
"Baik. Sekarang dengarkan Ustadzah menerangkan, ya!" Dinda memperhatikan anak-anak semua duduk diam siap mendengarkan. Termasuk Iqbal, anak laki-laki kelas dua Sekolah Dasar yang suka ribut dan usil sama temannya.
Dinda mulai menjelaskan.
"Jumlah nabi ada 124.000 orang sedangkan jumlah rasul sebanyak 315 orang. Yang wajib kita yakini yang tercantum di dalam Al-Quran ada dua puluh lima nabi, karena tidak semua nama nabi dicantumkan dalam Al-Quran.
Dalam riwayat Abu Umamah RA: “Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, ada berapa jumlah Nabi?’ Rasulullah menjawab: ‘Nabi ada 124.000 orang dan di antara mereka ada para Rasul sebanyak 315 orang, mereka sangat banyak’.” (HR Ahmad no 22342).
Salah satunya keterangan dari Abi Dzar RA.
Aku bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah beliau (Adam) seorang Nabi?’ Rasulullah menjawab: ‘Benar, ia seorang Nabi yang diajak bicara oleh Allah’
"Jadi, Siapa itu nama nabi yang pertama?" Tanya Ustadzah Dinda.
"Nabi Adam." Jawab anak-anak dengan serentak.
"Pintar. Tapi di sini Ustadzah akan bercerita sebelum nabi Adam diciptakan."
"Awal mula, Allah SWT menciptakan neraka, surga, bumi, langit dan malaikat, jin, iblis. Malaikat diciptakan dari nur atau cahaya sementara jin dan iblis (setan) dari nyala api.
Sebelum Adam diciptakan, bumi lebih dulu dihuni golongan jin ribuan tahun. Karena golongan jin membuat kerusakan dan pertumpahan darah di bumi, Allah menyuruh malaikat mengusir jin dari bumi. Malaikat pun menjalankan perintah Allah.
Suatu ketika malaikat jibril turun ke bumi, ia menemukan satu anak jin yang tertinggal di bumi, kemudian dibawa masuk ke dalam surga. Ketika anak jin itu dewasa, diangkat menjadi ketua dari para malaikat. Ia diberi nama Al Harits yaitu penjaga surga. Sementara malaikat memanggilnya Azazil.
Bumi sunyi dan sepi tanpa penghuni. Suatu ketika Allah memerintahkan para malaikat untuk turun ke bumi mengambil tanah di sana. Allah hendak membuat khalifah di muka bumi, pada awalnya malaikat menentang, karena malaikat berpikir manusia hanya akan membuat kerusakan dan pertumpahan darah, seperti yang dilakukan penghuni bumi sebelumnya.
"Oke, adik-adik, sampai di sini dulu cerita ustadzah Dinda, lain waktu disambung lagi." Dinda mengakhiri ceritanya, karena adzan maghrib akan segera berkumandang.
*
Sepulang dari masjid, Dinda bersama Santi berjalan. Ketika sampai di depan klinik, dari pintu depan, Dinda melihat di sana ada Mahmud sedang duduk di bangku dan di sampingnya agak jauh duduk Adri. Mereka tampak bicara dengan serius. Bahkan tidak mengetahui Santi dan Dinda yang sedang berjalan melewati depan klinik.
Mahmud yang biasanya selalu menyapanya dan mengajaknya duduk dan mengobrol, kali ini tidak. Dinda langsung menghindar tidak ingin mengganggu mereka.
"Din, ayo, mampir ke klinik dulu!" Ajak Santi yang langsung berbelok masuk ke klinik.
"Aku terus saja, Mbak. Sudah lapar, nih." Sahut Dinda sambil terus berjalan menuju asrama.
Dinda masuk ke kamar dan meletakkan mukena, kemudian pergi ke dapur untuk makan malam.
"Hei, Ndan!" Sapa Anu kepada Dinda. Sejak beberapa hari yang lalu, Anu memanggil Dinda dengan sebutan 'Ndan'. Dinda pun tidak merasa terganggu dengan panggilan itu. Lama kelamaan menjadi terbiasa dan keterusan.
"Hei, Anu!" Mereka duduk bersebelahan di bangku panjang dengan menghadap piring masing-masing.
__ADS_1
"Kemarin kita seharian nggak ketemu, kangen aku rasanya,"
"Iya kah, Nu. Tapi sekarang kan sudah ketemu lagi, hilang kan, kangennya, hehe…!"
