Pak Dosen, Pilihan Orang Tuaku

Pak Dosen, Pilihan Orang Tuaku
Aditya cemburu


__ADS_3

“Temen-temen, kita semua tau kan dimana ada Hanum disitu juga ada Lukas, bagaimana kalau kita menjadi saksi peresmian hubungan mereka berdua. Bagaimana setuju?” tanya Dewi kepada teman-temannya


“Setuju” ucap mereka serentak


“Ayolah Hanum, Lukas teman-teman sudah setuju dengan hubungan kalian, biarkan kami jadi saksinya” pinta Dewi


Mendengar ucapan Dewi, Aditya langsung meraih mic yang dipegang Dewi.


“Saya kira tidak etis jika kalian memaksa mereka berdua menjadi pasangan tanpa tau perasaan mereka berdua.” Ucap Aditya


Perkataan Aditya mampu membuat diam semua anak yang ada dalam acara tersebut. Keadaan menjadi canggung, lantas Dewi berusaha mencairkan suasana.


“Baiklah, kita skip untuk yang ini ya. Bagaimana kalau sekarang kita dance aja. Mainkan musiknya” ucap Dewi


Mereka semua berdiri tanpa terkecuali, dan mulai berjoget menikmati alunan musik sambil bernyanyi mengikuti irama lagu.


Hanum memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Aditya mengikuti langkah Hanum.


“Aduh” ucap Hanum kaget ditarik tangannya oleh Aditya


“Mas, kamu apa-apaan sih?” tanya Hanum mencoba melepaskan genggaman Aditya


“Kamu sangat menikmati dansa dengan Lukas ya?” ucap Aditya


“Ini kan cuman games. Kamu kira ini serius?” tanya Hanum


“Kamu harus ingat Num, kamu sudah menikah. Dari awal kenapa aku sulit memberikan ijin, karena aku yakin ketika tidak ada aku, Lukas pasti mencari kesempatan untuk mendekatimu” ucap Aditya emosi


“Kamu cemburu dengan hal sepele seperti itu?” tanya Hanum


“Kalau aku cemburu kamu mau apa? Aku seorang suami, kalau melihat istri ku sedang berdansa dengan laki-laki yang jelas-jelas memiliki perasaan dengannya. Aku yakin pria manapun pasti bertindak seperti aku” jelas Aditya


“Mas, aku ngga ada apa-apa sama Lukas, dan tadi kita bermain games hanya karena ingin memeriahkan acara.” Jelas Hanum


“Ayok kita pulang sekarang.” Pinta Aditya


“Mas, kamu kenapa sih kayak anak kecil gini. Lepasin nggak! Kalau kamu gini pernikahan kita bisa diketahui anak-anak lainnya” ucap Hanum mencoba melepaskan genggaman tangan Aditya


Lukas yang sedari tadi mendengar pembicaraan antara Hanum dan Aditya, ikut turun tangan. Ia menghalangi langkah Aditya yang hendak membawa Hanum.


“Apa-apaan kamu? “ ucap Aditya semakin emosi melihat Lukas


“Lepasin Hanum” pinta Lukas


“Kenapa? Dia istriku, aku berhak membawa dia kemanapun. Minggir!!” Jelas Aditya


“Lepaskan dia dulu!” pinta Lukas

__ADS_1


Aditya emosi hendak memukul Lukas. Namun Hanum menghalanginya.


“Mas udah mas udah. Aku ikut sama kamu” ucap Hanum


“Lukas, minggir. Aku ngga apa-apa” pinta Hanum ke Lukas


Mendengar permintaan Hanum, Lukas hanya bisa menatapnya dan memberikan jalan ke Aditya.


...****************...


Sesampainya di dalam mobil, Hanum segera menghubungi panitia acara.


“Halo, iya. Dewi ini aku Hanum, hari ini aku pulang duluan ya, soalnya lagi ngga enak badan” ucap Hanum


“Oke Num. Tapi kamu ngga papa kan?” ucap Dewi membalas Hanum


“Ngga papa kok, aku cuman ga mau ngrepotin kalian jadi aku mending pulang. Kalau gitu aku tutup dulu ya” jawab Hanum


“Iya Num” balas Dewi.


Selama perjalanan Hanum hanya diam tanpa kata-kata, begitu pun dengan Aditya. Perjalanan selama 2 jam, membuat Hanum tertidur pulas di dalam mobil. Sampai di rumah, Aditya segera mengangkat tubuh Hanum. Mengetahui badan nya sedang diangkat, Hanum segera bangun dan meminta untuk diturunkan.


