Pak Dosen, Pilihan Orang Tuaku

Pak Dosen, Pilihan Orang Tuaku
Keakraban Clara dengan Aditya


__ADS_3

Clara membuka lemari Hanum dan mengambil jubah mandi yang diminta Hanum.


“Ini Num” ucap Clara mengulurkan jubah di sela-sela pintu yang terbuka sedikit


“Makasih ya Clara” balas Hanum


Clara kemudian menghampiri Aditya dan duduk di posisinya duduk tadi. Selesai memakai jubah mandinya Hanum segera keluar dari kamar mandi.


“Eh kak Adit nanti malam jalan yok” ajak Clara


“Mau kemana?” tanya Aditya


“Katanya mau beliin aku kado?” ucap Clara


“Ya, bukan kado dong namanya kalau kamu ikut beli” ucap Aditya


“Ya ngga papa dong, lagian ajak aku jalan-jalan dong” pinta Clara


Hanum hanya terdiam dan mendengarkan obrolan mereka. Ia kemudian naik di ranjangnya dan berusaha mengabaikan mereka. Aditya melirik sekilas ke arah Hanum.


“Iya deh, tapi sekarang kamu kembali dulu ke kamar mu istirahat. Liat tuh Hanum lagi mau tidur kalau kita ngobrol nanti ganggu lo” pinta Aditya


“Yah, aku belum puas ngobrol sama kak Adit” balas Clara cemberut


“Kan masih banyak waktu, nanti juga kita bisa ngobrol” balas Aditya


“Oh gini aja, kak Adit ngga istirahat kan? Gimana kalau kita ngobrol di kamarku?” pinta Clara


“Clara, kak Adit mau nemenin Hanum. Nanti aja ya kita bicara lagi” pinta Aditya


“Ya udah, diusir ini aku!” ucap Clara cemberut


“Nanti saja ya” ucap Adit mengelus rambut Clara


Hanum yang melihat Aditya memegang wanita lain, meskipun hanya sepupunya merasa cemburu.


“Ya sudah aku balik dulu” ucap Clara berdiri dan berjalan keluar kamar


Aditya menyusul Hanum dan tidur di sebelahnya.


“Katanya tadi, mau tidur malam saja?” tanya Aditya sambil memegang pinggang Hanum dari belakang


“Apaan sih mas, aku mau istirahat, jangan di ganggu” balas Hanum memindahkan tangan Aditya dari pinggangnya


“Kenapa nih istriku bad mood lagi?” ucap Aditya menggoda Hanum lagi


“Ngga, aku cuman mau istirahat”balas Hanum


“Aku juga mau istirahat kok. Masak ga boleh?” ucap Aditya manja ke Hanum kembali memegang pinggang Hanum


“Berat mas tangan kamu di perut ini ada bayi lo” ucap Hanum agak bergeser menjauh


“Ya sudah kalau begini bagaimana?” ucap Aditya membalikkan badan Hanum dan memeluknya erat

__ADS_1


“Aduh mas, jangan ganggu deh” balas Hanum mencoba keluar dari dekapan rangkulan Aditya


“Kamu kenapa sih biasanya mau” ucap Aditya menatap mata Hanum dalam


Hanum mengalihkan pandangan nya dan segera membalikkan badan.


Aditya secara paksa merangkul Hanum, ia tidak peduli Hanum akan marah. Hanum yang nyaman dengan dekapan Aditya kemudian tertidur lelap.


“Num, kamu sudah tidur?” tanya Aditya


Tidak ada jawaban dari Hanum. Aditya mencoba tidur tapi tidak bisa. Ia kemudian turun ke bawah.


“Sudah pulang pa?” tanya Aditya


“Sudah. Mana Clara?” tanya Pak Deri


“Lagi istirahat di kamar pa.” Jawab Aditya


“Oh..” balas papanya


Mereka berdua berbincang-bincang disusul dengan kedatangan Bu Dena.


