Pak Dosen, Pilihan Orang Tuaku

Pak Dosen, Pilihan Orang Tuaku
Berbaikan dengan Lukas, tapi...


__ADS_3

“Aku harus memberi batasan agar Aditya tidak terlalu mengurusi urusan ku. Bagaimana pun dia juga harus sadar kalau pernikahan ini hanya sebatas perjodohan, tanpa ada perasaan yang terlibat. Aku harus coba bicara dengan nya mengenai batasan” gerutu Hanum


Hanum juga teringat Lukas yang pulang begitu saja.


“Kas, maaf ya insiden yang tadi” pesan singkat dari Hanum


Hanum mulai resah ketika Lukas tidak membalas pesan singkatnya. Ia takut dengan peristiwa ini akan membuat persahabatan mereka berakhir begitu saja.


...****************...


Waktu terus berjalan, tak terasa hari ini adalah hari terakhir Hanum melaksanakan PKN nya. Ia memberikan beberapa dokumen yang harus ditandatangani oleh atasan divisi Hanum, sebagai pemenuhan syarat PKN. Tak lupa juga


Hanum membawakan buah tangan untuk dimakan bersama satu divisi nya.


Istirahat makan siang, Hanum bersama beberapa teman nya memutuskan untuk makan di seberang kantor. Ketika keluar dari lift tak disangka ia bertemu dengan Aditya. Semua pegawai menundukkan kepala tak terkecuali Hanum. Namun Aditya hanya melewati mereka begitu saja. Sontak hal ini membuat karyawan lain nya menanyakan hubungan Hanum dengan Aditya, karena tak seperti biasa nya, Aditya diam terlebih selama ini dia selalu membela Hanum.


“Num kamu sama Pak Wakil Direktur ada apa, kok dia hanya melewati kamu tanpa menyapa balik?” tanya Rio teman satu divisi


“Iya Num, apa kamu ada masalah?” tanya karyawan lainnya


“Ah ngga ada apa- apa kok. Kita baik- baik saja” jawab Hanum


“Iya tapi belakangan ini kan kalian itu akrab banget. Ketika ada masalah juga Pak wakil direktur selalu membela kamu?” tambah karyawan lain nya


Hanum hanya tersenyum mengelak. Tapi di dalam hatinya ia masih tak mengira bahwa Aditya masih marah pada nya.


“Siapa yang salah siapa yang marah. Ga dewasa banget sih. “ batin Hanum melihat tingkah Aditya yang sok cuek.


...****************...


Ketika sore hari, sebelum karyawan di divisi nya pulang. Hanum menyempatkan diri untuk berpamitan.


“Ibu, bapak saya mohon maaf apabila selama PKN, Hanum melakukan kesalahan. Hari ini adalah hari terakhir saya bergabung dengan anda semua.” Ucap Hanum sambil membungkuk kan badan


“Iya Num, maafkan juga kesalahan kami. Saya perwakilan dari divisi ini mengucapkan terima kasih karena kamu juga sudah banyak membantu selama di sini dan semoga ke depannya kamu makin sukses.” Jawab kepala divisi tempat Hanum PKN

__ADS_1


“Baik pak” jawab Hanum sambil tersenyum.


Semua rekan-rekan se divisi juga menjabat tangan Hanum tanpa terkecuali. Hanum merasakan lega karena berhasil menyelesaikan tugas PKN nya. Selanjutnya dia akan fokus ke skripsinya. Ia melihat sekeliling dan merasakan dua bulan yang penuh dengan perjuangan. Namun, juga banyak pengalaman dan menambah skill Hanum.


...****************...


Keesokan nya Hanum langsung pergi ke kampus, untuk menyelesaikan laporan nya. Sekalian ia akan konsultasi ke dosen pembimbing mengenai sidang hasil laporan PKN nya. Disana ia juga bertemu Lukas yang juga hendak konsultasi, duduk menunggu dosen pembimbing datang. Hanum langsung mendatangi Lukas dan duduk disampingnya.


“Kas, lu gue chat kok ga dibales sih” tanya Hanum sambil menyapa


Lukas hanya melirik ke arah Hanum tanpa membalas satu kata pun.


