
“Ini cicipin juga dong kue kering nya sama kacang mede nya” tambah Hanum sambil membukakan toples di depan nya.
“Iya” jawab Anin masih kagum dengan apa yang dilihatnya
“Kamu ngapain sih kok ngeliat nya gitu?” tanya Hanum
“Num sekarang aku baru menyadari bahwa sekaya itu Aditya. Kamu beruntung Num” ucap Anin
“Ah biasa aja kali. Lagian ini bukan rumah aku tapi rumah mertua” jawab Hanum
“Iya tapi kan kamu bakal menjadi nyonya rumah ini” jawab Anin
“Ngawur kamu, aku malah belum punya rumah sama mas Aditya.” Balas Hanum
“Kalau aku juga dijodohin yang sama seperti Aditya pasti mau juga kok. Ntar kalau kamu ketemu teman-temannya Aditya, terus ada yang bening dan tajir kenalin ke aku ya” rengek Anin
“Iya.. iya... udah habisin dulu minuman nya ntar kesorean lagi” pinta Hanum
“Siap nyonya” jawab Anin bercanda.
Mereka pun pergi.
“Kita ini mau kemana Nin?” tanya Hanum
“Eh bagaimana kalau kita ke kafe yang dulu sering kita datangi” ucap Anin
“Aku nurut saja sih” jawab Hanum.
...****************...
POV Aditya
Di kantornya Aditya segera mengerjakan semua pekerjaannya. Hari ini ia akan segera pulang dan menemui Hanum.
“Drrttt... drrrttt... drrrt” suara HP Aditya berdering
Tertulis nama Diara disana. Aditya malas mengangkatnya, ia mengacuhkan panggilan dari Diara.
Satu menit kemudian, ada pesan masuk di HP Aditya. Ia pun membukanya. Betapa kagetnya dia ternyata sebuah gambar dirinya sedang bertelanjang dada dengan Diara kemarin.
“Apa-apaan Diara ini. Dia sengaja menjebakku kemarin?” ucap Aditya dengan suara yang tinggi di dalam kantornya.
Ia pun langsung menelepon Diara.
“Halo, akhirnya kamu dulu yang menghubungi aku” sapa Diara
“Diara kamu apa-apaan ini. Kenapa ada gambar seperti ini?” tanya Aditya
“Tenang Dit, lagian kan memang kejadian itu terjadi kemarin” balas Diara senang
“Kamu benar-benar. Aku minta segera hapus foto itu!!” perintah Aditya
“Hhhmm gimana ya, aku mau hapus kalau kamu temuin aku sekarang” pinta Diara
“Apa!! Kamu tidak punya pekerjaan Diara? Jangan suruh-suruh aku!” ucap Aditya lantang
__ADS_1
“Kamu kenapa sih Aditya marah-marah mulu. Tenang dong. Kamu mau foto ini sampai ke tangan Hanum?” Ucap Diara mengancam
“Diara. Jangan berani-berani ya kamu mengancam aku dengan foto itu.” Pinta Aditya
“Oh ya sudah karena kamu sayang banget sama istri kamu. Kayaknya kalau ini sampai ke Hanum, reaksi dia bakal gimana ya?” ancam Diara
“Oke baik. Kalau aku mau menemui kamu hari ini. Kamu janji akan menghapus foto itu kan?” tanya Aditya
“Iya” jawab Diara
“Dimana aku akan menemui mu?” tanya Aditya kembali
“Temui aku di kafe mentari” jawab Diara
Aditya pun segera bergegas pergi dari kantornya dan menuju ke kafe yang diminta Diara.
“Lutfi, saya mau keluar dulu dan langsung pulang. Jadi kalau yang butuh tanda tangan saya taruh meja saja, besok saya akan menandatanganinya” pinta Aditya ke sekertarisnya
“Baik pak” jawab Lutfi mengerti
Disana Diara sudah menunggu duluan. Aditya langsung menghampiri Diara.
“Mana file foto itu? Saya mau kamu hapus sekarang juga” ucap Aditya
“Jangan buru-buru dong Adit, biar kita pesan minuman dulu ya. Baru kita bicarakan ini” pinta Diara
Aditya tidak menjawab dan hanya mengikuti perintah Diara.
Setelah minuman dan beberapa camilan yang dipesan tiba. Aditya sama sekali tidak menyentuh minuman tersebut.
