Pak Dosen, Pilihan Orang Tuaku

Pak Dosen, Pilihan Orang Tuaku
Tidak ada pertemanan antara pria dan wanita


__ADS_3

Meskipun sudah menjelaskan semua nya dan melihat Lukas mulai tenang, Hanum pun berpamitan untuk pulang.


Selama perjalanan pulang Aditya sama sekali tidak berbicara dengan Hanum. Aditya masih memikirkan ucapan Lukas. Ia juga berpikir bahwa ada laki-laki yang sangat mencintai Hanum hingga merusak dirinya sendiri.


Melihat Aditya yang melamun, seolah memikirkan sesuatu. Hanum pun memulai permbicaraan.


“Kamu kenapa diam saja?” tanya Hanum


“Ngga papa!” jawab Aditya menahan pertanyaan nya


Aditya takut kalau mempertanyakan tentang Lukas, Hanum akan berpikir kalau dirinya cemburu.


“Bener ngga ada apa- apa?” tanya Hanum


“Iya” jawab Aditya singkat meskipun ia bertanya- tanya dalam pikiran nya


“Lukas adalah teman pertamaku ketika kami sama- sama memasuki bangku perkuliahan. Dia juga selalu membantu ku tanpa kuminta dan selalu ada ketika aku membutuhkan. Jujur aku nyaman dengan nya, dia juga seorang pendengar yang baik di setiap keluh kesahku. Itulah sebab mengapa kita begitu dekat dan akrab. Tapi aku tidak pernah menganggap dia lebih dari seorang sahabat. Aku juga tidak tahu sejak kapan dia memiliki perasaan padaku. Hingga pada akhirnya kemarin dia berani untuk bilang suka padaku” ucap Hanum bercerita


“Num, tidak ada persahabatan antara laki- laki dan perempuan. Kamu tau itu kan? Pasti ada perasaan yang terlibat antara kedua nya, atau salah satu dari kalian.” ucap Aditya


Hanum merenung sejenak. Kemudian mencoba menelaah kata- kata Aditya.


“Coba kamu pikir. Laki- laki adalah orang yang tidak mau diributkan dengan segala hal. Wanita adalah sosok yang selalu komplain terhadap segala hal sekecil apapun. Kalau laki-laki tidak ada perasaan dengan seorang wanita, dia tidak mungkin mau terlibat dengan wanita. Itu akan membuat hidupnya makin rumit. Maka dari itu karena Lukas suka pada mu, ia selalu ada jika dibutuhkan. Hanya saja Lukas menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaan nya.” Tambah Aditya menjelaskan


Hanum merasa omongan Aditya benar juga. Beberapa laki- laki yang coba mendekati sebelumnya juga bersikap seperti Lukas. Hanya saja laki-laki lain lebih cepat mengungkapkan perasaan nya.


Sesampainya di rumah, mama Dena langsung menanyai mereka darimana karena waktu menunjukkan pukul 11 malam.


“Kalian dari mana?” tanya Bu Dena


“Oh Hanum tadi mau jalan- jalan mah! Jadi ya Adit temenin” kata Aditya


“Malam- malam begini? Nanti kalau ada apa- apa gimana?”


“Iya mah, ngga apa- apa kan sama Adit juga jadi aman” jawab Adit


“Yaudah istirahat sana” perintah mama.


...****************...


Keesokan harinya, setelah sarapan Aditya berniat untuk pergi bersama Hanum. Namun, Hanum menolaknya.

__ADS_1


“Kamu, hari ini bareng aku aja ke kampus nya. Aku juga mau ke kampus!” perintah Aditya


“Ngga usah, nanti apa kata orang kalau aku berangkat dengan mu. Mereka pasti mengira kalau kita ada apa- apa” jawab Hanum


“Mereka juga lambat laun akan tau kok. Kenapa mesti ditutup tutupi” jawab Aditya


“Ngga deh. Tunggu aku lulus dulu saja. Nanti apa kata cewek-cewek yang mengejarmu. Mereka pasti menganggap aku yang duluan menggoda mu” ucap Hanum


“Alasan apapun itu, kamu tetap harus aku antar” tegas Aditya


“Ih ngga usah, aku bisa naik ojek kok” jawab Hanum


“Ya sudah kalau begitu kita tetap berangkat bersama karena tidak mungkin orang tuaku mengijinkan kita berangkat terpisah, nanti mereka akan curiga terlebih kita satu tujuan, tapi kamu akan aku drop beberapa kilometer dari kampus.” Ucap Aditya menawarkan opsi


“Baik.” Sambil menganggukan kepala


...****************...


