Pak Dosen, Pilihan Orang Tuaku

Pak Dosen, Pilihan Orang Tuaku
Kritikan Clara


__ADS_3

"Kak Aditya sudah pulang Num?” tanya Clara mengagetkan Hanum


“Astaghfirullah, sudah” balas Hanum kaget


“Dimana sekarang?” tanya Clara


“Dikamar sedang mandi” jawab Hanum


“Aku ke kamarmu ya” ucap Clara tanpa mendengarkan jawaban Hanum


“Malam malam begini kenapa dia ke kamar ku sih. Besok kan juga bisa cari mas Aditya” ucap Hanum pelan


“Eh non, sini biar bibi bantuin nyiapin makananya” ucap bi Iyem dengan mengantuk


“Sudah ngga usah Bi, biar saya saja. Bibi istirahat saja” perintah Hanum


“Baik non” ucap Bi Iyem sambil mengambil gelas berisi air putih yang hendak di bawa ke kamarnya


Hanum segera kembali ke kamarnya. Ia melihat Clara yang merebahkan badannya di kasur milik Aditya.


“Kak Adit, mandinya lama banget sih” gumam Clara


Sementara Hanum menaruh makanan di meja.


“Klek” suara pintu kamar mandi terbuka


Aditya melihat Clara yang sudah terbaring di kasurnya.


“Wow, pemandangan yang lama tidak kulihat” ucap Clara sambil melihat Aditya yang hanya memakai handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya


“Loh kamu malam-malam ngapain kesini?” tanya Aditya


“Ih kak Aditya gimana sih kok baru pulang, aku kan seharian nunggu kakak” ucap Clara


“Kak Aditya kan kerja, lagian nyari kakak mau ngapain?” tanya Aditya


“Kakak kan janji ajak aku jalan-jalan tapi 3 hari ini malah di rumah saja” ucap Clara sedih


“Ini. Kamu kakak kasih kartu kredit kakak saja, beli apa yang kamu suka” ucap Aditya mengulurkan kartu kredit ke Clara


“Ngga mau ah, aku maunya pergi sama kak Aditya” ucap Clara


“Ya sudah tapi kakak nggak janji ya, soalnya kakak akhir-akhir ini sibuk banget” ucap Aditya.


Aditya melirik ke arah Hanum yang membaca buku skripsi nya seolah tak memperdulikan mereka berdua.


“Ayok Num, aku suapi. Makan dulu” pinta Aditya duduk di samping Hanum


“Ngga usah mas, aku makan sendiri saja, kamu makan punya mu nih” ucap Hanum sambil menyodorkan sepiring makanan

__ADS_1


“Udah aku suapin saja, nanti makan sedikit lagi kamu” ucap Aditya


Hanum malu jika harus menunjukkan keromantisan mereka di depan orang. Clara yang merasa terabaikan langsung beranjak dari tempat tidur dan duduk di kursi seberang Hanum.


“Buku apa ini?” tanya Clara mengambil hard copy skripsi Hanum di meja


Clara membaca isi buku tersebut.


“Ini skripsi mu?” tanya Clara


“Iya” balas Hanum sambil mengangguk


“Kalau skripsi mu gini sih di luar negeri kamu ngga bakal lulus” ucap Clara menjatuhkan Hanum


Clara berpikir dengan begini dia bisa menunjukkan sisi kelemahan Hanum dimata Aditya.


“Maksudnya?” tanya Hanum


“Aku yang baca sekilas saja tidak tertarik dengan skripsimu ini” ucap Clara


“Kenapa? Aku sudah konsulkan ini ke dosen pembimbing dan dapat persetujuan kok” jelas Hanum


“Iya pasti lah dapat persetujuan, tapi ngga dibaca detail kan, dosen mana bisa memperhatikan isi skripsi seluruh mahasiswa bimbingannya” ucap Clara merendahkan


“Kalau kamu di luar negeri, kamu baru bisa merasakan sulitnya mendapat persetujuan dari dosen tentang skripsi kita. Kalau kayak gini sih anak high school di luar negeri juga bisa mengerjakan” tambah Clara merendahkan


“Ngga kok, ini bagus, kamu aja yang ngga baca secara detail, kamu kan hanya lihat sekilas. Karena untuk membacanya membutuhkan waktu setidaknya selama beberapa hari” ucap Aditya membela Hanum


“Maksud nya apa, ngomong gitu?” batin Hanum


“Clara kamu lebih baik keluar dari kamar kak Aditya,kita mau quality time.” Pinta Aditya


“Kenapa? Aku mengganggu kalian ya?” tanya Clara dengan polos


Geram dengan sikap Clara, Hanum segera menjawab dengan mantap.


