
“Dia sudah pulang, aku minta tolong antarkan aku pulang ya. Aku lagi di PUB XXXXX. Aku takut banyak pria yang menggangguku” pinta Diara
“Baik tunggu disana” jawab Aditya
Jiwa maskulinitas Aditya tidak bisa membiarkan Diara sendirian di PUB dan sedang diganggu oleh pria. Ia langsung pergi menjemput Diara.
Sesampainya di lokasi, Aditya langsung mencari keberadaan Diara. Ia menemukan Diara duduk di pojokan toilet wanita sambil menangis.
“Kamu kenapa Diara? Kamu baik-baik saja kan?” tanya Aditya khawatir
“Aku takut Dit” ucap Diara menangis sesenggukan dan langsung merangkul Aditya
“Sudah tenang saja, aku disini. Biar aku antarkan kamu pulang” ucap Aditya menenangkan Diara
Diara hanya menganggukkan kepalanya. Mereka berdua keluar dari PUB tersebut.
“Aku antar kamu pulang ya!” ucap Aditya
“Jangan Dit, antar aku ke hotel saja. Aku takut nanti kalau aku pulang dengan keadaan seperti ini papa akan marah kepadaku” jawab Diara
“Kamu lebih baik pulang, disana ada yang mengurusmu. Bagaimana kalau aku menelepon Pak Dipta” ucap Aditya
“Ngga. Aku ngga mau. Tolong antarkan saja ke hotel XXX di dekat sana” pinta Diara
“Baiklah” jawab Aditya
Setelah memesan hotel, Aditya mengantarkan Diara masuk ke kamar hotel. Ia merasa kasihan dengan Diara.
“Ya sudah aku pulang dulu ya” pamit Aditya ke Diara
“Bisakah kamu menunggu sampai aku tenang!” pinta Diara
“Baiklah” ucap Aditya
“Aku minta tolong pesankan dua teh untuk kami” pinta Diara kepada Aditya
Aditya pun memesankan dua teh dan meminta untuk mengantarkannya ke kamar yang dipesan.
Ketika teh yang dipesan datang, Aditya sedang berada di kamar mandi. Diara langsung melancarkan niatnya yaitu menjebak Aditya dengan memberikan obat perangsang.
“Maafkan aku Adit, aku harus segera menjadikan mu milikku, lagian sebelum cewek itu hamil aku harus segera mengambil langkah” ucap Diara pelan dengan senyuman puas
“Klek” suara pintu kamar mandi terbuka
Aditya keluar dari kamar mandi, dan langsung duduk di sofa. Diara langsung memberikan secangkir teh yang sudah diberi ramuan tadi ke Aditya.
“Ini minum dulu sebelum pulang” pinta Diara
“Baik. Makasih” jawab Aditya
Aditya meminum teh tersebut. Setelah teh nya habis, Aditya bergegas pulang, namun reaksi dari obat yang diberikan memang sangat cepat.
Aditya yang berdiri dan hendak pulang tiba-tiba merasakan pusing. Lantas ia langsung duduk lagi dan memegangi kepalanya. Diara mendekati Aditya.
“Aditya kamu kenapa?” tanya Diara
__ADS_1
“Kepalaku tiba-tiba pusing dan badanku terasa panas” jawab Aditya
“Ya sudah kamu tidur dulu” pinta Diara
“Ngga, aku harus segera pulang” jawab Aditya
“Bagaimana kamu bisa pulang kalau kondisi mu seperti ini. Kamu juga pasti tidak bisa mengemudi” ucap Diara
Aditya melihat wajah Hanum di depannya. Ia menganggap Diara adalah Hanum.
“Num” ucap Aditya
Diara membiarkan Aditya memanggilnya Hanum.
“Kamu bukan Hanum” ucap Aditya setelah melihat wajah Hanum berubah menjadi Diara
Aditya langsung bergegas berdiri, namun ia terjatuh.
“Sudahlah Adit, kamu tidur disini saja” ucap Diara sambil membuka kancing baju Aditya yang merasa kepanasan
Aditya melemah, terlebih sentuhan-sentuhan dari Diara mampu membuatnya makin merangsang. Ia pun terbuai dan berhasil dikuasai oleh Diara. Baju Aditya sudah terlepas, tinggal celananya saja. Ketika Diara hendak membuka celananya. Aditya pun meronta, ia melihat air mineral yang berada di meja hotel langsung berjalan mengambilnya dan meminum semuanya.