Di dalam mobil mereka kembali berbincang. Mereka sudah lebih akrab dari sebelumnya.


“Kamu hari ini ngapain ke kampus?” tanya Aditya


“Kamu sudah mengerjakan apa yang aku suruh kemarin untuk mencari beberapa data?” tanya Aditya


“Sudah” jawab Hanum singkat


“Kenapa kamu tidak melihatkan nya langsung padaku?” tanya Aditya


“Ngga lah. Aku mau kita bersikap profesional. Aku tetap harus konsultasi ke kamu di tempat dan jadwal yang sudah ditentukan seperti mahasiswa lainnya. Tidak ada keistimewaan meskipun aku istri kamu” Ucap Hanum


“Hhhmmm...” Aditya berdeham


“Eh aku juga mau tanya ke kamu?” ucap Aditya


“Apa?” sambil melihat Aditya di samping nya


“Kenapa kamu selalu memanggil dengan tidak sopan?”


“Maksudnya?” tanya Hanum sambil mulai serius


“Iya kamu kan istri aku. Harusnya memanggilku dengan sebutan mas atau panggilan sayang juga ngga papa” ucap Aditya

__ADS_1


“Ih apaan sih. Masalah gitu aja dibuat repot” jawab Hanum


“Aku lebih tua darimu. Umurku 29 tahun. Kamu kan masih 21 tahun. Jadi ada perbedaan 8 tahun. Terlebih aku suami kamu. Jadi mulai hari ini kamu harus memilih mau panggil mas atau sayang?” tanya Aditya


Hanum berpikir dia sebenarnya cukup malu untuk memanggil Aditya sayang. Apalagi bila didengar orang lain pasti menjijikkan.


“Yaudah aku panggil mas aja.” Jawab Hanum


“Nah gitu dong” jawab Aditya sambil tersenyum bangga karena sudah bisa sedikit mendekati Hanum.


...****************...


Hari ini mereka sama- sama sibuk. Setelah Aditya selesai dengan tugasnya di kampus dia bergegas pergi ke kantor untuk mengurus beberapa dokumen dan memimpin rapat hingga malam hari. Setelah pulang kerumah ia juga sudah mendapati Hanum tertidur pulas.


“Aku mau dinas keluar kota selama 1 minggu” ucap Aditya kepada Hanum


“Iya” jawab Hanum singkat sambil memasukkan laptop ke dalam tas nya


“Seminggu kedepan kamu akan diantar Pak Udin ke kampus. Ini kartu ku untuk password nya 171990, di dalam rekening ini sudah ada uang yang aku simpan. Gunakan untuk memenuhi kebutuhan mu, setiap bulan aku juga akan mengirim uang padamu.” Ucap Aditya sambil mengulurkan sebuah kartu


“Tidak usah. Aku masih punya uang kok. Nanti kalau butuh biar aku minta kepadamu saja, sekarang aku belum butuh” jawab Hanum sambil menolak kartu tersebut


“Ambil saja. Terserah kamu mau digunakan kapan. Untuk jaga- jaga kalau ada keperluan mendesak disaat aku tidak ada” ucap Aditya


Hanum mengambil kartu itu. Ia merasa Aditya sudah berusaha bertanggung jawab kepadanya. Setidaknya ia juga harus menjalankan kewajiban nya. Ia pun menawarkan untuk membantu Aditya mengemas bajunya. Hanum kemudian mengikuti langkah Aditya keluar rumah menuju mobil.


“Aku pergi dulu ya!” pamit Aditya


“Iya mas. Hati- hati di jalan” jawab Hanum


Aditya senang senang ketika Hanum memanggilnya mas untuk pertama kalinya. Ia pun melayangkan ciuman nya ke dahi Hanum.


Hanum kaget dan terdiam beberapa saat setelah Aditya mengecup dahinya.


“Mas...” ucap Hanum sambil menatap Aditya bingung


“Kenapa? Sudah ya aku pergi dulu”jawab Aditya


“Wah Hanum sama Aditya mesra banget. Sebentar lagi kayak nya bakal ngasih mama cucu nih” ucap Bu Dena yang ikut mengantarkan Aditya


Hanum malu dengan perbuatan Aditya barusan, tapi dia tidak bisa marah karena ada Bu Dena.

__ADS_1


__ADS_2