“Kas, lu masih marah sama gue?” tanya Hanum


“Kas gue juga sebenernya marah sama keadaan, tapi mau ga mau gue juga harus nerima takdir gue. Kalau lu emang ga mau maafin gue ga papa.” Tambah Hanum sambil melihat wajah Lukas


Tak ada obrolan antara mereka setelah itu. Hanum dan Lukas hanya dia menunggu dosen pembimbing mereka datang.


...****************...


“Num, aku mau ngomong” pinta Lukas


Hanum hanya mengangguk kan kepala nya dan mengikuti Lukas dari belakang. Mereka berjalan menuju kantin.


“Num, aku memang marah sama kamu. Terlebih mendengar bahwa kamu akan menikah. Tapi aku sudah tidak bisa kembali seperti kita berteman dulu Num.” Jelas Lukas


“Lalu?” tanya Hanum


“Kamu bilang kamu terpaksa dengan Aditya kan? Jadi pernikahan ini hanya permintaan orang tua kalian tanpa ada cinta yang terlibat. Jadi aku putuskan untuk menunggu.” Jawab Lukas


“Kas, apa kamu yakin dengan jawaban mu?” tanya Hanum seolah tak percaya dengan perkataan Lukas


“Iya. Aku akan menunggu. Namun jika sampai pada batasnya aku tidak bisa menunggu lagi dan perasaan ku padamu sudah tidak ada, dan sampai pada saat itu kamu masih bersama Aditya, aku akan mengihklaskan kalian. Tidak mudah Num untuk menghilangkan perasaan ini. Mungkin aku akan mencoba untuk bertahan” Jawab Lukas mantap


“Kas meskipun kami menikah karena perjodohan lantas bukan maksudnya gue ingin segera mengakhiri pernikahan ini. Jadi gue minta lu jangan nunggu. Gue ga bisa janji in lu apa-apa.” Kata Hanum menegaskan”

__ADS_1


“Aku masih yakin dengan keputusanku. Aku juga ga akan ganggu kalian. Hanya aku akan menunggu dengan caraku sendiri.” Tegas Lukas


Hanum merasa sangat bersalah meski bukan tanggung jawab Hanum atas perasaan Lukas, namun ia merasa telah menyakiti sahabat nya itu.


...****************...


Di rumah Hanum sibuk di kamar untuk mengerjakan laporan nya karena akan segera sidang.


“Tok tok tok” suara ketukan dari luar pintu kamar Hanum


Hanum langsung membukakan pintu nya. Sudah ada Ibu dan ayah di depan pintu


“Ayah, ibu ada apa?” ucap Hanum berjalan masuk ke dalam


“Kamu akhir-akhir ini jarang keluar kamar nak. Lagi sibuk ya?” tanya Ayah


“Oh iya Yah. Hanum lagi sibuk mengerjakan laporan PKN Hanum, sebentar lagi Hanum akan sidang.” Jawab Hanum dengan melihat layar laptop nya


“Ayah mau ngomong sesuatu sama kamu. Dua minggu lagi acara pernikahan mu digelar. Banyak hal yang harus dipersiapkan. Besok rencana nya kamu dan juga Aditya akan fitting busana pernikahan kalian. Jadi besok Ibu yang akan mengantarkan kamu” ucap Ayah


“Hah kok cepet banget sih yah?” tanya Hanum


“Kamu kan sibuk jadi tidak ada kesempatan untuk memperhatikan pernikahan mu. Tapi tidak apa- apa Ayah dan Ibu mengerti.” Ucap Ibu sambil membelai rambut Hanum


“Baik Bu, yah, Hanum ngerti!” jawab Hanum


...****************...


Keesokan hari nya Hanum bersama Ibu pergi ke butik. Disana juga ada Bu Dena, pemilik butik ini adalah teman Bu Dena.


“Jeng dari tadi? Maaf ya sudah menunggu” sapa Bu Rita


“Oh ngga kok jeng ga papa, kita juga barusan dateng. Kenalin jeng ini namanya Jeng Arum, dia pemilik butik ini.” Sambil memperkenalkan orang disebelahnya kepada Bu Rita dan Hanum


“Halo Jeng saya Arum” sapa Bu Arum menjabat tangan Bu Rita.

__ADS_1


__ADS_2