"Bisa aja komandan ini. Hehe..! Oh ya. Komandan Mahmud tadi di klinik, lho."
"Hem!"
"Iya, di klinik sama Adri sejak pulang kantor tadi. Mereka kelihatan sedang serius banget ngobrolnya."
"Hem." Dinda hanya menjawab dengan deheman.
"Kok cuma hem, sih Ndan?" Anu heran mendengar jawaban Dinda.
"Terus? Aku harus bilang wow, begitu!" Dinda terus asyik dengan makanannya
"Ya, setidaknya marah kek, atau berteriak kaget, begitu, Ndan!"
"Untuk?" Dinda mempercepat makannya.
"Ndan, memangnya kamu nggak cemburu Komandan Mahmud dekat dengan perempuan lain?"
"Kenapa harus cemburu, Nu?" Dinda menyelesaikan makannya dan minum air yang ada di sampingnya.
"Masak, sih?" Dinda berdiri meninggalkan Anu yang masih meneruskan makan. Dinda pergi ke belakang menaruh piring bekas untuk makan.
"Bu Jar, boleh minta tambah rempeyek?" Pinta Dinda pelan pada Bu Jar.
"Oh, iya, Mbak Din. Kebetulan bikin banyak."
Bu Jar mengambil kantong plastik untuk tempat rempeyek.
"Ini, Mbak."
"Terima kasih, ya Bu Jar. Saya ke kamar dulu." Dinda berlalu dan sampai di meja Anu yang masih makan.
"Anu, aku duluan!"
"Iya, Ndan!"
Dinda hendak keluar dari dapur, berpapasan dengan Adri.
"Hei, Din. Kamu sudah selesai makan?"
__ADS_1
"Sudah, Mbak Adri. Aku duluan, ya." Dinda keluar dari dapur sambil menenteng rempeyek di kantong plastik.
Malam ini Dinda tidak punya kegiatan apapun. Selesai makan, ia masuk ke kamar mengambil buku novel di atas mejanya dan akan naik ke tempat tidur sambil ngemil rempeyek yang diminta dari Bu Jar.
"Mau ngapain, Din?" Ana heran dengan Dinda yang sudah naik ke ranjangnya.
"Baca novel,"
"Novel baru, ya? Apa judulnya?"
Dinda menunjukkan judul buku yang tertulis jelas di sampul depan.
"Pacar tiga puluh hari Bripda Mahmud! Cepetan kamu membacanya, Din. Terus ganti aku." Kata Ana yang juga penasaran dengan isi cerita novel itu. Kemudian Ana keluar kamar menuju ke depan. Di sana sudah ada Maya dan Duki sama Santi dan Noni.
Mahmud dan Andi selesai makan mampir di asrama putri.
"Ana, Dinda mana?" Tanya Andi.
"Dikamar anaknya lagi sibuk, nggak bisa diganggu!" Sahut Ana.
"Sibuk ngapain? Masak di kamar juga sibuk." Andi penasaran langsung nyelonong dan melihat Dinda di dalam kamar yang kebetulan pintunya nggak ditutup sama Ana. Mahmud mengikuti di belakang.
"Hei! Anak gadis masih sore nggak boleh tidur!" Teriak Andi di depan pintu.
Saking seriusnya membaca Dinda tidak melihat ada Andi dan Mahmud berdiri di depan pintu kamarnya. Dinda langsung teriak "Ya Ampun!" Dan berjingkat turun dari ranjangnya karena kaget.
"Hahaha…!" Semua tertawa.
"Ya Allah. Bikin kaget saja!" Dinda akhirnya keluar dari kamar dan ikut gabung duduk dengan mereka di teras.
"Din, kamu baik-baik saja, kan?" Tanya Andi.
"Memangnya, kalian melihat aku bagaimana?" Dinda membuka kedua tangannya, tidak mengerti maksud pertanyaan Andi.
"Sudah dengar kabar angin?" Tanya Andi.
"Hem. Banyak kabar angin yang nggak jelas!" Sahut Dinda sambil memandang ke tempat lain. Ia teringat Adri membicarakannya di dapur.
Mahmud mendekatinya.
"Jadi, Mbak Dinda memintaku jangan dekat-dekat, karena ada isu itu?"
Dinda menoleh ke arah Mahmud dan Andi bergantian.
__ADS_1
.