Pak Dosen, Pilihan Orang Tuaku

Pak Dosen, Pilihan Orang Tuaku
Aditya diam


__ADS_3

Tiba tiba kamar terbuka, Hanum sudah kembali.


Mereka berdua saling bertatapan. Namun, Aditya langsung membalikkan badan nya. Hanum melihat tingkah Aditya juga ikut mendiamkannya.


“Laki-laki macam apa yang meninggalkan wanita sendirian di malam hari” batin Hanum.


Sama- sama diam dalam keheningan, Aditya juga memutuskan untuk tidak tidur satu ranjang dengan Hanum. Ia memilih untuk memesan ekstra bed dan tidur dengan kasur yang berbeda dengan Hanum.


Keesokan harinya, Hanum bangun duluan. Ia meraba disebelahnya, tidak ada Aditya disana. Ketika ia berdiri ternyata Aditya tidur dengan kasur yang berbeda.


“Dia sampai meminta ekstra bed. Apakah semarah itu?” batin Hanum


Hanum segera mandi, namun setelah mandi Aditya masih tertidur.


“Drtt... drrtt.. drttt” HP Hanum berdering


Ternyata panggilan masuk dari Anin.


“Halo, Assalamualaikum.. iya nin” ucap Hanum


“Walaikumsalam.. gimana liburan kalian?” tanya Anin


Hanum ingin menjelaskan kepada Anin, namun takut di dengar oleh Aditya.


“Sebentar, aku keluar dulu” ucap Hanum


“Emang nya kamu dimana?” tanya Anin


Setelah keluar dari kamar.


“Mas Aditya marah nin, jadi liburan ku sedikit mengecewakan” jawab Hanum


“Kenapa?” tanya Anin


“Iya kemarin sewaktu kita di pantai dia menanyaiku apa aku masih belum bisa menerimanya” jawab Hanum


“Terus kamu jawab?” tanya Anin


“Bukan nya belum mencintai tapi kasih aku waktu dong. Ini semua terlalu cepat bagiku membuatku kaget.” Jawab Hanum


“Aduh iya kan apa aku bilang, menunggu bagi laki-laki itu sesuatu yang menyebalkan. Lagian kan dia tidak menuntut apa-apa Num. Aku tanya lagi apa benar kamu belum mencintai Aditya?” tanya Anin


“Hhhmmm” jawab Hanum ragu untuk berkata


“Num, aku tau pasti sulit untuk memberikan sesuatu yang berharga bagi perempuan, kalau tidak benar-benar mencintai. Tapi coba lakukan apa yang hatimu inginkan, jangan pikiranmu. Kamu harus memahami apa yang dirasakan Aditya juga” jelas Anin


“Ah, mas Aditya juga harusnya ngerti aku. Kemarin dia juga bertanya aku jawab, aku menikahinya karena keluarganya sudah sangat baik pada keluargaku, bahkan papanya Aditya juga mencarikan dokter terbaik untuk menyembuhkan ayah” jelas Hanum


“Apa?? Kamu juga bilang begitu?” tanya Anin kaget


“Kamu seharusnya jangan bilang gitu num meskipun memang alasan kamu menikahi Aditya adalah rasa membalas budi” lanjut Anin

__ADS_1


“Aku jujur Nin.” Jawab Hanum singkat


“Tapi itu menyakitkan bagi Aditya, Num.” Ucap Anin


“Terus aku harus bagaimana?” tanya Hanum


“Pertama kamu harus minta maaf kepada Aditya, dan Hanum, aku tau kalau sebenarnya pasti ada sedikit rasa mencintai di dalam hatimu untuk Aditya. Tapi kamu selalu menyangkal perasaan mu. Jadi menurutku kamu juga harus memberikan hak Aditya.” Ucap Anin


“Ah kalau masalah itu aku pikirkan dulu. Yaudah aku tutup ya Nin.” Ucap Hanum


“Iya, nanti kalau ada apa-apa kabarin ya.” Pinta Anin


“Siap” jawab Hanum.


Sambungan telepon terputus.


Hanum masuk kamar hotel kembali. Ketika masuk, Aditya sedang menyantap makanan dari hotel. Ia memesan dua porsi tapi makan dahulu tanpa menunggu Hanum.


