
"Selamat pagi," tanpa mengetuk pintu dua orang itu mengucap salam dan langsung masuk mendekati meja Dinda.
Dinda yang menunduk langsung mendongakkan wajahnya melihat ke kedua orang itu.
"Selamat pagi. Silahkan duduk, Pak!" Dengan ramah Dinda menyambut dan mempersilahkan duduk.
Salah seorang menyodorkan amplop putih ke hadapan Dinda. Dinda langsung membukanya dan menarik kertas yang ada di dalamnya. Membuka dan membacanya.
Berisi surat tugas yang di dalamnya juga tercantum nama kedua polisi itu. Kemudian Dinda menjelaskan apa saja tugas dan tanggung jawab yang harus diemban kedua petugas tersebut selama membantu memperkuat tugas keamanan perusahaan.
"Apa ada yang kurang jelas, Pak? Silahkan ditanyakan jika ada yang belum paham!" Ucap Dinda mengakhiri penjelasannya.
"Kami sudah paham. Dan siap mengemban tugas dari perusahaan ini!"
"Baiklah, terima kasih." Dinda tersenyum ramah.
"Oh ya, Pak," Dinda menatap kedua orang di depannya dengan bergantian.
"Saya secara pribadi minta maaf atas sikap saya yang tidak ramah tadi malam,"
"Tidak papa Bu Dinda, saya paham," ucap komandan Wisnu sambil tersenyum.
"Terima kasih, Pak,"
"Kalau begitu saya permisi!"
"Iya, Pak. Silahkan!" Kedua orang brimob itu keluar dari ruangan Dinda.
"Tin! Tin!" Bersamaan dengan keluarnya dua orang itu dari ruangan Dinda, di luar ada mobil yang datang menjemput Dinda untuk pergi ke blok.
Dinda yang sudah mengenakan rompi safety mengambil tasnya dan helm pengaman kerja kemudian berlari keluar.
Saat berpapasan dengan kedua brimob itu,
"Permisi, Pak. Saya duluan," dengan sopan Dinda mendahului kedua brimob itu menuju mobil yang akan mengantarnya ke blok.
"Enerjik banget wanita ini, berhijab lagi. Pantesan Komandan Mahmud menyukainya." Gumam komandan Wisnu.
"Wanita seperti itu idaman banyak pria, Ndan bukan cuma komandan Mahmud doang," komandan Wisnu menoleh ke arah temannya, lalu tersenyum.
Begitulah, pekerjaan Dinda berjalan seperti biasa, hari berganti hari, minggu pun berganti, tanpa terasa satu bulan telah berlalu.
Di kantor meeting bersama pimpinan pusat setelah jam istirahat dan makan siang. Membahas tentang penempatan karyawan di kantor yang baru yang ada di luar kota. Saat itu Dinda tidak ikut meeting, karena ia berada di blok.
__ADS_1
Pukul setengah delapan malam, Dunsa baru saja tiba di asrama. Ia langsung masuk ke kamar mandi karena badannya sudah lengket semua.
Ana pulang dari makan malam di dapur bersama dengan Maya dan Santi.
Mereka duduk di teras, disusul dengan datangnya dua orang polisi yang bertugas menggantikan dua orang polisi yang kemarin. Tapi bukan Mahmud yang datang.
"Mbak Ana, Mbak Dinda nya mana?" Tanya Andi.
"Tadi pagi dia pergi ke blok, Ndan." Sahut Ana membuat Andi mengerutkan kening.
"Sampai malam gini belum pulang?"
Ana mengedikkan bahunya.
"Kalau sudah pulang pasti sudah ada, dong, Ndan."
Andi dan temannya ikut gabung duduk di teras. Tidak lana dari ikut Dinda keluar hendak pergi ke dapur untuk makan malam.
Ana dan yang lain seketika menoleh ke Dinda yang sedang memakai alas kaki.
"Eh, Din, sudah pulang?"
"Iya, aku ke dapur dulu, lapar banget, nih!"
Karena sibuk dengan pekerjaannya Dinda sudah mulai berdamai dengan hatinya dan melupakan Mahmud.
"Kalian kenapa nggak ikut ke blok?" Tanya Andi.
"Bukan bagian dari pekerjaan kita lah, Ndan," sahut Ana.