“Iya keberadaan kamu mengganggu kami” ucap Hanum


“Kamu marah Num? Kalau aku bilang seperti itu? Padahal kan aku jujur” balas Clara


Hanum hanya diam, menunjukkan ketidaksukaan nya terhadap omongan Clara. Aditya yang mengetahui Hanum sudah diam, segera menarik tangan Clara untuk keluar dari kamarnya.


“Ayok keluar” pinta Aditya dengan menarik tangan Clara


“Aduh kak Adit kenapa kasar banget sih, sakit tau” ucap Clara berusaha membuka genggaman tangan Aditya


Setelah diluar kamarnya, Aditya segera melepaskan tangannya dari Clara.


“Aduh, kak Adit sakit” ucap Clara sambil melihat tangan nya yang kemerah-merahan bekas genggaman Aditya

__ADS_1


“Maksudmu apa bicara seperti itu?” tanya Aditya


“Emang aku salah apa?” tanya Clara balik


“Kamu nggak sadar kalau sudah mengkritik skripsi Hanum” balas Aditya


“Udah. Kalau kak Adit emang udah ngga sayang lagi sama aku, ya sudah, percuma juga yang ada di mata kak Adit Cuma Hanum, Hanum dan Hanum lagi” ucap Clara dengan suara keras


“Hanum lagi sakit, dia juga sedang hamil. Jadi dokter menyarankan orang di sekitarnya jangan membuatnya stress. Kamu kenapa jadi kekanak-kanakan begini.” ucap Aditya


“Itu semua karena aku pengen mendapatkan perhatian kak Aditya, tapi apa? Kak Adit bahkan nggak ngerti perasaan ku. AKU SUKA KAK ADIT JUGA SEJAK LAMA!! Makanya aku mengikuti semua yang kak Adit suka, supaya setidaknya kak Adit melihatku” ucap Clara lalu meninggalkan Aditya


“Apa? Clara” panggil Aditya saat Clara meninggalkannya


Aditya hendak mengikuti Clara, Cuma ia mengurungkan niatnya dan memilih untuk melihat kondisi Hanum terlebih dahulu.


...****************...


“Klek” suara pintu, Aditya memasuki kamarnya


“Num” panggil Aditya


Hanum sudah berbaring diatas kasurnya dengan menangis.


“Kamu kenapa? Jangan di dengerin kata Clara” ucap Aditya sambil mengusap air mata yang turun


“Aku mau sendiri mas” ucap Hanum mengubah posisi tidurnya


“Aku mewakili Clara meminta maaf atas tindakannya ya” ucap Aditya


“Hiks.. hiks.. hiks” suara Hanum tetap menangis


“Num, jangan dipikirin omongan Clara. Mas lihat skripsi kamu bagus kok. Kalau nggak bagus kan nggak mungkin bisa di ACC sampek sidang” ucap Aditya menenangkan Hanum


“Kamu jangan nangis ya” tambah Aditya


Tidak ada respon dari Hanum, Aditya segera memeluknya dari belakang.


“Mas ngerti kok perasaan kamu” ucap Aditya


“Mas Aditya mana mungkin tau perasaan ku” ucap Hanum dengan menangis yang mulai mereda


“ Mas kan suamimu, kalau kamu sedih mas juga ikut sedih” jelas Aditya


“Mas, apa aku tidak pantas menjadi istrimu?” ucap Hanum setelah membalikkan posisi tidurnya dan menghadap ke Aditya


“Siapa yang bilang? Kamu itu lebih dari cukup bagi mas” jelas Aditya


“Ah mas Aditya bilang gitu karena ngga mau nyakitin aku kan?” tanya Hanum

__ADS_1


“Hanum denger, jangan dengarkan orang di luar sana. Yang menjalani hubungan ini hanya kamu dan aku. Jadi kalau ada orang ngomong yang tidak baik tentang kita mungkin dia hanya iri” jelas Aditya.


__ADS_2