
Hanum merasa aneh, Aditya hanya memperhatikannya dengan tatapan menakutkan seolah ingin menerkamnya. Selesai mengemas perangkat sholatnya, ia berjalan keluar kamar.
“Bu.. bu” ucap Hanum mencari keberadaan ibunya
“Iya, ibu di depan” balas bu Rita yang duduk di kursi halaman depan
“Oh ibu disini, pantas Hanum cariin dari tadi di dalam rumah tidak ada” ucap Hanum dengan mengambil posisi duduk di sebelah ibunya
“Aditya baru pulang Num, langsung tanya kamu dimana. Ibu tawari makan juga tidak mau, katanya masih kenyang” ucap Bu Rita
“Oh mas Adit baru pulang bu?” tanya Hanum
“Iya. Kamu mending ajak dia makan deh, kasihan kayaknya lemas banget” balas bu Rita
“Aku ajak ngobrol, diem aja” balas Hanum
“Eh, coklat ku tadi mana ya?” lanjut Hanum
Ia pun berjalan menuju kulkas, dan mencari coklat pemberian Dimas.
“Kan mubadzir kalau dibuang. Coklat juga kesukaan ku” ucap nya membuka pintu kulkas
Setelah mencari, tidak ditemukan coklatnya.
“Loh kok nggak ada, dimana ya?” ucap Hanum mencari-cari isi kulkas
“Non, cari apa?” tanya bi Iyem
“Coklat yang tadi Hanum suruh simpan disini dimana ya Bi” tanya Hanum
“Oh... ituuu... non” ucap bi Iyem terbata-bata
“Mana bi?” tanya Hanum
“Sama tuan suruh buang” jawab bi Iyem
“Hhmmm... semua yang tadi ditaruh gudang juga suruh buang non” lanjut bi Iyem
Hanum segera menghampiri suaminya di dalam kamar.
“Mas” ucap Hanum sambil membuka pintu
Aditya sedang melepas bajunya bersiap ganti baju.
“Eh maaf” balas Hanum menutup pintu
“Lah aku gimana sih? Aku kan istrinya kenapa malu dan sungkan melihat dia berganti pakaian” ucap Hanum pelan
“Aku masuk saja, enak saja dia membuang coklat ku” lanjutnya
Hanum pun membuka pintu kamarnya kembali. Kali ini Aditya sudah memakai kaos.
“Mas, kenapa kamu buang coklat ku?” tanya Hanum menatap Aditya berdiri membelakangi pintu kamar
Aditya mengabaikan ucapan Hanum beranjak ke kamar mandi.
__ADS_1
“Mas, aku bicara sama kamu?” ucap Hanum tetap tidak dihiraukan
“Brakk” suara pintu yang dibanting keras oleh Aditya
“Apaan sih? Yang harusnya marah aku, kenapa dia yang lebih galak” ucap Hanum pelan
“Oke, kali ini akan kuladeni” lanjutnya duduk menunggu Aditya di tepi ranjang
Menunggu selama sepuluh menit, Aditya kemudian keluar dari kamar mandi.
“Mas, aku nggak suka ya kamu buang barang-barang aku tanpa seijinku” ucap Hanum
Kali ini Aditya bahkan memukul tembok kamarnya mendengar ucapan Hanum.
“Astaga, kenapa kamu kasar begini sih?” ucap Hanum
“Kamu!! Lebih baik diam” pinta Aditya tanpa melihat istrinya
“Aneh. Harusnya yang marah aku” ucap Hanum dengan nada sedikit tinggi
Aditya meladeni perkataan Hanum.
