
“Eh nggak bisa gitu dong. Harus yang mewah. Apa kata orang kalau memakai seadanya, Hanum adalah menantu keluarga pemilik Cakrawala Putra” ucap bu Dena
Hanum bingung mendengarkan perdebatan mereka.
“Bagaimana Num? Pokoknya mama mau kamu menjadi wanita nomer satu di acara tersebut” ucap bu Dena
“Eh Hanum nurut aja ma” jawab Hanum
“Mama booking kan dulu untuk hari jumat” ucap bu Dena menelepon koneksinya
“Mama nya Adit memang begitu Num, maklumin aja” ucap pak Deri
“Iya ngga papa kok pa. Lagian Hanum juga senang, kalau dipilihkan sama mama, soalnya Hanum tidak pernah hadir di acara tersebut, nanti takutnya bikin malu lagi” ucap Hanum
“Ya sudah kalau begitu papa sama mama, pamit dulu ya” pamit pak Deri
“Iya pa” balas Aditya
“Ayo ma” ucap pak Deri membuat bu Dena memutuskan panggilan dengan koneksinya
Hanum dan Aditya mengantarkan kepergian bu Dena dan pak Deri.
“Hati-hati ya ma pa” ucap Hanum
“Iya, kamu jaga diri ya nak. Kalau ada apa-apa hubungi kita” balas bu Dena diiringi dengan cipika-cipiki
Setelah melihat mobil orang tuanya melaju, Hanum dan Aditya memasuki rumah.
“Num, aku ada sesuatu yang mau kutunjukkan ke kamu” ucap Aditya
“Apa mas?” tanya Hanum penasaran
“Aku tunjukkin di kamar saja” pinta Aditya
“Iya mas” balas Hanum
Di kamar, Aditya mengeluarkan satu kotak perhiasan berwarna merah.
“Loh itu kan yang aku lihat di laci mas Adit kemarin” batin Hanum
“Rupanya memang untuk aku” lanjutnya ingin tertawa
“Ini” ucap Aditya memberikannya ke Hanum
“Apa ini mas?” tanya Hanum berpura-pura karena sudah diberitahu oleh Lutfi
“Buka saja” pinta Aditya
Hanum membukanya, ia terkesima dengan set berlian di dalamnya yang berkilauan. Barang mewah seperti ini pertama kali ia dapatkan.
“Mas” ucap nya dengan mata berbinar-binar
“Iya itu buat kamu. Aku membelikannya kemarin sewaktu di Malaysia” balas Aditya
“Makasih mas” ucap Hanum merangkul suaminya
Aditya membalas pelukan istrinya yang bahagia mendapatkan berlian darinya.
“Kamu suka kan?” tanya Aditya
__ADS_1
“Iya suka banget” jawab Hanum melihat berlian tersebut
“Itu bisa kamu pakai di acara charity Jumat depan” ucap Aditya
“Iya” balas Hanum dengan menganggukkan kepalanya
“Eh sebentar tapi pasti ini mahal banget” ucap Hanum
“Ngga usah dipikirin harganya. Aku mampu kok” balas Aditya
“Mas, kamu adalah pria pertama yang memperlakukan aku dengan baik” ucap Hanum menitihkan air matanya
“Loh kamu kenapa menangis?” tanya Aditya khawatir
“Ini tangisan bahagia mas. Baru kali ini aku mendapat kado super mewah seperti ini” balas Hanum
Aditya mengusap air mata Hanum.
“Aku senang bisa membuat mu bahagia” ucap Aditya
“Aku bahagia mas” balas Hanum
Kebahagiaan malam ini membuat Hanum sejenak melupakan masalahnya mengenai gosip di kampus.
...****************...
Keesokan harinya, Hanum ke kampus untuk menemui dosen pembimbing keduanya. Ia akan mengurus terkait revisinya.
“Mas, hari ini aku mau ke kampus” ucap Hanum
“Biar, aku antar” ucap Aditya
“Kamu nggak sibuk?” tanya Hanum
“Ya sudah kalau begitu” balas Hanum
Selesai berpakaian dan duduk di meja riasnya untuk berdandan, Hanum mengingat tentang gosip di kampusnya.