“Mas, aku bisa jalan sendiri. Turunkan aku” pinta Hanum


Aditya hanya diam, tidak menggubris Hanum. Aditya meletakkan Hanum di ranjang, kemudian ia segera menindih badan Hanum dan menciumnya.


“Mas, kamu kenapa sih habis marah sekarang malah begini” ucap Hanum menolak ciuman Aditya


“Aku capek dan juga lagi ngga mood. Kamu sadar ngga sih kalau aku marah” ucap Hanum


“Yang seharusnya marah itu aku bukan kamu.” Jawab


Aditya masih di atas tubuh Hanum


Aditya membuka baju Hanum secara paksa bahkan merobeknya.


“Mas kamu kasar banget sih” ucap Hanum mencoba menutupi tubuhnya


Aditya seperti kesurupan, terus melancarkan aksinya hingga membuat Hanum pasrah dengan suaminya.


“Ah ah ah” ucap Hanum ketika Aditya mencoba memasuki tubuh Hanum


Aditya puas mendengar suara Hanum, hingga semakin cepat gerakannya.


“Ehmmm... ehmmm....” suara Aditya mantap


Selesai melakukan serangan kepada Hanum, Aditya langsung meninggalkan Hanum di ranjangnya. Ia keluar untuk merokok.

__ADS_1


Sementara Hanum sangat capek menerima serangan dari Aditya. Menunggu suaminya tak kunjung datang, ia menyempatkan diri untuk mencari Aditya.


“Mas Aditya dimana?” ucap Hanum pelan sambil mencari di sekeliling rumah


“Itu mas Aditya, ngapain disitu? Merokok lagi, dia kelihatan banyak beban pikiran. Ada apa?” ucap Hanum pelan melihat Aditya yang sedang merokok di balkon lantai kedua rumahnya


Hanum hendak menghampiri Aditya, namun langkahnya tertahan mengingat kejadian kasar Aditya sewaktu di puncak tadi. Ia pun mengurungkan niatnya dan kembali ke kamarnya.


“Mending aku tidur saja” ucap Hanum


Selesai menghisap 2 batang rokok, Aditya kembali ke kamarnya, ia melihat Hanum yang sudah tertidur pulas. Aditya menatap dalam wajah Hanum.


“Apa aku tadi terlalu kasar? Kenapa aku jadi pencemburu seperti ini” batin Aditya


“Dia pasti kaget tadi. Aku hanya ingin menegaskan bahwa dia milikku, hanya aku seorang.” Lanjutnya


Aditya pun membalik posisi tidurnya, sekarang ia menatap langit langit kamarnya dengan tangan yang diletakkan di atas dahinya.


“Tatapan Lukas masih seperti dulu, ia masih menyimpan rasa kepada Hanum.” Batinnya


“Hal yang aku takutkan adalah saat Hanum berhasil direbut oleh Lukas. Sialan! Aku harus memberikan pelajaran kepadanya kalau dia berani menyentuh Hanum lagi” ucapnya emosi.


...****************...


Pagi harinya, Hanum terbangun, ia tidak melihat Aditya ada disampingnya lagi. Ia pun mencari keberadaan suaminya.


“Eh, Hanum. Mama pikir kamu nginep di puncak” ucap Bu Dena


“Ah, iya ma, kemarin malam mas Aditya menjemput, jadi Hanum ikut pulang sekalian” jelas Hanum


“Aditya sama sekali tidak membiarkan istrinya sendiri. Kalau ada apa-apa kamu bisa memberi tahu papa, nanti biar papa bicarakan dengan Aditya” Ucap Pak Deri


“Ah ngga papa kok pa, lagian Hanum juga tidak nyaman menginap disana” balas Hanum


“Ya sudah kamu sarapan dulu sana” pinta Bu Dena


“Papa mama udah sarapan?” tanya Hanum


“Sudah, kami sudah sarapan tadi” jawab Bu Dena


“Maaf ya ma, Hanum bangun kesiangan, jadi ga sempet bantuin nyiapin makanan” ucap Hanum


“Ngga papa Num, lagian mama tau kok kamu pasti kecapekan” jawab Bu Dena


“Ya udah Hanum sarapan dulu ya ma” ucap Hanum


“Iya” jawab Bun Dena

__ADS_1


Hanum menuju dapur, ia hendak sarapan, namun melihat makanan di depannya, ia merasa mual.


“Huek... huek.. huek” Hanum mual.


__ADS_2