
“Ih biasanya juga gitu. Masak mau dibungkus?” ucap Clara
“Bungkus saja, bawa pulang, kan beberapa menu yang belum dimakan bisa di berikan ke ART atau sopir di rumah” ucap Aditya
“Kak Aditya aneh banget, ngga seperti biasanya” ucap Clara
“Mba, saya minta yang belum dimakan ini di bungkus ya!” pinta Aditya kepada pelayan
“Baik pak” balas pelayan tersebut.
...****************...
Di dalam mobil Clara masih bingung dengan sikap Aditya yang meminta membungkus makanan dari restoran.
“Kak, aku merasakan ada yang berubah dengan kak Aditya” ucap Clara
“Apa yang berubah, masih tetep sama kok. Kamu ada-ada saja” jawab Aditya
“Dulu kita sering memesan satu meja penuh hanya untuk makan berdua, dan selalu tidak habis, tapi nggak pernah kak Aditya meminta pelayan untuk membungkus sisa yang dimakan” ucap Clara
“Itu namanya mubazir, Clara. Kata Hanum tidak baik membuang makanan” jawab Aditya
“Oh jadi itu penyebabnya. Kak Adit juga nggak pernah peduli sama wanita, mau secantik apapun itu pasti selalu mengabaikan. Tapi melihat sikap kak Aditya yang selalu perhatian dengan Hanum. Sangat berbeda dengan dulu” ucap Clara heran
“Nanti kalau kamu menikah dan menemukan pasangan yang benar-benar kamu sayang, pasti juga akan seperti kak Adit” balas Aditya
“Aku sudah pernah kok kak” balas Clara
“Sama siapa? Pasti kenalan mu di luar negeri ya?” tanya Aditya
“Ngga, dia sudah ku kenal dari dulu kok” jawab Clara
“Kok kamu dulu ngga pernah cerita, biasanya cerita semua ke kak Aditya” balas Aditya
“Masak sampai sekarang Kak Adit masih belum mengerti kalau aku menyimpan perasaan kepadanya” batin Clara.
...****************...
Hanum melihat jam.
“Kenapa mas Aditya belum balik” ucap Hanum gelisah
“Tok.. tok.. tok” suara ketukan dari luar kamarnya
“Non, nyonya bilang non Hanum suruh turun kebawah, waktunya makan” ucap bi Iyem
“Iya Bi” ucap Hanum sambil berjalan menuju pintu
“Bi!!” panggil Hanum kepada bi Iyem yang berjalan mendahuluinya
“Iya non” jawab bi Iyem
“Mas Adit belum pulang ya?” tanya Hanum
“Mas Adit kan lagi keluar sama non Clara” jawab bi Iyem
“Oh, tapi kok belum pulang ya sampai sekarang katanya tadi ke minimarket saja” ucap Hanum
“Iya, tadi mas Adit menghubungi nyonya bilang kalau non Clara minta ditemenin makan di restoran dulu” jelas bi Iyem
“Oh begitu ya sudah” balas Hanum sedih
__ADS_1
“Mas Adit kok ngga ngabarin aku sih, membiarkan aku menunggu dengan gelisah begini” batin Hanum
Hanum mengambil posisi duduk di meja makan.
“Num, makan yang banyak ya! Liat kamu kurus banget lo” ucap Bu Dena
“Iya ma” balas Hanum
“Nyonya ini ada belanjaan tuan Aditya. Mau ditaruh mana?” tanya satpam rumahnya
“Taruh meja dapur saja” balas bu Dena
“Baik nyonya” balas satpam rumah mengerti
“Ma aku ke atas dulu ya” ucap Hanum
“Eh sudah makannya Num? Kenapa sedikit sekali?” tanya Bu Dena
“Sudah kenyang ma” jawab Hanum
“Itu tadi Aditya bilang kalau pesanan mu ada di kantong kresek” ucap Bu Dena
“Nanti aja ma, kalau Hanum pengen Hanum ambil” ucap Hanum
“Ya sudah biar bi Iyem bawakan ke kamar mu sama mama minta kupaskan buah untukmu” ucap bu Dena
“Makasih ma” balas Hanum
Hanum terlihat lemas, pikirannya terlalu banyak.
...****************...
