PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD

PACAR 30 HARI BRIPDA MAHMUD
Bab 69. Kisah Anak Adam


__ADS_3

***


Sore setelah pulang dari kantor Dinda tampak lesu dan kurang bersemangat.  Walaupun begitu ia tetap berangkat ke masjid untuk mengajar mengaji anak-anak.


Di halaman masjid, anak-anak berlarian sambil menunggu ustadzahnya datang.


"Hei, ustadzah Dinda datang!" Teriak Alia mengingatkan teman-temannya, setelah ia melihat Dinda muncul tidak jauh dari pelataran masjid.


Anak-anak berlarian masuk ke serambi masjid. Menempati tempat duduknya masing-masing.


Tidak lama kemudian Dinda menginjakkan kakinya masuk ke serambi masjid, langsung berdiri di depan anak-anak.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam, ustadzah," jawab serempak anak-anak. Kemudian anak-anak berdiri dari duduknya berbaris mendatangi Ustadzah satu per satu bersalaman dan mencium tangannya.


"Barakallah!" Ucap Ustadzah Dinda berulang kali.


Setelah melafalkan doa menuntut ilmu, anak-anak secara bergantian setor bacaan Al-Quran. Ustadzah menyimak dan membenarkan jika ada bacaan yang belum benar.


Satu jam tanpa terasa telah berlalu. Mengaji hari ini pun usai.


Seperti biasa, selesai menyimak bacaan Al-Quran para santri, Dinda memenuhi kemauan para santrinya untuk bercerita.


Bagi anak-anak, cerita adalah hal yang sangat menyenangkan. Mereka selalu menuntut Ustadzah Dinda untuk bercerita tentang kisah-kisah para Nabi dan Rasul.


"Yang lalu kita sudah bercerita sampai mana?" Tanya Ustadzah Dinda.


"Emmm…," Alia masih mencoba mengingat-ingat.


Dari bangku belakang Iqbal berteriak. "Sampai ini Ustadzah!"


Dinda menoleh ke arah Iqbal. Ingin mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh santrinya itu. 


"Iya, Iqbal, sampai di mana cerita yang terakhir?" Tanya Dinda dengan lembut.


"Setelah Adam dan Hawa turun dari surga, keduanya memohon ampun kepada Allah SWT dan bertobat atas perbuatannya." Iqbal menirukan ucapan Ustadzah Dinda tempo hari.


"Iya benar sampai di situ ceritanya, Ustadzah," sahut anak-anak yang lain bergantian.

__ADS_1


"Bagaimana bunyi tobatnya Nabi Adam alaihissalam? Siapa yang tahu?" Dinda mencoba bertanya pada para santrinya.


"Robbana dholamna anfusana wailam tagfirlana watarhamna lana kunanna minal khosirin," ucap Iqbal dan Alia dengan pelan.


"Ayo kita bersama-sama mengikuti Nabi Adam bertobat pada Allah SWT!" Ajak Dinda pada semua santrinya. Dinda mulai berdiri terus berjalan mengelilingi anak santrinya.


"Robbana dholamna anfusana wailam tagfirlana watarhamna lana kunanna minal khosirin," mereka serempak mengucapkan ini dengan dilagukan yang bisa menyentuh hati dengan sangat.


"Sekali lagi!" Teriak Ustadzah Dinda untuk menyemangati santrinya.


Setelah sampai tiga kali melafalkan itu, kemudian Ustadzah Dinda menerangkan artinya.


"Nah, itu tadi adalah doa Nabi Adam dalam meminta ampunan dan bertaubat kepada Allah yang artinya, Ya Allah Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." 


Ustadzah Dinda berhenti sejenak. Suasana sunyi. Tidak ada anak-anak yang berbicara. Mereka semua diam dan fokus mendengarkan apa yang disampaikan Ustadzahnya.


"Selanjutnya, Allah memerintahkan Nabi Adam dan Siti Hawa untuk turun dari surga menuju ke bumi.


Nabi Adam dan Hawa tidak diturunkan pada tempat yang sama. Nabi Adam diturunkan di puncak bukit Sri Pada di daerah Srilanka. Sedangkan Siti Hawa diturunkan di daerah Arab. Setelah beberapa tahun Nabi Adam berkelana mencari Siti Hawa, Nabi Adam kemudian dipertemukan dengan Siti Hawa di Jabal Rahmah.


