Pak Dosen, Pilihan Orang Tuaku

Pak Dosen, Pilihan Orang Tuaku
Adakah laki-laki seperti Aditya?


__ADS_3

Mereka semua makan malam bersama. Setelah makan malam pun, mereka berlima berkumpul di ruang kleuarga untuk berbincang-bincang.


“Ibu dan ayah tidur disini lama saja, ya yah bu” pinta Hanum manja


“Ngga bisa Num, kan Kelen sekolah” jawab bu Rita


“Yah tapi Hanum masih kangen sama kalian” ucap Hanum


“Kita bisa main kesini lagi kapan-kapan” ucap bu Rita


“Begini bu, menurut Aditya bagaimana kalau ibu menemani Hanum disini beberapa hari? Aditya takut kalau meninggalkan dia sendiri saat Aditya kerja. Dia sangat sembrono” ucap Aditya


“Ayah pikir juga sebaiknya begitu bu, temani dulu Hanum beberapa hari ini, dia juga baru beradaptasi dengan rumah ini” tambah pak Rendra


“Terus bagaimana dengan Kelen yah? Siapa yang mengurusnya?” tanya bu Rita


“Biar ayah yang urus, Kelen juga sudah besar. Ayah pasti akan menjaganya” balas pak Rendra


“Ya sudah kalau begitu ibu disini dulu saja, temani Hanum. Ibu juga khawatir” ucap bu Rita


“Yeee... Hanum ada temennya deh. Makasih Bu” ucap Hanum sambil memeluk ibunya


“Iya” balas Bu Rita


“Terus ayah masih nginep di sini dua hari kan?” tanya Hanum


“Iya” balas ayahnya


“Bagaimana kalau kita liburan keluarga bareng” ucap Hanum menawarkan


“Num, kamu kan minggu depan sidang, lagian barusan keluar dari rumah sakit. Liburannya setelah kamu sidang saja” jelas Aditya


“Iya, bener kata suamimu. Sekarang kamu fokus dulu sama sidang mu” tambah pak Rendra


“Iya deh” balas Hanum


Mereka pun asyik mengobrol bersama.


...****************...


Bau masakan yang dibuat oleh bu Rita dan bi Iyem tercium sampai kamar Hanum.


“Hhhhmmmm bau nya seperti masakan ibu” ucap Hanum masih di ranjangnya


Ia hendak beranjak dari ranjangnya, namun tangannya ditarik oleh Aditya.


“Mas, kamu sudah bangun? Aku pikir masih tidur” tanya Hanum


“Sudah, kamu mau kemana?” tanya Aditya dengan memeluk erat Hanum


“Aku mau ke dapur, ini pasti masakan ibu, baunya enak sekali” balas Hanum


“Hhhmmm” balas Aditya


“Gimana sih? Kenapa nggak dilepasin ini?” tanya Hanum


“Sebentar, aku butuh mengisi energi ku” ucap Aditya


“Maksudnya?” tanya Hanum tidak mengerti

__ADS_1


“Bawel, lima menit saja seperti ini” pinta Aditya


“Iya, tapi aku tidak bisa bernapas kalau begini” balas Hanum


Aditya sedikit mengendorkan pelukannya.


“Kamu semalam nggak tidur?” tanya Hanum


“Iya” jawab Aditya


“Terus kenapa begadang, lama-lama kamu sakit lo” ucap Hanum


“Aku harus mengurusi proyek baru lagi, jadi mungkin aku akan banyak pekerjaan akhir-akhir ini” balas Aditya


Hanum menatap ke arah Aditya yang memejamkan matanya masih memeluknya. Tanpa disadari, ia mengecup bibir suaminya. Aditya kaget dan membuka matanya.


“Aku harap setiap pagi bisa seperti ini” ucap Aditya dengan suaranya yang berat di pagi hari


“Aku juga mas” balas Hanum


“Tok tok tok” suara ketukan pintu dari luar kamar Hanum dan Aditya


“Num, kamu sudah bangun belum?” tanya Bu Rita di depan pintu kamar Hanum dan Aditya


“Eh, iya bu sudah” balas Hanum belum beranjak dari ranjangnya


“Makanan nya sudah siap, ayo sarapan” ajak bu Rita


“Iya habis ini Hanum keluar” balas Hanum


Mendengar jawaban Hanum, Bu Rita segera kembali ke dapur.


