Pak Dosen, Pilihan Orang Tuaku

Pak Dosen, Pilihan Orang Tuaku
Diara butuh bantuan


__ADS_3

“Drrttt... drrttt... drttt” suara HP Aditya mendapatkan panggilan telepon


“Diara” ucap pelan Aditya


"Angkat atau tidak ya" ucap Aditya


Ia memutuskan untuk mengangkatnya.


“Halo Adit” ucap Diara di seberang telepon


“Iya ada apa?” tanya Aditya


“Begini, bisa aku minta bantuanmu?” tanya Diara


“Apa?” tanya Aditya


“Kita bisa ketemu tidak?” tanya Diara


“Kalau masalah selain pekerjaan, aku tidak bisa” ucap Aditya hendak mengakhiri panggilan


“Dit, ini berkaitan dengan kontrak perusahaan kita. Aku mohon” balas Diara


“Bicarakan saja lewat telepon” ucap Aditya


“Ini sangat panjang Dit, kalau kamu tidak mau bertemu di luar. Bagaimana kalau aku datang ke kantormu?” pinta Diara


“Tolong Dit, ini masalah yang mendesak” lanjut Diara


“Hufftt... baiklah kalau begitu” balas Aditya


Panggilan telepon pun berakhir.


...****************...


POV Diara


“Bagaimana apa Aditya mau bertemu?” tanya pak Dipta yang memang mendengarkan obrolan Diara dengan Aditya melalui telepon


“Iya pa, Diara akan berusaha membuat Aditya bersedia membantu. Tapi Diara mohon ini kali terakhir papa mengendalikan Diara” pinta Diara memohon


“Kamu sudah papa besarkan dengan baik tapi malah hitung-hitungan dengan papa?” balas pak Dipta marah


“Diara selalu mengikuti apa yang papa mau sedari kecil, sekarang Diara sudah besar pa. Biarkan Diara menentukan apa yang Diara suka” ucap Diara


“Plak” suara tamparan pak Dipta meluncur ke pipi Diara


Diara hanya memandang papanya dengan tangan memegang pipinya sehabis ditampar oleh papanya.


“Papa jahat” ucap Diara sambil keluar ruangan.


...****************...


“Tok tok tok” suara ketukan pintu dari luar ruangan Aditya


“Masuk” pinta Aditya


Lutfi segera memasuki ruangan Aditya.


“Pak, bu Diara sudah tiba” ucap Lutfi

__ADS_1


“Oh, kalau begitu biarkan dia masuk” pinta Aditya


“Baik pak” ucap Lutfi


Sekertarisnya pun segera keluar dan menelepon resepsionis untuk membawa Diara menuju ke ruangan Aditya.


“Ting” suara lift terbuka


Lutfi segera menyambut kedatangan Diara.


“Silahkan bu Diara” ucap Lutfi mengantarkan Diara memasuki ruangan Aditya


“Iya makasih” balas Diara mengikuti langkah Lutfi


Selesai mengantarkan Diara, Lutfi segera keluar dari ruangan Aditya.


“Kamu mau minum apa?” ucap Aditya menawarkan


“Aku terserah apa saja” balas Diara


Aditya segera menghubungi Lutfi.


“Lutfi, tolong buatkan 2 cangkir kopi, yang satu manis ya!” pinta Aditya


“Baik pak” balas Lutfi di seberang telepon


“Kamu masih ingat Dit kalau aku suka kopi yang manis” ucap Diara sambil tersenyum


“Cepat katakan ada apa?” tanya Aditya mengambil posisi duduk


“Jadi begini, bisakah aku minta tolong?” tanya Diara menatap Aditya penuh harapan


“Kenapa dengan wajahmu?” tanya Aditya


“Bukan apa-apa” jawab Diara sambil menutupi pipinya


Aditya tidak mau menanyai Diara lebih lanjut, tapi ia melihat kondisi Diara dalam keadaan tertekan.