Beberapa menit kemudian Dinda sudah kembali ke asrama dengan membawa cangkir besar berisi bubur kacang ijo. Ia ikut gabung duduk di teras.
"Hei, bubur kacang ijo! Siapa yang mau?" Dinda mengacungkan gelasnya ke depan.
"Kami sudah Din, kamu makan aja sendiri!" Sahut Ana diangguki oleh yang lain.
"Hei, ada Pak Andi, kapan datang?" Kepo Dinda yang baru sadar ada Andi disana duduk di bangku panjang agak di pinggir.
Andi tersenyum tipis.
"Nggak capek Mbak Din, habis dari blok?"
"Heee….heee…, capek Pak. Makanya habis ini mau langsung istirahat." Dinda terus menyantap bubur kacang ijo nya.
__ADS_1
Mereka terus berbincang tentang banyak hal. Setelah beberapa saat dari Dinda menghabiskan bubur kacang ijonya, ia pamit masuk duluan ke dalam dengan alasan mau menaruh gelasnya, Dinda sudah tidak keluar lagi tapi ia masuk ke kamar nya dan langsung merebahkan tubuhnya yang letih di perjalanan.
Andi dan temannya pun pamit pergi ke asrama nya sendiri.
"Iya, Ndan, silahkan. Lagian juga sudah malam." Ucap Ana sambil melirik jam.
"Jam berapa Mbak Ana?"
"Setengah sepuluh."
Mereka bubar dan masuk ke kamar masing-masing. Ana masuk ke kamar dilihatnya Dinda sudah pulas dengan tidurnya tanpa berselimut. Ia tidak tega mengusiknya, dengan pelan didekatinya ranjang Dinda dan diambilnya selimut di bawah kakinya untuk menyelimuti Dinda ditariknya ke atas sampai batas da da.
Sementara di kantor masih mengadakan meeting untuk mematangkan siapa saja yang akan ditunjuk dan ditugaskan untuk menempati kedudukan baru di kantor cabang yang baru di luar kota.
***
Suara adzan subuh terdengar jelas memasuki pendengaran Dinda. Dinda menggeliat di atas tempat tidurnya. Matanya masih sangat ngantuk. Ia terpaksa bangun dan pergi ke kamar mandi mengambil wudhu kemudian sholat.
Biasanya selesai sholat subuh ia akan membuka mushaf nya dan nderes membaca nya, tapi kali ini selesai berdoa ia naik lagi ke atas tempat tidur, untuk melanjutkan ulang tidurnya. Badannya benar-benar lelah. Sampai Ana sudah bangun dan selesai mandi, Dinda belum bangun bahkan terdengar dengkuran halus darinya.
Ana menoleh ke arah Dinda. Dilihatnya wajah tenang dan teduh Dinda dalam tidurnya. Ia tahu Dinda lelah setelah kemarin seharian di blok bahkan pulang sudah malam, tapi ia harus membangunkannya karena harus pergi ke kantor.
"Din, bangun, Din!" Ana menepuk-nepuk lengan Dinda.
Dinda sama sekali tidak bergerak.
"Ya ampun anak ini, tumben sekali molor kayak gini." Batin Ana.
"Din, bangun!" Ana menepuk tangannya lebih keras.
"Aduh!" Dinda kaget dan terbangun! Dilihatnya Ana berdiri di samping ranjangnya.
"Mbak Ana, ngapain sih?"
"Aaaaggghhh!" Dinda menggeliat sambil menarik kedua tangannya lurus ke atas.
"Ya ampun, Din! Kamu tidur dengan mukena?!" Ana kaget melihat Dinda setelah menyingkap selimutnya.
"Hah!!" Dinda sendiri juga kaget mendengar ucapan Ana lalu melihat ke dirinya sendiri.
"Aggh!" Dinda memukul keningnya sendiri. Saking lelahnya ia lupa dengan apa yang ia lakukan. Berarti tadi setelah sholat subuh tanpa melepas mukenanya ia langsung saja tidur. Ia melihat ke lantai di mana kain sajadahnya masih ada di sana.
"Astagfirullah, aku kok bisa sampai lupa begini, sih!" Ujar Dinda sambil bangkit dari tidurnya.
__ADS_1