda menengadahkan wajahnya ke atas untuk melihat Mahmud


"Saya mau mengambil surat tugas sekaligus surat jalan untuk mengawal pasien yang akan dibawa ke rumah sakit." Kata Mahmud sambil terus menatap Dinda.


"Ini," Dinda menyerahkan amplop yang sudah disiapkan.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Mahmud tanpa mengalihkan tatapannya.


 "Alhamdulillah baik." Dinda Kemudian mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


"Oh ya, Pak Mahmud, mobil yang membawa pasien sudah siap, akan segera berangkat." Kata Dinda untuk menghilangkan rasa kikuknya. Merasa nggak enak dilihat Mahmud terus.


"Mengusirku?" 


"Mana saya berani, Pak." Dinda berusaha tersenyum dengan wajah bersemu merah yang tidak bisa disembunyikan. Mahmud masih terus menatapnya.


"Jaga dirimu selama aku tidak ada!" Kata Mahmud membuat Dinda menoleh ke arahnya.


"Aku akan merindukanmu." Mahmud mulai berdiri dari kursinya, tapi pandangan matanya masih ke arah Dinda.


"Aish. Bisa saja Pak Mahmud ini." Sahut Dinda.


"Aku berangkat dulu ya, sayang." Wajah Mahmud tampak serius.


Pamit Mahmud membuat Dinda nyengir.


Mahmud keluar dari ruangan.


"Alhamdulillah selamat! lepas dari maut." Kata Dinda pelan sambil memegang dadanya yang bertalu-talu seolah akan meledak tadi.


Dinda kembali ke komputernya. Melanjutkan pekerjaannya di sana.


Sore hari Dinda pulang dari kantor. Tanpa mengganti bajunya, ia langsung terkapar di atas tempat tidurnya. Hari ini terasa sangat letih. Apa lagi dua kali ia hampir pingsan.


*


Hari-hari yang dilaluinya akhir-akhir ini terasa sepi. Tiga hari terakhir tidak ada yang mengganggunya. Mahmud tiga hari ini belum kembali dari mengawal pasien dan beberapa tugas lainnya yang harus dikerjakan.


Dinda tampak nggak ambil pusing. Dia memiliki banyak kesibukan untuk menghilangkan rasa sepi. Tapi sesungguhnya tidak dengan hatinya. Hatinya terasa gersang butuh seseorang untuk menyiramnya, seperti yang dilakukan Mahmud. Mahmud memiliki sikap tegas, dan bisa menempatkan disaat kapan ia memberi perhatian dan kelembutan. Namun, Dinda akan merasa sangat bersalah jika dia menaruh rindunya kepada suami orang. 


"Ah! Perasaan yang salah! Rindu yang salah! Dia sudah punya istri dan anak! Ini nggak boleh terjadi!" Batin Dinda mengingatkan perasaannya sendiri.


Sore pulang kerja, Dinda Mengganti bajunya dengan setelan baju training dan tidak lupa hijabnya. Ia pergi ke tempat fitnes. Jika tidak mengajar ngaji, selain jogging, Dinda suka fitnes. Ruangan fitnes terletak di sebelah kanan gedung serbaguna yang terletak di sebelah kanan gerbang masuk. Berjarak tiga puluh meter dari pos jaga. Sore ini ia memasuki salah satu gedung milik perusahaan yang dipenuhi berbagai macam alat fitnes. Ia mulai mendekati alat fitnes favoritnya. Yaitu alat semacam mengayunkan kaki seperti bersepeda gunung. Tiga perempat jam sudah lumayan menguras keringat Dinda.


Dinda tidak mengetahui jika sejak tadi ada seseorang yang memperhatikannya. Karena ruang fitnes bagian depan berdinding kaca, sehingga transparan dari luar.


"Mud, lihat noh Dinda lagi di ruang fitnes!" Kata Andi memberitahu Mahmud yang sedang menunduk menulis di meja di dalam pos jaga. 


Mendengar nama Dinda, Mahmud langsung mengangkat kepalanya, melihat ke arah yang ditunjuk Andi.


"Lihai juga dia dengan alat itu." Kata Mahmud.

__ADS_1


Setelah dinas tiga hari mengantar pasien ke rumah sakit, Mahmud baru dua jam yang lalu sampai di perusahaan. Dan Dinda belum mengetahui. Selama tiga hari itu juga hatinya terasa kosong tanpa sosok Dinda yang bisa membuat hatinya berdetak lebih kencang dan berbunga. Mahmud seolah kehilangan sesuatu.


Dan saat ini sesuatu itu telah ada di depannya. Mahmud tidak ingin menyiakan momen ini. Diperhatikannya Dinda yang sedang fitnes. 


__ADS_2