Pak Dosen, Pilihan Orang Tuaku

Pak Dosen, Pilihan Orang Tuaku
Aditya sakit


__ADS_3

“Loh kenapa badannya panas begini” ucap Hanum sambil meraba kening suaminya


“Mas Adit sakit” ucap nya


Ia segera mengambil obat di kotak obat, dan mengambil segelas air minum.


“Eh tapi dia kan belum makan” ucap Hanum


“Lebih baik aku ambilin makanan dulu” lanjutnya beranjak dari ranjangnya


“Bi, mas Hanum sakit. Tolong siapkan makanan ya dan bawa ke kamar” pinta Hanum


“Baik non” balas bi Iyem


Setelah makanan datang di kamarnya, Hanum segera membangunkan suaminya.


“Mas.. mas” ucap pelan Hanum


“Mas, bangun dulu. Makan.” Lanjutnya


“Hhmmm aku ngga lapar, kamu aja yang makan” jawab Aditya


“Kamu sakit, harus makan dulu, minum obat nanti tidur lagi” pinta Hanum


“Mana obatnya biar aku minum” ucap Aditya


“Tapi makan dulu, masak langsung mau minum obat” debat Hanum


“Ayo mas, bangun dulu. Duduk. Biar aku suapi kamu” pinta Hanum


Aditya mengikuti perintah istrinya. Hanya makan tiga sendok, Aditya langsung memuntahkannya lagi.


“Sudah Num, aku nggak kuat lagi” ucap Aditya


“Biar aku panggilin dokter kalau begitu” ucap Hanum


“Ngga usah, mungkin aku kurang istirahat, minum obat saja” pinta Aditya


“Ya sudah ini. Tapi nanti kalau ternyata besok belum sembuh kita ke rumah sakit ya” ucap Hanum


“Iya” balas Aditya


Hanum memberikan pil obat penurun panas ke suaminya. Setelah menenggak obat tersebut, Aditya merebahkan tubuhnya.


“Mas, kamu mau aku kompres?” tanya Hanum


“Nggak usah, kamu malam ini jangan tidur seranjang denganku. Nanti ketularan” pinta Aditya


“Apaan sih. Aku tetep harus tidur sini” ucap Hanum sambil ikut merebahkan tubuhnya di samping suaminya


“Num, kamu kan belum makan. Sana makan dulu” pinta Aditya


“Nanti saja mas” jawab Hanum


Tidak tega melihat Aditya sakit, Hanum memberikan lengannya untuk menyangga kepala suaminya. ia mengelus elus rambut Aditya, dan berhasil membuat suaminya terlelap. Bagaimana tidak, sentuhan itu membuat Aditya sangat nyaman.


Melihat suaminya yang terlelap Hanum segera keluar dari kamarnya untuk makan. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30. Lampu ruang makan juga sudah mati.


“Eh non Hanum, mau makan?” tanya bi Iyem dengan membawa segelas air di tangannya


“Iya bi, Hanum laper” balas Hanum

__ADS_1


“Mau bibi panaskan lagi makanannya?” tanya bi Iyem


“Udah ngga usah deh bi. Biar Hanum ambil sendiri aja. Bi Iyem pasti capek juga” jawab Hanum


“Ngga papa kok non” balas bi Iyem


“Udah ngga usah” jawab Hanum


“Ya sudah bibi ke kamar dulu ya Non” pamit bi Iyem


“Iya” jawab Hanum


Hanum mencari makanan sendirian di dapur. Setelah selesai makan, Hanum segera kembali ke kamarnya dan menyusul suaminya tidur. Ketika hendak tidur, HP Hanum berbunyi.


“Ting” suara pesan masuk HP Hanum


“Aduh siapa lagi sih malam-malam” ucap Hanum sambil meraih HP di meja samping ranjangnya


Tertulis pesan dari Dimas. Ia pun membukanya.


“Num, sudah tidur?” isi pesan teks


“Dibalas besok saja, lagian ini sudah malam” ucapnya pelan menggeletakkan HP nya


“Drrtt... drrtt.. drtt” suara HP nya berdering


“Aduh, ganggu banget. Kalau mas Adit bangun gimana” ucapnya mengecek HP


“Dimas? Kenapa dia malam-malam? Apa ada yang penting sampek menelepon?” lanjutnya


Hanum membiarkan HP nya bergetar. Aditya terbangun dari tidurnya mendengarkan HP Hanum yang bergetar.