Jabal Rahmah adalah sebuah bukit yang kerap disebut gunung, berada di dekat Padang Arafah. Pada hari Arafah, di puncak Ibadah Haji sering dikunjungi banyak peziarah. Jabal Rahmah adalah tempat pertama kali bertemunya Nabi Adam dengan Siti Hawa.


Mereka membangun keluarga dengan melahirkan 40 anak yang dilahirkan secara kembar.


Al-Qur’an surah Al-Maidah ayat 27 sampai dengan ayat 31, yaitu ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka kurban salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dan karena dengki, Qabil membunuh Habil. Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertaqwa.


Beberapa riwayat menyebutkan, ketika dewasa, Qabil adalah seorang petani dan bercocok tanam, sedangkan Habil adalah seorang peternak dan penggembala. Ketika memberikan kurbannya, Habil mempersembahkan seekor kambing gemuk yang dimilikinya, namun Qabil hanya mempersembahkan hasil pertaniannya dengan kualitas yang buruk. Setelah kurban telah dipersembahkan, Allah pun mengirimkan api ke arah kurban tersebut, menyambar kurban habil dan membiarkan kurban milik Qabil. 


Mengetahui kurbannya ditolak, Qabil pun murka dan dengki terhadap Habil dan berkata kepadanya bahwa ia benar-benar akan membunuhnya. 


Maka nafsu Qabil mendorongnya untuk membunuh saudaranya, maka jadilah dia termasuk orang yang rugi.


Kemudian Allah mengutus seekor burung gagak menggali tanah untuk diperlihatkan kepada Qabil bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Qabil berkata, "Oh, celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" Maka jadilah Qabil termasuk orang yang menyesal."


Dinda berhenti sampai di situ untuk mengakhiri ceritanya hari ini. Santrinya masih duduk diam memperhatikannya dan menyimak isi ceritanya yang dikutip dari Al-Quran yang terkandung di dalam surat Al-Maidah.


Dengan mengaji dan bercerita bersama anak-anak sesaat bisa menghibur dan melupakan kegundahan hati Dinda.


"Terus, Ustadzah?" Tanya Iqbal yang selalu penasaran.

__ADS_1


"Terus, kenabian Nabi Adam diteruskan oleh putranya yang nomor lima yaitu Nabi Syith." Ustadzah Dinda bicara pelan dan tersenyum.


"Oke anak-anak, cerita kita hari ini sampai di sini dulu, lain waktu dilanjutkan lagi. Ayo sekarang kita mengucapkan hamdalah sebagai ucapan rasa syukur kita kepada Allah."


"Alhamdulillahi rabbil 'alamin." Ucap anak-anak bersama Dinda serentak sebagai penutup pertemuan mereka hari ini.


"Sebentar lagi sudah memasuki waktu maghrib, ayo kita persiapan. Silahkan giliran berwudhu! Dan jangan bermain air, ya!"


"Iya Ustadzah." Jawab anak-anak dengan semangat.


"Ayo kita bersholawat!"


"Sholallahu ala Muhammad, sholallahu alaihi wasallam,"


Bersamaan anak-anak selesai berwudhu, Muadzin masuk ke dalam masjid. Tidak lama kemudian,


"Allahu akbar! Allahu akbar!" Suara adzan mulai dikumandangkan.


Orang-orang pun mulai berdatangan dan memasuki masjid dengan mengenakan pakaian yang bersih dan rapi, mereka akan melaksanakan sholat maghrib berjamaah. 


***


Pulang dari masjid, asrama tampak sepi.  Ana, Maya dan Santi telah pergi ke dapur lebih dulu untuk makan malam. Setelah meletakkan mukenanya, Dinda pun menyusul mereka.


Ketika Dinda sampai di dapur, Ana sudah selesai makan.


"Din, aku duluan!" Ana menuju pintu sambil membawa kolak kacang ijo di gelas besar.


"Iya, Mbak," sahut Dinda yang sedang menikmati makannya.


Sampai di asrama, Ana duduk di depan teras bersama Maya yang sudah menyusulnya kembali dari dapur.


"Hari ini sepi ya, May, nggak ada yang main ke sini." Ucap Ana.


Belum sempat Maya menjawab, datang dua orang brimob yang sepertinya menggantikan Mahmud dan Andi.


🤗🤗


Hai, para pembaca terkasih, mampir juga di "I LOVE YOU, ALYA"

__ADS_1


di sana kalian akan mengetahui bagaimana seseorang mengekspresikan perasaan cintanya pada gadis yang ia suka,


Mampir juga di " COME WITH THE RISING SUN" 🤗😍😘


__ADS_2