“Pa, rencananya Adit mau menempati rumah yang Adit beli beberapa tahun kemarin. Lagian kan Adit juga sudah menikah, jadi tidak tinggal sendiri, kan ada temennya” ucap Aditya


“Kenapa sih Dit ngga disini saja. Kan papa sama mama juga ngga ada temennya” balas Bu Dena


“Adit ingin mandiri. Lagian sebentar lagi Vino juga bakalan pulang ke Indonesia” ucap Aditya


“Belum pa, Hanum masih fokus dengan skripsinya. Nanti kalau dia sudah selesai sidang baru Aditya bicarakan.” Jelas Aditya


“Ya sudah papa ngikut kamu baiknya bagaimana” balas Pak Deri


Mendengar ada obrolan di ruang tengah, Clara segera keluar dari kamarnya menuju ruang tengah.


“Eh om Deri” ucap Clara


“Clara!” balas pak Deri


Clara segera memeluk om Deri.


“Aduh sekarang sudah sarjana, udah gede. Dulu padahal waktu kecil sering banget minta gendong” ucap pak Deri


“Ah om bisa saja” balas Clara


“Kemarin ayahmu mengeluh ke om, katanya kamu pulang dari luar negeri nggak pulang ke rumah dulu, malah kesini” ucap Pak Deri


“Ya lagian Clara kangen sih sama om dan tante” ucap Clara


“Kangen sama kita atau kangen godain kakak mu?” tanya Bu Dena


“Sama om dan tante lah. Sekarang kan kak Adit sudah punya istri” jawab Clara.


...****************...

__ADS_1


Hanum bangun dari tidurnya, ia tidak melihat Aditya di sampingnya, lantas mencari di ruang kerjanya. Namun tetap tidak ada, ia memutuskan untuk turun ke bawah. Hanum mendengar suara orang sedang mengobrol.


Hanum melihat keakraban antar keluarga tersebut. Nyatanya Clara mampu membuat suasana rumah ramai, ia bagai inti kehangatan dari keluarga pak Deri, bahkan sikap manjanya mampu membuat orang di sekitarnya nyaman.


“Eh Hanum. Sini gabung nak” pinta Bu Dena


“Iya ma” balas Hanum duduk di sebelah Bu Dena


“Num, ini sepupu nya Aditya, mereka memang sudah akrab sedari kecil, jadi terlihat seperti adik dan kakak kandung” ucap pak Deri


“Iya pa” balas Hanum sambil tersenyum karena paksaan


“Clara sudah mama anggap sebagai anak sendiri, karena memang mama tidak punya anak perempuan” jelas Bu Dena


“Iya ma” balas Hanum


“Jadi bagaimana? Kamu akan lanjut dimana Clara, mau S2 atau kerja dulu?” tanya pak Deri


“Aku maunya sih cari pengalaman dulu om tante” jawab Clara


“Ya sudah kamu magang saja di kantor om. Nanti biar Aditya carikan posisi untuk kamu” pinta pak Deri


“Wah kesempatan bagus bisa kerja bareng kak Adit” balas Clara senang


“Kamu dari dulu selalu suka ngikutin Aditya, bahkan kuliah pun juga universitas yang sama” ucap Bu Dena


“Kak Aditya kan panutan ku tante” jawab Clara memegang tangan Aditya


“Dasar kamu” ucap Aditya mengelus rambut Clara lagi


Melihat keakraban mereka lagi, Hanum merasa hatinya berdesir.


“Num, kamu kenapa diam saja? Sakit?” tanya Bu Dena dengan menempelkan telapak tangannya ke dahi Hanum


“Ngga ma, Hanum ngga papa kok” jawab Hanum


“Dit mending kamu temenin istri mu istirahat deh” pinta pak Deri


“Iya pa, Aditya antar Hanum dulu ya” ijin Aditya ke orang tuanya


“Ayo Num” ajak Aditya sambil memegang bahu Hanum yang lagi duduk


“Ngga papa mas, kamu temenin Clara ngobrol aja, biar aku ke kamar dulu” ucap Hanum


Hanum ingin melihat reaksi Aditya apakah mau menemaninya ke kamar atau malah memilih mengobrol dengan Clara.


“Udah aku temenin kamu aja, kan sudah ada mama dan papa yang nemenin Clara ngobrol” ucap Aditya mengusap bahu Hanum


Hanum senang setidaknya Aditya masih memprioritaskan dia daripada sepupunya. Ia pun lega.


“Berarti aku yang mikirnya aneh-aneh. Mas Aditya sudah membuktikan bahwa dia memilih ku ketimbang orang lain” batin Hanum.


“Mas” panggil Hanum.

__ADS_1


__ADS_2