
"Hai, Mas!" Pria yang ditegur Ezra berhenti.
"Boleh minta rokoknya?" Ezra mencoba meminta rokok, dan orang tersebut langsung merogoh saku bajunya dan menyodorkan bungkusan rokok yang masih dua batang dan pergi meninggalkan Ezra.
Ezra duduk di bangku kayu sendirian di teras asramanya, rokok ia letakkan di sampingnya. Awalnya ia ingin merokok untuk membuang pikiran penatnya, tapi sekarang setelah duduk, ia sama sekali tidak menyentuh rokok itu.
Haris datang mendekatinya, dan langsung duduk di sampingnya, agak jauh.
"Rokokmu, Zra?" Tanya Haris setelah melihat ada bungkusan rokok di samping Ezra.
"Heem," Ezra hanya menjawab dengan deheman dan melihat Haris sekilas. Haris langsung mengambil dan membuka bungkus rokok itu, ditariknya keluar satu batang dan disulutnya.
Ezra tiba-tiba merasa eneg mencium bau asap rokoknya Haris. Ia bangkit dari duduknya dan melangkahkan kaki.
"Mau kemana, Zra?" Tanya Haris sambil memperhatikan Ezra.
"Tidur." Jawab Ezra sambil berlalu dan meninggalkan Haris.
Di tempat tidur pun, Ezra tidak langsung bisa tidur. Ia masih bolak-balik ke sana kemari, dan kadang menengadahkan wajahnya ke langit-langit kamar.
Di tempat lain, Mahmud, Andi dan seluruh penjaga keamanan masih rolling berjaga di pos jaga dan di tempat-tempat di sekeliling lokasi perusahaan, sampai acara di gedung serba guna selesai.
***
Dinda menggeliat di atas tempat tidurnya. Setelah itu ia membuka matanya, ingin tidur lagi tapi ia sudah tidak merasa mengantuk. Meski sudah bangun, tapi masih di atas tempat tidur sambil menunggu adzan subuh. Tapi, sudah lama menunggu kok suara adzan tidak terdengar. Dinda menoleh ke nakas.
"Lho! Kok?" Dinda melihat weker di atas nakas.
"Pukul lima!" Dinda kaget saat melihat jam sudah menunjuk pukul lima.
"Kok nggak dengar suara adzan?" Tanyanya dalam hati sambil turun dari tempat tidur.
Dilihatnya ke samping, Ana masih tidur pulas di bawah selimutnya.
Karena acara di gedung serba guna selesai sampai larut, membuat muadzin yang biasanya adzan di waktu subuh ikut bangun kesiangan. Sehingga subuh tidak terdengar adzan.
Dinda keluar kamar hendak ke kamar mandi. Di sana ia berpapasan dengan Maya yang baru keluar dari kamar mandi.
"Kamu juga baru bangun, Din?" Tanya Maya.
"Iya, Mbak. Nggak dengar adzan." Jawab Dinda.
__ADS_1
"Kita sholat jamaah yuk, Din!"
"Iya, Mbak." Dinda segera masuk ke kamar mandi, untuk membersihkan diri dan berwudhu di kran luar samping kamar mandi.
Maya jalan ke kamarnya untuk mengambil mukena.
"Di mana Mbak kita sholat nya?" Tanya Dinda yang keluar dari kamarnya sudah lengkap dan rapi dengan mukena.
"Di ruang tamu saja, Din." Maya dan Dinda menuju ruang tamu. Mereka sholat subuh berjamaah di sana.
Karena Santi yang sekamar dengan Maya tidur dengan suara mendengkur, membuat Maya kurang konsen.
Selesai sholat subuh, Maya dan Dinda membaca AlQuran dengan bergantian sampai datang waktu syuruq. Selesai sholat sunnah syuruq, Maya masuk ke kamar dan nggak keluar lagi. Sementara Dinda berganti baju dan celana olah raga, ia akan jalan-jalan pagi keliling komplek.
"Ndan! Bareng!" Teriak Anu yang berdiri di teras klinik setelah selesai menyapu.
Dinda yang berjalan sampai di depan klinik pun menoleh mencari keberadaan Anu yang terlindung sama daun-daunan yang tumbuh di depan klinik.
"Eh, Anu. Ayo!" Jawab Dinda setelah melihat Anu.
Anu pun keluar dari teras. Mereka berjalan mengelilingi komplek.