Diara kembali menggoda Aditya, namun Aditya berhasil menghindari Diara dan keluar dari kamar hotel. Aditya langsung mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia lalu menghubungi Lutfi.
“Halo. Lutfi!!” ucap Aditya
“Iya pak?” jawab Lutfi
“Kamu tolong bawakan kemeja saya yang ada di perusahaan dan bawakan ke hotel XXX” pinta Aditya
“Baik pak” jawab Lutfi
Setelah Lutfi mengambilkan baju Aditya, ia langsung menemui Aditya di hotel tersebut.
“Pak ini bajunya” ucap Lutfi sambil mengulurkan kantong berisi baju yang diminta
“Baik, terimakasih. Kamu tunggu sini. Saya mengganti baju dulu” ucap Aditya
Setelah memakai baju, Aditya menghampiri Lutfi yang sedang menunggunya.
“Antar saya pulang” pinta Aditya kepada Lutfi
“Baik pak” jawab Lutfi mengikuti langkah Aditya dari belakang
Aditya tidak bisa menyetir dengan kondisi yang sedang dipengaruhi obat, maka dia meminta Lutfi untuk mengantarkannya.
Aditya memutuskan untuk pulang ke rumahnya karena ia tidak mau Hanum melihatnya dengan kondisi seperti ini.
...****************...
Sementara Hanum sedang menunggu kedatangan Aditya di teras rumah nya. Ia mencoba menghubungi Aditya berulang kali, namun tidak dijawab.
“Mas Aditya dimana sih, ini sudah jam 11 tapi tidak kunjung datang” ucap Hanum berbicara sendiri
Pak Rendra mendatangi Hanum yang terlihat gelisah.
__ADS_1
“Num sudah malam, ayo masuk. Mungkin Aditya sudah tiba di rumahnya. “ pinta pak Rendra
“Tidak biasanya mas Aditya mengingkari janji seperti ini yah. Hanum takut terjadi apa-apa” jawab Hanum
“Ya sudah kamu coba hubungi orang tuanya dulu siapa tahu dia benar-benar sudah berada di rumahnya” pinta pak Rendra
“Baik yah” ucap Hanum
Hanum lalu menghubungi Bu Dena.
“Halo, iya Num. Ada apa?” tanya Bu Dena dengan suara berat seperti baru terbangun
“Mah, maaf Hanum mengganggu waktu tidur mama. Apa Aditya ada di rumah ma?” tanya Hanum
“Loh, bukannya Aditya dengan kamu?” tanya Bu Dena
“Ngga ma. Tadi katanya mau menjemput Hanum tapi sudah ditunggu sampai sekarang belum datang” jelas Hanum
“Ya sudah mama coba cek ke kamarnya dulu” ucap Bu Dena
“Baik ma” jawab Hanum
Bu Dena berjalan menuju kamar Aditya. Ia mencoba membuka kamar Aditya namun terkuci dari dalam.
“Adit, kamu di dalam nak?” tanya Bu Dena sambil mengetuk kamar Aditya
“Adit!!” lanjut Bu Dena
Aditya membukakan pintu kamar.
“Iya ma” jawab Aditya
“Ini Hanum telepon mama nanyain kamu” ucap Bu Dena
“Bilang saja Aditya sudah tidur ma” pinta Aditya
“Kenapa kamu bohong nak, tidak biasanya kamu seperti ini" ucap Bu Dena
“Tidak papa ma, Aditya lagi pengen sendirian saja” jawab Aditya
“Hanum terdengar sangat khawatir lo nak. Apa kamu ngga kasihan sama dia, dan ini juga sudah hampir tengah malam kenapa kamu tidak mengabari dia sendiri tadi, dia pasti sedang gelisah menunggumu?” tanya mama
“Adit capek ma” jawab Aditya
"Ya sudah mama bantu kamu kali ini. Tapi lain kali jangan ulangi ya” pinta mama
“Iya ma” jawab Aditya
Bu Dena pun kembali ke kamarnya dan menghubungi Hanum kembali.
“Halo Num” ucap Bu Dena
“Iya ma. Bagaimana apa mas Aditya sedang ada di kamarnya?” tanya Hanum khawatir.
“Iya Num tenang saja. Dia kayaknya kecapekan jadi ketiduran” jawab Bu Dena.
__ADS_1