
Maka dari sinilah dapat disimpulkan, mengapa Allah menciptakan makhluk di muka bumi? Apa tujuannya? Maksud dan tujuannya adalah supaya manusia berlomba-lomba untuk beribadah kepada Allah dan meminta ampun kepada-Nya.
Barangsiapa yang menjalani hidupnya sesuai dengan petunjuk yang Allah berikan melalui para Rasul dan Nabi, maka ia akan selamat dan kembali ke surganya Allah. Dan barangsiapa yang melenceng dari jalan yang Allah tunjukkan, maka kelak ia akan dicuci atas kemelencengannya itu terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke surganya Allah."
"Nah, anak-anak, karena hari sudah akan maghrib, sampai di sini dulu cerita dari ustadzah Dinda, ya," Dinda mengakhiri ceritanya.
"Oh, ya, kalau ada yang mau bertanya, boleh bertanya di hari berikutnya, ya, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,"
"Iya, Ustadzah. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab anak-anak serempak.
"Ustadzah, ajari nyanyi dong!" Rengek Alia.
"Lagu yang dulu pernah Ustadzah ajari, masih ingat, nggak?" Tanya Ustadzah.
Anak-anak pada melongo, bengong.
"Yang anak-anak nabi ada tujuh orang, kalian ingat, nggak? Hayoo!"
"Oh, yang itu, ingat! Aku ingat!" Teriak Iqbal.
"Coba Iqbal nyanyi! supaya teman-temannya yang lain kembali ingat!"
"Anak-anak nabi ada tujuh orang, tiga laki-laki, empat perempuan. Pertama kosim, Abdullah, Ibrahim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum, Fatimah. Ibunya bernama Siti Aminah. Ayahnya bernama Abdullah. Kakeknya bernama Abdul Muthalib. Pamannya bernama Abu Thalib."
"Nah, itu, Iqbal hafal. Yang lain juga harus hafal, ya!"
"Iya, Ustadzah.
"Ayo, bersiap sholat maghrib! Sekarang berwudhu!" Dinda mengingatkan para santrinya.
"Ya, Ustadzah." Mereka berlarian keluar dari masjid menuju ke tempat wudhu.
Beberapa menit kemudian, selesai dari sholat jamaah maghrib, mereka berhamburan keluar dari masjid.
Para santri Dinda berjalan pulang sambil menyanyikan lagu yang tadi diingat Iqbal.
Dinda tersenyum sendiri mendengar suara anak-anak itu.
Dinda berjalan sudah sampai di depan klinik. Di sana tampak sangat ramai banyak sekali orang, tidak seperti biasanya.
Dinda terus berjalan agar lekas sampai di asrama putri.
Di teras asrama putri, Ana sedang duduk ngobrol dengan Haris.
"Assalamualaikum," salam Dinda yang masih mengenakan mukena bagian atasnya.
"Waalaikumsalam," jawab mereka berdua sambil menoleh kepada Dinda.
__ADS_1
Dinda langsung masuk ke dalam. Ia melepas mukena dan menyimpannya, kemudian pergi ke dapur untuk makan malam.
"Hei, Din!" Maya memanggil Dinda yang baru saja masuk.
"Mbak May, tunggu ya, aku mau mengambil nasi dulu!" Dinda mengisi piring di tangannya dengan menu malam ini sayur gudeg nangka.
"Apa, Mbak?" Dinda mengambil tempat duduk satu meja dengan Maya.
Setelah menelan makanan yang di dalam mulutnya, Maya bertanya,
"Apa kita jadi latihan di gedung?"
"Kita datang saja. Setidaknya kita melihat orang yang latihan, gimana?"
"Begitu. Ya sudah, aku ngikut saja."
Mereka mengobrol sambil melanjutkan makan.
Selesai makan, Mahmud dari depan pergi ke dapur belakang, melihat Dinda dan Maya sedang makan, Mahmud langsung mendekatinya.
Melihat Mahmud datang, Maya langsung undur diri, karena makannya sudah selesai.
"Aku duluan, Din."
Tanpa menjawab, Dinda hanya memandang Maya yang berdiri dan pergi dari tempatnya.
Mahmud melihati makan Dinda. Membuat Dinda nggak nyaman.
"Hem, ya tergantung orangnya, Pak Ndan. Kalau saya makan harus cepat, soalnya banyak yang mau dikerjakan," kata Bu Ratno.