“Maksudmu, aku harus diam melihat mu yang sudah dekat dengan pria lain selama aku tinggal kerja?” tanya Aditya yang hanya berjarak 5 cm dari istrinya
“Kapan aku melakukan itu?” tanya Hanum belum mengetahui kesalahannya
“Kamu pikir aku buta tidak melihat semuanya, laki-laki tadi yang datang di sidang mu membawa boneka besar dan buket” tanya Aditya
“Dia teman masa kecilku, hanya gara-gara itu kamu marah? Kamu tau nggak betapa gelisah nya aku menunggu mu selama tiga hari ini tanpa kabar?” tanya Hanum balik dengan nada yang masih tinggi
“Aku sudah bilang kepadamu kalau aku akan dinas di luar kota” jelas Aditya
“Aku sibuk Num, aku juga ingin bertemu dengan mu, tapi memang aku memaksimalkan waktu supaya bisa datang ke sidang mu” jelas Aditya
“Mas, kamu tau nggak? Kamu itu egois, aku bahkan menelepon mu berulang kali untuk memastikan keadaan mu, seenggaknya kamu mengangkat telfon ku dan hanya memberi kabar tidak makan waktu lebih dari sepuluh menit kok” ucap Hanum
“Aku sudah meminta Lutfi untuk memberi mu kabar” jelas Aditya
“Harusnya kalau kamu peduli sama aku, kamu sendiri yang memberiku kabar, bukan dari orang lain” balas Hanum
“Oke fine. Kalau memang aku salah aku minta maaf, itu kan yang kamu minta? Selalu aku yang harus mengalah” ucap Aditya
“Minta maaf mu terdengar tidak ihklas. Lagian aku nggak butuk permintaan maaf mu” ucap Hanum hendak keluar dari kamar
Langkahnya dihentikan oleh genggaman tangan Aditya.
“Kita belum selesai bicara. Kamu mau kemana?” tanya Aditya
“Lepasin. Aku malas berdebat denganmu” ucap Hanum mencoba melepaskan genggaman tangan Aditya
“Nggak akan aku lepasin” ucap Aditya
“Kamu belum jawab pertanyaan ku. Ada hubungan apa antara kamu dan dia?” tanya Aditya
“Kenapa kalau dia memperhatikan aku? Toh selama ini Clara dan Diara mendekatimu, aku hanya diam” balas Hanum
__ADS_1
“Kamu balas dendam?” tanya Aditya
“Nggak” balas Hanum
“Sudah pernah aku ingatkan kamu tentang hal ini, tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan” jelas Aditya
“Apalagi dia memberikan sesuatu yang lebih sebagai teman. Wajar aku membuang semua pemberian nya. Di rumah ini hanya barang-barang ku yang boleh ada” lanjut Aditya
“Terserah kamu, aku capek. Udah lepasin aku” ucap Hanum
Aditya melepas tangan Hanum, kali ini tampaknya sulit untuk menyelesaikan kesalahpahaman antara mereka berdua.
Hanum keluar dari kamar menahan tangisnya, ia tidak mau menunjukkan tangisannya di depan ibunya. Ia lari ke kamar mandi belakang untuk menangis.
...****************...
Malam harinya, bu Rita mengetuk kamar Aditya.
“Num, Dit. Ayo makan” ucap bu Rita sambil mengetuk pintu kamar mereka
“Iya bu” balas Aditya dalam kamar
Aditya menuju ke ruang makan untuk makan malam, namun disana yang ia temukan hanya mertuanya dan bi Iyem.
“Loh bu, Hanum mana?” tanya Aditya melihat sekeliling
“Bukannya di kamar sama kamu?” ucap bu Rita bingung
“Tadi dia keluar dari kamar sejak sore” balas Aditya
“Ibu belum melihatnya lagi setelah tadi dia menghampiri ibu di halaman depan” jelas bu Rita
“Nuwun sewu, tuan. Non Hanum ada di kamar atas” ucap bi Iyem
“Oh” balas Aditya
“Biar saya panggilkan tuan” ucap bi Iyem mengerti kondisi Hanum dan Aditya
Bi Iyem melihat Hanum saat berlari menangis tadi sore.
“Ngga usah bi, biar aku saja” balas Aditya
Aditya berjalan menaiki tangga ke kamar atas.
“Num...” ucap Aditya membuka kamar
Namun tidak ditemukan keberadaan istrinya. Ia mencari di kamar lainnya.
“Num...” ucap Aditya membuka kamar lainnya
Ia mendapati Hanum yang sedang tertidur. Aditya pun membangunkan istrinya.
“Num, bangun. Sudah malam” ucap Adiya sambil mengelus-elus lengan Hanum
“Hhmmm” ucap Hanum sambil membuka matanya
__ADS_1
Melihat Aditya di depannya, ia langsung mengganti posisi membelakangi suaminya.
“Makan dulu, nggak enak kalau ibu tau kita berantem” ucap Aditya.