“Mas, sudah ayok kita makan. Ditungguin lo” ucap Hanum


“Mas, aku tungguin ya, cepetan keluar” pinta Hanum


Aditya beranjak dari ranjangnya dan menju kamar mandi untuk membasuh mukanya dan memakai baju. Ia segera menyusul Hanum menuju ruang makan.


“Itu suamimu Num, ambilkan makanan dulu” ucap bu Rita


Aditya yang melihat Hanum sedang lahap makan segera mencegahnya.


“Sudah kamu makan saja, biar aku ambil sendiri” ucap Aditya


Aditya sangat menyayangi Hanum sampai membuat nya memprirotas kan Hanum dibanding dirinya sendiri.


“Oke ini pertanyaan dari author, apakah kalian juga mengidamkan laki-laki seperti Aditya? Author harap memang ada laki-laki seperti ini di dunia, sulit untuk menemukan pria seperti Aditya, caranya mencintai Hanum sangat dalam. Ini unek-unek author ya” kata-kata author dari hati yang terdalam.


...****************...


“Num sepertinya besok aku harus ke luar kota” ucap Aditya


“Besok mas? Kenapa mendadak sekali?” tanya Hanum


“Aku harus mendatangi klien yang ada di Malaysia” jelas Aditya


“Yah, tapi kamu akan menyempatkan waktu datang di sidang ku kan?” tanya Hanum


“Pasti. Akan aku atur jadwalnya” jawab Aditya dengan memakai jasnya hendak ke kantor

__ADS_1


“Ya sudah deh” balas Hanum dengan wajah sedih


Aditya segera menghampiri Hanum yang bercermin di meja riasnya.


“Kamu jangan sedih begitu dong, aku janji akan pulang cepat” ucap Aditya


“Kapan?” tanya Hanum penuh harapan


“Secepatnya, mungkin tiga hari lagi” balas Aditya


“Jadi aku tidak akan melihat wajahmu selama tiga hari?” tanya Hanum


“Kita kan bisa video call” balas Aditya


“Hhhhh.... “ Hanum menghela nafas panjang


“Ya sudah deh” lanjutnya


“Ya sudah kalau begitu, nanti pulang dari kantor mau di bawain apa?” tanya Aditya


“Aku mau rujak buah aja deh” ucap Hanum menatap Aditya dengan wajah ceria


“Kamu ini, tadi baru saja sedih sekarang sudah ceria, seperti anak kecil saja” ucap Aditya sambil merangkul Hanum dari belakang


Aditya pun berangkat ke kantornya, tidak lupa ia juga berpamitan dengan mertuanya.


“Loh Dit, ini kan hari Sabtu? Kamu masih kerja?” tanya bu Rita


“Iya bu, belakangan ini Aditya banyak pekerjaan” balas Aditya


“Aditya titip Hanum ya bu” lanjut Aditya dengan mencium punggung tangan mertuanya


“Iya hati-hati ya” balas bu Rita


“Iya Bu” jawab Aditya.


...****************...


Jam 7 malam Aditya baru pulang, ia terlihat sangat capek.


“Mas, kamu mau langsung makan atau mandi dulu?” tanya Hanum


“Aku mau mandi dulu” balas Aditya dengan membuka pakaiannya


“Oh ya sudah, kalau begitu aku tunggu di ruang makan ya” ucap Hanum


“Iya” balas Aditya memasuki kamar mandi


Hanum keluar dari kamarnya dan menuju ruang makan.


“Num, ayah lihat Aditya sangat capek sekali, lebih baik kamu layani dia, kasihan” ucap pak Rendra


“Iya Num, ibu kasihan juga melihat Aditya yang sibuk dengan pekerjaannya juga harus menjagamu, buatkan dia teh dulu” tambah bu Rita


“Baik Bu” balas Hanum menuju dapur


“Sepertinya memang aku bukan istri yang pengertian, masa hal sepele seperti ini saja harus diingatkan ayah dan ibu. Lain kali aku harus lebih perhatian” batin Hanum


Hanum pun membawakan sebuah nampan berisi secangkir teh dan sepiring buah. Ia pun berhenti di ruang makan.

__ADS_1


“Yah, Bu, apa nggak papa kalau ayah dan ibu makan sendirian? Hanum mau mengurusi mas Aditya dulu, kita juga makan di kamar saja” tanya Hanum


“Nggak papa, sudah layani suamimu sana” pinta bu Rita.


__ADS_2