PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 39. Durian


__ADS_3

Yos, Andi, Anu diam mencerna ucapan Ana. 


"Ia. Dasar Ana somplak!" Ucap Yos.


"Apaan, Tri?" Tanya Andi.


"Omongan Ana itu hanya bisa dipahami oleh usia delapan belas tahun ke atas." Ucap Yos.


Anu dan Andi menoleh dan saling pandang. Sementara Dinda hanya diam dan mendengarkan omongan mereka yang nggak jelas itu.


"Memangnya diantara kita ada yang berumur di bawah delapan belas?" Anu bertambah bingung.


"Maksudnya Ana itu yang berbau delapan belas tahun ke atas, Nu."


"Oh!" Anu dan Andi kaget dan saling membelalakkan matanya.


"Dasar Ana somplak!" Ucap Anu dan Andi bareng.


"Haaa Haaa… haaa...! Baru sadar maksudku ya, Nu. Dasar telmi," tawa Ana.


Andi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku baru nyadar, kalau penghuni asrama putri ada yang kayak gini, nih kelakuannya!" 


"Hiii… hiii…!" Dinda ketawa cekikikan.


"Asal kalian jangan berpikir ngeres aja!" Lanjut Dinda.


"Oh ya, Din, kamu ikut ke kebun, nggak? Santi ngajakin kita ke kebun nih, mau mencari buah katanya," tanya Ana mengalihkan topik. Gara-gara ia tadi salah ucap, dia jadi bulian.


"Di kebun ada buah apa, Na?" Tanya Andi.


"Nggak tahu. Kan ini masih mau pergi kesana?"


"Aku nggak ikut. Tapi kalau ada durian aku mau," jawab Dinda, karena ia masih malas untuk berjalan. Badannya masih terasa belum fit benar.


"Kamu ngidam kah, Din?" Tanya Santi.


"Ngawur saja kalau ngomong. Orang ngidam biasanya yang asam-asam, San! Iya, Din, Nanti kalau ada aku bawakan!" Kata Ana.


"Aku ikut!" Kata Andi dan Anu bareng.


"Ayo jak! Asal kalian jalan sendiri, nggak ada masalah!" 


"Nggak mungkin juga kalau kamu mampu nggendong aku, Na!"


Akhirnya klinik kembali sepi. Tinggal Mantri Yos sendiri. Santi, Maya, Ana dan Anu juga Andi pergi ke kebun. Sementara Dinda pulang ke asrama.


Selesai sholat ashar, sambil menunggu Ana pulang dari kebun, Dinda rebahan di tempat tidurnya sambil memegang buku tentang fiqih. 


***


Sebuah mobil melaju di jalanan yang sedikit berdebu. Mahmud duduk di kursi penumpang di belakang sopir sambil terus melihat keluar. Ia melihat banyaknya penjual durian di pinggir-pinggir jalan.


"Sudah musim durian ya, Mang?" Tanya seorang penumpang wanita kepada pak Sulis yang sedang memegang kemudi mobil.

__ADS_1


"Ia. Itu banyak pedagang di pinggir-pinggir jalan."


"Kira-kira boleh ditawar nggak, ya?"


"Dicoba saja, siapa tahu boleh. Nanti saya berhenti di depan kalau ada yang berjualan." Kata Pak Sulis dengan mobil terus melaju dengan kecepatan sedang. 


Tidak lama mobil berhenti di sebuah tempat. Ada beberapa pedagang durian yang sedang menunggu dagangannya.


"Berapa harga durian itu?" Tanya Pak Sulis dari atas mobil menggunakan bahasa adat mereka.


"Lima puluh ribu, dan yang gede enam puluh ribu." Jawab pedagang itu menggunakan bahasa adat mereka sambil menunjuk ukuran durian yang dimaksud.


"Boleh kurang?" Tawar Pak Sulis.


"Turunlah dari mobilmu! Coba anda lihat!" Pinta pedagang itu.


"Orangnya minta kita turun untuk melihat kesana!" Kata Pak Sulis kepada penumpang di mobil.


"Ayo, kita datangi kesana!" Ajak Bripda Mahmud sambil membuka pintu mobil dan turun, diikuti oleh penumpang yang lain.


Setelah tawar menawar, harga pun jadi. Saat akan membayar, wanita tadi uangnya ternyata nggak cukup. Akhirnya pak Sulis dan Mahmud ikut bergabung untuk membeli.


***


Dinda begitu serius membaca, sampai tidak menyadari ketika ada mobil berhenti di samping kamarnya.


