PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 64. Dinda Kecewa


__ADS_3

Dinda menelepon ruangan Ezra.


Mendengar jawaban dari sana, bahkan Ezra tidak ada di ruangannya.


Kemudian Dinda menghubungi beberapa iphon yang ada di dekat asrama seberang. Meminta tolong untuk menyampaikan pesan Pak Hadi pada Ezra.


Beberapa menit kemudian, Ezra memasuki kantor dengan wajah bantal. Ezra yang tadinya tidur di kamarnya, mendengar orang menyampaikan pesan kalau ia disuruh segera ke ruangan Pak Hadi, Ezra langsung bangun. Tanpa mencuci muka, hanya mengganti bajunya saja, Ezra langsung pergi ke kantor.


"Tok! Tok! Tok!" Suara pintu ruangan Pak Hadi diketuk, membuat Dinda menoleh untuk melihat siapa yang mengetuk. Dinda pun ikut lega setelah melihat siapa yang berdiri di depan pintu ruangan Pak Hadi.


"Masuk!" Suara Pak Hadi terdengar sampai pada Dinda.


Pukul sebelas tiga puluh Dinda bisa duduk santai di depan komputernya sambil menyeruput kopi panas yang barusan diantar Anu ke mejanya. Setelah beberapa waktu lalu ia harus bekerja seperti dikejar hantu. Mengetik, menelpon ke beberapa nomor, berlari pergi ke ruang SSB, menelepon lagi, mengetik lagi, dan akhirnya selesai.


Pak Udin yang sejak tadi di ruang SSB, kini ia keluar dan berjalan mendekati Dinda.


"Din, sudah kamu siapkan surat jalan sekaligus surat tugas polisi Andi dengan polisi Mahmud?"


Dinda mendongak melihat ke arah Pak Udin, tidak paham apa maksud Pak Udin.


"Coba kamu lihat dulu surat tugasnya!" Pak Udin duduk di kursinya menunggu Dinda yang sedang mencari surat tugas di loker.


Dinda mengambil kumpulan file surat tugas.


"Ini Pak," Dinda menyodorkan apa yang baru ditemukan.


Pak Udin meneliti surat tersebut.


"Din, ini berlaku sampai besok. Jadi sekalian bikin surat jalan sekali besok mengawal tim perencanaan."


Dinda langsung membuat surat yang diminta.


Ketika Dinda sedang di depan komputer, Pak Hadi dan Ezra sudah keluar dari ruangan. Pak Hadi menuju ke tempat Dinda.


"Iya kan, Pak?" Tanya Pak Udin tiba-tiba ketika Pak Hadi sudah sampai di dekat mejanya.


"Ada apa, Pak Udin?"


"Ini," Pak Udin menunjukkan tugas komandan Mahmud dengan komandan Andi.


"Suruh urus di keuangan sekalian kalau begitu!" Titah Pak Hadi.


Pak Udin melihat jam yang melingkar di tangannya.

__ADS_1


 "Tapi ini sudah siang, mepet sama waktu istirahat? Atau besok pagi saja sekalian?" Usul Pak Udin.


"Terserah Pak Udin kalau begitu." Ucap Pak Hadi sambil berdiri dan diikuti Pak Udin juga berdiri. Kemudian mereka pergi meninggalkan kantor.


Setelah mematikan komputernya, Dinda keluar dari kantor. Berjalan sendiri. Karena ketiga temannya tidak pergi ke kantor. 


Sampai di depan klinik, ia melihat Anu dan Andi berada di teras belakang klinik.


Dalam hati Dinda bertanya,


"Kemana Pak Mahmud, kok nggak kelihatan bersama mereka di sana?" 


Dinda terus berjalan menuju asramanya.


Di asrama pun tampak sepi. Dinda terus membuka pintu kamarnya. Dilihatnya Ana sedang tidur.


"Sudah pulang, Din?" Tanya Ana.


"Ku kira tidur kamu, Mbak An," Dinda ditanya bukannya menjawab tapi malah ganti bertanya.


"Kalau aku lagi tidur berarti siapa yang bicara, Din?"


"Hantu Ana, mungkin." Jawab Dinda sambil menuju ke ranjangnya sendiri. Dinda langsung merebahkan tubuhnya.


"Kamu kenapa sih, Din?"


"Aku mau tidur dulu, Mbak." Sahut Dinda sambil memunggungi Ana. Dinda tidur miring menghadap ke dinding.