"Sepi ya? Nggak seperti biasanya," kata Anu.
"Maksud aku sepi bukan karena itu, Ndan," sahut Anu sambil terus berjalan. Semakin lama jalan mereka semakin cepat. Masih dapat setengah putaran mereka sudah berkeringat.
"Terus?" Tanya Dinda sambil mengelap keringat di wajahnya.
"Sebentar lagi komandan Andi sama komandan Mahmud kan mau aplusan, jadi sepi," Dinda menoleh ke arah Anu yang berjalan di sebelah kanannya.
"Kan tetap ada yang menggantikan nanti, Nu,"
"Tahu ah, komandanku yang satu ini kalau diajak ngomong membelokkan fakta." Jawab Anu kesal.
"Heee… heee...," menanggapi kekesalan Anu Dinda hanya tertawa kecil.
Mereka terus berjalan cepat untuk segera sampai di asrama.
***
Mahmud dan Andi akan pergi ke dapur untuk sarapan. Ketika sampai di depan poliklinik, ia melihat Yos sedang duduk di belakang meja kerjanya. Ia sedang melayani beberapa ibu-ibu yang akan suntik kb.
__ADS_1
"Hai, Tri!" Sapa Mahmud dan Andi bersamaan sambil melambaikan tangan ke arah Yos.
"Oh, iya, Ndan, duluan saja!" Teriak Yos dari dalam klinik sambil tersenyum menanggapi sapaan Mahmud dan Andi.
Mahmud dan Andi terus berjalan, ketika sampai di depan asrama putri, terlihat pintu depan terbuka, tapi tampak sepi seperti tidak ada penghuninya.
"Sepi, Ndan. Pada kemana mereka?" Ujar Andi.
Mahmud tidak menanggapi Andi, ia hanya mengendikkan kedua bahu nya, soalnya sama-sama tidak tahu.
Mahmud dan Andi memasuki dapur lewat pintu belakang. Saat masuk dapur belakang yang biasanya ramai orang sarapan, ini pun sepi. Hanya ada ibu dapur dan para crew nya.
"Kok sepi, Bu?" Tanya Andi.
"Iya, Pak, hari Minggu, kan? Jadi belum ada yang datang sarapan," jawab Bu Jar.
Setelah mengambil kopi dua gelas, Mahmud dan Andi duduk di kursi dekat pintu.
"Loh, Pak Polisi, kok duduk di sini? Sarapannya sudah disiapkan di depan, Pak," kata Bu Ratno.
"Iya, Bu, sebentar lagi. Ini minum kopi dulu." Jawab Andi sambil menunjukkan gelas kopinya.
"Oh, iya Pak. Silahkan." Ucap Bu Ratno terus berlalu meninggalkan dua polisi itu. Bu Ratno mondar mandir menyiapkan sarapan untuk dibawa ke depan.
Selesai sholat sunnah syuruq, Maya tadi masuk ke kamar dan nggak keluar lagi. Ternyata ia tidur ulang. Di kamar sebelah pun belum ada tanda-tanda jika Ana sudah bangun. Ana masih betah di bawah selimut tebalnya.
Pukul setengah delapan, ketiga penghuni asrama putri bangun hampir bersamaan, sehingga mengantri di depan kamar mandi. Santi yang lebih dulu masuk. Maya dan Ana duduk berhadapan di lantai dengan menekuk kedua lututnya. Ana menyandarkan punggungnya sambil mata terpejam.
"Na, kalau masih ngantuk, masuk kamarmu sana, tidur ulang!"
"Iya, May. Nggak tahu kok ngantuk banget. Tapi aku mau sarapan dulu, habis itu tidur lagi. Jawab Ana dengan mata terpejam.
"Eh, May, ingat nggak dengan lagunya Dinda sama vokal grup yang tadi malam?" Tanya Ana antusias langsung membuka matanya normal.
"Dalam temaram, … nggak tahu lanjutannya bagaimana," jawab Maya sambil mengingat-ingat, tapi belum ingat juga.
"Engkau terbaring di kesunyian abadi," Ana menirukan lagu yang tadi malam.
"Heem," Maya berdehem.
"Itu artinya mati kan, May?" Tanya Ana.
__ADS_1
"Di kesunyian abadi, itu kuburan, Na." Sahut Maya.
"Assalamualaikum," Dinda naik di teras kemudian mengucap salam.