“Apa aku memang melakukan kesalahan besar? Tidak biasanya Aditya makan dahulu, ia malah selalu menawarkan apa yang ingin aku makan.” Batin Hanum


Aditya selesai makan. Ia pun langsung keluar kamar tanpa memberitahu Hanum akan kemana.


“Dia mau kemana? Kenapa nyelonong aja!” batin Hanum


Hanum juga merasa lapar jadi dia juga menyantap makanan di depan nya. Selesai makan, Aditya belum juga kembali ke kamar.


“Ah padahal liburan yang sangat menyenangkan jadi seperti ini. Pemandangan yang bagus di luar” ucap Hanum berbicara pada dirinya sendiri dengan berdiri di depan jendela yang menghadap ke pantai


Hanum segera mandi, ia memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri.


...****************...


Di pantai Hanum berjalan sendiri sambil memikirkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya Anin.


“Iya memang sih sudah kewajibanku memberikan hak mas Aditya. Lagian liburan ini harusnya bahagia, eh tapi malah diem-dieman.” Batin Hanum sambil berjalan di pinggir pantai menikmati pemandangan


“Ah tapi aku belum siap. Aku takut” batin Hanum


“Bagaimana kalau aku hamil? Aku masih belum mau, masa aku harus mengandung disaat gencar mengerjakan skripsiku.” Lanjutnya.


...****************...


POV Aditya


Aditya sengaja meninggalkan Hanum, ia juga ingin menenangkan pikiran nya. Ia pun mencari kafe sekitar penginapan.


“Ah liburan yang aku rencanakan agar setidaknya bisa menjadikan Hanum milikku seutuhnya sepertinya tidak akan terjadi.” Batin Aditya


“Apa yang kurang dariku, selama ini juga aku yang selalu mengalah, dan mengerti Hanum karena aku paham dia masih muda.” Lanjut Aditya


...****************...

__ADS_1


“Tok.. tok.. tok” suara ketukan pintu dari luar


“Ih baru pulang jam segini, tapi ngapain ngga langsung masuk saja malah mengetuk pintu” ucap Hanum pelan sambil berjalan mendekati pintu.


“Selamat malam nona, kami mengantarkan makanan yang dipesan” ucap pelayan hotel


“Ha? Tapi saya tidak memesan apapun.” ucap Hanum


“Iya ini dipesan atas nama Aditya dan diminta untuk mengantarkan ke kamar ini” jawab pelayan ramah


“Oh iya bawa masuk saja.” Perintah Hanum


“Baik nona” jawab pelayan


Setelah selesai menata makanan di meja, pelayan tersebut langsung pamit. Hanum juga mengucapkan terimakasih.


“Dia masih sempat memesankan makanan padaku. Kenapa tidak pulang saja” ucap Hanum berbicara sendiri sambil melihat makanan di depan nya


“Sudah jam segini, dari pagi dia keluar. Di mana dia? Apa aku hubungi saja?” lanjutnya


Hanum pun memakan makanan di depan nya.


Aditya telah lama keluar hingga pukul 8 malam, ketika Hanum menonton TV suara pintu terbuka.


“Kamu darimana mas kok baru pulang?” ucap Hanum menurunkan egonya


Aditya tidak menjawab pertanyaan Hanum. Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi.


“Ih nyebelin. Ga di jawab sama sekali!” ucap Hanum sebal


“Oke aku akan memberikan apa yang kamu inginkan hari ini” ucap Hanum


Aditya keluar dari kamar mandi, hanya handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya, sementara bagian atasnya di biarkan terbuka.


“Mas, aku mau ngomong.” Ucap Hanum memulai pembicaraan lagi


Aditya masih tetap diam.


“Mas aku bicara sama kamu. Bisa ngga kamu menghargai aku?” tanya Hanum kesal


“Apa” jawab Aditya singkat tanpa melihat Hanum


“Aku tau aku salah” ucap Hanum


“Maka dari itu aku mau minta maaf.” Lanjut Hanum


Aditya diam tidak menjawab ucapan Hanum. Baginya hanya minta maaf saja tidak akan merubah segalanya.


“Oke mas, aku akan memberikan apa yang kamu mau” ucap Hanum


“Maksudnya” tanya Aditya masih tidak mau melihat mata Hanum

__ADS_1


“Iya, aku akan memberikan hak mu malam ini. Tapi aku minta jangan membuatku hamil, karena aku ingin menyelesaikan kuliahku dulu, dan memiliki anak setelahnya” jelas Hanum


__ADS_2