Pak Dosen, Pilihan Orang Tuaku

Pak Dosen, Pilihan Orang Tuaku
Menyalahi Kontrak


__ADS_3

“Ayolah Num, jangan buat aku bertanya-tanya. Antara kita kan ngga ada rahasia.” Pinta Anin


“Oke oke. Jadi setelah kita berantem yang aku ceritain itu, karena aku ngga betah diem-dieman, ya aku berusaha ngajak ngobrol mas Aditya” jelas Hanum


“Terus?” tanya Anin


“Ya mas Aditya masih diem aja sih waktu aku mencoba ngobrol dengan nya, tapi setelah aku bilang aku mau memberikan apa yang dia mau, baru dia mau ngobrol sama aku” jawab Hanum


“Jadi kamu sudah melakukan hal itu?” tanya Anin


Hanum hanya menganggukkan kepalanya saja.


“Beneran Num... Akhirnya..” ucap Anin sambil kegirangan


“Kok kamu yang bahagia Nin?” tanya Hanum keheranan


“Iyalah. Ini adalah suatu keajaiban kamu mau memberikan hal itu ke Aditya yang sudah lama menunggu” balas Anin


“Apa aku bilang dia akan luluh jika kamu memberikan hak nya" tambah Anin


“Iya sih.” Jawab Hanum


“Terus gimana rasanya Num?” tanya Anin


“Hhhmmm... sakit banget Nin, aku aja sampek ga keluar dari kamar seharian gara-gara itu” jawab Hanum


“Kok bisa sampek gitu ya?” tanya Anin


“Ya ngga tau, mangkanya kalau kamu pengen tau rasanya nikah sana” ucap Hanum


“Ih kalau sakit aku mending ngga deh.” Jawab Anin


“Kenapa? Kamu mau tua sendirian?” tanya Hanum


“Amit-amit, tapi aku ngeri banyak yang bilang gitu soalnya” balas Anin


“Udah-udah kita jangan bahas itu. Gimana kuliahmu?” tanya Hanum


“Ya aku lagi ngumpulin banyak bahan bacaan untuk skripsi ku. Kamu gimana? Pasti enak deh dibantuin Aditya” ucap Anin iri


“Ye ngga lah. Aku ngga dibantuin ya enak aja” jawab Hanum sebal


“Tapi kan pasti kamu dibenerin dan dikasih arahan mana yang harus diperbaiki seenggaknya” balas Anin


“Dia itu orangnya profesional, lagian ga adil dong mentang-mentang aku istri dosen, terus jadi lebih mudah gitu” jelas Hanum


“Mungkin aja kan aku ga tau” goda Anin


“Aku kalau mau konsul ke dia ya waktu dia di kampus bukan di rumah” jelas Hanum


“Iya Num percaya” jawab Anin.


...****************...

__ADS_1


POV Aditya


Hari ini Aditya akan mengunjungi perusahaan Cakra Utama milik Pak Dipta. Ia berangkat pukul 8 pagi, karena takut macet meskipun meeting diadakan jam 9 pagi.


“Lutfi, sudah kamu siapkan semua?” tanya Aditya


“Sudah pak” jawab Lutfi


“Baiklah kita berangkat sekarang” pinta Aditya


Mereka berdua tiba pukul 08.30 pagi. Lutfi memberitahu resepsionis kantor akan kedatangan Aditya sebagai perwakilan Cakrawala Putra.


“Pagi, saya bersama Pak Wakil Direktur Cakrawala Putra diminta untuk menghadiri meeting dengan Pak Dipta” ucap Lutfi kepada resepsionis


“Oh mari silahkan” ucap resepsionis menunjukkan jalan


Aditya dan Lutfi mengikuti di belakang. Ketika sampai di ruang meeting, Aditya disambut langsung oleh Pak Dipta.


“Halo Pak Aditya, selamat datang di kantor saya” sambut Pak Dipta


“Selamat pagi Pak” ucap Aditya menjabat tangan Pak Dipta


“Pagi juga pak, jadwal meeting nya jam 9, tapi Pak Aditya datang setengah jam lebih awal, memang anak muda yang sangat disiplin dan inspiratif” ucap Pak Dipta


“Ah bisa saja pak. Saya datang lebih awal karena takut nanti macet di jalan. Jadi lebih baik kepagian daripada kesiangan kan!” balas Aditya


Mereka semua berjalan masuk ke ruangan meeting, tak terkecuali Diara.