“Assalamualaikum” ucap Aditya memasuki rumah
“Sudah ma. Hanum mana? Kenapa tidak ikut makan malam dengan papa dan mama” tanya Aditya
“Adit, tadi Hanum makan sedikit, papa khawatir, terus terlihat lesu sekali. Kamu harus perhatikan istrimu” pinta pak Deri
“Iya pa, kalau begitu Adit ke kamar dulu ya” ucap Aditya
Aditya bergegas ke kamarnya.
“Hanum kasihan ya pa, semenjak hamil kondisinya terlihat tidak bergairah” ucap Bu Dena
“Besok papa suruh dokter Temmy untuk memberikan vitamin buat orang hamil. Papa khawatir” ucap Pak Deri
“Iya pa, lebih baik begitu” balas bu Dena
“Kamu tadi makan apa Clara?” tanya Bu Dena
“Oh makan sop ayam tante, terus pesan nasi goreng kambing, sate, sama....” ucap Clara menjelaskan
“Hhhmmm... makan sini” pinta bu Dena
“Ngga ah tante. Clara mau ke kamar saja” ucap Clara
“Ya sudah kalau begitu” balas Bu Dena.
...****************...
Aditya melihat sepiring buah yang dikupas dan kantong minimarket yang masih belum dibuka.
__ADS_1
“Loh kok belum dimakan cokelat nya? Katanya tadi pengen makan cokelat?” tanya Aditya
Hanum hanya diam tanpa menjawab, ia menatap layar HP nya.
“Num” ucap Aditya menghampiri
“Hhmmm” balas Hanum
“Itu kenapa tidak dimakan? Kan aku sudah beliin” tanya Aditya
“Ngga papa, sudah ngga pengen lagi” jawab Hanum
“Sudah aku bela-belain keluar lo, masak nggak dihargai sih” ucap Aditya merayu Hanum
Hanum tak menjawab.
“Num, kamu kenapa sih aneh banget seharian ini. Ada apa? Perasaan pas di kampus tadi kamu masih baik-baik saja” tanya Aditya
“Ngga papa mas” jawab Hanum kesal
Aditya diam, karena kalau ditanggapi takut Hanum malah marah dan bisa mempengaruhi janinnya.
Mereka pun tidur saling membelakangi.
“Aku harus apa kalau kamu hanya diam” batin Aditya mencoba menyentuh pundak Hanum, namun ia mengurungkan niatnya
Keesokan harinya, Hanum merasakan badannya yang menggigil. Ia tidak beranjak sama sekali dari tempat tidurnya. Menyadari Hanum menggigil, Aditya terbangun dari tidurnya.
“Num, kamu kenapa?” tanya Aditya
Hanum hanya diam merasakan kondisi tubuhnya yang sedang tidak enak. Aditya segera memeriksa kondisi suhu tubuh Hanum
“Kamu sakit?” tanya Aditya menempelkan telapak tangannya ke dahi Hanum
“Panas. Sebentar aku penggilkan doker Temmy ya” ucap Aditya beranjak dari ranjangnya
“Ngga usah mas, ambil obat penurun panas saja” pinta Hanum
“Dokter bilang kamu ngga boleh sembarang minum obat waktu hamil” ucap Aditya
“Ini masih subuh, dokter Temmy pasti masih istirahat” ucap Hanum
Aditya segera menghubungi dokter Temmy, namun tidak diangkat. Ia panik dan hendak menbangunkan mamanya.
“Aku bangunkan mama dulu ya” ucap Aditya
“Ngga usah mas” balas Hanum
“Kalau begitu ayo aku antar ke rumah sakit, disana pasti ada dokter jaga” ucap Aditya
“Ngga usah, aku juga tidak bisa jalan” jawab Hanum
“Biar aku gendong” ucap Aditya
“Ngga mau, nanti saja aku nunggu dokter Temmy” pinta Hanum
Aditya bingung, ia segera mengambil es di kulkas dan dimasukkan ke handuk kemudian menempelkannya di dahi Hanum. Aditya telaten merawat Hanum.
“Kenapa tangannya dingin banget” ucap Aditya
Ia pun mengambilkan selimut dan menutupi tubuh Hanum dengan dua lembar selimut tebal.
__ADS_1
“Kenapa ngga turun-turun demamnya?” lanjutnya memeriksa tubuh Hanum
Lelah mengurus Hanum, Aditya pun tidur dengan posisi duduk.