"Oh, ya beda kalau itu." Ucap Mahmud sambil memandang Dinda yang sudah pergi membawa piring bekas makannya ke tempat cucian piring di belakang.
Kemudian Dinda akan keluar dari dapur begitu saja, tapi dihadang Mahmud.
"Dek Dinda!" Panggil Mahmud.
"Ya?" Mendengar namanya dipanggil, Spontan Dinda menjawab dan menoleh.
Kemudian Mahmud berdiri dan mendekati Dinda yang berdiri menunggunya. Dan mereka bersama-sama keluar dari dapur.
"Kita langsung ke gedung sekarang, yuk! Kita menyanyi duet, ya!"
"Kita duet?" Dinda kaget.
"Tapi aku nggak bis…," Dinda belum selesai bicara sudah diputus oleh Mahmud.
__ADS_1
"Kan latihan dulu kita, dek? Ya! Harus mau! Paksa Mahmud.
"Tapi suaraku je…,"
"Nggak mau tahu! Pokoknya nggak ada alasan apapun!"
"Hah!!!" Mahmud mampu membuat Dinda melongo. Dinda Kaget, jengkel, bahkan ingin menangis dengan ulah Mahmud barusan.
"Ayo!" Mahmud mengajak Dinda langsung pergi ke gedung serba guna.
Sampai di depan gedung sudah terdengar suara alat musik dimainkan. Dan ternyata di dalam sudah banyak orang. Termasuk Ana yang sudah nempel terus pada Haris. Santi, Maya, Mantri Yos, Anu, dan Andi, juga banyak karyawan yang lainnya. Ibu-ibu atau para istri karyawan sudah duduk manis di bangku yang ada di depan panggung, ada yang menggendong sambil menyuapi anaknya yang masih kecil.
"Kita lewat sana!" Dinda mengajak Mahmud masuk lewat pintu samping gedung, yang berada pas di samping kanan panggung. Dinda malu jika harus masuk lewat pintu depan yang harus melewati banyak ibu-ibu dan karyawan.
Duki sedang berada di atas panggung menyanyi lagu kenangan diiringi dengan suara alat musik yang dimainkan lincah oleh mereka anggota pemain band andalan perusahaan.
"Sepanjang jalan kenangan, kau peluk diriku mesra, hujan yang rintik-rintik di awal bulan itu, menambah nikmatnya malam syahdu…,"
Penggalan lagu yang dinyanyi Duki.
"Ayo, siapa lagi yang ingin menyumbangkan lagu, dipersilahkan! Ucap Duki setelah mengakhiri lagunya.
"Tes! Tes! Suara dicoba! Ayo siapa lagi yang mau latihan, silahkan naik ke panggung!"
Panggil Duki lagi dengan berdiri di atas panggung sambil memegang mix.
Mahmud membolak-balik buku yang berisi lagu-lagu beserta notasinya. Ia mencari lagu yang ingin ia nyanyikan bersama Dinda malam ini.
"Dek, nyanyi ini, yuk!" Mahmud yang sudah menerima mix dari Duki menunjukkan bait lagu yang ingin dinyanyikan bersama Dinda.
Dinda membaca liriknya. Pemain musik pun mulai menyetel nadanya.
"Na na na naaa na na na naaaa na naaa …," begitu kira-kira nada musiknya.
"Na na na naaa na naaaa … "
"Masih latihan saja penontonnya sudah antusias, lho!" Kata Duki setelah melihat tempat duduk di depan panggung hampir penuh. Bahkan ada banyak juga yang berdiri di dekat pintu masuk.
"Pak, ada mix satu lagi?" Tanya Mahmud.
"Ow, ada dong! Duki mencari mix yang disimpan di dalam dos. Kemudian menyerahkan pada Mahmud. Dan Mahmud memberikannya pada Dinda.
"Na na na naaa na na na naaaa na naaa …,"
Nada musik terulang lagi.
Dinda yang sudah memegang mix itu ditarik Mahmud naik ke atas panggung.
__ADS_1
Mahmud berjalan ke tengah panggung. Dinda berhenti sampai di pinggir saja. Jadi tidak kelihatan oleh pengunjung.
"Na na na naaa na na na naaaa na naaa …," suara orgen terdengar menggema sampai di luar gedung.