"Tek! Tek! Tek!" Suara kaca jendela dipukul menggunakan jari seseorang. Membuat Dinda kaget dan langsung bangun dari rebahannya. Dilihatnya seseorang sedang berdiri di luar jendela kamarnya.


"Ya?" Dinda mendekat ke jendela. Ada Mahmud di sana.


"Ini durian buat Mbak Dinda." Mahmud menunjukkan beberapa buah durian yang tangkainya diikat dengan tali rafia.


"Wow! Beneran?" Dinda menyunggingkan  senyum indahnya langsung lari keluar dari kamar memutar menuju ke tempat di mana Mahmud berada. Mahmud pun merasa bahagia melihat sambutan dan keceriaan Dinda.


Dinda mendatangi tempat dimana Mahmud sedang berdiri. 


"Mbak Din, titip yang lain disimpankan dulu, ya!" Mahmud menurunkan empat durian.


Dinda menganggukkan kepala. Lalu membantu mengangkat durian dibawa ke teras.


Mahmud kembali naik ke dalam mobil. Setelah mobil berlalu dan meninggalkan Dinda, Dinda membawa masuk durian ke dalam. 


Mereka yang tadi pergi ke kebun, telah kembali berkumpul di teras belakang klinik.


"Dinda!" Panggil Ana setelah masuk ke kamar.


Dinda menoleh kepada Ana.


"Coba tebak apa yang aku bawa?" Ana menunjukkan sekantong kresek berwarna hitam.


"Apa, ya? Tapi yang pasti bukan durian. Iya, kan?" Sahut Dinda.


"Kamu tuh, Din, kalau sudah pengen yang itu, tetap itu! Nggak ingin yang lain."


"Aku tahu apa isi kantong itu. Ketimun. Iya, kan?"

__ADS_1


"Tahu dari mana?"


"Tahu dong. Kan dari baunya sudah kecium," jawab Dinda membuat Ana bertambah bengong.


"Kecium baunya dari mana? Emangnya ketimun berbau menyengat seperti durian, apa?"


"Hiii… hiii…." Dinda tertawa cekikik. 


Padahal Dinda bisa menebak isi kantong yang dibawa Ana, karena Dinda tahu makanan kesukaan Ana. Ana suka pencok atau rujak buah yang bahan utamanya ketimun. Ana suka makan mie dengan ketimun sebagai lalapannya. Bahkan, tidak ada bahan lain pun, cukup ketimun saja dimakannya.


"Kita mau bikin rujak buah di klinik, Din. Ayo ikut! Eh, tapi ngomong-ngomong dari masuk kamar tadi aku mencium bau, bau yang nggak asing, deh."


"Dasar hidung kucing!" Dinda mengerlingkan matanya ke Ana. Ana bingung mengendus untuk mencari-cari dari mana bau itu berasal.


"Main sembunyi ya sekarang? Din, kamu dapat dari mana?"


"Haa… haaa…!" Tawa Ana.


"Hiii… hiii…! Dinda cekikikan melihat ulah Ana.


"Itu punya orang titip, nanti kita minta kalau orangnya sudah datang. Tapi ini sudah mau maghrib, masak mau bikin pencoknya sekarang?"


"Iya, ya. Sudah sore." Ana baru menyadari kalau sudah mau maghrib.


"Habis makan saja Mbak An,"


"Iya deh. Aku mau mandi dulu!" Ana langsung menyambar handuknya dan masuk ke kamar mandi.


***


Di klinik.


Anu, Yos dan Santi sedang menyiapkan bahan-bahan pencok serta bumbunya.


"Mandi saja dulu! Palingan sehabis makan ini pencokannya?" Kata Yos.


"Iya." Mereka pun bubar meninggalkan teras belakang klinik.


***


Selesai makan malam semua berkumpul di teras klinik.


Dinda dan Ana mengupas dan memotong ketimun, lalu digabungkan di suatu wadah dengan buah-buahan yang lain.


"Lagi bikin apa nih?" Tanya Mahmud setelah datang bersama Andi dan berjalan mendekati letak dimana Dinda sedang duduk. Membuat Dinda menoleh dan melihat ke arahnya.


"Kita lagi mencok nih, Ndan." Sahut Anu.


Setelah Mahmud duduk di samping Dinda,


"Pak, yang tadi dibawa ke sini, kah?" Tanya Dinda kepada Mahmud dengan pelan.


"Boleh, Dik. Ditaruh dimana? Biar aku sama komandan Andi yang mengambilnya!"


"Di dalam kamar, di balik pintu."

__ADS_1


__ADS_2