Setelah menyodorkan dokumen dan mereka saling membaca lagi.


“Oh begini pak kita perlu menambakan perusahaan pihak ketiga yang akan menjadi supplier dari barang yang akan di produksi” jelas Pak Dipta


“Pak kontrak kita hanya untuk perusahaan kita berdua, artinya jika bapak memasukkan pihak ketiga ini namanya bapak menyalahi kontrak yang sudah kita sepakati di awal” jelas Aditya


“Jadi begini Pak saya sudah pertimbangkan profit yang akan diterima oleh Perusahaan Bapak, saya kira tidak akan mendapat kerugian. Supplier ini juga akan memberikan kita harga bahan mentah murah.” Jelas Pak Dipta


“Jika bapak ingin menambahkan pihak lain di dalam kontrak kita, saya dengan tegas menolak.” Jawab Aditya secara singkat


“Baik pak, kalau memang begitu.” Balas pak Dipta


“Apa ada bagian lainnya yang perlu di bicarakan?” tanya Aditya


“Pembagian laba saya minta naik 5% dari harga yang ditawarkan”ucap Pak Dipta


“Tapi awalnya bapak menyetujui harga segitu, kenapa sekarang jadi dinaikkan?” tanya Aditya


“Iya, karena saya pikir akan rugi dengan harga segitu” jelas Pak Dipta


“Baik pak, kalau begitu saya akan naikkan 2% dari harga awal. Ini penawaran terakhir saya” jelas Aditya


“Oke deal. Baiklah” ucap Pak Dipta sedikit kecewa


Meeting yang diadakan pun selesai. Aditya beserta sekertaris dan satu karyawan nya keluar dari ruangan untuk pergi.

__ADS_1


...****************...


POV Pak Dipta dan Diara


“Diara, apa memang Aditya seangkuh itu?” tanya Pak Dipta


“Bukan angkuh pa, lagian bener kata dia kenapa papa tiba-tiba ingin merombak isi kontrak?” tanya Diara


“Perusahaan om kamu sedang kesusahan, jadi papa ingin memasukkan perusahaan om kamu agar bisa menyelamatkan perusahaan nya. Proyek ini sangat besar, setidaknya laba yang diperoleh bisa puluhan milyar, dan perusahaan Aditya yang akan mendapat laba paling besar.” Jelas Pak Dipta


“Benar kata Aditya pa, jika papa ingin menambahkan pihak lain ya buat kontrak kerjasama antara kalian berdua saja. Lagian kan papa sudah menambah keuntungan 2% dari Aditya” ucap Diara


“Kamu tidak mengerti maksud papa Diara.” Balas Pak Dipta


“Papa mempercayakan proyek ini ke kamu, jadi papa harap kamu bisa membuat Aditya bergantung dengan perusahaan kita” lanjut Pak Dipta


“Baik pa, serahkan saja semuanya ke Diara.” Jawab Diara mantap


...****************...


“Ting” HP Hanum berbunyi


“Kamu masih di rumah ayah dan ibu?” isi pesan singkat Aditya ke Hanum


“Iya mas masih” teks yang dikirim Hanum ke Aditya


“Ya sudah tunggu sana. Aku akan pergi menjemput” jawab Aditya


Hanum bersama ayah, ibu dan Kelen asyik mengobrol di ruang keluarga, hingga waktu menunjukkan pukul 9 malam Aditya belum juga menjemput Hanum.


“Num, Aditya jadi kesini?” tanya Bu Rita


“Jadi Bu tadi katanya” jawab Hanum


“Loh ini sudah jam 9 malam, kok masih belum jemput?” tanya Bu Rita


“Sibuk mungkin Bu” celetuk Pak Rendra


“Iya mungkin Bu” jawab Hanum.


...****************...


POV Aditya


Aditya yang saat itu hendak pulang tiba-tiba mendapat telepon dari Diara.


“Halo Adityaaa!!” ucap Diara dari seberang telepon


“Iya, ada apa?” tanya Aditya


“Halo Aditya apa kamu bisa mendengar suara aku?” tanya Diara


“Iya, kenapa berisik sekali kamu lagi dimana?” tanya Aditya

__ADS_1


“Bisa tolong jemput aku?” pinta Diara


“Dimana sopir kamu?” tanya Aditya.


__ADS_2