“Kenapa kamu tidak minum?” tanya Diara
“Kamu minum dulu baru aku hapus” pinta Diara
“Ngga, aku ngga mau tertipu lagi seperti kejadian kemarin.” Jawab Aditya
“Oke, aku mau minta kamu menyetujui apa yang dipinta papa kemarin” ucap Diara
“Oh jadi kamu menjebakku untuk melancarkan bisnis papamu?” tanya Aditya
“Kalau kamu mau menyetujui aku janji akan hapus foto tersebut” ucap Diara
“Jadi kamu cuma sebagai alat transaksi untuk memudahkan bisnis papa mu. Aku kasian sama kamu Diara” ucap Aditya
“Kamuuuu... jangan mengasihani aku ya. Aku tidak suka cara mu memandangku dengan tatapan iba seperti itu” balas Diara marah
“Buktinya kamu sampai melakukan hal kotor seperti ini agar aku menyetujui kontrak. Perbuatan mu tidak lebih dari seorang wanita penggoda” jawab Aditya santai
“Oh oke. Sepertinya kamu tidak menghiraukan apa yang aku bicarakan tadi. Aku akan memastikan bahwa foto ini dilihat Hanum” ancam Diara lagi
Obrolan mereka masih berlanjut.
Sementara Hanum dan Anin tiba di kafe tersebut.
Ternyata kafe itu adalah kafe yang didatangi juga oleh Hanum dan Anin.
__ADS_1
“Loh Num itu bukan nya suamimu?” tanya Anin menunjuk ke arah Aditya dan Diara
Hanum menoleh dan melihat ke arah mereka.
“Oh jadi kamu ngga kabarin aku karena ini mas?” tanya Hanum yang berdiri di belakang Aditya
Aditya menoleh mengenali suara itu dan kaget.
“Hanum” ucap Aditya
“Kamu dari kemarin aku telfon dan bahkan aku mengkhawatirkan mu, tapi ternyata kamu dengan wanita lain?” tanya Hanum
“Num, aku bisa jelasin” ucap Aditya sambil mencoba memegang tangan Hanum
Hanum langsung keluar dari kafe tersebut. Ia meminta Anin mengantarnya pulang.
Sementara Aditya mencoba mengejarnya.
“Num, kamu salah paham Num” ucap Aditya mencoba menjelaskan
“Udah mas udah, aku capek. Aku mau menenangkan diri dulu” pinta Hanum
Aditya pun melepaskan Hanum.
“Nin, tolong anterin aku ke rumah mertuaku saja. Aku mau mengambil baju-bajuku dulu” pinta Hanum
“Kamu ngga papa kan Num?” tanya Anin
“Ngga papa.” Ucap Hanum sambil menahan tangisannya
Tiba di rumah Aditya, Hanum langsung menuju kamar. Ia juga meminta Anin untuk pulang. Ia tidak mau Anin melihatnya menangis jika membiarkannya menemani Hanum.
Di dalam kamar, Hanum menangis sekencang-kencangnya, ia tidak menyangka Aditya mengulangi lagi apa yang diperbuat.
“Kenapa kamu melakukan ini semua mas?” ucap Hanum sambil menangis
“Aku sudah mempercayai mu dan mencintaimu tapi apa yang kamu lakukan, kamu malah diam-diam bertemu wanita lain di belakangku” tambahnya
Ia hendak pulang kerumahnya sendiri. Namun ia teringat kata-kata ibunya dulu kalau semua masalah harus dihadapi jangan lari.
“Sabar sabar Num.” Ucap Hanum sambil menenangkan dirinya sendiri.
...****************...
Hanum mencoba dewasa ia masih turun ke bawah untuk makan malam dan membantu menyiapkan.
“Loh Num, Aditya belum pulang?” tanya Bu Dena
“Belum ma.” Jawab Hanum
“Apa dia lembur lagi ya?” tanya mama
“Mungkin ma” jawab Hanum
“Yasudah kita makan malam dulu saja” pinta Bu Dena
__ADS_1
Ditengah-tengah Pak Deri, Bu Dena, dan Hanum makan, terdengar suara salam dari luar. Suara itu ternyata suara Aditya. Mereka semua menjawab salam Aditya.
“Sudah pulang Dit. Sini makan dulu” pinta Bu Dena.