“Apa kamu bisa bantu papa ku keluar dari krisis nya?” tanya Diara


“Itu urusan perusahaan kamu bukan urusan ku” jawab Aditya


“Maaf Dit, kali ini saja, tolong bantu aku” pinta Diara


“Ini bukan seperti Diara sebelumnya, ia saat ini terlihat lemah, harusnya papa nya yang datang meminta bantuan, tapi kenapa harus dia. Kalau benar begitu, berarti benar dugaan ku selama ini kalau dia hanya sebagai alat bagi papa nya untuk melancarkan usaha.” Batin Aditya


“Diara, kali ini kamu ku berikan kesempatan. Aku akan berusaha mempercayaimu, jadi aku minta kamu jujur, sebenarnya apa yang terjadi? Kalau aku bisa aku akan membantumu” pinta Aditya


“Aku hanya mau kamu berikan ayahku bantuan supaya bisa keluar dari krisisnya” ucap Diara menekankan lagi


“Maksudmu bantuan seperti apa?” tanya Aditya


“Segera selesaikan pembagian keuntungan kontrak kita” ucap Diara


“Kamu gila? Proyek yang dikerjakan bahkan belum mencapai 50 persen” jawab Aditya


“Aku mohon Adit. Papa ku hanya bisa mengandalkan proyek tersebut untuk bisa keluar dari krisisnya. Jika dana nya keluar mungkin masalah perusahaan setidaknya bisa lebih baik” jelas Diara sambil berlutut di depan Aditya


Aditya melihat tangan Diara yang gemetaran. Ia sebenarnya kasihan, tapi ia tidak bisa membantu jika proyek belum diselesaikan, itu akan mempengaruhi elektabilitas perusahaannya.

__ADS_1


“Maaf Diara aku tidak bisa” ucap Aditya tegas


“Ya sudah kalau begitu” balas Diara


Diara hendak berdiri dari posisi berlututnya namun seperti tidak mampu. Aditya yang melihatnya membantu menegakkan tubuh Diara.


Diara segera keluar dari ruangan Aditya tanpa berbicara sepatah kata pun.


...****************...


Sepulang dari kantor Aditya langsung pulang ke rumahnya. Besok adalah hari dimana ia akan pindah rumah. Jadi ia akan membantu Hanum menyelesaikan pengemasan barang-barang mereka.


“Assalamualaikum” ucap Aditya memasuki rumah


“Walaikumsalam” balas seluruh orang yang berada di ruang tamu


“Loh, om Rudi” sapa Aditya dengan mencium punggung tangan om nya


“Aditya, wah semakin sibuk ya sekarang” sapa pak Rudi dengan menepuk bahu Aditya


“Ah nggak juga om, udah dari tadi?” tanya Aditya mengambil posisi duduk di sebelah Hanum


“Sudah, om kesini berencana menjemput Clara” balas pak Rudi


“Pah, Clara pokoknya nggak mau pulang” ucap Clara


“Kamu harus pulang, disini kamu hanya bisa nyusahin om, tante dan kakak mu saja” paksa pak Rudi


“Tante, emangnya Clara ngga boleh lebih lama lagi disini?” tanya Clara


“Eh, begini Clara lebih baik kamu pulang dulu, mamamu pasti juga merindukanmu. Nanti kapan-kapan kamu kesini lagi nggak papa” balas Bu Dena


“Sialan aku bahkan tidak bisa merayu tante. Apa yang harus aku lakukan? Aku harus cari cara” batin Clara


“Num, kamu sudah makan?” tanya Aditya


“Su.. sudah mas” jawab Hanum malu melihat seisi ruang tamu menatapnya


“Wah Aditya, om lihat kamu jadi suami yang siaga sekarang” puji pak Rudi


“Ah iya om” jawab Aditya sambil menatap wajah Hanum


“Papa mu sering lo cerita banyak perubahan mu sekarang semenjak menikah dengan Hanum, kamu yang dulunya cuek sekarang menjadi lebih perhatian, yang dulunya diam sekarang lebih ceria. Memang pilihan papa dan mamamu terbaik” puji pak Rudi


“Hahaha...” tawaan seluruh orang di ruang ruang tamu


“Kapan Clara bisa berubah juga menjadi dewasa, tampaknya aku harus segera menikahkannya” ucap pak Rudi


“Bagaimana mau aku carikan?” balas pak Deri mengundang tawa satu keluarga


“Om, lama kan tidak menginap disini? Bagaimana kalau lusa kita main golf” ajak Aditya


“Eh om disini cuman dua hari saja, mungkin lusa sudah pulang” jelas pak Rudi


“Yah, padahal seru kalau papa, aku, dan om bisa main golf bersama” ucap Aditya


“Kapan-kapan saja kita main golf bersama bagaimana?” ucap pak Rudi


“Siap om” balas Aditya

__ADS_1


Obrolan malam itu sangat menyenangkan terlebih mereka memang jarang berkumpul.


__ADS_2