“Mas, aku nggak jadi ke kampus deh!” ucap Hanum
“Kenapa kamu sakit?” tanya Aditya
“Nggak, cuman aku keinget tentang gosip kemarin. Aku pasti jadi bulan-bulanan anak se jurusan” ucap Hanum
“Num, permasalahan seperti ini kalau malah kamu hindari, akan membuatmu tidak tenang dan ketakutan. Sebaiknya memang kamu jujur tentang kondisi yang sebenarnya. Aku akan membantumu” ucap Aditya
“Huffttt... jangan dulu deh mas. Coba ku lihat situasinya dulu” balas Hanum.
...****************...
Sesampainya di kampus, Hanum memasuki gedung. Banyak mahasiswa menatap sinis ke arahnya dan berbisik.
“Itu kan dia Hanum. Kelihatannya polos taunya malah binal” ucap seorang mahasiswi menatapnya sinis
“Itu kan anaknya?” ucap mahasiswa lainnya
Hanum mencoba tenang dan berjalan santai, padahal jantungnya berdegup kencang.
“Ting” suara lift terbuka
__ADS_1
Sudah ada tiga anak di dalam lift, Hanum pun memasuki lift dan menekan tombol empat, untuk menuju ke ruang administrasi.
“Tuh anaknya! Palingan dia juga merayu laki-laki lainnya” ucap salah seorang mahasiswi ke temannya
“Iya nggak nyangka ya. Nggak punya malu banget” balas mahasiswa lainnya
Risih mendengar ucapan teman-temannya, Hanum mencoba melawan.
“Kalian kenapa ngomong gitu?” tanya Hanum
“Siapa yang ngomongin elu” balas mahasiswi yang bergosip tersebut
“Itu tadi buktinya barusan” balas Hanum
“Ih, kan kita nggak nyebutin nama elu. Lagian kenapa marah? Berarti gosip tersebut betul” balas mahasiswi tersebut
“Ting” pintu lift terbuka
Hanum segera keluar dari lift dan berjalan menuju ruang administrasi. Namun dosen pembimbing kedua tidak ada di kubikel.
“Aduh masa harus nunggu lagi sih! Aku sudah tidak tahan di kampus” batin Hanum
Beberapa mahasiswa yang juga menunggu dosen, melihat ke arah Hanum.
“Sebenernya, aku melakukan kesalahan apa sih? Kenapa mereka melihat ku seperti itu” batin Hanum
Dewi melihat Hanum yang menunggu dosen pun mendekatinya.
“Num, kamu lagi nunggu siapa?” tanya Dewi
“Oh aku lagi nunggu dosen pembimbing keduaku” balas Hanum
“Num, aku mau nanya sesuatu sama kamu tapi jangan disini” ucap Dewi
“Kenapa memangnya kalau disini?” tanya Hanum penasaran
“Ayok ikut aku” ucap Dewi menarik tangan Hanum dan membawanya ke kamar mandi
Dewi melihat pintu toilet yang terbuka semua, artinya tidak ada orang.
“Num, ini tentang pertanyaan ku yang kemarin. Aku tadi di bawah sempat melihat mu mendapat gunjingan dari mahasiswa lainnya. Bukannya aku mau mencampuri tapi sebenarnya ada apa? Aku yakin gosip yang tersebar tidak benar” ucap Dewi.
“Memang tidak benar. Memang benar aku hamil, tapi bukan di luar nikah” jelas Hanum
“Lalu kenapa kamu tidak menjelaskan saja ke orang-orang” ucap Dewi
“Aku pikir akan membuang buang waktu. Jadi aku memutuskan untuk diam” balas Hanum
“Kamu harus menjelaskan apa yang terjadi Num, agar image kamu tidak buruk seperti tuduhan mereka” pinta Dewi
“Hhhhh... sebenarnya suami ku adalah pak Aditya” ucap Hanum
Perkataan Hanum, membuat Dewi shock dan tidak mampu berkata apa-apa.
“Bagaimana bisa?” tanya Dewi dengan perasaan berburuk sangka
Dewi pikir memang Hanum yang merayu Aditya, bagaimana tidak bahkan wanita tercantik di kampus saja mendekati Aditya, tapi tidak mendapat respon sama sekali karena sikapnya yang dingin.
“Ceritanya panjang Wi, kalau menceritakannya butuh waktu” balas Hanum
__ADS_1
“Hhhmmm.... kamu merayu pak Aditya?” tanya Dewi
“Kamu percaya kalau aku merayu nya? Ini semua karena perjodohan orang tua” balas Hanum.