"Ya sudah kalau nggak mau cerita. Atau lagi dapet ya? Kok kata-katanya kayak orang sebel begitu!" Ana bangun dari tidurnya. Ia mengambil air minum di botolnya.


"Din, sebaiknya makan dulu, baru tidur." Ana keluar kamar meninggalkan Dinda yang tidak merespon ajakannya.


"Kenapa sih anak itu? Datang-datang jutek begitu!" Gumam Ana sambil berjalan keluar dari kamar.


Maya yang keluar dari kamarnya melihat Ana berjalan di depannya sambil menggumam, tapi tidak jelas menggumam apa. 


Maya mengikuti Ana dan berjalan lebih cepat sehingga sampai di depan Ana dan menghadangnya, kemudian membalikkan badan menghadap kepada Ana. Dan itu membuat Ana berhenti.


"Kamu kenapa, Na? Masih waras kan?"


Tanya Maya sambil menyentuh kening Ana.


"Nggak panas!" Kata Maya.

__ADS_1


"Kamu kira aku sakit, gitu?" Sahut Ana sambil melanjutkan jalan diiringi Maya di sebelahnya.


"Habisnya kamu ndleming, Na. Kayak orang ngigau saat tidur, itu lho. Jalan sambil ngomong sendiri nggak jelas."


"Maya, Maya, kamu tuh ada-ada saja." Ucap Ana sambil tersenyum. Mereka terus berjalan  dan akhirnya sampai di dapur.


"Makan lagi. Tadi kayaknya belum lama aku makan, sekarang sudah makan lagi." Cetus Ana.


Soalnya tadi ketika mereka sarapan sudah agak siang, jadi hanya berselang waktu dekat mereka sudah makan lagi.


Bukannya tidur, Dinda malah nangis. Hatinya merasa sakit setelah melihat surat tugas Mahmud tadi. Katanya cinta, katanya suka. Bahkan memaksanya menjadi pacarnya. Tapi setelah terucap kata "ya" dan saling setuju, tapi akhir-akhir ini Dinda merasa diacuhkan. Hatinya sakit dan kecewa. 


"Dasar laki-laki nggak bisa dipercaya! Hiks… hiiiks…!"


Sebenarnya sudah beberapa kali Mahmud ingin bertemu dengannya. Ia juga tidak bisa menahan kerinduannya. Mungkin karena sama-sama sibuk dan padat jadwal kerja, karena tidak ada waktu yang sesuai, mereka jadi sulit bertemu.


Seperti tadi pagi, Mahmud menunggunya di dapur, tapi Dinda tidak kunjung datang sampai mahmud menghabiskan kopi dan sarapan selesai.  


Kembali dari sarapan, Ia berjalan pelan saat melewati depan asrama putri, karena berharap bisa bertemu dengan Dinda. 


Ketika ia melihat ke dalam asrama putri, ia melihat gadisnya baru keluar dari kamar mandi sedang mengeringkan rambut panjangnya yang basah dengan handuk kecil sambil berjalan. Hanya melihat hal itu mampu menegangkan sebagian urat-uratnya. 


Siang ini, Mahmud makan siang dengan cepat. Selesai makan, ia berjalan ke dapur bagian belakang, ingin menemui Dinda. Tapi ia tidak melihat Dinda. Di sana hanya ada Ana dan Maya.


Akhirnya Mahmud segera kembali ke pos jaga untuk menyelesaikan semua laporan selama ia bertugas di perusahaan. Karena waktunya sudah sangat mepet.


Sekembalinya Ana dari makan siang di dapur, dilihatnya Dinda masih tidur.


"Tidak biasanya anak ini seperti ini," gumam Ana pelan.


Dinda yang dikenal Ana adalah anak yang disiplin. Sepulang kerja Dinda pasti akan ke dapur dulu untuk makan siang, setelah itu sholat dhuhur baru akan tidur siang. Tidur siang pun tidak akan selama ini.


Ana keluar dari kamar. Ia pergi ke klinik karena dilihatnya di sana banyak orang. Ternyata bubuhan Ezra, Haris dan kawan-kawannya, mereka melakukan cek up untuk memastikan kondisi mereka memang benar-benar fit saat besok akan berangkat dinas.


"Hai, Haris," sapa Ana mendekati Haris yang sedang duduk di teras belakang klinik.


Hai para reader terkasih 🤗🤗


Silahkan mampir dan berikan dukungan di novel baru aku ya, dengan judul "COME WITH THE RISING SUN"


Masukkan ke favorit kalian!


Berikan like, komentar, hadiah dan vote! 🤩😍😘

__ADS_1


__ADS_2