“Siapa Num?” tanya Aditya


Namun lagi lagi HP nya masih bergetar.


“Aduh, kalau aku matiin HP nya nanti Dimas tau kalau aku sengaja. Tapi kalau aku jawab mas Adit bisa curiga” batin Hanum


“Num HP mu bergetar terus, dari siapa? Mungkin penting, angkat dulu” ucap Aditya belum mengetahui panggilan dari Dimas


“Dari nomer yang nggak di kenal. Palingan juga iseng” ucap Hanum.


...****************...


Pagi harinya Aditya merasakan badannya semakin menggigil. Mendengar suara suaminya menggigil, membangunkan Hanum dari tidurnya.


“Mas, masih sakit?” tanya Hanum


Tidak ada jawaban dari suaminya. Ia lantas meraba kening Aditya.


“Kok semakin panas, tapi tangan sama kakinya dingin” ucap Hanum panik


“Mas, ayok ke dokter” ucap Hanum membangunkan suaminya


“Ngga usah, panggil dokter ke rumah saja” pinta Aditya


Hanum bingung, karena rumah dokter Temmy jauh dengan rumah mereka.


“Tidak mungkin aku panggil dokter Temmy. Bagaimana ini mana aku tidak tau lagi dokter mana yang bisa dipanggil” ucapnya bingung


“Coba aku tanyakan mama saja” lanjutnya sambil mencari kontak bu Dena

__ADS_1


“Halo, iya Num” sapa bu Dena melalui sambungan telepon


“Bu, mas Adit sakit. Mau Hanum bawa ke rumah sakit tapi tidak mau. Katanya suruh manggil dokter saja, tapi rumah dokter Temmy terlalu jauh dari sini” jelas Hanum


“Sakit apa?” tanya bu Dena ikut panik


“Panas badannya ma, menggigil juga” jelas Hanum


“Oh, ya sudah kalau begitu, biar mama yang panggilkan dokter” ucap bu Dena


“Iya ma, makasih” balas Hanum


Dua puluh menit kemudian datanglah dokter yang dimaksud bu Dena ke rumah Aditya.


“Tok tok tok” suara ketukan pintu dari luar kamar Aditya dan Hanum


“Iya, masuk saja” pinta Hanum masih mengkompres kening suaminya


“Non Hanum, dokternya sudah datang” ucap bi Iyem


“Oh ya sudah bi, suruh langsung masuk ke kamar saja” pinta Hanum


“Baik non” balas bi Iyem meninggalkan kamar


“Silahkan dokter” ucap bi Iyem meminta dokter memasuki kamar Aditya


“Dok, silahkan” ucap Hanum mempersilahkan dokter memeriksa badan suaminya


“Baik. Permisi ya pak” ucap dokter memeriksa


“Sudah sejak kapan bu, sakit begini?” tanya dokter


“Sejak kemarin sore dok, suami saya mengeluhkan badannya nggak enak. Terus tadi pagi waktu bangun saya lihat dia menggigil, badannya juga panas sekali, tapi tangan dan kakinya dingin” jelas Hanum


“Oh, ini hanya demam biasa bu. Ini saya kasih resep, silahkan tebus ke apotek terdekat” ucap dokter


“Baik dok. Terimakasih” ucap Hanum


“Kalau begitu saya pamit dulu ya bu” ucap dokter


“Iya dok. Oh iya biar saya antarkan” jawab Hanum


Mereka berjalan keluar kamar.


“Kalau boleh tau, dokter namanya siapa?” tanya Hanum


“Nama saya dokter Bima” ucap dokter memperkenalkan diri


“Saya Hanum dok” balas Hanum


“Saya tau bu, tadi bu Dena sudah memberi tau saya. Mulai sekarang kalau ada apa-apa panggil saya saja. Kebetulan rumah dan tempat kerja saya dekat sini” ucap dokter Bima


“Baik dokter” balas Hanum


“Saya permisi dulu bu” ucap dokter Bima pergi


Hanum melihat sopirnya di depan langsung memanggilnya.


“Pak” panggil Hanum


“Iya non” jawab sopirnya menghampiri Hanum

__ADS_1


“Pak, saya minta tolong tebuskan obat ini dulu di apotek ya” pinta Hanum


“Baik non” balas sopir bergegas pergi.


__ADS_2